Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Bulan Ramadan dan Perputaran Waktu 

5 min read

Sumber gambar: sekolahrelawan.com

4,940 total views, 2 views today

Oleh: H.M. Hamdar Arraiyyah (Profesor Riset Balai Litbang Agama Makassar)

Ramadan itu nama salah satu bulan pada kalender Islam. Itu disebut juga kalender Hijriah. Posisi Ramadan pada urutan kesembilan, sesudah Syakban dan sebelum Syawal.

Awal Ramadan 1441 H. bertepatan dengan 24 April 2020 M.

Komunitas Muslim di berbagai belahan bumi mengenal bulan Ramadan. Salah satu sebabnya, nama bulan ini disebut di dalam Al-Qur’an.

Di samping itu, kaum Muslimin berusaha mengetahui waktu masuk dan berakhirnya bulan ini setiap tahun.

Sebab, pada bulan ini terdapat ibadah khusus yang sifatnya wajib atau sunat. Kegiatan, seperti salat tarawih, melibatkan anak-anak dan orang dewasa. Ini juga membawa pengaruh pada kemasyhuran bulan Ramadan.

Berikut ini bagian awal ayat Al-Qur’an yang menyebut bulan Ramadan.

Syahru Ramadhaana-l ladzii unzila fiihi-l Qur’anu huda-l li-nnaasi wa bayyinnaatin min-al-hudaa wa-l furqaan. Faman syahida min kumu-sy syahra fa-l yashum-hu.

Artinya, Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa  di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah (al-Baqarah/2:185).

Ayat itu dimulai dengan frasa syahru Ramadhaana. Frasa ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan ‘bulan Ramadan’. Terjemah ke dalam bahasa Inggris, yakni the month of Ramadan (Zidan dan Zidan, 2000:26).

Syahr berarti bulan (month). Ini adalah bentuk masdar dari kata kerja syahara, yang artinya mempermaklumkan (Dhaif, ed., 2005:498). Sesuatu yang terkenal disebut syahiir atau masyhuur.

Terjemah Ramadan ke dalam sejumlah bahasa lain memperlihatkan perubahan. Orang Makassar menyebutnya bulang Rumallang.

Orang Bugis mengatakan uleng Ramalang. Ramadan merupakan salah satu item kosakata keagamaan yang diserap ke dalam banyak bahasa ibu.

Tanda Alam  

Kalender Hijriah tergolong kalender kamariah (lunar calendar). Kehadiran tanggal satu setiap bulan ditandai dengan kemunculan hilal di ufuk barat. Ia muncul setelah berakhir bulan sebelumnya.

Hadis Rasulullah Saw. menjelaskan norma dan praktik melihat hilal Ramadan dan Syawal. Di antaranya (artinya):

(1) Apabila kamu melihat hilal (Ramadan), maka tunaikanlah puasa, dan apabila kamu melihat hilal (Syawal), maka hentikanlah puasa. Dan apabila langit tertutup (penglihatan terhalang), maka cukupkan bilangan bulan (30 hari) (al-Bukhari, 1996:439);

(2) Bulan itu (bisa jadi) dua puluh sembilan malam. Maka, jangan kamu berpuasa hingga kamu melihat hilal. Adapun jika penglihatan terhalang, maka sempurnakanlah (Syakban) tiga puluh (hari) (al-Bukhari, 1996:440);

(3) Dari Ibnu Abbas, r.a., ia berkata: “Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah Saw. lalu menyatakan ia melihat hilal”. Rasulullah bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah”. Orang itu menjawab, “Ya”. Rasulullah bertanya, “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah?” Orang itu menjawab, “Ya”. Rasulullah kemudian bersabda, “Wahai Bilal, sampaikan ke khalayak agar mereka berpuasa besok”. (HR ad-Daruquthni, II, 2005:123).

Kegiatan ibadah, seperti puasa dan salat, didasarkan pada tanda-tanda alam. Misalnya, puasa dimulai pada waktu fajar terbit.

Tanda serupa dipakai untuk mengetahui masuknya waktu salat Subuh. Waktu puasa dalam satu hari dinyatakan berakhir setelah matahari terbenam. Waktu yang sama dipakai untuk mengetahui awal waktu  salat Magrib.

Penggunaan tanda pada alam mengandung sejumlah hikmah. Di antaranya:

(1) Ini memudahkan bagi umat Islam untuk menunaikan ibadah dari masa ke masa di berbagai tempat;

(2) Ini (kalender kamariah) memungkinkan umat Islam merasakan ibadah pada musim yang berbeda. Di negeri tertentu, umat Islam dapat merasakan puasa pada musim panas atau puasa pada musim dingin pada kesempatan yang lain;

(3) Ini juga mengingatkan bahwa alam, termasuk diri manusia, adalah tanda-tanda kebesaran Allah. Manusia mengidentifikasi tanda pada alam untuk menunaikan kewajiban kepada Rabbul ‘Alamin, Tuhan seluruh alam.

Waktu dan Peristiwa

Al-Qur’an al-Karim menjelaskan bahwa ia diturunkan pada bulan Ramadan. Ungkapannya, unzila fiihi-l Qur’an (diturunkan di dalamnya Al-Qur’an).

Ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan pertama kali kepada Nabi Muhammad Saw., adalah surah al-‘Alaq ayat 1-5. Ayat ini berisi perintah membaca dengan nama Tuhan yang menciptakan manusia.

Objek yang dibaca mencakup firman Allah dan alam raya. Menurut Tafsir al-Mishbah, objek yang dimaksud bersifat umum (Syihab, XV, 2007:393).

Waktu menjadi atau bertambah penting karena ada peristiwa penting. Keutamaan bulan Ramadan dikaitkan dengan peristiwa turunnya Al-Qur’an.

Ini memberi dorongan kepada umat Islam untuk mempelajari lebih dalam kandungan Al-Qur’an, teristimewa pada bulan Ramadan.

Al-Qur’an memberikan banyak penjelasan. Di antaranya, Al-Qur’an memberi petunjuk ke jalan yang paling lurus (al-Isra’/17:9; Terjemah Depag, 2004:385).

Jalan lurus, ash-shiraat al-mustaqiim, yang bersumber dari Allah, disebut pula jalan Allah (asy-Syura/42: 53).

Jalan lurus adalah jalan untuk masuk surga dan bertemu dengan Allah Swt. di akhirat kelak (an-Nisa’/4:175) (Arraiyyah, 2019:100).

Ramadan datang untuk semua orang. Setiap Muslim berpeluang untuk meraih keutamaan bulan suci ini. Kini, penyambutan Ramadan menjadi fenomena global.

Keutamaan waktu berbeda dari keutamaan tempat. Misalnya, keutamaan al-Masjid al-Haram. Orang yang ingin mendapatkan pahala amal yang berlipat ganda di masjid itu harus bepergian ke sana. Sedangkan Ramadan adalah momentum yang terbuka bagi semua Muslim di mana pun mereka berada.

Ayat 185 Surah Al-Baqarah di atas mengandung perintah puasa. Ibadah puasa memerlukan kekuatan mental dan fisik. Ia adalah salah satu dari rukun Islam.

Selain itu, zakat (fitrah) sebagai salah satu rukun Islam juga diwajibkan pada bulan ini. Ibadah zakat memerlukan kekuatan jiwa, yakni keinginan untuk berbagi (materi) kepada orang yang membutuhkan. Kedua ibadah itu juga menjadi keistimewaan bulan Ramadan.

Selama kehidupan di muka bumi berlangsung, bulan Ramadan datang secara rutin. Hanya saja, keadaan manusia di bumi selalu berubah.

Sebagian orang yang pernah menyambut Ramadan sudah tidak ada. Mereka pindah ke alam barzakh.

Selain itu, sebagian orang baru pertama kali menyambutnya, karena baru mendapat hidayah atau berusia muda.

Ungkapan ayat, Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Pesan ini menjelaskan ketentuan hukum agama.

Selain itu, ini mengisyaratkan, menyaksikan kedatangan bulan Ramadan adalah kesempatan yang berharga. Ini harus disyukuri. Anjuran bersyukur terdapat pada bagian akhir dari ayat 185 Surah al-Baqarah.

(Artinya), Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur (al-Baqarah/2:185).

Keutamaan Ramadan    

Terdapat sejumlah ayat dan hadis yang menjelaskan keutamaan bulan Ramadan.

Di antaranya (artinya);

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam qadar (kemuliaan). Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar (al-Qadr/97:1-5).

Lailatu-l qadr berarti malam penentuan dan kemuliaan (Hijazi, III, 30, 1969: 67). Amal saleh pada waktu lailatu-l qadr lebih baik dari amal pada seribu bulan yang lain (al-Mahalli dan as-Suyuthi, 1991:443).

Sementara itu, kitab The Meaning of the Holy Qur’an menyatakan, bahwa “seribu” harus dipahami dengan makna yang tidak ditentukan jumlahnya. Sebab, ia menunjuk kepada suatu jangka waktu yang sangat lama (Ali, 1991:1676).

Amal pada malam itu diberi balasan kebaikan yang sangat banyak. Al-Qur’an menyebutnya dengan lailah mubaarakah (ad-Dukhan/44:3). Mubarakah artinya mengandung kebaikan yang banyak.

Sejalan dengan hal itu, Rasulullah Saw. menganjurkan untuk mencari keutamaan lailatu-l qadr.

Beliau bersabda (artinya), Barang siapa mencarinya, maka hendaklah ia mencarinya pada sepuluh (malam) yang terakhir ( HR. Muslim; I, 2011:523).

Bulan Ramadan memberi dorongan untuk meningkatkan iman dan amal saleh. Kedua hal itu adalah bagian dari respons yang tepat terhadap waktu (Lihat al-‘Ashr/103:1-3).

Diingatkan juga, Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya (al-Baqarah/2:82).

Meningkatkan iman dan amal saleh merupakan  salah satu cara memaknai hadis Rasulullah Saw. terkait kedatangan Ramadan.

Beliau bersabda, (artinya), Apabila bulan Ramadan datang, maka pintu-pintu surga dibuka (HR al-Bukhari; 1996:438). Pintu yang dibuka memberi peluang untuk masuk pada waktunya kelak.

Semoga. (*) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *