Sun. Nov 29th, 2020

BLAM

KEREN

Transposisional: Basis Paradigmatik Menghargai Perbedaan

5 min read

Sumber gambar: minanews.net

6,932 total views, 6 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Belum lama ini, viral sebuah video singkat berdurasi 32 detik. Video tersebut menayangkan seorang tokoh agama dan tokoh masyarakat mendatangi rumah seorang warga, yang pada saat itu tengah melakukan ibadah di rumah.

Oknum tokoh agama dan tokoh masyarakat tersebut dengan marah berusaha membubarkan ibadah yang sementara berlangsung.

Warga yang didatangi rumahnya berdalih, bahwa mereka sedang melaksanakan ibadah di rumah, karena mengikuti anjuran pemerintah untuk social distancing terkait wabah corona (Covid 19).

Dalam pembelaannya kemudian, mereka menyebut, ibadah yang sedang dilakukan hanya melibatkan keluarga inti. Namun, oknum tersebut tetap ngotot melarang mereka beribadah.

Setelah video tersebut viral, kemudian beredar lagi video tentang kesepakatan damai dari kedua belah pihak tersebut.

Keduanya menyatakan, apa yang terjadi hanyalah kesalah-pahaman, dan mereka sepakat untuk berdamai dengan kesadaran sendiri tanpa paksaan.

Persekusi

Aksi main hakim sendiri dengan membubarkan dan mempersekusi orang lain yang sementara beribadah menurut keyakinannya, telah sering terjadi.

Video singkat yang menjadi viral tersebut menjadi salah satu contoh, betapa seringnya persoalan kesalah-pahaman muncul disebabkan perbedaan keyakinan.

Banyak sekali kasus persekusi berupa pembatasan, pelarangan, dan pembubaran kegiatan ibadah. Baik yang dilakukan terhadap penganut agama lain maupun terhadap sesama agama sendiri,  namun berbeda mazhab/golongan.

Sulitnya kita menerima realitas kepelbagaian, apalagi sampai menyikapi kepelbagaian tersebut dengan sikap yang bijak, menandakan, adanya problem dalam hidup bertoleransi.

Hal ini kerap diperparah dengan hadirnya sindrom mayoritas dan memerlakukan kelompok minoritas secara semena-mena.

Melihat kelompok yang berbeda sebagai ancaman atau musuh yang harus disingkirkan, atau setidaknya dibatasi kebebasannya, merupakan akar persoalan.

Kepelbagaian yang semestinya menjadi ruang yang indah, justru menjadi kenyataan yang horor dan menakutkan.

Ungkapan Bijak

“Perlakukan orang lain sebagaimana dirimu ingin diperlakukan.”

Demikian ungkapan bijak, yang setidaknya diungkapkan empat tokoh besar, dengan berbagai redaksi berbeda, namun dengan maksud dan makna yang sama.

Nabi Muhamamd menyampaikan dalam dalam Hadis riwayat Muslim nomor 8442, Yesus atau Nabi Isa dalam Matius 7:12 dan Lukas 6:31, Confucius/Khonghucu, dan Aristoteles.

Ungkapan bijak tersebut menjadi prinsip etika universal yang diajarkan para Nabi dan orang-orang bijak.

Apa yang menghalangi kita untuk memperlakukan orang lain dengan baik? Jarak psikologis menjadi penyebabnya. Ada semacam perasaan yang memosisikan orang atau kelompok lain,  sebagai bukan bagian dari diri kita.

Hal ini memicu egoisme pribadi dan egoisme kelompok yang berujung pada perlakukan semena-mena terhadap yang lain (liyan), hanya karena mereka berbeda dengan kita.

Rasa empati kemanusiaan kemudian hilang. Sikap toleran terhadap kepelbagaian pun sirna hanya karena egoisme dan arogansi, bahwa hanya kita dan kelompok kita sajalah yang boleh eksis.

Perlakukan orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan, merupakan prinsip etik universal yang dengannya tata kehidupan harmonis dalam kepelbagaian akan terwujud.

Bayangkan jika semua orang atau semua kelompok menjadi arogan dan bersikap antipasti terhadap kelompok lain, maka akan betapa kacau dan rusuhnya kehidupan ini.

Tat twam asi (engkau adalah dia), sebuah prinsip ajaran dari agama Hindu, dan saya yakin, semua agama mengajarkan hal sama. Bahwa, sesama manusia pada dasarnya adalah satu kesatuan eksistensial sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Perbedaan yang terjadi di antara manusia, termasuk perbedaan keyakinan, tak menghalangi kenyataan, semua manusia adalah makhluk yang bersaudara, dan harus saling memperlakukan satu sama lain dengan prinsip kasih-sayang, sebagaimana Tuhan menyayangi hambaNya tanpa pilih kasih.

Kaitannya dengan hidup dalam perbedaan agama dan keyakinan, sikap empati dan memperlakukan orang lain, sebagaimana kita ingin diperlakukan, adalah dengan menghargai hak-hak asasi mereka untuk berkeyakinan dan melaksanakan keyakinannya dalam bentuk peribadatan.

Perbedaan klaim teologis biarlah berpulang kepada diri masing-masing, dan tak perlu diumbar karena hanya akan menimbulkan ketersinggungan dan rentan memicu terjadinya konflik horisontal.

Setiap orang punya hak yang sama untuk menghayati hubungannya dengan Tuhan dan bagaimana ia mengekspresikan keyakinannya tersebut dalam bentuk penyembahan kepada Tuhan.

Dengan demikian, jika keyakinan kita ingin dihargai, hargailah juga keyakinan orang lain, meski berbeda dengan apa yang kita yakini.

Setidaknya, hargailah hak dasar setiap manusia, sebagaimana kita ingin dihargai hak dasar kita. Sebab, sebagai manusia dan sesama warga negara, kita punya hak dan kedudukan yang sama.

Transposisional

Transposisional adalah sebuah konsep, di mana kita menyelami dan menghayati diri sebagai orang lain.

Transposisional adalah upaya psikologis kita untuk memahami orang lain, sebagaimana kita memahami diri kita. Sehingga terimplikasi pada hadirnya perlakuan kita kepada orang lain,  sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Istilah transposisional pertama kali diperkenalkan oleh Choan Seng Song, seorang Teolog Kristen Kontemporer asal Korea. Ia mengulas konsep tersebut dalam bukunya, the Compassionate God, yang terbit pada 1982.

Dalam pengantar buku tersebut, Teologi Transposisional, oleh Choan Seng Song, terinspirasi dari kisah dialog Filosof China Klasik yang hidup sekitar abad IV SM, yaitu Chuang Tzu dan Hui Tzu.

Dikisahkan, dua Filosof China tersebut berjalan di sepanjang bendungan sungai Han. Chuang Tzu kemudian berujar, “Ikan putih itu berenang dengan tenang. Itulah kebahagiaan ikan itu.”

Hui Tzu kemudian menimpali, ”Kau bukan ikan. Bagaimana kau tahu itulah kebahagiaannya?”

Chuang Tzu lalu membalik argumen Hui Tzu, dan menjawab, “Engkau bukan aku. Bagaimana engkau tahu, bahwa aku tidak mengenal kebahagiaan ikan itu?”

Menurut Choan Seng Song, kedua filosof tersebut mewakili dua jenis teologi, yaitu Teologi Transposisional, yaitu Chuang Tzu dan Teologi non Transposisional, yakni Hui Tzu.

Chuang Tzu digambarkan sebagai sosok yang mampu membawa pemahamannya yang mendalam terhadap sifat-sifat alam untuk memengaruhi perjumpaan sehari-harinya.

Ia memiliki rasa yang menyatu dengan alam, yang hidup di sekitarnya. Jarak antara dia dan ikan itu lenyap, ia mampu melihat hal-hal yang bukan saja dari sudut pandangnya sendiri, tetapi juga dari sudut pandang yang lain.

Berkebalikan dengan Hui Tzu, yang memosisikan dirinya dengan realitas yang lain ada jarak, sehingga mengangggap mustahil untuk bisa merasakan apa yang dirasakan oleh yang lain.

Chuang Tzu mewakili orang yang perasaannya menyatu dengan realitas di sekitar. Sedangkan Hui Tzu, mewakili orang yang perasaannya berjarak dengan realitas di sekitar.

Teologi Transposisional yang diilhami dari dialog klasik tersebut didefinisikan oleh Choan Seng Song sebagai usaha untuk menanggapi ikatan kasih yang misterius dan kuat.

Bahasa iman dan pembicaraan teologis harus dikomunikasikan dengan gaya dan ungkapan yang lain.

Transposisional yang diinspirasi dari Chuang Tzu yang mampu merasakan sang liyan sebagaimana ia merasakan perasaannya sendiri, dapat diartikulasikan dalam konteks membangun penghargaan terhadap kepelbagaian. Termasuk di antaranya, perbedaan keyakinan.

Dengan bertransposisi, kita mencoba untuk “menjadi” sang liyan, sehingga kita akan senantiasa meninjau ulang terhadap setiap perlakuan kita kepadanya.

Dengan transposisi, kita bisa memahami arti praktis dari prinsip etik, “perlakukan orang lain sebagaimana dirimu ingin diperlakukan.”

Transposisional merupakan basis paradigmatik dalam menyikapi realitas kepelbagaian. Jika kita ingin menyembah Tuhan kita dengan tenang, demikian pula orang lain tentunya ingin merasakan hal yang sama.

Kita tidak ingin sakralitas dan kekhusyukan ibadah kita terganggu, maka jangan usik orang lain yang sedang khusyuk menyembah Tuhannya.

Sebagai basis paradigmatik, transposisional tak sekadar memantik rasa toleransi terhadap perbedaan.

Lebih dari itu. Yang dipantik adalah rasa empati untuk memperlakukan orang lain, sebagaimana kita ingin diperlakukan.

Melalui empati kemanusiaan tersebut, sekat-sekat keyakinan dan perbedaan iman dapat kita lampaui, dan dalam ragam perbedaan sekalipun kita menyatu dalam satu bahasa universal, yaitu kemanusiaan.

Melalui transposisi dalam kepelbagaian kita dapat wujudkan harmoni yang indah dalam sebuah nuansa hidup bersama yang harmonis.

Bukan sekadar toleransi pasif, tapi komitmen bersama dalam toleransi aktif, di mana kita bekerjasama dan saling menguatkan dalam kepelbagaian serta merayakannya.

Akhirnya, tulisan ini saya tutup dengan mengutip sabda dari lisan suci Nabi Muhamamd saw,  sebagaimana termaktub dalam Hadis riwayat Muslim nomor 8442.

“Barangsiapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga serta kematian mendatanginya dalam kondisi dia beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia bersikap kepada orang lain dengan sikap yang ingin diadapatkannya dari orang lain.” (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *