Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Wabah “Sagala” di Sulawesi Selatan (1960-1966)

4 min read

Wabah cacar pada abad pertengahan. Foto: istimewa

3,076 total views, 4 views today

Oleh: Husnul Fahimah Ilyas (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Epidemi atau wabah, adalah penyakit menular yang berjangkit dengan cepat. Menyerang orang-orang di daerah yang luas.

Salah satu epidemi yang pernah terjadi di Sulawesi Selatan dalam kurun waktu 1960-1966,  adalah cacar.

Jika menilik ke belakang, wabah ini baru saja selesai, dan menyisakan kisah dan tanda dari beberapa orang yang pernah terpapar.

Hal ini terlihat dari tanda “bettiq” (bopeng) di muka, di tangan, bahkan di badan. Bagi yang pernah terkena cacar, ia akan meninggalkan jejak yang sangat khas.

Kita tidak boleh menutup mata mengenai apa yang telah terjadi di masa lalu. Konon, pada 1960-1966, hampir semua masyarakat terpapar wabah cacar. Tanpa mengenal usia, dan menelan banyak korban jiwa.

Virus Varicella Zoster menular bak kobaran api. Ia dengan cepat menyebarkan virusnya melalui udara, dan kontak langsung dari lendir atau cairan luka yang lepuh.

Tubuh penderita merasakan sakit, nyeri, melepuh, hingga mencair berlumuran nanah. Mereka tidak lagi menggunakan kain untuk menutupi tubuh si penderita.

Sebab, kain akan menyerap cairan lepuhan hingga kulit dan luka lepuhan akan terangkat ketika kain itu mengibas. Alternatifnya adalah, menggunakan pucuk daun pisang untuk menutupi tubuh penderita.

Bahkan, tidak jarang, tulang penderita keluar dan kelihatan, dikarenakan kulit dan dagingnya meleleh, berulat, mengeluarkan bau anyir, mengundang lalat bertandang dan berpestapora  dipermukaan luka si penderita cacar.

Bila kondisi penderita seperti ini, hal ini bisa menimbulkan cacat fisik, hingga kebutaan.

Dampak dari wabah cacar yang terjadi tidak saja menelan korban jiwa dan kecacatan fisik. Namun, saat itu, terjadi juga krisis pangan bagi masyarakat.

Persediaan pangan berupa beras susah terpenuhi. Banyak masyarakat yang terpapar, sehingga tidak dapat menggarap sawah. Akhirnya, beras yang menjadi kebutuhan pokok berganti menjadi jagung, pisang, dan singkong.

Setelah stok habis, masyarakat mengonsumsi lisu utti (rimpang akar pisang) yang dikukus sebagai pengganti bahan makanan pokok (begitu kreatifnya orang-orang dulu).

Masyarakat mengetahui, bahwa wabah adalah penyakit, bukan kutukan. Tapi, saat itu, belum ditemukan obat penangkal wabah.

Salah seorang eks-penderita cacar mengakui, ketika mereka berobat medis, hal tersebut bisa membuat penyakit semakin parah.

Alhasil, mereka pun lebih memilih berobat ke sanro (dukun) yang menggunakan jampi-jampi dan ramuan trandisonal.

Sanro dan masyarakat Bugis secara arbitrer menyebut wabah ini kasiwiang atau salaga. Penyebutan ini agak berbeda meskipun serupa (cacar).

Kasiwiang  adalah penyakit cacar yang belum kronis, sedangkan sagala, penyakit cacar kronis. Keativitas sanro dan masyarakat menemukan obat cacar beraneka ragam. Salah satu cara pengobatan tradisional yang ditempuh, terekam dalam manuskrip.

Lontarak Pabbura

Manuskrip (Lontarak Pabbura) menjelaskan tentang pengobatan kasiwiang atau sagala.

Ketika  terpapar kasiwiang atau sagala, meminumlah air kesumba bukit (Trichosperma kuzzii) segelas penuh.

Dijelaskan lebih lanjut, sagala dibagi tiga macam; sebagian hitam, sebagian hijau, dan sebagian putih.

Jika terpapar sagala putih dianjurkan untuk berbekam. Jika penderita telah gatal badannya,  janganlah makan semua yang manis-manis, kecuali madu.

Dan, jangan pula memakan makanan keras. Lumasilah badan penderita dengan rumput bulu babi disertai madu.

Adapun tanda sagala: sakit punggung, hidung gatal, terkejut-kejut saat tidur, sakit persendian, gatal badannya, merah muka dan matanya, matanya sering meneteskan air, demam, sakit kepala, sesak napas, dan batuk diikuti bersin.

Janganlah mandi air dingin akan berbahaya jika belum sampai waktunya, haruslah diberi celak dengan madu agar matanya tidak ditumbuhi sagala, kukunya diberi daun pacar.

Selain itu, terdapat pengobatan yang paling murajab, pabbura degaga duanna (obat yang tidak ada duanya, yaitu kunyit dan bawang merah sebagai jamuan penyakit cacar). Dalam tiga hari  pengobatan, penyakit akan reda.

Tradisi pengobatan sagala yang dilakukan sanro bukan hanya kepada fisik si penderita. Sanro kadang kala mengalunkan Elong Sagala sebagai mantra, ketika penderita dalam keadaan terkapar.

Tujuannya, “membujuk” sang virus agar cepat pergi. Hal ini juga sebagai obat penenang dan memberi sugesti kepada si penderita.

Lirik Elong Sagala yang dialunkan sanro:

Semmeng-semmeng ri mulanna

Lasa ulu remmeng-remmeng

Peddi mata éja- éja

Oré -oré mangkawangeni

Peddi babuwa mangellu

Maccamaniqna sagala

Mangidengngi camaniq- é

Tebbu sareqna Tampangeng

Panreng polé Palippu

Lémo rawunna Pammana

Paréa polé ri Maiwa

Onyimua na lasuna

Pappanréna sagala-é

Manyamenniro nayawana

Tellumpenni nasoroq

Nyanyian Sagala (Penyakit Cacar Kronis)

Demam pada mulanya

sakit kepala yang terasa ngilu berkerumun

sakit mata merah-merah

batuk-batuk yang membuat sengsara

sakit perut yang terasa nyeri

Merupakan  butiran kecil sagala (penyakit cacar)

Mengidamlah butiran kecil itu

Tebu kuning dari Tampangeng

Nenas dari Palippu

Jeruk purut dari pammana

Pare dari Maiwa

Hanya kunyit dan bawang

Jamuan bagi si cacar

Membuat tenang perasaannya

Tiga malam sudah reda

Begitulah tradisi pengobatan alternatif yang ditempuh masyarakat, yang bertumpu kepada sanro. Saat itu, posisi sanro ibarat garda terdepan bagi masyarakat. Sanro selalu rela mengobati masyarakat yang terpapar tanpa memproteksi diri.

Namun, seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, posisi sanro yang mengobati sagala, sudah tidak seperti zaman dulu. Sekarang, penanganan sagala di Indonesia telah dilakukan dengan cara vaksinasi.

Vaksinasi cacar telah ditemukan pada 1796, dan belum menyebar ke semua negara, utamanya di Indonesia. Hanya orang tertentu yang dapat tervaksin.

Vaksinasi cacar di Indonesia pertamakali dilakukan pada 1956, khususnya di daerah Jawa. 10 tahun kemudian, imunisasi cacar telah terprogram di Sulawesi Selatan secara gratis.

Dalam bahasa lokalnya, “Cubbiq”, vaksinasi yang mengerikan bagi banyak orang. Masyarakat divaksin dengan cara menggores lengan atas, bukan menyuntik.

Dan, diwajibkan bagi setiap masyarakat mengikuti program tersebut, sehingga WHO menyatakan Indonesia bebas cacar pada 1974. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *