Sat. Dec 5th, 2020

BLAM

KEREN

“Kandalak-Kandalakka”: Tradisi Sumpah dan Kutukan

4 min read

Penderita penyakit kandala. Foto: Husnul

8,132 total views, 2 views today

Oleh: Husnul Fahimah Ilyas (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

“Kandalak-kandalakka” adalah kata yang masih sering terdengar dalam interaksi sosial masyarakat Bugis-Makassar.

Terutama, ketika anak-anak sedang bermain dan melakukan kecurangan terhadap temannya, tetapi tidak mau mengakuinya.

Dalam situasi terdesak seperti ini, spontan keluar dari mulut imutnya; “kandalak-kandalakka kodong”, yang kadang disertai dengan menunjukkan jari-jari tangannya melengkung bak penderita kusta.

Bukan hanya di kalangan anak-anak, kata ini juga terkadang spontan dilontarkan orang-orang dewasa dalam bercanda, ataupun dalam situasi serius ketika bercerita.

Pertanyaannya, ada apa dibalik kandalaq? Mengapa mereka menggunakan kata kandalak-kandalakka sebagai sumpah ataukah kutukan?

Teks Suci

Sejumlah mitos penyakit kulit yang diderita oleh tokoh-tokoh, disuguhkan dalam teks-teks suci.

Seperti yang dialami Nabi Ayub dalam Surah al-Anbiya ayat 83-84;

“Dan (ingatlah kisah) Ayub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, Ya Tuhanku, sungguh aku telah ditimpa penyakit padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang. Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami, dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami.” 

Kitab Perjanjian Lama menyebutkan kusta sebagai kutukan dari Tuhan disebutkan dalam 2 Raja-Raja 15: 4-5 yang berbunyi:

“Namun demikian, bukit-bukit pengorbanan tidaklah dijauhkan. Bangsa itu masih mempersembahkan dan membakar korban di bukit-bukit itu. Maka Tuhan menimpakan tulah kepada raja, sehingga ia sakit kusta sampai hari kematiannya, dan tinggal dalam sebuah rumah pengasingan. Dan Yotan anak raja, mengepalai istana dan menjalankan pemerintahan atas rakyat negeri itu.” 

Ketika itu, penyakit kusta dianggap tula dan najis. Dan, untuk tidak menyebarkan najisnya ke masyarakat, penderita harus diasingkan.

Namun, dengan kehadiran Yesus yang dapat menyembuhkan kusta bukan lagi sebagai penyakit kutukan. Yesus dapat mentakhirkan atau menyembuhkan kusta, seperti yang tertera dalam Kitab Suci Perjanjian Baru.

Lontarak

Dalam teks-teks lontarak disuguhkan cerita tentang tokoh yang terjangkit penyakit kulit. Sebut misalnya, cerita tentang putri Raja Luwu We Taddampali, yang diserang penyakit kulit hingga di alirkan ke sungai dan diasingkan.

Di tempat pengasingan, ia membangun kampung yang subur dan damai. Dalam pengasingan,  We Taddampai bertemu tedong mpuleng (kerbau belang), yang kemudian kerbau belang itu menjilati sekujur tubuhnya.

Sang putri pun akhirnya sembuh dari penyakit kulit, dan kembali menjadi cantik seperti sedia kala.

Cerita yang sama dialami pula oleh putri bangsawan, Andi Tenri Uleng. Putri bangsawan Bacukiki yang berpenyakit kulit ini, juga diasingkan di suatu kampung.

Selama di pengasingan, ia bekerja menjaga padi, hingga pada suatu pagi, seekor kerbau belang menjilati tubuhnya.

Setelah itu, Sanrebo memandikan sang putri dengan air sumur di tepi laut selama 40 hari 40 malam, hingga kulitnya bersih bersinar.

Begitupula cerita tentang Putri Sawerigading, We tenri Dio, yang tidak sembuh dari penyakit sagala, hingga diasingkan di Selayar. Kemudian, ia rutin diobati dengan alunan pukulan Gong Naraka, sehingga sembuh dari penyakit yang diderita.

Kesemua cerita yang dikisahkan, baik di dalam kitab suci maupun dalam teks-teks lontarak tentang pandemik penyakit kulit dan kusta, ada kemiripan.

Penegasan kemiripan itu adalah pada perlakukan keluarga (pengasingan) dan terjadi mukjizat penyembuhan penyakit.

Adaptasi mitos cerita pewabahan penyakit kusta/lepra, menggiring masyarakat melakukan jejak yang sama.

Misalnya, ketika penderita mengalami situasi penyakit yang tak kunjung sembuh, pihak keluarga lalu mengasingkannya, supaya jauh akses publik, rumah, maupun istana.

Kisah Penderita Kusta 

Setelah mengalami sakit lepra atau kandalak (bahasa Makassar), kaddalakeng, colakeng, malope jampu (bahasa Bugis), mereka kemudian diisolasi di rumah. Mereka tidak dapat keluar rumah dan berinteraksi. Dikurung dalam bilik di dalam kelambu.

Padahal, inilah yang menyebabkan penularan garring puwa atau sei (istilah pendemi dalam bahasa Makassar-Bugis) lebih cepat, karena jauh dari sentuhan medis.

Mycrobacterium Leprae aktif menyerang saraf tepi, kulit, dan jaringan tubuh, sehingga sensivitas kulit mengalami mati rasa dan muda luka.

Selanjutnya, lukanya menjadi luka serius, merusak jaringan yang lain, yang akhirnya sakit hebat dan mengakibatkan buntung.

Akibatnya, tampilan fisik penderita kusta tampak mengerikan. Di sinilah terjadilah gejolak dalam keluarga. Pilihan mengasingkan si penderita, adalah hal yang ditempuh untuk mempertahankan strata sosialnya.

Para penderita kusta lalu merantau ke tempat pengasingan. Ada yang ke Jongaya Makassar dan di Kilometer 10 Perintis Makassar.

Ada juga yang merantau dan mengasingkan di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan, seperti Lauleng Parepare, Bola Gemme/Totinco Wajo, Lerang Bone, Batuleleng Rantepao.

Tempat-tempat pengasingan adalah tempat rehabilitasi bagi mereka. Bukan saja rehabitasi fisik yang didapatkan penderita, melainkan juga include dengan rehabilitasi sosial.

Sebut saja kompleks kusta di Jongaya, yang merupakan tanah wakaf milik seorang Kerajaan Gowa, yakni Karaeng Bonto Biraeng. Tanah ini kemudian dihibahkan semasa pemerintahan Gubernur Andi Pangerang Pettarani.

Camp ini kemudian dikelola oleh Bestuur Vereeniging pada 1936 bersama Yayasan Bala Keselamatan, yang dikhususkan bagi penderita kusta.

Camp-camp pengungsian di bawah kontrol medis Belanda, mereka melakukan pengobatan, pengembangan penelitian, serta pengawasan supaya tidak terjadi penularan.

Para penderita lepra mendapatkan perawatan medis sampai sembuh dan tidak menularkan kepada orang lain. Kebutuhan hidup mereka pun dijamin selama terpapar.

Setelah sembuh total, mereka enggan balik ke kampung kelahirannya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, mereka bekerja sebagai petani, pembuat batu bata, dan beternak ulat sutra.

Dan pada tahun 2000-an, situasi pemukiman berubah. Lahan mulai menyusut, mengalami keterbatasan fisik, usia mereka makin bertambah, hingga kukuatan mereka menurun.

Kondisi yang dihadapinya membuat eks-penderita kusta beralih profesi menjadi mengemis dan tukang parkir.

Pilihan tempat pengasingan sebagai titik akhir dari deretan peristiwa tragis yang dilaluinya. Pengucilan, hinaan, pelemparan, bahkan pengusiran dari kampung mereka.

Pengasingan merupakan rumah baru mereka, rumah yang damai dan tenteram. Kampung di mana mereka meniti karier bersama saudara, sahabat, dan koleganya yang senasib.

Nilai persaudaraan bagi mereka sangat berarti, meskipun secara biologis tidak sedarah. Akan tetapi, mereka diikat tali penderitaan yang sama. Ikatan inilah yang membuat mereka saling menguatkan dan saling bahu membahu.

Entitas survive mereka ada di kampung pengasingan ini. Mereka tidak pernah pasrah pada takdir. Terdapat sebuah grafiti di pojok kampung pengasingan memberikan semangat kehidupan.

“Senyum adalah hal terindah dilakukan untuk membuat orang lain bahagia.” (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *