Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Filosofi Kata Mudik dan Pulang Kampung a la Jokowi

5 min read

Sumber gambar: jabarnews.com

9,822 total views, 2 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Tiba-tiba, kata mudik dan pulang kampung, jadi bahan perbincangan. Terutama, tentu saja, di jagat media sosial.

Gara-garanya, ketika Pak Jokowi, Presiden Indonesia, membedakan makna dua kata tersebut di program ‘Mata Najwa’.

Ketika itu, Najwa Shihab, host acara itu bertanya, mengapa kebijakan larangan mudik baru keluar sekarang, padahal sudah banyak orang tersebar di kampung halamannya masing-masing?

“Hampir satu juta orang mudik. Sudah 900 ribu orang mudik dan sudah tersebar ke berbagai daerah. Apakah keputusan itu baru akan dikeluarkan melihat situasi, tetapi faktanya sudah ada penyebaran orang di daerah?” tanya Najwa.

Jokowi lantas menjawab:

“Kalau itu bukan mudik. Itu namanya pulang kampung. Mereka bekerja di Jabodetabek. Di sini sudah tidak ada pekerjaan lagi. Pulang karena anak istrinya ada di kampung,” jawab Jokowi.

“Apa bedanya, Pak, pulang kampung dan mudik?” tanya Najwa, lagi.

“Mudik itu di hari lebarannya, beda. Kalau pulang kampung kan kerja di Jakarta (terus pulang karena tidak ada lagi kerjanya) ke anak istrinya di kampung,” ujar Jokowi.

Sontak, keesokan harinya, jawaban Jokowi yang membedakan antara mudik dan pulang kampung, menjadi trending di media online.

Beberapa media secara khusus mengulas arti kata tersebut dan membandingkan antara pengertian Jokowi dan arti yang terdapat di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Nitizen pun tidak pelak. Mereka pun ramai-ramai memperbincangkannya. Seperti sebelum pilpres (pemilihan presiden), kubu pun segera terbelah. Satu pihak membela Jokowi, dan lainnya mengeritisinya.

Bila ditelusuri dalam KBBI, arti kata mudik ada dua, yakni berlayar atau pergi ke udik. Maksudnya, pergi ke hulu sungai atau pedalaman.

Arti kedua adalah, pulang kampung atau kembali ke  kampung halaman. Bila merujuk KBBI, terang terlihat, mudik artinya pulang kampung.

Jika demikian, dari sisi bahasa, Jokowi silap dong…? Sebentar! Jangan ngegas dulu, Sobat!

Filsuf Linguistik

Seorang Filsuf Linguistik, Ludwig Wittgenstein, menyebutkan, bahasa berasal dari apa yang disebutnya language games (permainan bahasa).

Permainan bahasa ini tergantung konteks, sekaligus juga penggunaannya. Makna kata, dengan demikian, tidak hanya bergantung pada kesepakatan bersama (ditetapkan dalam kamus), tetapi juga, bagaimana pengguna bahasa tersebut menggunakan dalam konteks sehari-hari.

Reza Wattimena (2011), dengan baik menunjukkan contoh cara kerja language games dari filsuf  asal Austria tersebut, dalam kata ‘jancuk’.

Kata ini akrab dalam lisan dan pendengaran arek-arek Surabaya. Kata ‘jancuk’ ini tidak memiliki kepastian makna. Ia licin bagai belut.

‘Jancuk’ bisa berarti ungkapan kasar seorang musuh. Namun, bisa pula menjadi sapaan akrab seorang sahabat.

Kata ‘jancuk’, bagi seorang sahabat, adalah tanda keakraban yang tak terpermanai. Tetapi, sebaliknya, bisa juga menjadi kata yang menikam bagi seorang musuh.

Kesepakatan awal dari kata ‘jancuk’ adalah ungkapan kasar, dan merupakan kata yang bermakna makian, atau menghina seorang musuh.

Akan tetapi, seiring dengan penggunaan oleh arek-arek Surabaya dalam konteks berbeda, yaitu sebagai sapaan khas bagi sahabat dekat, maka makna jancuk pun menjadi ganda. Dan, luar biasanya, makna ganda itu bertolak belakang satu sama lain.

Kendati bertolak belakang, orang-orang Surabaya bisa memainkan sedemikian rupa makna kata ini dalam konteks masing-masing, sehingga bisa dipahami oleh pendengarnya.

Karena itu, sekasar apa pun seorang teman, mengucapkan ‘jancuk’ kepada sahabatnya yang lain, ia akan tetap disambut dengan derai tawa.

Kembali ke soal pembedaan makna antara mudik dengan pulang kampung yang disebut Jokowi.

Pada dasarnya, selama ini, mudik lebih banyak digunakan oleh pengguna katanya dalam konteks pulang kampung saat menjelang lebaran.

Maka, begitu kita mengucapkan mudik, petandanya atau signifie, demikian istilah Ferdinand de Saussure, yang muncul dalam kepala kita, adalah pulang kampung menjelang lebaran.

Sementara itu, kata pulang kampung, biasa digunakan lebih umum. Kapan saja balik ke kampung halaman, itu disebut pulang kampung. Libur kuliah dan cuti kantor, lalu memilih balik ke kampung. Ya, orang menyebut dirinya pulang kampung. Bukan mudik.

Dengan demikian, meskipun dalam KBBI arti kata mudik sama dengan pulang kampung, tapi dalam konteks language games, kedua bahasa ini mengalami perubahan makna.

Karena itu, jika Jokowi membedakan makna antara mudik dan pulang kampung, itu berarti, ia tidak sedang merujuk pada kesepakatan bersama tentang makna dua bahasa tadi (KBBI), tetapi sedang masuk dalam konteks permainan bahasa.

Adapun permainan bahasa dalam mencari makna kata, lumrah adanya. Paling tidak, begitulah kata Wittgenstein.

 Permainan Bahasa dalam Situasi Corona

Sebelum kita bicarakan itu, perlu saya garis bawahi sekali lagi, yang saya maksud dengan permainan bahasa ini, bukanlah retorika bahasa.

Dalam pengertian Wittgenstein, permainan bahasa adalah, penemuan makna bahasa karena disesuaikan dengan konteks dan bagaimana perkembangan makna dari penggunaannya.

Jokowi dalam penjelasannya di mata Najwa terlihat membedakan antara pulang kampung dan mudik dalam konteks:

Pertama; pulang kampung dalam peristiwa merebaknya wabah korona dimaknai sebagai pulang kampungnya beberapa warga di Jakarta, karena mereka tidak bisa bekerja lagi.

Dalam hal ini, pemerintah tidak melarang. Mengapa? Karena jika dilarang, demikian argumentasi Jokowi, mereka justru rentan saling menulari satu sama lain.

Di Jakarta, para pekerja yang kena PHK, tinggal dalam kamar-kamar sewaan. Dalam satu kamar, bisa lebih dari empat orang. Tinggal berimpit-impitan dalam satu kamar, memang rentang saling menulari satu sama lain.

Selain itu, harapan masih bisa bekerja, lebih terbuka jika mereka pulang kampung. Mereka bisa garap sawah atau bantu orang tua kerja di ladang.

Sementara mudik, menurut Jokowi, adalah mereka yang ingin pulang kampung selama Ramadhan dan menjelang lebaran.

Mereka yang ingin mudik ini bukan hanya yang sudah di PHK, tetapi juga warga umum. Mereka ingin pulang, karena ingin bersama keluarga, bersilaturahmi, dan merayakan lebaran bersama.

Di samping itu, ingin menjauhi Jakarta yang semakin dikepung wabah korona.

Untuk hal tersebut, mulai 24 April 2020, Jokowi sudah menetapkan larangan mudik. Bila mudik dibiarkan, menurut data yang dimiliki Jokowi, ada jutaan orang yang bisa tersebar ke daerah-daerah dan bisa menjadi pemantik tersebarnya virus corona ke berbagai tempat.

Kedua; pembedaan pulang kampung dan mudik dari Jokowi, berarti pemerintah memberi kesempatan pulang kampung bagi warga yang terdampak PHK, tetapi menutup kemungkinan pulang kampung bagi mereka yang sekadar hanya ingin mudik belaka.

Dengan mengulur waktu beberapa saat larangan mudik secara total, pemerintah memberi kesempatan untuk pulang secara bertahap bagi mereka, yang memang kesulitan tinggal di Jakarta dan sekitarnya.

Pembedaan mudik dan pulang kampung a la Jokowi, dengan demikian, merupakan satu kebijakan dari pemerintah untuk mencegah penyebaran corona, sekaligus memberi peluang bagi masyarakat yang terdampak PHK, supaya tidak terkatung-katung tinggal di kota.

Tetapi, tentunya, pemerintah harus memastikan, yang pulang kampung tersebut masih bisa betul-betul dipantau. Yang sehat dikarantina mandiri, dan yang bergejala dikarantina khusus.

Apakah ada gunanya? Tentu saja, ada gunanya. Tetapi catatannya, pembedaan mudik dan pulang kampung itu diikuti kebijakan yang jelas dan terukur.

Bagi saya, dan mungkin juga masyarakat lainnya, dalam situasi pandemi corona ini, kita hanya menunggu kebijakan yang gamblang, terukur, dan satu komando.

Tidak peduli mau membedakan mudik atau pulang kampung. Juga, tidak hirau kebijakan itu mau mudik ke hulu atau hilir ke muara.

Yang terpenting adalah, kejelasan dan kesigapan.

Bukankah kata pepatah: “Ke mudik tentu hulunya, ke hilir tentu muaranya.” (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *