Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Belajar Lockdown dari Komunitas Lokal

4 min read

Ritual Buka Sasi di Distrik Misool, Raja Ampat. Foto: Husnul

2,485 total views, 2 views today

Oleh: Husnul Fahimah Ilyas (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Lockdown, sebuah istilah yang tiba-tiba tenar di masyarakat. Kosa kata Inggris yang diterima secara spontan dan berantai dalam bentuk tertulis dan lisan.

Beberapa masyarakat tidak peduli dengan tulisan lockdown. Yang jelasnya, pesan ini tersampaikan dengan baik. Ada menyebutnya lauk daun. Ada menulisnya, lock don’t, download, dan slowdown.

Bahkan, kata covid disebut dengan “kopik. Ya, mungkin saja, ini menjadi kata serapan pada tatanan lokal setempat untuk sekarang ini.

Menarik lockdown diperbincangkan dalam versi lokal. Lockdown sebagai karantina wilayah atau isolasi wilayah, yang diterapkan sekarang ini, gegara wabah covid-19.

Ritual

Namun, lockdown bukanlah hal baru. Penerapan karantina wilayah sebelum Covid-19 mewabah, telah dilakukan sejak lama oleh komunitas adat tertentu.

Misalnya, suku Baduy melakukan ritual kawalu sebagai karantina kampung. Selama tiga sampai empat bulan lamanya. Mengisolasi diri dari pendatang, terutama wisatawan dari mancanegara.

Kawalu berfungsi sebagai penolak bala kampung dan mendatangkan keberkahan bagi masyarakat suku Baduy. Bukan hanya mengisolasi kampung, mereka bahkan tidak boleh keluar dari kampung.

Setelah kawalu selesai, dilakukan Seba Baduy sebagai perayaan adat. Dengan cara penyerahan hasil bumi kepada pemerintah daerah kabupaten dan provinsi setempat.

Tradisi lokal seperti ini terdapat pula di Papua. Tepatnya, Distrik Misool, Kabupaten Raja Ampat. Tradisi karantina wilayah yang dikakukan setiap tahun dinamakan sasi.

Entah, sejak kapan tradisi ini dimulai. Namun, menurut masyarakat setempat, tradisi ini secara kontinu berlangsung berabad yang lalu, yang diwarsikan oleh oyang-nya (moyang).

Ritual sasi dari segi wilayah terbagi dua. Pertama, sasi laut yang dilakukan masyarakat pesisir. Kedua, ritual sasi darat yang dilakukan masyarakat yang bermukim di pedalaman.

Meski begitu, keduanya mempunyai tujuan sama; menyeimbangkan ekosistem laut dan darat. Memberi ruang pada makhluk hidup tumbuh dan berkembang, agar siklus alam menjadi seimbang.

Ketika sasi diterapkan, seluruh masyarakat harus mematuhinya, dan tidak boleh memasuki wilayah “terlarang”. Apalagi menangkap dan mengambil hasil laut atau darat pada wilayah tersebut.

Artinya, wilayah dan hasil alam/laut telah terkunci secara adat, dan akan dibuka pada priode tertentu, disebut dengan som atau buka sasi.

Proses penenutuan sasi, dengan cara kepala adat dan kepala suku berkumpul, membincangkan waktu pelaksanaan sasi.

Setelah meraka sepakat, ditugaskanlah kepada kelapa-kepala suku mengumumkan ke masyarakat waktu pelaksanaan sasi.

Dalam ritual sasi mereka dijamu sirih, pinang, dan rokok. Sasi laut dimulai ketika telah masuk angin selatan.

Saat angin selatan ombak menggeliat, angin kencang, dan biasa disertai badai yang dapat merenggut maut.

Sasi laut berlangsung sekitar enam bulan. Ketika symbol larangan mulai ditancap pada meti (rep). symbol larangan berupa pinang, sirih, kapur, rokok diikat bersama kain merah yang digantung dipohon kayu, dan kemudian diarak ke laut untuk ditancapkan.

Selama sasi laut, masyarakat dilarang menangkap teripang, lola (Trochus Niloticus), teripang, batu laga (bia mata bulan).

Sedangkan sasi darat, terkait dengan satwa. Misalnya, sasi telur burung. Terutama, burung cendrawasih.

Sasi telur burung berlaku ketika musim kawin cerdrawasih dimulai, kemudian bertelur, menetas,  sampai bisa terbang.

Setelah terbang, barulah dapat menangkap burung-burung tersebut. Tentunya, sistem perangkapannya dengan cara tradisional.

Begitupun sasi damar. Sasi damar hanya bisa dilakukan ketika ukuran kayu damar telah memenuhi syarat tertentu dan berumur 15-20 tahun. Khsusus untuk buah, hanya berlaku pada buah lansat, cempedak, dan mangga mecan (kuini).

Simbol sasi darat sasi dengan cara daun janur kuning di lima titik (khusus untuk Kampong Gamta), sesuai jumlah kepala adatnya. Sedangkan di Tomolol memberikan simbol palang pada pohon ataukah menggantung tali.

Simbol tersebut berbicara kepada masyarakat kampung. Tidak dapat memasuki wilayah yang telah terkunci.

Buka sasi dilakukan ketika buah telah ranum di pohon dan kepala adat telah menyetujuinya untuk melakukan panen. Buah yang akan dipanen harus dicicipi oleh kepala adat.

Setelah kepala adat menyetujui dan menyatakan kualitas buah yang telah ranum dan layak panen, masyarakat sudah dapat memanen dan melakukan tradisi buka sasi atau bawa adat, yang disebut ritual som. Sebuah ritual penyerahan hasil panen kepada tokoh adatnya bersama dengan kapitla.

Hukum sasi yang diterapkan, dipatuhi secara bersama tanpa ada pelanggaran. Mereka adalah masyarakat yang mempunyai kesadaran yang luar biasa.

Padahal, dari segi pendidikan, jangankan perguruan tinggi, tamat SMA saja dihitung jari. Mereka rerata lulusan SD dan SMP.

Apabila terjadi pelanggaran, misalnya, memasuki wilayah yang telah di-lockdown, mereka harus membayar denda kepada tokoh adat sesuai aturan yang telah ditetapkan oyang mereka. Harus menebus denda dengan cara menyerahkan meriam, gong, dan piring keramik antik.

Jika tidak bisa menebus denda tersebut, mereka akan dipasung. Mereka adalah masyarakat yang patuh terhadap hukum yang berlaku, dan sangat disiplin menjalani lakon kehidupannya.

Tulisan ini bukan hanya menggambarkan kehidupan sosial budaya masyarakat lokal. Namun, komunitas lokal juga memberikan local knowledge kepada kita, yang patut kita teladani dalam menjaga dan melestarikan keseimbangan alam, serta kedisiplinan mematuhi hukum yang berlaku. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *