Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

“Tellu Temmallaiseng, Dua Temmassarang”; Menyemai Kesabaran dengan Syukur, Cinta, & Nyanyian

5 min read

Sumber gambar: republika.co.id

2,715 total views, 2 views today

Oleh: Muh. Subair (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Permainan akar kata dari kitab-kitab: lisanul arab, tahzib al-lugah, alkamil, almuhith, dan at-ta’rif

Ketika bersabar menghadapi ujian berat dan terasa hingga ke puncak sampai menyundul langit. Seorang kerap berkata: “Sabar itu ada batasnya,” dan jika sudah menyundul langit, berarti sabar itu sudah habis, atau sudah sampai pada batasnya.

Padahal, akar kata sabar, itu berada di atas sesuatu, dan juga bermakna sejenis batu. Sampai di titik itu, ia harus ditahan dan dikendalikan seperti halnya seekor binatang yang dikurung.

Sabar adalah keteguhan yang keras sekeras batu untuk mengatasi tantangan dengan cara bertahan, dan mengendalikannya secara konsisten.

Sabar juga berakar dari makna menggabungkan dan menghimpun. Tipikal tantangan antara lain adalah menguras emosi, takut, cemas, marah, benci, dan kecewa.

Inilah yang perlu diatasi dengan keahlian untuk menggabungkan atau menghimpunnya dengan rasa berani, tenang, harap, ramah, suka, teguh, dan cinta.

Jadi, kesabaran pada titik ini adalah kemampuan untuk menjaga keseimbangan perasaan. Menjaga keseimbangan perasaan itu, perkara sulit. Karenanya, ketika ia mampu diwujudkan, ia harus disyukuri.

Pemaknaan ini ditempuh dengan galian leksikal bahasa Arab, yang nantinya dipadu dengan kearifan lokal Bugis melalui penampakan titik relevansinya.

Hal ini dilakukan atas dasar identifikasi identitas Bugis yang akrab dengan keislaman. Orang Bugis katanya lekat dengan Islam, bukan sekadar karena mereka mayoritas memeluk agama Islam.

Tetapi, kemanapun mereka pergi, identitas keislaman itu selalu menyertainya.

Seorang perantau,  misalnya, akan selalu bertekad untuk massongkok pute nappa liso kampong, atau berhaji dulu sebelum pulang kampung, sebagai simbol keislaman dan kesuksesan. Sebuah tekad baik yang juga perlu disyukuri.

Makessing pale, baik juga, disimak bagaiman pemaknaan kata syukur itu. Akar kata syukur pada dasarnya bermakna, menyebarkan nikmat dan menampakkannya.

Rasa Syukur

Menampakkan rasa syukur itu penting bagi individu, agar dia tidak dinilai bodoh, tidak peduli, cuek, dan acuh tak acuh. Dengan menampakkan syukur, seseorang bisa menjadi idola atau model yang bisa diikuti oleh orang lain.

Makna lain akar kata syukur juga berasal dari sesuatu yang tumbuh pada batang atau ranting pohon.

Makna ini kemudian menegaskan implementasi syukur yang berdampak pada bertambahnya nikmat dari Tuhan.

Selanjutnya, nalurilah yang menggerakkan seseorang yang diberi nikmat untuk memuji dengan Hamdalah, atau dengan mengucap terimakasih.

Implementasi syukur antara lain adalah dengan cara memberi atau menginfakkan harta kepada jalan Allah.

Orang kaya itu disebut ghina, dari asal kata yang sama dengan makna nyanyian. Sebab, orang ghina (berharta) harus bisa menjaga keseimbangan dengan membagi hartanya kepada orang yang tidak berharta.

Jika harta dibiarkan menumpuk dan menjadi semakin banyak, maka akan tampak tidak wajar. Selanjutnya akan tumbuh di atasnya sifat kikir dengan berakar nafsu serakah yang menyubur. Seorang dalam posisi itu, secara psikologis, tidak akan merasakan keseimbangan.

Gejala ketidakseimbangan bisa dimulai dengan munculnya ketidaksenangan orang lain terhadap orang yang sukar berbagi.

Sakit hati dari orang-orang dekatnya yang diberlakukan tidak wajar akan menjadi ancaman baginya. Orang kaya itu, tidak hanya dikelilingi oleh orang-orang kaya yang tidak membutuhkan infak.

Bahkan, mungkin, di sekitarnya lebih banyak orang yang kurang mampu. Misalnya, pembantu-pembantunya atau karyawan yang mengikutinya.

Kekikiran pastinya menghilangkan ekspresi syukur sekaligus mengeliminir feedback-nya. Inilah kondisi serius yang menghilangkan keseimbangan itu.

Bahayanya, jika ekspresi syukur menghilang, berarti yang tinggal adalah sebaliknya. Dan, feedback yang muncul pun akan sebaliknya pula.

Itulah sebabnya, ghina secara leksikal bermakna ganda; kaya dan nyanyian. Keduanya bertujuan untuk mengatur keseimbangan.

Sebagaimana nyanyian yang tersusun dari keseimbangan nada yang mengalun. Keseimbangan yang memberi feedback rasa nyaman, suka, dan cinta dari pendengarnya.

Apakah keseimbangan syukur dan sabar yang kita lakukan seketika memeroleh feedback berupa cinta yang melimpah…?

Jawabannya ada pada makna cinta itu sendiri. Tapi, tak usalah mengulas akar kata cinta itu bagaimana.

Secara panjang lebar, makna-makna cinta bisa disimak dalam kitab raudhatul muhibbin, yang sudah diterjemahkan dengan judul taman orang-orang jatuh cinta dan memendam rindu.

Kali ini, cukup disimaklah syair lagu dewa, satu, dari album laskar cinta.

Satu

Aku ini adalah dirimu
Cinta ini adalah cintamu
Aku ini adalah dirimu
Jiwa ini adalah jiwamu
Rindu ini adalah rindumu
Darah ini adalah darahmu

Tak ada yang lain selain dirimu
Yang selalu kupuja
Ku sebut namamu
Di setiap hembusan napasku
Kusebut namamu
Kusebut namamu

Dengan tanganmu aku menyentuh
Dengan kakimu aku berjalan
Dengan matamu ku memandang
Dengan telingamu ku mendengar
Dengan lidahmu aku bicara
Dengan hatimu aku merasa

Ditambah cedde, atau sedikit dengan nyanyian Bugis, ininnawa sabbarae, yang memuat perkara cinta dengan istilah tellu temmallaiseng-dua temmassarang.

Ininnawa Sabbarae  

Ininnawa sabbara’e                                duhai hati yang diliputi kesabaran

Lolongeng gare’ deceng                         kelak akan mendapat kebaikan

Ala tosabbara ede                                   duhai orang yang sabar

Pitu taunna sabbara’                              tujuh tahun sudah aku bersabar

Tengngi na engka ulolongnen              tak kunjung jua kudapati

Allaa riasengnge deceng                        duhai yang namanya kebaikan

Deceng enre’ ki ri bola                            duhai kebaikan naiklah ke rumah

Teng jali teng tappere                             tanpa alas tanpa tikar

Alla banna mase-mase                           duhai sederhana tampak mengibakan

Mase-mase iko naga                               engkaukah itu kesederhanaan

Nigaro musilaongang                             siapakah yang engkau temani

Alla mutellu sitinro                             mengapa engkau beriring bertiga

Tellu memengnga si tinro                      memanglah saya beriring bertiga

Nyawaku na tubukku                             nyawaku bersama dengan tubuhku

Alla dua temmassarang                   duhai itu dua hal yang tak terpisahkan

Aga guna masarae                                  apa guna bersedih

Ku pura makkui totoe                             kalau sudah begitu takdirnya

Alla pura Napancajie                              duhai yang sudah diciptakan-Nya

Jangan menunggu ulasan Tellu temmallaiseng-dua temmassarang dalam perspektif teologi, ahli kalam, atau pegiat filsafat.

Perkara sulit kasi’na. Lagipula, Tellu temmallaiseng-dua temmassarang sudah sering dibahas berkait kesamaannya dengan wahdatul wujud, sebagaimana tercermin dalam lagu satu.

Sanro

Titik temu dari semua perkara ini terletak pada keseimbangan. Ringkasnya, dua temmassarang dapat diamati dari kehidupan orang Bugis yang sarat dengan kearifan lokal yang terwariskan secara turun-temurun.

Misalnya, terkait cara-cara mereka menjaga hubungan dengan alam. Cara-cara yang kemudian dihabisi oleh kelompok keagamaan atas nama ‘gerakan pemurnian agama.’

Ketika seseorang mengalami geruk-gerukeng, yaitu gangguan kesehatan atau sakit yang diakibatkan kesalahannya terhadap alam. Biasanya diselesaikan dengan usaha memperbaiki kembali hubungan baik dengan alam.

Misalnya, seorang anak jatuh sakit setelah sebelumnya, dia mematahkan sebuah ranting pohon untuk sekadar dipermainkan.

Ranting itu dipukulkan ke kiri dan ke kanan sepanjang jalan. Dan, ketika bosan, ranting itu dicampakkannya begitu saja.

Seorang sanro dengan kemampuan pakkarawa yang dimilikinya dapat memberi ramuan pengobatan dari tumbuh-tumbuhan sesuai tradisi.

Sekaligus, segera mengidentifikasi aseng tongeng-tongenna, mencari sumber masalahnya, yang disebabkan oleh sikap yang tidak bersahabat dengan alam.

Karena itu, dimintalah kepada keluarganya untuk melepas binatang di hutan. Jenis binatang itu disesuaikan dengan tingkat kesalahannya; mulai dari yang kecil seperti ayam, yang sedang berupa kambing, yang besar seperti kerbau, dan yang terkecil lagi bisa berupa melempar telur di sungai.

Melepas binatang itu kemudian diteriaki khurafat, syirik, dan kafir. Padahal, sesungguhnya,  perlakuan itu tidaklah berhubungan langsung dengan pengobatan dan kesembuhan orang sakit.

Tetapi, perlakuan itu adalah kearifan lokal untuk menjaga keseimbangan hidup dengan alam atau dengan makhluk lain sebagai manifestasi dari dua temmassarang.

Bahwa, makhluk dan Penciptanya itu tidak bisa dipisahkan. Jika cinta makhlukNya, berarti cinta Penciptanya. Begitulah sebaliknya.  

Keseimbangan juga harus dijaga dengan konsistensi antara prinsip yang tertanam dalam hati. Perkataan yang diucapkan dan perbuatan yang dilakukan, itulah yang dimaksud dengan tellu tammallaiseng.

Jadi, prinsip cinta dan keseimbangan dua temmassarang ditekuni dengan sabar melalui ada tongeng, lempu dan getteng. Jujur terus terang dan tegas, yaitu bersatunya kata hati dengan perbuatan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *