Wed. Jul 15th, 2020

BLAM

KEREN

Perempuan & Balada Pernikahan di Tengah Covid-19

5 min read

Sumber gambar: id.theasianparent.com

7,764 total views, 6 views today

Oleh: Khaerun Nisa’ (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Sejak 11 Maret 2020, WHO (World Health Organization), atau Badan Kesehatan Dunia, secara resmi menetapkan coronavirus desease 2019 (Covid-19) sebagai pandemi.

Keputusan tersebut berdasar pada menyusulnya 114 negara yang telah terinfeksi Covid-19, termasuk negara kita tercinta, Indonesia.

Indonesia sendiri mengumumkan kasus pertama Covid-19  pada 2 Maret 2020, di mana terdapat dua orang Indonesia terinfeksi, setelah berinteraksi langsung dengan warga negara Jepang. Namun, keduanya saat ini dinyatakan sembuh.

Virus yang berasal dari Kota Wuhan China ini, semakin hari kian meresahkan dan menjadi momok menakutkan.

Betapa tidak. Penularannya yang begitu cepat, sehingga menyebabkan grafik pasien positif Covid-19 di Indonesia terus meningkat tajam.

Hingga artikel ini ditulis, 10 April 2020, dilansir dari laman covid19.go.id, sudah tercatat 3.512 warga Indonesia positif terinfeksi Covid-19, dengan mortality rate sebesar 11,47 %. Sementara secara global, menembus angka 1,6 juta kasus, dengan jumlah kematian 95.604 jiwa (sumber:worldometer).

Dengan kondisi kian genting ini, berbagai upaya dilakukan pemerintah Indonesia untuk menekan laju penyebaran Covid-19.

Di antaranya, menerapkan work from home bagi pekerja pada sektor formal, dan study from home untuk pelajar. Kemudian, digencarkannya pula tagar #socialdistancing, #dirumahaja, #dirumahmaki, di berbagai flatform sosial media.

Urusan peribadatan umat beragama pun turut dirumahkan, meski masih saja menuai pro dan kontra, sampai saat ini.

Upaya-upaya tersebut, tak lain adalah bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di negara tercinta kita ini.

Pernikahan

Tidak terkecuali, bagi masyarakat Indonesia yang akan melangsungkan pernikahan, turut juga terkena Imbas pandemi Covid-19.

Pernikahan, tentulah, menjadi salah satu momen penting dalam  hidup seseorang. Sehingga,  pelaksanaannya memerlukan perencanaan matang  sejak  jauh-jauh hari.

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, menjelang ramadhan, animo masyarakat Indonesia memang terbilang cukup tinggi untuk melaksanakan pernikahan. Bahkan, di tengah pandemi corona sekalipun.

Buktinya, data dari laman Kementerian Agama, simkah.kemenag.go.id, tercatat 2.427 calon pengantin per 1 April 2020 yang mendaftarkan diri secara online.

Bulan Rajab, yang tahun ini bertepan April, dipercaya oleh sebagian masyarakat Indonesia, sebagai salah satu “bulan baik” untuk melangsungkan pernikahan.

Sebab, pernikahan pada bulan Rajab dipercaya dapat membawa keberkahan, keselamatan, dan kemudahan dalam memeroleh keturunan. Maka, banyak yang menyebut, bulan Rajab sebagai “bulan musim nikah.”

Namun, karena adanya pandemi corona, banyak calon pengantin yang bahkan harus rela me-reschedule pelaksanaan hari pernikahan mereka.

Hal tersebut menyusul terbitnya Surat Edaran Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2020 dan Surat Edaran Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam No.P-003/DJ.III/HK.00.7/04/2020, pendaftaran nikah online dan pendaftaran melalui operator untuk akad nikah tanggal 1-21 April 2020 tidak dapat dilakukan.

Meski sebelum surat edaran tersebut terbit, pendaftaran pernikahan masih dapat dilakukan secara daring (online), mengingat petugas KUA mulai menerapkan work form home terhitung 26 Maret 2020.

Kendati begitu, masih saja ada calon pengantin yang melangsungkan pernikahan, meskipun telah terbit maklumat Kapolri Nomor Mak/2/III/2020 mengenai larangan melakukan kerumunan sebagai bentuk kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah dalam penanganan penyebaran Covid-19.

Misalnya, yang belakangan ini ramai dibicarakan adalah, pernikahan selebgram dengan kapolsek. Tanpa memedulikan bahaya corona, mereka tetap menggelar pesta mewah. Tak lama berselang, sang pengantin kapolsek  itu pun, dijatuhi sanksi turun jabatan.

Sementara itu, beberapa di antara calon pengantin, ada juga tetap keukeh melaksanakan akad  nikah, meskipun dilaksanakan secara sederhana (versi mereka) di rumah, dan dihadiri keluarga inti, seperti selebgram asal Bandung @megaiskanti, yang baru-baru ini melangsungkan pernikahan.

Lain lagi cerita selebritis papan atas, Jessica Iskandar. Janda satu anak ini lebih memilih menjadwal ulang pernikahannya, sembari menunggu corona betul-betul berakhir.

Konjo Bulukumba

Lalu, bagaimana dengan mereka yang belum merencanakan pernikahan, atau belum memiliki calon untuk diajak ke pelaminan?

Entah ini olokan, atau murni kekhawatiran. Namun, dalam ungkapan bahasa Makassar, ada “bunyi” seperti ini :

“Ku kana memangja lacci-laccirimako

Kantekammami punna tutupmi  layanan pendaftaran nikayya ri KUA,

Ammantangmako sallang tulolo”

“awweh lolobangkomi nona”

Tulolo dalam bahasa Makassar, merujuk pada sebutan untuk perempuan pada suku Makassar yang masih remaja/muda/belum menikah. Lalu, mengapa hanya perempuan yang terkena lampu sorot?

Bukankah pernikahan terjadi antara laki-laki dan perempuan? Ah… Perempuan memang selalu memiliki magnet tersendiri untuk diperbincangkan, hingga diperdebatkan.

Satir-satir tersebut seolah mengisyaratkan:

“Duhai gadis di luar sana yang belum mengecap indahnya bahtera rumah tangga;

Sungguh saat ini Anda tengah berada dalam masalah besar, karena KUA telah menutup layanan pendaftaran nikah;

Besar kemungkinan Anda akan berakhir menjadi perawan tua;

Mengingat pandemi corona ini tidak menjanjikan kepastian kapan akan berakhir.”

Lagi-lagi, paradigma berpikir sebagian orang-orang ini, di kampung maupun perkotaan, memang selalu konsisten.

Dari zaman orang memasak dengan menggosok batu hingga kompor listrik, kerap berdelusi dan menganggap, menikah adalah akhir dari segala tujuan hidup perempuan, serta puncak kebahagiaan.

Mungkin, perempuan di luar sana sering mendengar para tetuah berkata seperti ini;

“Jadilah perempuan sukses, agar kelak jodohmu juga lelaki sukses.”

Tetuah itu seolah-olah ingin menegaskan, perempuan dilahirkan, dididik, dibesarkan, dan disekolahkan tinggi-tinggi, hanya untuk memikat laki-laki hebat, dan dimuarakan pada lingkaran pernikahan dengan predikat jual yang membanggakan.

Padahal, di luar sana, begitu banyak juga cerita memilukan, bahkan tragis tentang pernikahan. Banyak yang beranggapan, pernikahan akan membuat hidup automatically lebih bahagia dari melajang. Bbisa jadi, ini adalah delusi semata.

Pada masyarakat Konjo pedalaman, Kabupaten Bulukumba bagian Timur, Sulawesi Selatan, menganggap, setelah seseorang menikah, mereka dipandang “nammpami abatang tau”  (dianggap menjadi manusia seutuhnya).

Sedangkan menikah bagi umat muslim, sejatinya adalah, menyempurnakan ibadah. Namun, yang seringkali terjadi, kebanyakan menikah disebabkan oleh tuntutan keluarga dan lingkungan.

Seseorang yang menikah karena tuntunan keluarga dan lingkungan, telah memulai ketidakbahagiaan sejak pernikahan mereka belum memasuki garis start.

Ada yang menikah atas dasar saling suka, merasa cocok, dan harmonis. Namun, setelah pernikahan berjalan beberapa tahun, keduanya atau salah satu di antara mereka, terlihat berubah. Keduanya lantas menemukan banyak ketidakcocokan.

Orang yang dinikahi beberapa tahun lalu, bukanlah orang yang sama lagi. Hal ini sejalan kisah cinta Scarlett Johansson dan Adam Driver, dalam film Marriage Story, yang sempat ngehits pada platform Netflix.

Scarlett Johansson berakhir menggugat cerai suaminya, Adam Driver. Padahal, pernikahan mereka dari luar tampak harmonis dan berbahagia. Apalagi, dengan kehadiran putra semata wayang.

Tapi, itu tadi. Di tengah jalan, kebahagiaan mereka akhirnya luntur. Mereka kemudian memutuskan bercerai. Sang suami tak lagi dapat memahami tujuan hidup dan impiannya, dan hanya fokus pada karier yang kian menanjak.

Lain lagi kisah Ji Sun Woo dan Lee Tae Oh, dalam drama The World of the Married, yang merupakan remake serial populer Inggris Doctor Foster.

Jin Sun Woo adalah seorang yang punya hidup nyaris sempurna. Hidupnya mapan. Kariernya sebagai dokter cemerlang, dan memiliki keluarga kecil bahagia.

Suaminya, Lee Tae Oh, adalah pria tampan dan romantis. Namun, pada akhirnya, pernikahan mereka diwarnai perselingkungan. Ujung-ujungnya, mereka pun berpisah.

Tentunya, tak semua pernikahan akan berakhir seperti yang saya narasikan di atas. Banyak juga kisah-kisah pernikahan inspiratif, yang layak dijadikan panutan.

Dalam tulisan ini, saya lebih menekankan pada kisah-kisah pernikahan yang berujung perpisahan. Hal ini untuk menggambarkan, bahwa dalam pernikahan tidak ada guarantee pasangan akan bahagia selamanya.

Sebaliknya, pernikahan pun tidak selamanya identik dengan derita. Kebahagiaan ditentukan oleh seberapa besar usaha kita untuk bahagia.

Tentunya, untuk merasakan kebahagiaan dalam mengarungi pernikahan, dibutuhkan pula usaha besar dan keras dari masing-masing pasangan hidup.

Semoga kita selalu dibersamakan dalam kesehatan dan kebahagiaan.

Semoga pandemi corona ini segera berakhir. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *