Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Ketakutan sebagai Ujian

6 min read

Sumber gambar: madura.tribunnews.com

4,073 total views, 2 views today

Oleh: H.M. Hamdar Arraiyyah (Profesor Riset Balai Litbang Agama Makassar)

Orang sering mengalami ketakutan. Banyak hal yang bisa mendatangkan perasaan semacam itu.

Di antaranya, karena seseorang berada di tempat yang asing, berhadapan dengan orang yang punya maksud jahat, atau mengalami cuaca buruk, seperti gelap yang disertai angin kencang dan halilintar yang menggelegar.

Pendeknya, banyak hal yang bisa menimbulkan ketakutan.

Orang takut terhadap hal-hal yang mungkin membahayakan diri, keluarga dan harta bendanya. Ketika wabah penyakit (seperti Covid-19) melanda suatu negeri, orang di negeri itu merasa takut. Mereka takut jangan sampai tertular virus yang ganas itu.

Perasaan seperti itu adalah hal normal. Perasaan tersebut sebaiknya segera diatasi. Kata orang yang ahli, perasaan takut yang berlebihan bisa menimbulkan pengaruh buruk terhadap kesehatan jiwa dan raga.

Kata mereka, daya tahan tubuh bisa mengalami penurunan karena perasaan takut yang berlangsung lama.

Ketakutan mempunyai arti yang mirip dengan kekhawatiran. Khawatir berarti takut (gelisah, cemas) terhadap sesuatu yang belum diketahui dengan pasti.

Sementara itu, kekhawatiran berarti perasaan khawatir; ketakutan (KBBI, 1997:497). Untuk memperluas pemahaman perihal ketakutan, ada baiknya arti fear (ketakutan) dalam bahasa Inggris ditelusuri.

Cambridge Dictionary (online) menjelaskan arti kata fear yakni, an unpleasant emotion or thought that you have when you are frightened or worried by something dangerous, painful, or bad that is happening or might happen (04/2020).

Terjemahnya, ketakutan adalah suatu perasaan atau pikiran yang orang alami ketika ia takut atau khawatir yang disebabkan oleh sesuatu yang berbahaya, pedih, atau buruk, yang sementara berlangsung atau mungkin terjadi.

Perasaan takut dialami oleh manusia pada umumnya. Hal yang sama dapat pula ditelusuri pada kisah nabi-nabi.

Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. mengadukan perasaan ketika Allah Swt. menugaskan mereka untuk menyampaikan peringatan kepada Fir‘aun, seorang raja yang zalim.

Firman Allah Swt. seperti berikut:

(Artinya), Pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun karena ia benar-benar telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut. Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami khawatir dia akan segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas.” Dia (Allah) berfirman, “Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat” (Thaha/20:43-46).     

Ungkapan ‘kami khawatir’  pada kutipan di atas adalah terjemah ungkapan pada ayat, nakhaafu. Terjemah ini disesuaikan dengan konteks ayat, yakni Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. khawatir terhadap kemungkinan buruk yang akan menimpa diri mereka.

Selain itu, ayat itu mengingatkan, bahwa Allah menjamin keamanan bagi keduanya.

Kata ‘ketakutan’ atau ‘kekhawatiran’ dalam tulisan ini adalah terjemah dari kata al-khauf di dalam Al-Qur’an.

Menurut kamus al-Mu‘jam al-Washiith, al-khauf adalah infi‘aalun fi-n nafsi yahdutsu li-tawaqqu‘i maa yaridu min al-makruuhi aw yafuutu min al-mahbuub (Dhaif, 2005:262).

Artinya, ketakutan adalah perasaan pada jiwa yang timbul karena menanti datangnya apa yang dibenci atau hilangnya apa yang disukai.

Sementara itu, menurut al-Ashfahani (w. 425 H), penantian tersebut didasarkan pada tanda yang diduga atau sudah diketahui.

Kata alkhauf (ketakutan) mempunyai arti yang berlawanan dengan al-amn (keamanan). Kata al-khauf digunakan untuk perkara duniawi dan ukhrawi (1992:303).

Karena maknanya luas, tulisan ini dibatasi pada al-khauf sebagai ujian.

Kesiapan Menghadapi Ujian

Pada hakikatnya, kehidupan di dunia adalah suatu ujian. Manusia diuji apakah dalam hidupnya ia mampu berbuat yang terbaik atau tidak (Lihat al-Mulk/67:1-2). Kesempatan ujian hanya satu kali. Hasil ujian akan diterima di akhirat kelak.

Berbagai keadaan yang dialami oleh manusia, juga ujian. Kesusahan dan kesenangan adalah ujian.

Ini sesuai firman Allah (artinya), Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (al-Anbiya/21: 35). Keburukan dihadapi dengan sabar, sedangkan kebaikan dihadapi dengan syukur.

Ujian berupa kesulitan dijelaskan, antara lain, pada ayat berikut:

Wa la-nabluwannakum bi syai’in min al-khaufi, wa-l juu‘i, wa naqshin min al-amwaali wa-l anfusi wa-ts tsamaraati wa basysyiri-sh shaabiriin.

Artinya, Dan Kami pasti menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar (al-Baqarah/2:155).

Ayat di atas mengingatkan, bahwa manusia akan dihadapkan pada berbagai macam ujian atau cobaan.

Pemberitahuan ini mengisyaratkan perlunya kesiagaan. Kesiapan mental dan kesiagaan membantu meringankan beban dalam menghadapi suatu cobaan.

Menurut al-Alusi, cobaan dikatakan sedikit, yaitu bila cobaan itu dibandingkan dengan apa yang tidak ditimpakan kepada mereka (II, 1994:22), atau kemungkinan yang lebih buruk yang dapat mereka alami (Arraiyyah, 2002:134).

Sementara itu, menurut al-Baidhawi, di balik ungkapan demikian itu terdapat makna, bahwa sekalipun mereka itu mendapat cobaan, namun rahmat Tuhan senantiasa menyertai manusia (I, 1996:430).

Salah satu dari cobaan yang disebutkan di atas dapat terjadi pada suatu waktu. Selain itu, beberapa cobaan itu dapat terjadi pada waktu yang bersamaan atau beriringan.

Sebagai contoh, jika perang atau konflik sosial terjadi di suatu daerah, maka penduduknya dilanda ketakutan.

Sebagian dari mereka siaga di rumah, sementara sebagian lainnya mengungsi ke tempat yang lebih aman. Tatanan sosial ketika itu menjadi porak-poranda.

Bila keadaan kacau, aktivitas ekonomi menjadi terganggu. Distribusi barang kebutuhan pokok tidak berjalan lancar. Produksi barang dan hasil pertanian menurun. Mungkin terjadi paceklik.

Pendapatan pekerja berkurang atau terhenti sama sekali. Banyak orang kesulitan mendapatkan bahan pangan. Terjadi banyak korban jiwa. Semua ini adalah bagian dari peristiwa yang sering terjadi.

Bila aktivitas ekonomi terganggu, maka ada baiknya warga masyarakat meningkatkan kepedulian sosial. Warga masyarakat perlu memantau kalau-kalau ada orang di sekitar mereka yang kesulitan bahan pangan.

Untuk selanjutnya, kesulitan mereka diatasi secara bersama-sama dengan mengharapkan rida Allah Swt.

Sehubungan adanya cobaan, Al-Qur’an memberi harapan yang baik. Membangun optimisme adalah salah satu pesan dari Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad Saw. Karenanya, sikap frustrasi harus dihindari.

Ayat 155 dari Surah al-Baqarah ditutup dengan pernyataan, Wa basysyiri-sh shaabirin (Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar). Buah dari kesabaran akan diperoleh di dunia dan akhirat.

 Al-Mu’min

Salah satu nama Allah dalam Al-Qur’an, yakni al-Mu’min (Yang Menjaga Keamanan) (Depag, 2004:800).

Kata al-Mu’min pada beberapa kitab diterjemahkan dengan the Giver of Security, the Giver of Faith, dan the Gurdian of Faith. Para penerjemah Al-Qur’an memilih kata yang berbeda dalam menerjemahkan al-Mu’min.

Kata al-Mu’min dalam Al-Qur’an disebut sesudah as-Salaam (Yang Maha Sejahtera; the Source of Peace) dan sebelum al-Muhaimin (Pemelihara Keselamatan) (al-Hasyr/59:23). Ini mengisyaratkan kedekatan makna di antara ketiga kata itu.

Kata al-mu’min dapat dikembalikan ke kata kerja aamana. Artinya, antara lain, “menjadi memiliki keamanan.”

Kata aamana yang diikuti partikel bi berarti ‘mempercayai dan membenarkan’. Ungkapan aamanahu, artinya, ‘membuatnya merasa aman’ (Dhaif, 2005:28).

Disebutkan dalam ayat, Fa-l ya‘buduu rabba haadza-l bait, al-ladzii ath‘amahum min juu‘in wa aamanahum min khauf.

Artinya, Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka‘bah), yang telah memberi makanan kepada mereka dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan (Quraisy/106:3-4).

Orang Quraisy biasa pergi berdagang ke Negeri Syam pada musim panas dan ke Negeri Yaman pada musim dingin.

Mereka mendapat jaminan keamanan dari penguasa negeri-negeri yang dilalui. Ini adalah suatu nikmat dari Allah (Depag, 2004:916). Itu disebabkan, mereka adalah penduduk kota, di mana Ka‘bah itu ada (Syihab, XV, 2007:539).

Orang mukmin menyandarkan keamanan dirinya kepada Allah. Ia menjadi orang yang memiliki rasa aman. Selain itu, ia diharapkan memberi rasa aman kepada orang lain.

Rasulullah Saw. mengajarkan salah satu teks doa. Isinya, antara lain, memohon rasa aman.

Lafaznya, Allahumma- stur ‘auraati wa aamin raw‘aati.  Artinya, ya Allah tutupilah aibku dan berilah aku rasa aman terhadap hal-hal yang menjadi kekhawatirkanku (HR an-Nasa’i dan Ibn Majah; al-‘Ashqalani, t.th.:348).

Nabi Ibrahim a.s. berdoa, agar Mekah menjadi negeri yang aman.

Doanya:

Rabbi-j‘al haadzaa baladan aaminan wa- rzuq ahlahu min-ats tsamaraati man aamana minhum bi-llaahi wa-l yaumi-l aakhir.”

Artinya:

Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.” (al-Baqarah/2:126).

Orang-orang beriman berdoa untuk keamanan negeri mereka dan warganya. Semoga. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *