Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Alunan Kasidah di Kampung Nasrani

4 min read

Sumber gambar: faktual.co.id

4,907 total views, 2 views today

Oleh: Aisyah Elce (Pegawai Balai Litbang Agama Makassar)

Bagi generasi milenial, kasidah mungkin bukan hal popular. Lagu-lagu Islami, saat ini, lebih banyak digeber dalam bentuk-bentuk ngepop.

Misalnya, lagu-lagu yang dibesut Maheer Zen atau lagu religi a la Sabyan, di mana nuansa musiknya a la musik pop modern lebih akrab di telinga.

Namun, tidak demikian dengan generasi saya di tahun 1970-an hingga 1980-an. Pada tahun-tahun itu, kasidah adalah lagu-lagu religi yang paling diminati orang-orang. Lagu kasidah menjadi lagu favorit di kampung-kampung.

Sayangnya, saat ini, lagu kasidah sudah jarang lagi mengalun dari siaran radio-radio kita. Meski begitu, sesekali ada teman-teman seangkatan yang biasa menshare di media sosial.

Aduhai. Mendengarkan itu, saya terasa terlempar kembali ke masa kecil yang begitu menyenangkan di kampung.

Pada waktu itu, saya adalah seorang yang beragama Nasrani, dan hidup di tengah kampung yang dihuni mayoritas orang beragama Nasrani.

Kampung saya bernama Ta’ende. Kampung itu berada di Kecamatan Mori Atas, Kabupaten Morowali.

Saya bersama orang tua tinggal di samping gereja. Bapak saat itu pemimpin gereja di kampung. Jika ada pengurus gereja yang ditugaskan ke tempat ini, biasanya pula akan ditempatkan di rumah yang dekat dengan gereja.

Penduduk di kampung saya sebagian besar petani sawah atau petani ladang. Sejak matahari mulai menerangi jagat, mereka telah  terpencar ke sawah dan ladang masing-masing.

Petani yang rajin dengan hidup bersahaja. Pulangnya sore hari. Tetapi, sebelum kembali ke rumah masing-masing, semuanya akan bersua di satu tempat, yaitu sungai.

Sungai yang jernih, berkelok-kelok membelah kampung kami. Di sungai itulah kami mandi,  mencuci pakaian, dan mengambil air dengan bambu yang bernama timbah.

Kehidupan yang sangat bersahaja, natural, dan bahkan mungkin jika dipandang oleh orang-orang kota akan terkesan udik.

Sore hari di sungai biasanya tidak lama. Setelah mandi, para penduduk akan bergegas pulang ke rumah masing-masing.

Ada apa gerangan? Tentu bukan karena takut gelap, apalagi takut terhadap binatang. Bagi orang kampung, semua itu adalah teman akrab.

Penduduk kampung itu bersegera balik ke rumah, tidak lain karena pada setiap sore ada siaran dari Radio Republik Indonesia (RRI) yang melantunkan lagu-lagu kasidah.

Biasanya, yang menyiarkan RRI Palu. Sering juga RRI Makassar. Atau, kadang-kadang,  mendengarkan dari RRI Samarinda.

Lagu kasidah menjadi hiburan menyenangkan, mengantar istirahat di senja hari sebelum malam datang memeluk.

Entah karena kasidah memang terdengar empuk di telinga, atau karena tidak ada hiburan lain, orang di kampungku sangat menikmati alunan kasidah ini.

Sebagai catatan, waktu itu belum ada televisi. Sehingga, satu-satunya hiburan hanya berasal dari radio transistor merek Philips.

Suara radio yang mengalunkan kasidahan di sore hari itu memenuhi angkasa. Seakan ada pertandingan kasidah di kampung saya.

Perlombaan suara radio siapa yang paling nyaring dan kuat suaranya.  Suara yang paling nyaring,  itu berarti radionya masih bagus atau baterainya masih baru.

Bila baterainya soak, maka akan menjadi bahan candaan. Yang lain akan berkomentar:  “Sudah, jangan dipaksa,” dan kemudian disambut tawa.

Saat cerita ini berlangsung, saya masih kecil. Waktu itu, tahun 1975, dan usia saya sekitar 7 tahunan. Saya juga senang mendengar lagu-lagu kasidah, tetapi sekaligus penasaran.

Suatu hari, saya pernah bertanya kepada Bapak saya;

Pa, kenapa kalau sore begini yang didengar lagu seperti ini?”

Dengan paras sedikit serius, Bapak menjawab; “Jangan ribut, dengarkan saja. Tidak ada lagu lain.”

Saya pun menyimak kalimat demi kalimat dalam syair lagu kasidah itu. Sesekali, Bapak memberikan penjelasan mengenai syair lagu itu. Ternyata, isinya mengandung nasihat-nasihat yang sangat baik.

Salah satu lagu itu saya ingat berjudul “Ibu”. Tentu saja, saya tidak paham, bahwa yang menyenandungkan itu adalah Grup Nasyidah Ria namanya.

Sama tidak mengertinya, bahwa lagu kasidah adalah lagu-lagu religi Islam. Tetapi, syair-syair lagu “Ibu” ini membetot perasaan saya.

Bapak kembali menjelaskan isi syair lagu itu sembari memberi petuah. Lagu itu mengajarkan untuk patuh kepada orang tua, khususnya ibu.

Ibu itulah yang dengan susah payah mengandungmu, sakit melahirkanmu, dan dengan sabar membesarkanmu. Doanya baru berakhir untukmu, ketika napasnya  raib meninggalkan raganya.

Tanpa terasa, tangan mungilku ini memeluk bapak dan memanggil ibu yang sedang memasak di dapur, di rumah kami yang sederhana.

Saat itu, bapak dan ibu memeluk saya dan adikku. Kami bersaudara pun tiba-tiba saja disergap rasa takut kehilangan orang tua.

Kami tenggelam dalam syair kasidah “Ratapan Anak Tiri”. Belakangan, saya baru paham, bahwa lagu tersebut aslinya adalah lagu Emillia Contesa, tetapi juga dijadikan lagu kasidah oleh salah satu grup kasidah.

Lagu itu menjadi lagu idola anak di kampung saya saat itu. Syiar yang bagus. Dalam syair yang tepat, serta irama yang merdu, akan menyenangkan bagi penyiar dan pendengar.

Tidak ada yang merasa terpaksa dan memaksa, karena syiar yang penuh rahmat adalah untuk semua.

Muallaf

Saat ini, saya telah menjadi mualaf. Namun, kenangan atas kebaikan Bapak, Ibu, dan seluruh orang di kampung, tidak pernah bisa sirna dari benak.

Bapak yang pemimpin gereja, ternyata tidak menutup telinga untuk mendengarkan lagu-lagu religi berisi nasihat dari Islam.

Begitupula orang-orang di kampungku. Mereka tidak mempermasalahkan kasidah yang merupakan lagu-lagu Islami. Malah, mereka asyik menyimak dan mendengar senandungnya.  Mereka orang-orang Nasrani yang baik.

Kini, saya mungkin berbeda keyakinan dengan Ibu, Bapak, dan orang di kampung. Kendati begitu, kami tetap sama dalam melihat kebaikan-kebaikan.

Andai hari ini Bapak dan Ibu masih ada walau tak seagama, tetapi, Ya Allah, izinkan saya membayangkan senyuman mereka ketika melihat saya dan anak salat.

Dan, mungkin, mereka akan menegur setiap orang yang berisik sambil berkata:  “Ssssttt… Jangan ribut. Anak dan cucuku lagi salat.” Doa terbaikku untukmu, wahai  kedua orang tuaku.

Buat sahabat yang masih bersama orang tua, rawatlah mereka dengan penuh cinta, karena kesempatan tidak akan pernah terulang. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *