Wed. Jul 15th, 2020

BLAM

KEREN

Isa, Penyaliban, dan Kenaikan: Titik Temu Islam dan Kristen

6 min read

Foto: Sabara

10,532 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Pekan kedua April, umat Kristiani memasuki rangkaian perayaan Pekan Suci, yang dimulai dari Minggu Palma dan puncaknya Minggu Paskah.

Rangkaian perayaan tersebut didasarkan pada peristiwa seputar peristiwa penyaliban Yesus, hingga kebangkitannya di Minggu Paskah.

Berbeda dari tahun sebelumnya, umat Kristiani pada tahun ini melalui rangkaian ibadah Pekan Suci jauh dari kesemarakan. Sebab, mereka harus melakukan di rumah masing-masing, akibat pandemi corona.

Titik Temu dan Titik Tengkar

Penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan, merupakan salah satu esensi utama doktrin iman Kristiani yang memosisikan Yesus sebagai sang penebus dan juru selamat.

Pribadinya, pengorbanannya, kebangkitannya, kenaikannya, hingga kedatangannya kembali diterima dan dihayati dengan penuh iman.

Yesus atau Isa, adalah pribadi yang menjadi “titik temu” sekaligus “titik tengkar”, sebagaimana judul buku yang ditulis Bambang Subandriyo.

Dua agama besar dunia (Kristen dan Islam), setidaknya menjadikan sosok ini sebagai salah satu poros doktrin yang memertemukan keduanya, sekaligus membuat keduanya “bertengkar.”

Islam dan Kristen memiliki kesamaan sekaligus perbedaan fundamen mengenai sosok Isa atau Yesus.

Beberapa poin mengenai erspektif tentang pribadi Yesus/Isa, peristiwa penyaliban, hingga kedatangannya kembali, dapat dikatakan sebagai garis demarkasi iman antarkedua agama tersebut.

Tulisan ini tidak untuk mengulas ”titik tengkar” mengenai sosok Yesus/Isa dalam doktrin iman dua agama yang sejatinya bersaudara tersebut.

Tulisan singkat ini mencoba untuk mengangkat poin-poin mendasar yang menjad ititik temu dalam doktrin iman kedua agama tersebut

Untuk apa berlarut-larut dalam perdebatan teologis yang hanya akan memeruncing hubungan kedua penganut agama terbesar di dunia ini. Mengusik doktrin iman yang sudah pakem pada masing-masing penganut hanya akan memicu kegaduhan

Membangun dialog yang sehat dengan dasar kalimatun sawa (titik temu) menuju kesepahaman,  jauh lebih sehat daripada debat teologis yang rentan menciptakan permusuhan.

Pribadi Yesus

Hari ini, setidaknya, lebih dari empat per tujuh penduduk bumi mengimani Yesus/Isa sebagai manusia yang sangat istimewa. Manusia dengan pesona Ilahi yang mengajarkan tentang kasih Rabbani.

Keyakinan Kristen dan Islam bermufakat tentang sosok Yesus/Isa yang luar biasa bahkan sejak kejadiannya. Ia lahir dari proses yang tak lazim. Bukan dari pertemuan sperma dan ovum, tetapi dari ruh Ilahi yang ditiupkan pada rahim sang perawan suci, Maria/Maryam.

Jika dalam Kristen Yesus disebut Anak Allah, dalam Islam Isa disebut Ruhullah. Kedua konsep yang mungkin tak sepenuhnya sama, tapi paling tidak, keduanya sama-sama menegaskan atribusi keilahian pada sosok Yesus/Isa.

Hal yang harus diingat pula, terkadang orang Islam banyak yang salah paham dan simplistis dalam memahami konsep Anak Allah dalam doktrin iman Kristiani.

Demikian pula, terkadang sebagian Muslim terjebak pada simplifkasi dalam menilai konsep Trinitas Kristen dan menyamakannya dengan paham ketuhanan Triteis. Trinitas dan Triteis, adalah dua pandangan ketuhanan yang berbeda.

Jika dalam Alkitab Yesus disebutkan sebagai Firman yang menjadi manusia (Yohanes, 1:14), maka dalam Surat An-Nisa (4):171, Isa disebut sebagai Kalimatuhu (KetetapanNya). Yesus bagi umat Kristiani adalah Messiah atau Kristus.

Dalam Al-Quran, 11 kali Isa dipanggil dengan sebutan al-Masih. Isa adalah salah satu nabi utama (ulul azmi), dan termasuk di antara nabi yang paling sering disebut dalam Al-Quran.

Al-Quran total menyebut sosoknya sebanyak 59 kali, baik dengan sebutan Isa, al-Masih, dan Putra Maryam.

Ibunya yang suci, bahkan menjadi nama salah satu surat, dan disebut sebagai salah satu wanita penghulu surga.

Isa begitu istimewa sejak kejadiannya, yang lahir tanpa ayah biologis. Ada dua keistimewaan Isa yang disebutkan dalam Al-Quran namun tak ditemukan dalam narasi Alkitab.

Sejak bayi, Isa sudah menunjukkan mukjizat dengan berbicara di hadapan orang-orang yang menyangsikan kesucian ibunya (QS. Maryam {19}:30-33 dan QS al-Maidah {5}:110).

Ketika masih kanak-kanak, ia tunjukkan kkedigdayaan dengan menjadikan burung yang hidup dari tanah liat (QS al-Maidah {5}:110).

Alkitab dan Al-Quran sama-sama menceritakan tentang beberapa mukjizatnya, yaitu menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang berpenyakit lepra, dan membuat orang buta dapat melihat kembali.

Di usia 30, ia dikukuhkan sebagai utusanNya dalam Alkitab melalui pembaptisan Yohanes (Yahya).

Selama tiga tahun, ia berkeliling tanah Israel ditemani 12 muridnya, yang dalam Al-Quran dipuji sebagai Hawariyun dan Ansharullah (penolong Allah) (QS. Ali Imran {3}:52 dan QS as-Saff {61}:14).

Penyaliban dan Kenaikan

Tema penyaliban adalah hal yang juga menjadi “titik tengkar” antara iman Kristen dan Islam. Keyakinan bahwa Yesus disalibkan merupakan salah satu poros utama iman Kristiani.

Berbeda dengan Islam yang meyakini, bahwa yang disalibkan bukanlah Isa, melainkan orang yang diserupakan dengan Isa (QS an-Nisa {4}:157).

Mari tinggalkan perdebatan tentang siapakah yang sebenarnya disalib. Sebab, fakta tentang adanya peristiwa penyaliban itu disepakati.

Marilah kita bertanya, mengapa banyak manusia pada saat itu yang sangat bernafsu membunuh Yesus/Isa? Kesalahan fatal apa yang ia telah perbuat?

Kesalahan Yesus/Isa adalah mengusik “kemapanan” otoritas keagamaan para rabi Yahudi. Ia,  yang merupakan utusan Tuhan, dituding menyebarkan kekafiran, hingga harus dibunuh dengan cara yang terhina.

Ketulusan seorang Yesus/Isa yang mengajarkan khidmat kasih pada kemanusiaan yang menarik banyak simpati, kemudian memantik dengki para rabi Yahudi.

Akhirnya, mereka pun bersekongkol dengan penguasa Romawi di bawah pemerintahan Gubernur Pontius Pilatus untuk membunuh Yesus/Isa.

Al-Quran dalam Surat an-Nisa (4) ayat 157-158, menyatakan, konspirasi pemimpin Israil untuk membunuh Isa.

Meski Al-Quran dengan tegas menyatakan mereka tidak berhasil membunuhnya, karena Allah menyelamatkan Isa dengan mengangkat Isa kepadaNya.

Pada drama penyaliban, setidaknya kita bermufakat, bahwa peristiwa tersebut adalah tragedi kemanusiaan.

Utusan Tuhan yang sangat mulia dinistakan, firman Tuhan dalam wujud personifikasi Isa diinjak-injak oleh mereka yang mengenakan jubah keagamaan, yang bekerjasama dengan penguasa tiran.

Hal ini menyiratkan, bahwa sebenarnya dalam pentas sejarah, yang bertarung bukanlah antara agama dengan non agama.

Seperti yang dinyatakan Ali Syariati, yang bertarung dalam sejarah adalah Agama versus “agama”. Antara agama yang menyeru pada Tuhan dan kemanusiaan melawan “agama” yang telah tergadaikan pada kemewahan, dan berselingkuh dengan kekuasaan.

Yesus/Isa akhirnya tidak jadi mati. Setidaknya, itu titik temu berikutnya. Kristen meyakini, di hari ketiga ia dibangkitkan untuk kemudian diangkat ke surga dan duduk di “sebelah kanan” Allah (Markus 16:19).

Al-Quran Aurat Ali Imran (3) ayat 55 dan anNisa (4) ayat 157-158, menyebutkan, kenaikan Isa yang diangkat oleh Allah untuk diselamatkan dari orang-orang kafir.

Yesus/Isa adalah sosok yang setelah kenaikannya dinantikan kedatangannya kembali oleh umat Kristiani. Juga, oleh sebagian besar umat islam. Yesus/Isa diyakini aktor penting dalam narasi akhir zaman.

Ia akan hadir kembali dengan membawa kebenaran, menumpas kejahatan, dan menegakkan keadilan. Meski dalam narasi Islam, Isa tidak sendirian, karena ia akan bersama Imam Mahdi.

Kedatangan Yesus/Isa untuk kedua kalinya menjadi titik temu Islam dan Kristen. Sebagai orang beriman, marilah kita menunggu kedatangannya dengan harap-harap cemas.

Apakah kelak jika kita ditakdirkan menemui zaman itu, kita berada di barisannya, ataukah berada di barisan musuhnya.

Romantisme Historis

Rangkaian narasi tentang sosok Yesus/Isa dalam Alkitab maupun Al-Quran menunjukkan, titik temu ajaran kedua agama yang memuliakannya lebih dari sekadar manusia biasa.

Titik temu ini, sejatinya, dapat menjadi jembatan baik sebuah dialog yang arif antara keduanya dan membangun relasi antar iman yang harmonis dan saling mengasihi.

Ketika rombongan sahabat Nabi melakukan hijrah pertama ke Habsyah (Ethiopia) dan diterima dengan penuh penghormatan dan perlindungan oleh Raja Negus (Najasyi) Kristen.

Ketika utusan kafir Quraisy datang meminta Raja Negus mengusir rombongan tersebut, dengan tegas Raja Negus menolak.

Ja’far bin Abu Thalb, pimpinan rombongan tersebut, membacakan ayat-ayat Al-Quran mengenai Isa dan ibunya. Ayat-ayat Al-Quran itu kemudian membuat Raja Negus beserta para Uskup Habsyah menangis tersedu-sedu, hingga airmata membasahi janggut mereka.

Pada kisah yang lain, ketika sekelompok rombongan Kristiani dari Najran dating ke Madinah untuk berjumpa Nabi, rombongan tersebut diterima di dalam Masjid Nabawi.

Ketika tiba waktu rombongan tersebut untuk melakukan ibadah, mereka keluar dari masjid dan bersiap melakukan ibadah di tengah padang pasir Madinah yang panas.

Nabi tak tega membiarkan mereka berpanas-panas, dan kemudian memanggil dan mempersilakan mereka melakukan ibadah di dalam Masjid Nabi.

Nabi kemudian mengikat perjanjian dengan orang-orang Kristen dari Najran dan biarawan Kristen di Biara Saint Catherine.

Al-Quran pada beberapa ayat mempertegas differentia antara keyakinan Islam dan Kristen soal Isa. Alquran juga mengeritik perilaku sebagian Ahlul kitab (termasuk umat Kristiani di dalamnya) yang bersikap berlebihan.

Namun, harus diingat pula, Al-Quran menyebut orang-orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang Islam adalah orang-orang Nasrani (QS al-Maidah {5}:82).

Kedekatan persahabatan tersebut ditunjukkan dengan penerimaan raja dan pemimpiin Kristiani pada masa itu kepada Nabi dan sahabatnya.

Raja Heraklius dari Roma dan Raja Mesir (keduanya beragama Kristen) mendapati surat dari Nabi berisi ajakan masuk Islam.

Meski keduanya tidak masuk Islam, keduanya memperlakukan surat Nabi dengan penuh hormat, memuliakan utusan yang membawa surat tersebut, dan mengirimi Nabi hadiah.

Bahkan, Raja Mesir menghadiahi Nabi salah seorang putri bangsawan Mesir untuk dinikahi oleh Nabi, yaitu Maria al-Qibtiyah.

Momen paling romantik adalah ketika pasca peristiwa Karbala, di mana Husain, cucu Nabi beserta 72 keluarga dan sahabatnya, dibunuh. Kemudian, kepala mereka diarak dari Karbala ke Damaskus.

Di tengah perjalanan, seorang Pendeta Nasrani mengeluarkan seluruh hartanya sekadar untuk mendapatkan kesempatan membersihkan dan memuliakan kepala suci cucu Nabi tersebut, walau hanya beberapa jam.

Dengan cucuran airmata dan sikap penuh penghormatan, pendeta tersebut membersihkan dan memuliakan kepala cucu Nabi itu.

Islam dan Kristen, dua agama yang lahir dari “rahim” Ibrahim, dan saat ini, keduanya merupakan agama dominan penduduk dunia.

Sudah saatnya, keduanya melakukan rekognisi terhadap yang lain untuk menjembatani jurang perbedaan dan menghapus stigma.

Antara lain, membangun dialog yang arif sebagai sesama “anak-anak Ibrahim”, serta melakukan kerjasama konstruktif untuk membangun tata dunia damai dan harmonis. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *