Thu. Dec 3rd, 2020

BLAM

KEREN

“Wabi Sabi”; Seni Menemukan Keindahan dalam Ketidaksempurnaan (Filsafat Hidup Orang Jepang)

4 min read

Sumber gambar: marketing.co.id

11,039 total views, 2 views today

Oleh: Baso Marannu (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Wabi Sabi; Kondisi Hati dan Perenungan terhadap Kehidupan

Ada yang menarik perhatian kita beberapa pekan terakhir ini, yakni sebuah tayangan video yang memerlihatkan anak-anak menangis, karena merindukan gurunya.

Dengan jujur, anak perempuan itu mengungkapkan isi hatinya kalau ia tengah merindukan guru di sekolahnya.

Ya, mungkin inilah salah satu video yang banyak dirasakan anak sekolah, yang saat ini diharuskan belajar di rumah, akibat terjangan virus corona.

Saya mengapresiasi ungkapan ketulusan hati anak tersebut. Sambil menikmati secangkir kopi, saya menemukan sebuah buku di perpustakaan pribadi. Judulnya, Wabi Sabi, ditulis Beth Kempton (2018).

Setelah membacanya, saya akhirnya mengetahui, Wabi Sabi merupakan filsafat kehidupan orang Jepang. Wabi Sabi adalah respon naluriah terhadap keindahan dan merefleksikan sifat sejati kehidupan.

Wabi Sabi adalah penerimaan dan apresiasi terhadap sifat kefanaan, tidak sempurnaan, dan ketidakutuhan segalanya.

Wabi Sabi adalah mengenali anugerah kehidupan yang sederhana, perlahan, dan alami.

Inilah yang saya ingin ungkapkan berkaitan dengan video di atas, yang sempat viral di media sosial.

Wabi Sabi adalah kondisi hati. Begitulah, kira-kira perasaan hati anak-anak tersebut. Anak sekolah yang saat ini berada di rumah, ternyata mulai merasakan kejenuhan.

Mereka memang ditawarkan pembelajaran melalui online dengan program zoom meeting ataupun google classroom sebagai pengganti aktivitas belajar di sekolah.

Tapi, nyatanya, anak-anak sekolah mengalami kejenuhan. Selain merindukan sosok guru di ruangan kelas, anak-anak juga rindu bertemu dan bermain-main dengan teman-teman sekolahnya.

Kesimpulannya, kehadiran guru tak bisa tergantikan oleh teknologi secanggih apapun. Menurut Sumardianta (2018), di benak anak-anak, pengabdian guru selama ini begitu membanggakan.

Lalu, mengapa anak-anak sekolah merindukan gurunya?

(1) Guru berangkat lebih pagi bukan untuk menghindari macet, melainkan untuk menyambut siswa dengan senyum bahagia;

(2) Guru pulang lebih sore bukan untuk mentaati peraturan jam kerja, melainkan untuk membubuhkan kata-kata bahagia pada buku kerja siswa;

(3) Guru menyusun rencana pembelajaran bukan dengan asal-asalan, melainkan dengan tujuan memberikan pengalaman belajar bermakna bagi siswa;

(4) Guru mengenal nama siswa bukan sebagai deretan abjad, melainkan sebagai ranbgkaian doa dan harapan;

(5) Guru mengajar bukan hanya dengan kata-kata saja, melainkan juga dengan keteladanan nyata.

Jadi, wajar kalau guru dirindukan kehadirannya di kelas bersama siswa.

Corona & Wabi Sabi

Berkaitan filosofi Wabi Sabi, satu pelajaran penting yang bisa kita petik hikmahnya dari wabah virus corona ini adalah, “manusia jangan sombong.”

Coba bayangkan, virus yang sangat halus, dan bahkan tidak terlihat oleh mata tanpa bantuan mikroscop, mampu membuat manusia seantero dunia kocar-kacir.

Hingga saat ini, belum ada obatnya, kecuali kita di suruh untuk tetap tinggal di rumah, menjaga jarak, dan selalu hidup bersih.

Saya ingin memaknai pelajaran hidup ini dalam tiga hal, sebagai berikut:

Pertama, kita diharapkan tinggal di rumah saja. Ini mengindikasikan, kita diperingatkan oleh Allah swt, bahwa berkumpul dengan keluarga itu penting.

Selama ini, mungkin kita kehabisan waktu untuk keluarga, karena tuntutan ekonomi. Di satu sisi, mungkin kita harus memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Namun, pada sisi lain, kita pun terkadang melupakan, keluarga juga butuh kasih sayang kita.

Mereka juga butuh bermain, butuh senda gurau bersama keluarga dengan penuh keikhlasan. Jadi, saat ini, kita diberikan pelajaran baru tentang arti pentingnya “keikhlasan” untuk berbagi kasih sayang bersama orang-orang yang kita cintai di rumah.

Kedua, menjaga jarak. Mungkin, karena perkembangan teknologi terkadang kita menganggap, persaudaraan hanya cukup dibangun melalui dunia maya. Bahkan, segala sesuatunya dapat diselesaikan dengan chat atau videocall.

Padahal, kita juga butuh saling berinteraksi. Tapi, saat ini, sudah jarang ditemui, kita berkumpul di warung kopi atau sedang makan bersama, tetapi semua sibuk dengan gadgetnya.

Nah, Allah swt memberikan peringatan pada kita. Kalau begitu, sekalian saja manusia tidak boleh berinteraksi dan saling menjaga jarak.

Betapa sedihnya dan perihnya hidup ini jika kita saling berjauhan, saling curiga, dan hidup individualis, dan tidak dapat bersenda gurau dengan bebasnya.

Ketiga, kita disuruh untuk hidup bersih. Bayangkan, untuk keluar rumah saja, kita diharuskan memakai masker. Dan, setiap melakukan aktivitas, kita juga diharapkan mencuci tangan.

Mungkin Allah swt memberikan peringatan pada kita pada dua hal. Yakni, penghargaan terhadap alam yang selalu kita cederai, dan kita diperingatkan tentang pentingnya hidup bersih.

Ketiga hal tersebut menjadi perhatian kita semua di saat masih merebaknya virus corona di jagat raya. Kita tidak bisa persalahkan dari mana virus ini awalnya.

Namun, yang perlu kita renungkan bersama, perilaku kita saat ini mungkin sudah jauh melenceng dari apa yang telah ditetapkan Allah swt.

Yang harus kita yakini juga, segala ujian yang kita terima ini, pasti ada hikmah di baliknya. Mungkin setelah ini, kita akan rindu bertemu teman, keluarga, dan saling menyapa,  karena sudah bosan dengan chat dan videocall yang dilakukan selama ini.

Bisa jadi, setelah ujian ini, kita pun akan terus hidup bersih, dan menghargai lingkungan sekitar kita.

Dengan wabah ini, kita akan menyadari kasih sayang dan berkumpul bersama keluarga itu, bukan hanya dilihat dari berapa uang yang diberikan kepada anak. Artinya, bukan cuma dilihat dari segi kualitas, tetapi kuantitasnya pun perlu ditingkatkan.

Pada akhirnya, kita semua harus kuat menghadapi cobaan ini. Insya Allah, kita akan mampu keluar dari cobaan ini.

Inilah pelajaran hidup paling berharga untuk kita semua, para penghuni bumi. Bahwa, kita adalah makhluk sempurna atas ketidaksempurnaannya.

Demikian yang digambarkan dalam filsafat hidup orang Jepang, Wabi Sabi. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *