Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Keinginan Sumber Penderitaan

4 min read

Sumber gambar: koranbogor.com

5,917 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Waisak

Tepat di malam purnama sidhi di bulan Waisak, Sidharta, seorang pangeran dari Negeri Kapilawastu, yang saat itu berusia 35, mencapai pencerahan sempurna saat bersemedi di bawah pohon Bodhi.

Tanggal pencapaian pencerahan tersebut, bertepatan dengan tanggal kelahirannya. 45 tahun kemudian, tepat di malam purnama, di tanggal dan bulan yang sama, Sidharta yang telah mencapai pencerahan sebagai Buddha, wafat dan mencapai moksha.

Tiga peristiwa yang terjadi di bulan purnama bulan Waisak tersebut, kemudian diperingati oleh umat Buddha di seluruh dunia sebagai Hari Raya Tri Suci Waisak.

Hari Tri Suci Waisak setiap tahunnya jatuh pada sekitaran bulan Mei, atau awal Juni.

Penderitaan

Saat mencapai pencerahan sempurna di malam purnama bulan Waisak, Sidharta memeroleh empat kebenaran mulia.

Yaitu, kebenaran tentang penderitaan, sebab penderitaan, lenyapnya penderitaan, dan jalan menuju lenyapnya penderitaan.

Empat kebenaran ini menjadi dasar ajaran Buddha, yang berorientasi membebaskan manusia dari lingkaran penderitaan.

Mengapa ada penderitaan? Yaitu, karena adanya keinginan yang berkobar-kobar, dan selalu menuntut untuk mendapatkan pemenuhan, karena keinginan adalah hal yang tak pernah selesai.

Keinginan yang dipenuhi tersebut akan menuntut kembali pada keinginan yang baru. Hingga akhirnya, manusia terjebak pada kegelapan berupa keserakahan dan kebencian.

Dalam ajaran Buddha, kebahagiaan yang sesungguhnya bukanlah dengan nafsu keinginan yang dipenuhi.

Justru sebaliknya, kebahagiaan yang sesungguhnya, adalah ketika nafsu keinginan telah berhasil dipadamkan.

Untuk memadamkan keinginan demi mencapai kebahagiaan yang hakiki, Buddha menawarkan delapan jalan kebenaran.

Yaitu; pandangan yang benar, pikiran yang benar, perkataan yang benar, tindakan yang benar, kehidupan yang benar, usaha yang benar, kesadaran yang benar, dan konsentrasi yang benar.

Secara singkat kedelapan jalan tersebut, terdiri atas tiga dimensi, yaitu; kebijaksanaan, moralitas dan disiplin.

Ketiga dimensi yang diimplementasi melalui delapan jalan merupakan syarat utama bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan yang hakiki.

Pada hakikatnya, ajaran semua agama bertujuan membebaskan manusia dari penderitaan, dan doktrin semua agama menyebut keinginan yang didasarkan oleh dorongan hawa nafsu, adalah sumber utama penderitaan tersebut.

Semua agama dengan berbagai bentuk ajarannya pada intinya menuntun manusia untuk menekan atau mengendalikan keinginan hawa nafsu agar manusia dapat selamat.

Memperturutkan keinginan adalah tercela menurut ajaran semua agama. Sebab, hal tersebut bersifat merusak diri sendiri, tatanan sosial, hingga tatanan alam semesta.

Pikiran

Keinginan sumber penderitaan, tempatnya di dalam pikiran, tujuan bukan utama, yang utama adalah prosesnya”.

Demikian petikan syair dari lagu Iwan Fals yang bertajuk, “Seperti Matahari”.

Hal yang mendorong manusia untuk memperturutkan keinginan hawa nafsunya, adalah pikiran yang terlalu fokus pada pemenuhan kesenangan yang bersifat material (hedone).

Doktrin esensial semua agama tentang manusia, bahwa pada hakikatnya manusia makhluk ruhani, sehingga mengajarkan manusia untuk selalu berorientasi pada visi ruhani dan tidak larut dalam dimensi jasmani.

Agama menuntun pikiran manusia untuk tunduk pada visi ruhaniah, karena secara esensial sifat ruhani yang abadi, sedangkan dimensi material-jasmani bersifat fana (hancur).

Semua agama membimbing manusia untuk melakukan permenungan mendalam tentang hakikat dirinya di tengah belantara semesta, serta untuk mencapai puncak pencerahan yang menghasilkan ketundukan dalam bentuk perilaku, yang senantiasa berada dalam koridor moral-etik.

Epictetus, seorang Filosof Yunani, mengatakan, “Bukan benda-benda yang memengaruhi manusia, melainkan pikirannya tentang benda-benda itulah yang memengaruhinya.”

Socrates

Socrates, sang guru bijak dari Athena, kerap kali berjalan-jalan di pasar. Namun, tak satu pun barang yang ia beli.

Seseorang kemudian bertanya kepada Socrates; mengapa ia sering berjalan-jalan di pasar, tetapi tidak  membeli satu barang pun.

Socrates menjawab dengan santai, “Semakin sering aku ke pasar, semakin aku tahu begitu banyak barang yang tidak aku butuhkan.”

Pikiran bijak seorang Socrates telah melampaui kesadaran bendawi, sehingga tumpukan benda-benda sama sekali tak memantik ketertarikannya.

Pikiran yang tak berorientasi bendawi menjadikan pikiran merdeka dari penjara keinginan karena dengan jelas dapat membedakan mana yang benar-benar kebutuhan dan yang mana hanya sekadar keinginan.

Pikiran yang berorientasi bendawi cenderung membuat jiwa manusia menjadi lalai dan inilah yang ingin dibebaskan oleh Sang Buddha dan semua manusia suci pendiri agama sepanjang sejarah.

Menurut Buddha, pikiran merupakan pelopor yang mendahului semua kondisi batin, dan pikiranlah yang membentuk segala kondisi batin tersebut. Untuk itu, Buddha sangat menekankan memerhatikan pikiran, adalah awal jalan mencapai kebahagiaan.

Bahagia

Kita hidup mencari bahagia. Harta dunia kendaraannya. Bahan bakarnya budi pekerti. Itulah nasehat para nabi”. Lanjut Virgiawan Listanto atau yang lebih dikenal sebagai Iwan Fals dalam lirik lagu “Seperti Matahari”.

Mereka yang mengetahui kebahagiaan sebagai kualitas jiwa yang terlepas dari penjara keinginan bendawi buan berarti berpantang pada harta.

Kepemilikan harta dioptimalkan sebagai jalan dan bukan tujuan, melalui kehalusan budi yang penuh empati.

Ingin bahagia derita didapat. Karena ingin sumber derita. Harta dunia jadi penggoda. Membuat miskin jiwa kita.

Aristoteles menyebut, kebahagiaan material sebagai kebahagiaan tingkat rendah yang bersifat semu. Hidup yang mencari nikmat dalam arti inderawi semata-mata justru akan mengecewakan.

Menurut Aristoteles, kebahagiaan sejati mesti berasal dari batin yang dididik dan kebahagiaan hanya bisa dicapai oleh mereka yang berhasil menguasai hawa nafsunya, yang diwujudkan melalui tindakan-tindakan moral.

Mencapai kebahagiaan sejati melalui pembebasan jiwa dari lingkaran samsara menjadi orientasi ajaran Buddha.

Kebahagiaan tertinggi dalam pandangan Buddha disebut anavajja-sukha, yang hanya bisa didapatkan dengan melatih pikiran dan batin untuk tetap tenang.

Senada dengan Aristoteles, konsep kebahagiaan dalam Buddha ketika pikiran kita berjalan penuh kebajikan pada makhluk lain.

Itu sebabnya, doa yang selalu dilafalkan oleh umat Buddha adalah; “Shabbe satta bhavantu sukhitata” (semoga semua makhluk hidup berbahagia).

 ”Ada benarnya nasehat orang-orang suci. Memberi itu tenangkan hati. Seperti matahari. Yang menyinari bumi. Yang menyinari bumi.

Selamat Hari Raya Tri Suci Waisak 2564 BE kepada seluruh saudara Buddhis. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Sadu. Sadu. Sadu. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *