Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Puasa: Sebuah Proses “Menuhan”

4 min read

Sumber gambar: harapanamalmulia.org

6,232 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Tradisi Spiritual

Jika kita mempelajari tradisi spiritual dari berbagai agama dan kepercayaan, tak satu pun tradisi spiritualitas yang tidak menyertakan puasa sebagai ritus utamanya. Al-Quran sendiri menyebut, puasa telah disyariatkan sejak umat terdahulu.

Pada semua tradisi spiritual, puasa merupakan salah satu ritual penting. Semua tradisi spiritual mengenal puasa sebagai media paling efektif untuk mengantarkan manusia melepaskan diri dari belitan kepadatan materi untuk menyublim pada alam spiritual yang supreme (agung).

Tradisi spiritual sangat menekankan pada latihan, atau riyadhah-riyadhah yang sangat ketat. Latihan atau riyadah bertujuan, menajamkan sisi batiniah manusia dengan memerhatikan banyak pantangan-pantangan yang sangat keras.

Pantangan-pantangan itu berlaku secara temporer maupun permanen. Pantangan tersebut berkisar pada upaya menahan atau menekan hasrat-hasrat biologis, atau kecenderungan kesenangan ragawi manusia. Seperti makan, minum, dan seks,

Tradisi spiritual menjadikan puasa sebagai media penting untuk melatih kecenderungan jiwa manusia dalam hal menekan hasrat-hasrat instingtif material, guna mengantarkan jiwa manusia menembus alam spiritual.

Dengan puasa, manusia menjadi terlatih mengendalikan hasrat ragawi yang liar, sehingga mampu membebaskan jiwanya untuk “terbang.”

Selain itu, merasakan kedalaman dan keluasan dimensi alam batinnya yang amat halus, yang membuat pelakunya mampu menyerap kekuatan alam batin yang amat dahsyat.

Islam juga sangat menekankan spiritualitas sebagai inti ajarannya berdasarkan Tauhid. Sebagai dasar pandangan dunia, menjadikan puasa sebagai salah satu pilar penting yang mengantarkan manusia pada ketinggian derajat spiritual insan (takwa).

Puasa adalah riyadhah spiritual yang bersifat sangat pribadi antara manusia dengan Tuhannya.

Sebuah laku spiritual yang mendidik manusia untuk memantik kesadaran reflektif metafisis untuk diejawantahkan pada kehidupan fisis.

Sebagai ritus yang sangat privat, puasa mengantarkan pelakunya menyublim dari “kebekuan” material yang fana menuju keluasan spiritual yang abadi.

Puasa adalah kelana jiwa untuk memecah rahasia kesunyian ultim di tengah hingar-bingar kebisingan dunia.

Melalui puasa, manusia dituntun menyelami bisikan kebenaran pada kesenyapan primordial di kedalaman hati yang paling ultim.

Alam materi sering dikontradiksikan dengan alam spiritual, yaitu dimensi yang paling halus dari alam ini, sedangkan alam materi merupakan jenjang alam terendah yang berdimensi kasar.

Olehnya itu, untuk menembus alam spiritual, manusia harus melakukan pelampauan terhadap alam materi.

Hal ini dilakukan dengan cara mengendalikan, menekan, mengurangi, kecenderungan-kecenderungan ragawi, untuk selanjutnya, berhasrat pada kecenderungan spiritual adiduniawi.

Puasa disyariatkan agar kita mencapai derajat takwa. Takwa adalah capaian puncak spiritualitas seorang manusia, karena hanya takwalah yang menjadi ukuran seseorang mulia di hadapan Allah.

Pergulatan Akbar

Tidak ada pergulatan yang paling berat bagi manusia, selain pergulatan dengan dirinya sendiri (Thuong Huo Dhuong).

Puasa merupakan riyadhah, yang bertujuan memantik kesadaran rasional untuk melawan bengkalai diri, yang paling berpotensi menghadang jalannya hijrah kemanusiaan.

Itulah hawa nafsu, yang mengarahkan manusia pada bu’dul bahimi (kecenderungan syaitaniyah), yang dehumanis.

Puasa menekankan manusia mengendalikan keliaran hawa nafsu, sehingga akal dapat menjadi penunggang yang baik, yang mampu mengontrol diri hantarkan jiwa berjalan pada jalannya.

Puasa adalah pertarungan primordial, sekaligus kelana diri manusia pada kediriannya. Dalam kelana itu, manusia harus berhadapan dengan “makhluk-makhluk” penggoda yang akan menghalangi jalannya.

Pergulatan pada pada level awam, adalah sebuah pergulatan batin antara manusia dengan hawa nafsunya.

Hal ini ditujukan untuk mengendalikan hawa nafsu agar manusia tak terseret pada kesia-siaan dan tidak terjebak pada kecenderungan pada bayang-bayang fatamorgana dunia.

Pada level yang khusus, puasa adalah sebuah proses refleksi kedirian manusia untuk mendengar suara-suara kebenaran dari kedalaman nuraninya.

Itulah sebabnya, bagi kaum khawwas, puasa tidak sekedar menahan hasrat instingtif jasmaniyah secara fisikal semata, tapi juga mengendalikan kecenderungan-kecenderungan ragawiyah yang terbetik di pikiran dan di hatinya.

Bagi kaum khawwas, puasa tak sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah proses “membunuh” segala potensi-potensi bengkalai kejiwaan.

Bagi kaum khawwasul khawwas, puasa adalah proses untuk menyingkap kebenaran sejati dari bisik sirr al-asrar dari kedalaman kalbu yang paling sublim.

Olehnya itu, puasa bagi kaum khawwasul khawwas adalah proses “peniadaan” dari segala selain DIA, agar dalam pikiran dan hati kita hanya ada DIA, dan hanya tertuju padaNYA. Tidak untuk selain DIA.

“Menuhan”

Jika dihayati maksud dari perintah menahan selama sebulan ini, sejatinya adalah proses bagi ruhani untuk “menuhan.” Apa yang selama ini menghalangi kita untuk ”menuhan”?

Karena kecenderungan jiwa lebih kuat pada tarikan nafsu duniawi (fujur) yang fana, sehingga melalaikan orientasi Ilahi yang abadi (taqwa) sebagai fitrah manusia.

Menahan kesenangan makan dan minum di siang hari, serta menahan diri dari kesenangan beristirahat di malam hari, hakikatnya adalah medium bagi manusia menuju keagungan dan keabadian Rabbani.

“Menuhan” yang dimaksud adalah mengejawantahkan Kasih Rabbani, sebagaimana hujan yang membuat bumi menjadi tempat bernaung, yang teduh dan memberi kehidupan sejahtera.

Muhamamd Iqbal, mendefinisikan “menuhan” sebagai upaya mencerap seluruh sifat-sifat Ilahiah, dan kemudian menjadikannya sebagai elan vital untuk mengubah dunia.

Insan-isnan Ramadan adalah mereka yang “menuhan”, dalam arti membawa keteduhan dalam tutur dan laku, serta memberi penghidupan kepada sesama, melalui apa yang ia miliki dengan penuh cinta kasih.

Sebagaimana pesan agung sang Nabi suci, “Muslim sejati adalah mereka yang orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.

Mukmin sejati adalah mereka yang memberi rasa aman kepada orang di sekitarnya melalui diri dan hartanya.”

Berpuasalah dengan tak hanya sekadar menahan. Tapi, berpuasalah dengan ”menuhan.”

Mengapa Nabi menyebut, banyak orang berpuasa, tetapi yang didapatkan hanyalah lapar dan dahaga? Sebab, banyak yang berpuasa hanya sekadar menahan, tapi tidak “menuhan.” (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *