Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Berusaha Menjadi Orang Saleh

5 min read

5,022 total views, 2 views today

Oleh: H.M.Hamdar Arraiyyah (Profesor Riset Balai Litbang Agama Makassar)

Muslim di Indonesia terbiasa dengan penggunaan kata saleh. Kata  ini sudah diserap dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Frasa amal saleh sangat lazim dibicarakan dalam kajian keagamaan Islam.

Kata shaalih dalam bahasa Arab berarti ‘baik’. Kata shalaha berarti ‘terhindar dari keburukan’. Kalimat shalaha asy-syai’ dipakai untuk menyatakan bahwa sesuatu itu membawa manfaat; pantas (Dhaif, ed., 2005:520).

Orang yang beriman dituntun untuk melakukan amal saleh. Maksudnya, perbuatannya sesuai dengan tuntunan Allah Swt. dan Rasul-Nya.

Orang yang menunjukkan tindakan demikian itu diidentifikasi sebagai orang saleh. Dengan demikian, kata saleh menerangkan perbuatan dan orang.

Kata saleh dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikategorikan sebagai adjektiva. Artinya, antara lain, taat dan sungguh-sungguh menjalankan ibadah. Kesalehan, diartikan antara lain, dengan kesungguhan menunaikan ajaran agama (1997:866).

Penggunaan kata saleh dalam bahasa Indonesia mengalami pengembangan. Muncul istilah kesalehan individual dan kesalehan sosial. Kedua kategori ini, agaknya, baru populer sekitar tiga dasawarsa belakangan ini.

Keinginan untuk menjadi orang saleh sebaiknya tertanam kuat di hati setiap Muslim. Keinginan itu ditunjukkan sebagian orang tua dengan memilih kata saleh untuk nama putranya. Misalnya, Muhammad Saleh.

Kata Muhammad berarti ‘terpuji’. Dengan demikian, perpaduan dua kata itu dapat diartikan dengan orang yang terpuji dan baik.

Selain itu, nama tersebut biasanya menunjukkan bahwa orang yang menyandangnya adalah pengikut Nabi Muhammad Saw. Nama tersebut diharapkan  membawa pengaruh pada pembentukan karakter dan orientasi hidup.

Nama Saleh tidak hanya disandang oleh orang biasa, melainkan juga nabi. Salah seorang dari 25 nama nabi yang disebutkan di dalam Al-Qur’an adalah Nabi Saleh a.s.

Dengan demikian, nama Muhammad Saleh menyerupai nama dua orang nabi sekaligus. Pemberian nama seperti itu merupakan suatu bentuk ekspresi kesadaran beragama.

Berikut ini salah satu ayat Al-Qur’an yang memuat nama Nabi Saleh a.s. dan kaumnya.

Allah Swt. berfirman (artinya):

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Saleh. Dia berkata: ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya. Karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya)’ (Hud/11:61).

Predikat Saleh 

Predikat saleh tergolong achieved status. Predikat muslim shaleh (Muslim yang baik) atau muslimah shalehah (Muslimah yang baik) disematkan kepada seseorang sesuai sifat dan perbuatannya. Penilaian itu dicapai berkat usaha dan perjuangan.

Penilaian dari sesama manusia itu adanya di dunia. Lebih dari itu, penilaian baik dari Allah Swt. diperlukan oleh setiap Muslim di dunia dan di akhirat kelak.

Dengan demikian, predikat saleh perlu diupayakan secara lahiriah dan batiniah. Hanya Allah Swt. yang mengetahui dengan sesungguhnya isi hati seseorang. Penilaian Allah sifatnya final. Hal yang demikian itu akan ditunjukkan di akhirat kelak pada waktunya.

Banyak ragam pesan Al-Qur’an yang memberi dorongan bagi setiap Muslim untuk menjadi saleh.

Di antaranya, (1) Memerintahkan manusia untuk mengerjakan amal saleh dan menjauhi kemusyrikan agar dapat bertemu Tuhannya di akhirat (al-Kahf/18: 110); (2) Menjelaskan bahwa orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh akan masuk surga (al-Baqarah/2:82);

(3) Menjelaskan bahwa manfaat amal saleh terpulang kepada orang yang melakukannya (Fushshilat/41:46); (4) Menjanjikan kehidupan yang baik bagi laki-laki dan perempuan yang mengerjakan amal saleh atas dasar iman (an-Nahl/16:97);

(5) Mengingatkan kerugian bagi manusia yang mengabaikan untuk beriman dan mengerjakan amal saleh  (al-‘Ashr/103:1-3); dan (6) Mengabarkan bahwa penghuni neraka baru sadar untuk melakukan amal saleh pada waktu berada di tempat itu (as-Sajdah/32:12).

Salah satu dari ayat-ayat yang disebutkan itu sebagai berikut.

Allah Swt. berfirman (artinya):

Barangsiapa  mengerjakan kebajikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa berbuat jahat, maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi (hamba-hamba-Nya) (Fushshilat/41:46).

Ayat lainnya menyatakan (artinya); Dan (alangkah ngerinya) jika kamu melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sungguh, kami adalah orang-orang yang yakin. (as-Sajdah/32:12)

Nabi sebagai Orang Saleh

Al-Qur’an menjelaskan bahwa para nabi itu adalah orang-orang yang baik (saleh). Di antaranya (artinya), Dan Zakaria, Yahya, Isa, dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang saleh (al-An‘am/6: 85). Nabi sebagai orang saleh diakui pula di akhirat (an-Nahl/16:122).

Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa para nabi memperoleh jaminan sebagai orang baik di sisi Allah.

Dengan demikian, kisah para nabi yang diterangkan di dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad Saw. perlu dijadikan sebagai pelajaran oleh setiap Muslim dalam usahanya untuk menjadi orang saleh.

Selanjutnya, Al-Qur’an menempatkan orang-orang saleh pada peringkat yang mulia. Peringkat orang saleh disebut sesudah para nabi, para shiddiqiin (orang-orang yang benar), dan syuhada. Mereka diberi nikmat oleh Allah  (an-Nisa’/4:69). Kesemua golongan manusia itu disebutkan agar jalan hidup mereka diteladani.

Al-Qur’an juga menyebut nama beberapa orang,  bukan dari kalangan nabi, tetapi memperlihatkan keteladanan. Di antaranya, pria bijak Luqman dan perempuan suci Maryam.

Prinsip dan perjuangan mereka dalam mengupayakan kebaikan perlu diteladani. Perjuangan mereka memberi inspirasi bagi kaum pria dan perempuan.

Berusaha dan Berdoa

Langkah awal yang perlu diusahakan untuk menjadi orang saleh adalah menata hati.

Sabda Nabi Muhammad Saw. menjelaskan, Alaa wa inna fi-l jasadi mudhgatan, idzaa shalahat shalaha-l jasadu kulluhu, wa idzaa fasadat fasada-l jasadu kulluhu.

Artinya, Ingatlah, di dalam jasad itu ada segumpal darah, jika ia baik, maka akan baik seluruh tubuh dan jika ia rusak maka akan rusak seluruh tubuh. Ingatlah, ia adalah hati (al-Bugha dan al-Khin, 2002:175).

Sejalan dengan pesan hadis di atas, maka niat harus diperbaiki pada setiap tindakan. Niat bertempat di hati. Ibadah mensyaratkan adanya niat karena Allah Swt. semata. Sebutannya, Lillahi Ta‘ala.

Demikian pula dengan keimanan, iman diawali dengan pembenaran di dalam hati, kemudian diutarakan dengan lidah dan dijalankan dengan gerak anggota tubuh.

Nabi Muhammad Saw. menjelaskan kepada pengikutnya bahwa Ra’sul amri al-Islam (Pangkal segala urusan adalah al-Islam).

Demikian salah satu pesan dalam satu rangkaian hadis yang diriwayatkan Imam at-Tirmidzi. Pangkal urusan yang dimaksud adalah mengucapkan dua kalimat syahadat (al-Bugha dan al-Khin, 2002:247 dan 252).

Iman menjadi landasan amal saleh. Dengan kata lain, amal menjadi bernilai di sisi Allah Swt. bila dilandasi dengan iman kepada-Nya. Ini sejalan dengan urutan iman dan amal saleh yang terdapat pada sejumlah ayat Al-Qur’an.

Rasulullah Saw. bersabda, Innama-l a‘maalu bin- niyaat wa innamaa likulli- mri’in maa nawaa (Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan.) Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim (al-Bugha dan al-Khin, 2002:9).

Isi hati atau pikiran itu menentukan. Ismail A. Kalla mengatakan, What we picture in our minds, our minds will go to work to accomplish (Apa yang kita gambarkan di dalam pikiran kita, pikiran kita akan berusaha untuk mencapainya) (Kalla, 2016:7). Di sinilah perlunya niat baik.

Usaha untuk menjadi orang saleh atau bagian dari mereka harus disertai dengan doa. Al-Qur’an memuat beberapa teks doa.

Di antaranya, (artinya) Dan dia berdoa, “Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang Engkau telah anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh (an-Naml/27:19).

Selain itu, secara rutin Muslim yang selesai berwudu  dipandu oleh Nabi Saw. untuk berdoa. Salah satu isi doa berbunyi, wa- j‘alni min ‘ibaadika-sh shaalihin (dan jadikanlah aku bagian dari hamba-hamba-Mu yang saleh).

Salah satu langkah penting untuk menjadi orang saleh ialah menghadiri majelis orang saleh dan majelis orang alim dan bijak.

Bila ada halangan, kajian agama yang disampaikan oleh para alim yang mencerahkan dapat diikuti melalui siaran televisi dan radio secara langsung.

Sebagian dari kajian itu direkam dan diedarkan agar dapat disaksikan atau didengar oleh kaum Muslimin di rumah. (*)

Sumbergambar: salamdakwah.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *