Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Ikhwal Perempuan Mengimami Laki-laki Dewasa Salat Tarawih

6 min read

Sumber gambar: ebookanak.com

8,530 total views, 2 views today

Oleh : Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Bulan ramadan tahun ini berbeda dari biasanya. Kalau ramadan sebelumnya, ibadah tarawih di malam hari lebih banyak dilakukan di masjid, kali ini, karena wabah corona, harus dilaksanakan di rumah.

Mau tidak mau, jika salah tarawih ingin digelar berjamaah di rumah, sang lelaki paling tua di rumah itu, harus siap-siap menjadi imam. Biasanya, yang akan ketiban jadi imam  adalah sang suami.

Tetapi , di sinilah sengkarutnya. Tidak semua laki-laki atau tegasnya si suami bisa jadi imam. Ada yang beralasan kurang banyak menghapal surah Al-Qur’an.

“Kurang afdal rasanya jika setiap rakaat hanya membaca ‘Qulhu…’(Surah-al-Ikhlas) terus yang diulang-ulang, setelah baca Al-Fatihah.” Begitu di antara alasan yang mengemuka.

Namun, rupanya, diam-diam, banyak di antara laki-laki itu yang memang belum bisa membaca Al-Qur’an. Kalau pun ada surah yang dihapal, bacaannya belepotan.

Di saat yang sama, ternyata istrinya lebih pintar mengaji. Hapal surah-surah, bacaannya bagus, dan suaranya pun merdu pula. Maklum, alumni pesantren.

Daripada sang lelaki jadi imam tetapi harus mandi keringat dingin yang bercucuran, mending mundur teratur.

Lantas, di sinilah kemudian muncullah pertanyaan; bisakah ditukar laki-laki jadi makmum saja dan perempuan yang lebih bagus bacaannya itu, yang mengambil posisi sebagai imam?

Imam Perempuan

Beberapa tahun silam, tepatnya 18 Maret 2005, seorang perempuan bernama Amina Wadud  pernah menjadi imam dalam salat.

Tidak tanggung-tanggung, perempuan yang bernama asli Mary Teasly itu, jadi imam Salat Jumat di Synod House, Manhattan, New York, di tempat yang notabenenya milik Katedral Saint John.  Tak ayal, peristiwa ini membuat gempar jagat Islam.

Yang lebih menghebohkan dari kasus Amina Wadud ini, adalah ketika sosok Seyran Ates, juga seorang perempuan, menjadi Imam di Masjid Ibn Rushd, Berlin, Jerman.

Lebih heboh, karena jemaahnya campur aduk dari berbagai aliran dalam Islam dan tidak ada saf yang jelas antara laki-laki dan perempuan. Konon, bahkan laki-laki bisa salat berdampingan dengan perempuan pada saat itu.

Dua peristiwa ini mendapat tanggapan sengit dari banyak umat Islam. Rata-rata memberikan kecaman atas tindakan berani yang dilakukan dua perempuan muslim tersebut.

Apakah dengan demikian, Islam memang tidak memberikan peluang perempuan jadi imam di tengah laki-laki dewasa?

Kalau bercermin dari dua kasus tadi, di mana banyak umat Islam yang memberikan kecaman terhadap tindakan yang diambil dua perempuan itu, saya menganggap bukan karena soal ajaran Islam tidak membolehkan atau melarang perempuan menjadi Imam Salat.

Kecaman itu dilontarkan, karena apa yang dilakukan dua perempuan itu, lebih berwujud selebrasi atas satu pandangan.

Tindakan Aminah Wadud maupun Seyran Athes menjadi imam, tidak dilakukan karena satu kebutuhan, tetapi hanya ingin merayakan satu pendapat kesetaraan gender dalam Islam.

Saya pribadi pun kurang sejalan dengan apa yang dilakukan keduanya.

Baiklah. Kalau begitu kita lupakan dua perempuan kontroversial itu, dan kita kembali pada pertanyaan semula; Bolehkan perempuan mengimami laki-laki dalam salat, khususnya di bulan Ramadhan ini dalam salat tarawih?

Terus terang, saya tidak punya kapasitas menjawab itu. Saya bukan ahli ilmu agama. Tetapi,  lamat-lamat, saya ingat pernah ditugaskan mengulas persoalan imam perempuan dalam sebuah tugas perkuliahan.

Inilah yang saya akan kemukakan di sini.

Mengenai boleh tidaknya perempuan menjadi imam salat, memang terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama.

Empat Mazhab

Empat  mazhab: Syafii, Maliki, Hanafi dan Hambali, sepakat membuat persyaratan menjadi imam salat  harus Islam, balig, berakal dan laki-laki.

Dalam syarat imam salat tersebut ada keharusan laki-laki. Meski demikian, itu tidak berarti perempuan sama sekali tidak boleh.

Mazhab Syafii, Hanafi dan Hambali, misalnya, masih membolehkan perempuan menjadi imam atas sesama perempuan.

Ahmad bin Hambal dalam salat tarawih membolehkan, bahkan meskipun ada makmum laki-laki. Syaratnya, menurut imam Ahmad bin Hambal, tidak ada laki laki yang bagus bacaannya.

Selain itu, saat jadi imam, perempuan tetap di belakang makmum laki-laki. Hanya  Imam Malik yang secara tegas menyatakan tidak boleh, meskipun terhadap sesama perempuan.

Muhammad Ibn Ahmad Ibn Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid.  h. 145 menyatakan, secara umum jumhur ulama tidak membolehkan perempuan menjadi imam salat bagi laki-laki.

الْمَسْأَلَةُ الرَّابِعَةُ :اخْتَلَفُوْا فِي إِمَامَةِ الْمَرْأَةِ. فَالْجُمْهُوْرُ عَلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُ أَنْ تَؤُمَّ الرِّجَالَ

Dasar bagi ulama yang tidak membolehkan perempuan menjadi imam dalam salat, khususnya mengimami laki-laki, adalah beberapa hadis Nabi. Di antara hadis itu adalah hadis Ibn Jabir yang diriwayatkan oleh Ibn Majah:

ألا لا تؤمن امرأة رجلا . ولا يؤم أعرابي مهاجرا . ولا يؤم فاجر مؤمنا إلا أن يقهره بسلطان يخاف سيفه وسوطه

 (Jangan sekali-kali perempuan menjadi imam (bagi) laki-laki, penduduk baduwi imam (bagi) penduduk urban, pelaku maksiat imam (bagi) orang beriman, kecuali (karena) dia dipaksa oleh penguasa yang ditakuti pedang dan cambuknya.”)

Kendati hadits ini menjadi rujukan mayoritas ulama, tetapi Abu Hajar al-Asqalani dalam Tahzib al Tahzib menyatakan, hadits ini dianggap lemah, karena di sana ada periwayatnya yang bermasalah, yaitu Abdullah bin Muhammad al-Adawy.

Al-Bukhari dan Abu Hatim ar-Razi menganggap, hadis-hadis Al-Adawy tidak diterima. Bahkan,  Abu Hatim menambahkan, al-Adawy guru yang tidak dikenal.

Ibn Adi  menganggap, hadits yang dimiliki al-Adawy hanya sedikit, sementara Imam Daraqutni  menganggap, haditsnya matruk.

Dari beberapa keterangan di atas, perempuan yang tidak boleh menjadi imam salat, adalah jika di antara makmumnya ada yang laki-laki.

Sementara itu, jika perempuan menjadi imam salat bagi sesama perempuan, rata-rata ulama tidak mempersoalkan sama sekali.

Kendati demikian, ulama yang membolehkan perempuan jadi imam, bahkan meskipun ada laki-laki dewasa yang menjadi makmumnya ternyata juga tidak sedikit.

Di antara mereka, selain Ahmad bin Hambal, adalalah Abu Tsaur, seorang mufti besar dari Iraq.  Di samping itu, ada pula Ibn Jarir al-Thabari  (wafat 310  H) dan imam al-Muzani (175-264 H).

Yang terakhir ini adalah murid utama dari imam Syafii. Tentang hal ini disebutkan dalam Bidayatul Mujtahid:

وَشَذَّ أَبُوْ ثَوْرٍ وَالطَّبَرِيُّ فَأَجَازَا إِمَامَتَهَا عَلَى اْلإِطْلاَقِ.

Para ulama yang berpendapat bolehnya perempuan menjadi imam salat di tengah makmum laki-laki dewasa ada syaratnya.

Salah satunya, tidak ada laki-laki yang lebih baik bacaannya. Serta satu lagi syarat, yang saya temukan dalam tulisan Kiai Imam Nakhai, yang menurut saya cukup menarik. Saat jadi Imam, perempuan tetap berdiri di belakang makmum laki-laki.

Jika praktiknya demikian, maka imam itu tidak mesti selalu berada di depan, tetapi boleh pula berada di belakang yang diimaminya.

Salah satu alasan, mengapa ada syarat imam perempuan berada di belakang makmum laki-laki, karena dikhawatirkan kalau perempuan di depan akan menimbulkan syahwat bagi laki-laki yang melihatnya dari belakang.

Dasar para ulama yang membolehkan perempuan menjadi imam adalah hadist Nabi dari Ummu Waraqah:

وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَزُورُهَا فِى بَيْتِهَا وَجَعَلَ لَهَا مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ لَهَا وَأَمَرَهَا أَنْ تَؤُمَّ أَهْلَ دَارِهَا. قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ فَأَنَا رَأَيْتُ مُؤَذِّنَهَا شَيْخًا كَبِيرًا.

(Bahwa Rasulullah mengunjunginya di rumah dan mengangkat untuknya seorang muazin yang berazan untuknya dan memerintahkannya untuk mengimami keluarganya di rumah. Abdurrahman berkata, saya melihat muazinnya seorang lelaki tua.)”

Hadits Ummu Waraqah ini terdapat dalam Sunan Abu Daud Juz I halaman 230, terdapat pula dalam al-Baihaqi juz III halaman 130 dan Al-Daraqutny Juz I halaman 430, masing-masing dengan redaksi yang sedikit berbeda.

Dari sisi matan, hadis Ummu Waraqah ini tidak ada yang janggal. Hanya dari sisi sanad dianggap ada kecacatan, sebab di sana ada periwayat yang bernama Walid Ibn Jumay’I dan Abdurrahman ibn Khalad yang dianggap bermasalah.

Tetapi, hal ini sama saja dengan hadits yang dijadikan rujukan para ulama, yang melarang perempuan jadi imam salat bagi laki-laki.

Dalam hadits tersebut, sebagaimana dikemukakan sebelumnya, terdapat pula periwayat hadits yang dianggap bermasalah.

Dengan demikian, menurut hemat saya, baik hadis yang melarang perempuan menjadi imam salat bagi laki-laki maupun yang membolehkannya, sama kuatnya. Jika hadis yang melarang boleh menjadi rujukan, begitupula hadis yang membolehkan.

Begitulah perbedaan pandangan ulama dalam soal imam perempuan ini. Fiqih telah menyediakan beragam pendapat.

Fikih ibarat lautan ilmu dengan pantai yang berbeda-beda.  Kita diberi pilihan untuk meneguk air laut ilmu tersebut dari tepi pantai yang berbeda-beda.

Dalam situasi tarawih di rumah saat ini, di mana sang istri dianggap lebih cakap ilmu agama dan lebih bagus bacaannya, tidak ada salahnya mencoba pandangan yang terakhir ini.

Sesekali perempuan ditempatkan menjadi imam salat, karena memang ada situasi yang memaksakan hal itu.

Apalagi menurut beberapa ulama, Ummu Waraqah saat itu memang menjadi imam salat tarawih di tengah keluarganya, yang kebetulan juga ada laki-laki dewasa.

Al-Syaukani, dalam Nailul Authar menyatakan:

وَأَجَازَ الْمُزَنِّيُ وَأَبُوْ ثَوْرٍ وَالطَّبَرِيُّ إِمَامَتَهَا فِي التَّرَاوِيْحِ إِذَا لَمْ يَحْضُرْ مَنْ يَحْفَظُ الْقُرْآنَ

(Imam Muzany, Abu Tsaur dan Tabary membolehkan imam perempuan dalam salat tarawih, jika tidak ada laki-laki dewasa yang hafal Al-Qur’an).

Lantas, bagaimana caranya ketika perempuan yang jadi imam tarawih di rumah? Apakah mengikuti pendapat ulama yang mengatakan bahwa Imam perempuan tetap berada di belakang makmum laki-laki? Boleh saja, jika pendapat ini yang ingin digunakan.

Namun, saya setuju dengan Kiai Nakhai, bahwa dalam salat seyogianya orang tidak bawa-bawa lagi nafsu syahwat.

Jika ada lelaki dalam salat muncul syahwatnya ketika melihat perempuan di depannya, sungguh terlalu… kata Bang Haji Rhoma.

Kalau soal syahwat ini sudah bisa diatasi, maka imam perempuan berdiri di saf paling depan,  tidak lagi perlu dipermasalahkan.

Apalagi toh ini di rumah sendiri. Makmum laki-lakinya pun, palingan suami dan anak-anaknya. Jadi, tidak perlu khawatirlah mereka masih muncul syahwat. 

Wallahu A’lam Bisawwab. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *