Wed. Jul 15th, 2020

BLAM

KEREN

Mencerap Makna Ramadhan Tanpa Hingar-Bingar

6 min read

Sumber gambar: islampedia

4,250 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Ramadhan yang Selalu Semarak

Dapat dikatakan, Indonesia merupakan wilayah di dunia dengan Ramadhan yang paling semarak.

Hal ini dimungkinkan, karena kultur masyarakat Nusantara yang tak pernah melewatkan setiap momen penting nan sakral tanpa selebrasi dan semarak kebersamaan.

Sebelum, pada saat, dan sesudah Ramadhan, merupakan momen-momen nan indah penuh semarak dengan berbagai tradisi dan ritual, yang penuh sakralitas maupun sekadar kegiatan bersifat profan.

Semuanya dilalui secara bersama dengan riuh kesemarakan, yang hingar-bingar

Banyak tradisi di berbagai daerah dilakukan dalam rangka menyambut bulan Ramadhan yang akan segera tiba.

Ragam tradisi dan seremoni dilakukan sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Allah dan luapan kebahagiaan, karena akan dipertemukan kembali dengan bulan nan suci. Sekaligus, sebagai momentum simbolik refleksi dan penyucian diri sebelum memasuki bulan suci.

Tidak hanya diisi dengan tradisi atau seremoni yang bersifat sakral, hari Minggu terakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan biasanya sangat semarak dan diisi dengan acara rekreasi bersama keluarga atau kerabat.

Entah kapan tradisi ini berawal, namun biasanya tempat-tempat wisata, utamanya kawasan pantai, akan ramai dengan orang-orang yang meluapkan kegembiraan di “Minggu Terakhir” atau “Minggu Ceria.”

Pasar dan psuat perbelanjaan pun akan ramai dengan orang-orang yang berbelanja untuk kebutuhan Ramadhan.

Seakan paradoks dengan makna puasa, bulan Ramadhan identik dengan peningkatan biaya konsumsi yang berbanding lurus dengan naiknya grafik inflasi.

Sepanjang Ramadhan nyaris denyut kesemarakan yang hingar-bingar nyaris tak berhenti. Baik dengan aktivitas ibadah berupa salat maupun tadarus berjamaah, atau sekadar kumpul-kumpul menanti waktu sahur atau datangnya buka puasa.

Setelah Ramadhan usai, ekspresi syukur dan kegembiraan dirayakan dengan mudik dan silaturahmi.

Corona

Wabah corona yang menerjang pada 2020 dan tak pasti kapan berakhir, membuat Ramadhan di tahun 1441 Hijriyah ini, mungkin akan kita lalui dengan suasana yang tak lagi semarak.

Pandemi memaksa kita untuk tetap di rumah, bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah, demi mencegah transmisi virus yang membahayakan keselamatan bersama.

Anggaplah tahun ini Tuhan berkehendak mengajak kita merasakan dan menggapai hakikat makna agung dari Ramadhan dalam suasana yang lebih khidmat dan bersahaja.

Bertahun-tahun kita melalui dan memenuhi Ramadhan dengan hingar-bingar. Bertahun-tahun kita fokus pada simbol dan keriuhan.

Saya tak mengatakan semua itu salah. Tapi, kesemarakan simbol dan hingar-bingar kerap membuat kita abai pada keagungan khidmat dan kesederhanaan sebagai hakikat sejati dari puasa dan Ramadhan.

Hikmah dari pandemi corona ini, setidaknya membuat kita merenungi kembali arti Ramadhan dalam suasana yang benar-benar berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Mencerap makna dan hikmah agung Ramadhan sebagai bekal untuk kita melalui kehidupan di bulan-bulan berikutnya.

Bulan Perdana

Ramadhan pada hakikatnya merupakan bulan perdana dalam siklus tahun ruhani manusia. Kestabilan ruhani manusia dalam melakoni hidup selama setahun penuh dimulai dari keberhasilannya dalam mengedukasi ruhani selama bulan Ramadhan.

Hal tersebut disebabkan Ramadhan adalah madrasah Ilahi yang berorientasi mensucikan ruhani manusia agar kembali kepada fitrahnya.

Hal ini dimaksudkan agar kita melakoni kehidupan 11 bulan berikutnya senantiasa dalam kontrol kesucian ruhani,  yang mengendalikan keliaran hawa nafsu.

Baik tidaknya hidup yang akan kita lakoni dalam setahun sangat ditentukan oleh optimalisasi re-charge ruhani kita selama satu bulan di Ramadhan.

Oleh karena itu, Ramadhan pada hakikatnya bukan untuk Ramadhan saja, melainkan untuk bekal kehidupan di satu tahun penuh yang akan kita jalani.

Ramadhan bak taman indah yang memendam perbendaharaan keagungan, kemuliaan, dan kesucian tiada bandingan.

Secara kosmologi metafisis, Ramadhan adalah cakrawala bagi tercurahkan dan tercerahkannya karunia semesta kepada manusia.

Sehingga wajarlah, jika semua aktivitas kita di bulan ini bernilai ibadah, yang fadhilahnya berlipat ganda.

Sebagaimana kata Nabi dalam sebuah khutbahnya menyambut Ramadhan:

“Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu dihitung sebagai tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah.”

Ramadhan adalah bulan perdana yang menguatkan bekal spiritual-ruhani manusia. Banyaknya keutamaan yang dijanjikan Allah dalam bulan Ramadhan, sehingga dari Ramadhan-lah kita memulai segalanya dengan baik dalam menjalani aktivitas sepanjang tahun.

Melalui Ramadhan kita diajak memperkuat tekad untuk menjadi insan yang bertakwa. Ramadhan mentraining dan menggembleng jiwa kita untuk lebih mudah dan terbiasa melakukan amalan ibadah.

Ramadhan menyadarkan kita, bahwa semua aktivitas yang berorientsi positif adalah ibadah. Sehingga, hari-hari yang kita lalui di 11 bulan berikutnya, tak lepas dari visi dan orientasi ibadah kepada Sang Pencipta.

Puasa sebagai ibadah inti dalam bulan Ramadhan merupakan sebuah pergulatan batin antara manusia dengan hawa nafsunya.

Hal ini ditujukan untuk mengendalikan hawa nafsu agar manusia tak terseret pada kesia-siaan,  dan tidak terjebak pada kecenderungan akan bayang-bayang fatamorgana dunia.

Keberhasilan puasa seseorang terletak pada indikator kesuksesan dalam mengendalikan hawa nafsu.

Hal tersebut bukan hanya terlihat selama satu bulan di Ramadhan saja, melainkan selama setahun penuh yang dilalui.

Itu sebabnya, Ramadhan dipandang sebagai bulan perdana dalam siklus tahun ruhani manusia yang sangat menentukan perjalanan hidup manusia di bulan-bulan berikutnya.

Ber-Ramadhan dalam Sunyi

Ramadhan tahun ini tak akan kita jumpai keramaian sahur on the road; keceriaan buka puasa bersama. Tak kita jumpai lagi hingar-bingar karnaval atau festival Ramadhan.

Kita tidak lagi bisa merasakan kesemarakan ngabuburit. Bahkan, di tahun ini, kemungkinan besar kita tak dapat merasakan indahnya suasana mudik.

Pandemi Covid-19 membuat kita semua menjadi terkunci di ruang domestik (rumah) kita masing-masing.

Masjid-masjid yang biasanya ramai dengan aktivitas salat tarawih maupun tadarusan, hingga iktikaf di sepuluh malam terakhir, dengan terpaksa harus dihentikan. Ramadhan tahun ini benar-benar mendomestifikasi gerak sosial dan aktivitas ibadah kita.

Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan kita yang sangat “personal”.

Hal tersebut, tentu saja, menyimpan hikmah yang besar dari Sang Maha Agung, agar di tahun ini kita dapat benar-benar merasakan dan menghayati suasana kesyahduan Ramadhan untuk menguatkan personalitas ruhani kita.

Ramadhan adalah bulan spiritual. Realitas spiritual berkebalikan dengan realitas material. Jika realitas material identik dengan suasana riuh, realitas spiritual identik dengan kesenyapan. Jika realitas material bersifat fana, spiritualitas menuntun kita pada keabadian.

Tradisi spiritual sangat menekankan pada latihan, atau riyadhah-riyadhah, yang sangat ketat dalam ajarannya.

Latihan atau riyadah bertujuan untuk menajamkan sisi batiniah manusia agar bisa menghayati makna sejati dari agama sebagai “luapan” cinta kita sebagai hamba kepada Sang Pencipta..

Spiritualitas yang sejati adalah menyelami kedalaman batin yang di situlah Arasy Allah “bersemayam”.

Hingar-bingar perburuan pada kehidupan materi demi menggapai kesejahteraan atau keriuhan ibadah yang ramai dan sangat simbolik.

Terkadang membuat kita kerap lupa untuk melakukan refleksi diri dengan kebersahajaan diri dalam ruang yang hening.

Puasa sebagai salah satu hal penting yang menjadi penanda kemuliaan Bulan Ramadhan merupakan sebuah laku spiritual.

Puasa adalah riyadhah spiritual yang bersifat sangat pribadi antara manusia dengan Tuhannya.

Sebuah laku spiritual yang mendidik manusia untuk memantik kesadaran reflektif metafisis untuk diejawantahkan pada kehidupan fisis.

Sebuah ritus individual, yang akan mengantarkan pelakunya menyublim dari “kebekuan” material yang fana menuju keluasan spiritual yang abadi.

Melalui pandemi corona, seolah Allah hendak menuntun kita untuk menyelami kesejatian puasa,  dan kita “ditarik” ke ruang sepi untuk berjumpa denganNya.

Spiritualitas merupakan perjumpaan pribadi manusia dengan Tuhannya. Hal ini memerlukan ruang sunyi untuk kita merefleksi diri menyadari betapa rapuhnya diri kita di hadapanNya.

Jika di tahun-tahun sebelumnya, sebagian kita melalui Ramadhan dengan konsumsi yang meningkat.

Maka, tahun ini, melalui pandemi, kita dituntun untuk menghayati Ramadhan sebagai bulan yang penuh kebersahajaan.

Bukankah salah satu hikmah puasa adalah turut merasakan derita kaum tak berpunya?

Puasa menekankan manusia untuk mengendalikan keliaran hawa nafsu, sehingga akal dapat menjadi penunggang yang baik, yang mampu mengontrol diri untuk hantarkan jiwa berjalan pada jalanNya.

Mencerap makna Ramadhan dalam kesunyian di tahun ini, dari ruang domestik yang jauh dari keriuhan dan hingar-bingar semoga dapat mengantarkan kita pada makna sejati dari batin spiritualitas kita yang terdalam.

Sehingga, kita dapat mendengar dan merasakan bisikan Ilahi, yang hanya bisa dicerap melalui pergumulan spiritual dalam ruang-ruang yang sunyi.

Ber-Ramadhan dalam kesunyian semoga dapat menuntun kita menghayati suara kemanusiaan yang genuine di lubuk hati terdalam.

Dalam suasana sunyi, pada kesendirian kita dituntun untuk menyadari betapa rapuhnya kita sebagai pribadi.

Dalam suasana sunyi kita merindukan kebersamaan, dan semoga dengannya kita semakin memaknai hakikat kebersamaan.

Dengan demikian, rasa empati sosial kita semakin tajam dan peka.

Ramadhan tinggal menghitung hari. Karena itu, mari kita bersama-sama membersihkan diri, sucikan hati, dan maknai Ramadhan dalam khidmat nan sunyi.

Marhaban Ya Syahrul Ramadhan.

Marhaban Ya Syahrul Shiyam. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *