Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Memaknai “Insya Allah” dalam Segala Aktivitas Manusia

4 min read

Sumber gambar: tokopedia.com

8,646 total views, 2 views today

Oleh: Wardiah Hamid (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Merenda mimpi dan harapan pada 2020 adalah lukisan kehidupan yang ingin dituangkan ke dalam kanvas, dengan warna-warni secerah mungkin. Sampai-sampai, terkadang melampaui apa yang telah ditakdirkan Tuhan di masa akan datang.

Lalai dan tenggelam di dalam keinginannya sebagai manusia sehingga lupa, bahwa Tuhan memiliki kehendak lebih besar dalam menata masa depan mahluknya.

Ambisius dan kejar target menghantui asa itu memasuki awal 2020. Rencana dan harapan adalah sifat alamiah manusia, yang ingin kreatif dan menciptakan sesuatu guna memenuhi kehidupan lahir dan batinnya.

Lompatan cakrawala berpikir manusia sangat bisa dihargai sebagai kreativitas yang diberikan Allah, Pencipta Alam Semesta.

Kreativitas lahir dari asa dan harapan, yang kemudian melahirkan berbagai cipta dan karya monumental yang sangat berguna bagi khalayak banyak.

Itulah kanvas lukisan indah, yang tertuang dalam kanvas warna warni; cerah seperti secerahnya lukisan itu. Dinikmati dan diteguk oleh pengagum dan penggunanya.

Semestinya, target dan harapan selalu disertai dengan kata Insya Allah. Kata Insya Allah menjadi suatu ucapan, bahwa manusia itu berencana, Allah yang menghendaki.

Kerendahan hati manusia bisa terukur dari ucapan ini. Kesombongan dan ambisius bisa reda dengan sendirinya ketika itu diresapi dan dimaknai secara dalam. Bahwa; “manusia berencana,  Allah yang menghendaki.”

Target dan harapan itu menjadi terhenti, disebabkan sebuah virus yang hadir dan mewabah dibelahan benua. Virus ini sangatlah kecil, tetapi mampu membuat stagnan segala sendi kehidupan.

Manusia yang beragama sangat yakin virus itu diciptakan Tuhan sebagai peringatan kepada seluruh makhluknya di muka bumi, bahwa Allah punya kehendak kekuasaan yang Maha Besar.

Diakhir 2019, Covid 19 mewabah di negeri tirai bambu, yang merenggut nyawa ratusan manusia. Tepatnya, di Wuhan. Negeri ini menangis. Wabah ini mampu meluluhlantahkan segala sendi kehidupan.

Melalui informasi elektronik, beberapa pesan memberikan informasi, bahwa negara Indonesia adalah wilayah tropis.

Virus tersebut tidak akan mampu bertahan di wilayah yang terik mataharinya sangat cukup. Wilayah ini mempunyai bentangan pulau-pulau yang di pisahkan lautan.

Virus tersebut tidak akan mampu menjangkau bentangan pulau-pulau itu. Tetapi kemudian,  Tuhan lagi-lagi berkehendak lain.

Wabah ini masuk di Indonesia dan sekaligus meluluhlantahkan salah satu argumen, bahwa Indonesia adalah gugusan pulau-pulau yang dibentangkan lautan yang luas, di mana virus akan mati di tengah lautan.

Indonesia merupakan wilayah tropis, di mana terik matahari akan mematikan virus itu. Lagi-lagi,  kita congkak dan ambisius dengan segala apa yang kita miliki.

Argumen ini memang betul adanya. Tetapi, manusia modern yang berinteraksi lintas batas benua, yang diterbangkan oleh pesawat, membawa orang-orang yang sudah terkontaminasi virus ini.

Saya tidak ingin mengungkap kaedah-kaedah bahasa Arab yang terkandung dalam kata-kata Insya Allah.

Hanya makna sederhanalah yang ingin diurai dalam artikel ini. Sesederhana pesan artikel ini mengingatkan, bahwa ketika menciptakan sebuah karya dan memulai apapun dalam kehidupan, kita harus mengakhirinya dengan mengucapkan Insya Allah.

Kata ini sangat sederhana dan artinya pun sangat familiar yaitu, “Jika Allah Menghendaki.” Kata ini memiliki makna dalam, bahwa Allah mempunyai kekuasaan dan kehendak melampaui kehendak mahluknya.

Kelemahan dan kefakiran hamba hadir ketika mengucapkan kalimat ini dalam setiap aktivitas kehidupannya. Manfaatkan ucapan ini dalam setiap aktivitas yang kita lakukan.

Di sinilah,  kekuatan Allah hadir dan mengabulkan setiap keinginan manusia.

Kata Insya Allah memberikan makna motivasi dan kemajuan untuk bergerak dinamis dengan tetap memiliki  ketergantungan kepada sang pencipta alam semesta.

Sosiologi

Ini sejalan buku Sosiologi Perubahan Sosial, karya Potr Sztompka, saat mengulas  “Konsep kemajuan alternative,” ketika diajukan pertanyaan mengenai sifat ontologis substratum kemajuan: apakah sifat substantif dari kekuatan penggerak kemajuan itu?

Menurut berbagai aliran filsafat sosial, kekuatan penggerak kemajuan atau agen agen kemajuan,  adalah kehendak, kemauan, atau campur tangan Tuhan.

Apa-apa yang yang diperjuangkan dapat berubah dan berbeda, ketika campur tangan Tuhan hadir dalam setiap rencana manusia.

Pada 24 April 2020, umat Islam memasuki ramadhan. Tahun ini, suasana ramadhan berbeda dari ramadhan sebelumnya.

Hampir tidak ada lagi suasana tarwih berjamaah di masjid. Tidak ada lagi berbuka puasa berjamaah, serta ditiadakan pula semua apa yang disebut keramaian dan berkumpul.

Memang, sangat menyedihkan. Suram dan kanvas warna warni yang direncanakan di ramadhan ini, mungkin diwarnai dengan warna kelabu.

Tidak seperti lukisan ramadhan di tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, semarak ramadhan terkesan menjadi sepi, disebabkan mewabahnya Covid 19.

Manusia muslim yang kreatif akan selalu optimis dan memulai sesuatu dengan jiwa kerendahan,  bahwa ia berencana, tetapi Allah yang menghendaki.

Ramadhan hendaknya dilukis tidak perlu warna kelabu. Lukisan ramadhan akan tetap mewarnainya dengan warna terang, cerah, dan mengiurkan. Tarwih tidak lagi dilakukan di masjid, melainkan di rumah secara berjamaah. Ini sesuatu yang indah.

Demikian pula, buka puasa bareng keluarga dan salat lima waktu di rumah, bisa menambah ikatan tali kasih sayang dalam keluarga.

Indonesia dengan kekuatan negara muslim terbanyak dunia. Menjadi muslim berarti menunaikan salat lima waktu. Sebelum melakukan salat, akan diawali dengan berwudhu.

Dengan wudhu, kita membersihkan seluruh kotoran di dalam rongga hidung, dan rongga mulut yang menjadi sarang masuknya virus tersebut.

Islam mengajarkan kebersihan bagi seorang muslim. Bahkan, kebersihan adalah sebagaian dari Iman.

Indonesia negara muslim yang memiliki pola hidup bersih. Begitupun, agama-agama lain juga mengajarkan kebersihan bagi setiap umatnya. Dan, ini sebuah kebenaran dan ajaran agama yang tak terbantahkan.

Ya Allah kabulkan doa kami dan biarkan wabah ini segera berlalu. Biarkan kami memulai aktivitas seperti sediakala. Ya Allah, lagi-lagi kami memohon dan meminta sebagai hambamu yang lemah tak berdaya. Kabulkan doa kami, ya Allah. Insya Allah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *