Mon. Nov 30th, 2020

BLAM

KEREN

Magfirah yang Melimpah pada Bulan Ramadan

5 min read

Sumber gambar:geotimes.co.id

5,898 total views, 2 views today

Oleh: H.M. Hamdar Arraiyyah (Profesor Riset Balai Litbang Agama Makassar)

Magfirah (ampunan) dari Allah Swt. adalah salah satu dambaan utama orang beriman. Dambaan itu dinyatakan dengan: (1) zikir, (2) doa, dan (3) amal  ibadah. Idealnya seperti itu, tiada hari tanpa istigfar (permohonan untuk mendapatkan ampunan).

Pertama, Zikir. Sesudah salat fardu disunatkan membaca istigfar tiga kali. Lafaznya, antara lain, Astagfirullaah (Saya memohon ampunan kepada Allah).

Demikian itu tuntunan dari Rasulullah Saw (Muslim, I, 2011:264). Lafaz zikir ini dianjurkan untuk dibaca berulang kali. Misalnya 70 kali dan 100 kali setiap hari. Lebih banyak lebih baik.

Kedua, Doa. Sebagian teks doa mempunyai maksud yang serupa dengan kandungan lafaz zikir (istigfar). Hanya saja, tata cara berdoa diatur lebih ketat. Misalnya, doa sebaiknya diawali dengan puji-pujian kepada Allah Swt. dan salawat kepada Nabi Muhammad Saw.

Teks doa biasanya lebih panjang. Sejumlah teks doa sering digabungkan. Peruntukannya lebih luas. Waktu beroda, biasanya, sesudah salat. Pada saat seperti itu orang yang berdoa masih memiliki wudu.

Di dalam Al-Qur’an terdapat lafaz doa yang lazim diamalkan. Isinya secara tegas memohon ampunan kepada Allah Swt.

Di antaranya, Rabbanaa- gfir-lii wa- li-waalidayya wa li-l mu’miniina yauma yaquumu-l hisaab (Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat) (Ibrahim/14:41).

Ketiga, Amal ibadah. Berwudu, misalnya, mendatangkan magfirah. Rasulullah Saw. bersabda (artinya); Barang siapa mengambil wudu seperti cara aku berwudu kemudian dia menunaikan salat dua rakaat dan tidak berbicara pada waktu wudu dan salat, maka diampuni dosanya yang telah lalu (Muslim, I, 2011:125).

Pada teks asli hadis itu terdapat ungkapan gufira lahuu (diampuni dosanya). Maksudnya, proses pelaksanaan wudu mendatangkan ampunan.

Membasuh anggota tubuh dengan air wudu menghilangkan kotoran yang kasatmata dan dosa yang sifatnya abstrak.

Makna Magfirah

Kata magfirah (Arab) dibentuk dari kata kerja gafara yang berarti ‘menutup’. Kata kerja gafara yang diikuti partikel li berarti ‘menutup dan mengampuni’ (Dhaif, ed., 2005:656). Magfirah dari Allah menjauhkan dari azab (al-Ashfahani, 1992:609).

Allah memerintahkan kepada manusia untuk memohon ampunan kepada-Nya. Sebab, dosa menjauhkan manusia dari rahmat Allah. Bahkan sebaliknya, dosa mendatangkan azab-Nya.

 Allah Swt. berfirman, Wa-stagfiri-l laaha. Inna-l laaha kaana Gafuuran Rahiima. (Dan Mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang) (an-Nisa’/4:106).

Sebagian dosa dilakukan secara sengaja. Sebagiannya  timbul tanpa disadari. Di sinilah perlunya orang beriman melakukan muhaasabah atau introspeksi.

Di sinilah perlunya orang mempelajari agama secara berkelanjutan dan melakukan evaluasi diri.

Magfiratan ba‘da-l maut (ampunan setelah mati) adalah dambaan setiap Muslim. Dambaan itu termuat dalam teks doa yang lazim dibaca.

Dambaan ini dirangkaikan dengan permohonan lainnya, seperti tobat sebelum mati dan kasih sayang pada waktu menjalani proses kematian.

Bila seorang Muslim meninggal dunia, Muslim di lingkungan tempat tinggalnya membantunya dengan doa.

Doa dibaca sebagai salah satu rukun salat jenazah. Lafaz doanya, antara lain, Allaahumma- gfir lahuu/lahaa (Ya Allah, ampunilah dia).

Orang yang menunaikan salat membaca doa, Rabbi- gfir-lii (Wahai Tuhanku, ampunilah aku). Khatib Jumat juga memohon ampunan untuk seluruh Muslim, yang masih hidup maupun sudah meninggal.

Teks doanya, antara lain, (artinya) Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami (al-Hasyr/59:10).

Permohonan tersebut menunjukkan, magfirah itu penting sekali bagi setiap Muslim. Magfirah sangat dibutuhkan di yaum al-hisaab (hari perhitungan). Karenanya, memohon magfirah perlu menjadi prioritas utama selagi kesempatan masih terbuka.

Memohon ampunan ditujukan kepada Allah Swt. Gafuur sebagai salah satu sifat Allah mempunyai makna ‘Maha Pengampun’, atau ‘banyak memberi ampunan’. Ini sejalan dengan pemakaian kata gafuur sebanyak 91 kali di dalam Al-Qur’an (‘Abdul Baqi,  2007:612-614).

Kata Gafuur (Maha Pengampun) pada ayat di atas diikuti oleh kata Rahiim (Maha Penyayang). Ini mengisyaratkan, bahwa ampunan perlu untuk mendapatkan kasih sayang-Nya.

Allah memberi kasih sayang atau rahmat bagi orang yang berbuat salah kemudian memohon ampunan-Nya. Kata Rahiim juga mengandung arti, Allah memberikan rahmat-Nya khusus bagi orang beriman di akhirat (al-Ashfahani, 1992:347).

Magfirah pada Bulan Ramadan

Selain pintu magfirah yang terbuka sepanjang tahun,  peluang itu melimpah ruah pada bulan Ramadan.

Alasannya, antara lain, karena ada ibadah khusus pada bulan Ramadan. Ibadah ini mendatangkan ampunan dan nilainya dilipat gandakan. Di samping itu, disiapkan pintu khusus di surga bagi orang yang menunaikan puasa.

Rasulullah Saw. bersabda, Man shaama Ramadhaana iimaanan wa- htisaaban gufira lahuu maa taqaddama min dzanbih (Barang siapa menunaikan puasa Ramadan, atas dasar iman dan penuh pengharapan, maka diampuni dosa yang telah ia lakukan) (Abu Dawud, I, 2007:510).

Kata shaama dari segi bahasa berarti ‘menahan’. Dari segi syariah, shaama (berpuasa) berarti menghindari makan dan minum, serta hubungan seksual dari terbit fajar hingga matahari terbenam, karena mengharapkan rida Allah (Hijazi, I, 2, 1969:28).

Ini menunjukkan, karakteristik utama ibadah puasa adalah mengerem kebutuhan dan kesenangan material (duniawi) untuk sementara waktu. Sebutan lainnya adalah menahan diri.

Larangan pada pelaksanaan ibadah puasa mencakup pula ucapan yang sia-sia dan dusta. Contoh aktual pada waktu kini adalah, larangan menyebarkan hoax.

Larangan seperti ini jika dilanggar akan mengakibatkan pahala puasa berkurang. Kewajiban terlaksana, namun hasilnya minim atau nihil.

Ibadah puasa memperkuat daya tahan jiwa terhadap larangan. Dengan kata lain, menghindari larangan itu perlu untuk melindungi diri.

Rasulullah Saw. bersabda, Ash-shiyaamu junnah (Muslim, I, 2011:512). Artinya, puasa itu adalah tameng.

Puasa memberi perlindungan dari keinginan nafsu (Dhaif, ed., 2005:141). Maksudnya, nafsu yang tidak pada tempatnya.

Orang melakukan puasa dengan penuh pengharapan (ihtisaaban). Terjemah lainnya, adalah penuh perhitungan atau cermat. Ia berusaha menjauhi hal-hal yang hukumnya haram, atau makruh pada waktu puasa.

Hadis Nabi Saw. juga menjelaskan amal khusus pada bulan Ramadan dengan redaksi lain. Beliau bersabda, Man qaama Ramadhaana iimaanan wa- htisaaban gufila lahuu maa taqaddama min dzanbihi.

Artinya, Barang siapa yang menaruh perhatian pada Ramadan, atas dasar iman dan penuh pengharapan, maka  diampuni dosa yang telah ia lakukan) (Abu Dawud, I, 2007:510).

Frasa qaama Ramadhaana diterjemahkan dengan ‘menaruh perhatian pada Ramadan’. Maksudnya, selain puasa, terdapat amal-amal lain yang dilakukan khusus pada bulan ini.

Salah satunya, menunaikan salat sunat tarawih. Di samping itu, salat sunat yang lain tetap dijalankan atau ditingkatkan frekuensinya pada bulan ini.

Pada bulan Ramadan umat Islam memadukan dua macam tindakan, yakni (1) menahan diri dan (2) berbuat.

Umat menahan diri dari larangan dan berbuat baik yang banyak. Amal  yang baik mencakup kewajiban menunaikan zakat (fitrah) untuk setiap jiwa.

Ini mencakup pula anjuran i‘tikaf di masjid pada sepuluh (atau sembilan)  hari yang terakhir dari Ramadan.

Seperti halnya puasa, salat juga mempunyai fungsi melindungi diri. Difirmankan (artinya), Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar (al-‘Ankabut/29:45).

Dengan demikian, jika ibadah berfungsi secara optimal dalam kehidupan setiap Muslim, maka akan mudah tercipta kehidupan sosial yang lebih aman, rukun, sejahtera, kompak, dan saling membantu.

Ibadah mendatangkan ampunan dan nilainya dilipat gandakan pada bulan Ramadan. Hal ini dinyatakan dalam sejumlah ayat dan hadis.

Di antaranya, imbalan dari Allah Swt. yang disampaikan dalam hadis Rasulullah Saw. Lafaznya, Wa ana ajzii bi-hii. (Muslim, I, 2011:512).

Maksudnya, Allah sendiri yang memberi imbalan yang tak terhitung jumlahnya bagi orang yang berpuasa.

Dengan mengacu pada hadis-hadis di atas, ulama ternama al-Maragi menyatakan bahwa dosa kecil dan besar akan diampuni bila orang bertobat sebelum menjalankan ibadah puasa (al-Maragi, I, 2, t.th.:69).

Selain itu, disiapkan pintu khusus di surga bagi orang yang berpuasa. Rasulullah Saw. bersabda, (artinya); Sesungguhnya di surga ada satu pintu yang dinamai ar-rayyaan. Orang-orang yang taat menunaikan pusa masuk melalui pintu itu pada hari kiamat. Tidak ada seorang pun selain mereka yang melewati pintu itu (Muslim, I, 2011:513).

Sebagai penutup, bulan Ramadan memberi peluang besar untuk mendapatkan magfirah. Caranya, yakni dengan melakukan amal ibadah. Setelah magfirah dari Allah, ada imbalan surga.

Al-Qur’an menyebutkan dua hal itu secara berurutan (Ali ‘Imran/3:133). Magfirah adalah bagian dari rahmat Allah. Rahmat Allah mengantar ke surga. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *