Wed. Jul 15th, 2020

BLAM

KEREN

Menyikapi Covid 19 (Telaah Atas Kitab Badzlu al-Maa’uun fi Fadhli al-Thaa’uun Karya Ibnu Hajar al-‘Asqalany 773 -852 H)

6 min read

Foto: Syarifuddin

11,210 total views, 2 views today

Oleh: Syarifuddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Beberapa pekan lalu, ada sebuah referensi yang tiba-tiba ramai dikaji oleh kalangan santri, yaitu Kitab Badzlu al-Maa’uun fi Fadli al-Tha’un, karya Ibnu Hajar Al-Asqalany.

Informasi ini awalnya saya peroleh di beranda Facebook terkait postingan cropping bagian halaman dari kitab tersebut.

Saya kemudian mencoba menelusuri, hingga akhirnya bisa mendownload dari Website Pesantren Salafiyah Parappe Campalagian. Kebetulan, pimpinan pesantren ini guru saya sendiri.

Yang membuat saya penasaran adalah, figur Ibnu Hajar Al-Asqalany, yang selama ini saya kenal, yaitu seorang Ahli Hadis yang menghapal Alquran dan ribuan hadis, sehingga digelari sebutan Al-Haafidz (penghapal).

Ia juga menulis Kitab Buluugu al-Maraam, sebuah kitab hadis yang sangat popular di kalangan pesantren.

Salah satu karya monumentalnya, yaitu Kitab Fathu al-Baari Syarah (penjelasan) Shahiih Bukhari, yang ditulis dalam beberapa jilid.

Jika dibandingkan saat ini, jarang seorang penulis produktif sekalipun yang menulis buku hingga berjilid-jilid. Itu pun, belum termasuk puluhan karyanya yang lain.

Kembali ke awal, saya kemudian penasaran membaca lebih dalam kitab ini, karena ditulis bukan seorang tabib (dokter) ataupun ahli medis (mungkin saya keliru membaca kepakarannya).

Bahkan, Ahmad Isham Abdul Kadir Al-Katib sebagai muhaqqiq kitab ini pun, tidak tahu pasti apa motif Ibnu Hajar Al-Asqalany menulisnya. Kecuali, sebuah peristiwa wabah yang merenggut jiwa tiga putrinya.

Dengan membaca Kitab Badzlu al-Maa’uun, mungkin kita tidak akan menemukan banyak petunjuk secara medis terkait penanganan wabah, karena kitab ini bukan kitab kedokteran.

Kitab ini hanya berisi pandangan ulama dalam menyikapi wabah penyakit dari perspektif keagamaan.

Kitab ini juga ditulis menggunakan pendekatan teologis normatif dengan mengutip beberapa pandangan, disertai argumen teologis. Hingga kemudian, penulis mengambil kesimpulan dari berbagai pendapat.

Secara garis besar, pokok pembahasan kitab ini seputar hukum menyikapi Wabah Thaa’uun, serta apa yang harus dilakukan.

Namun, sebelum kita membahas lebih jauh, terlebih dahulu saya paparkan definisi Thaa’uun di bagian awal kitab, agar kita bisa menyelaraskan konteks kita sekarang yang tengah menghadapi pandemi Covid-19.

Thaa’uun didefinisikan sebagai peristiwa kematian secara massal, seperti halnya wabah pandemi. Ibrahim Al-Harbiy dalam Kitab Garib al-Hadis menyebutkan makna Thaa’uun sama dengan wabah ataupun pandemi.

Pendapat ini juga diikuti seorang linguistik Arab al-Khalil bin Ahmad, yang menyamakan antara Taun dan wabah.

Sementara itu, Ayyadh menyebutkan versi berbeda, yaitu Thaa’uun lebih spesifik dari wabah. Dalam arti, Thaa’uun adalah bagian dari wabah. Sebaliknya, tidak semua wabah adalah Thaa’uun.

Poin inti dari definisi tersebut, bahwa Thaa’uun adalah semacam wabah penyakit yang menular sangat cepat, sehingga menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit, sama seperti halnya wabah Covid-19 yang kita hadapi sekarang.

Karena itu, sikap yang dianjurkan oleh ulama terkait wabah Thaa’uun bisa dijadikan pedoman dalam menyikapi wabah covid-19.

Hadis Terkait Wabah Thaa’uun

Seperti halnya kitab muktabarah lainnya, Badzlu al-Maa’uun juga memuat perbedaan pandangan ulama dalam menyikapi beserta argumennya masing-masing.

Misalnya, diskusi Umar bin Khattab dengan Abu Ubaidah bin Jarrah, beserta sahabat lainnya dalam sebuah kunjungannya ke Damaskus saat terjadi wabah.

Umar kemudian memutuskan kembali ke Madinah sebelum sampai ke Damaskus. Pendapat ini ditentang oleh Abu Ubaidah, yang menganggap Umar lari dari takdir Allah swt.

Abdurrrahman Bin Auf kemudian memberi solusi yang setuju terhadap tindakan Umar, dengan mengutip ucapan Nabi saw:

“Abdurrrahman Bin Auf berkata, ia mendengar Rasulullah saw bersabda: Apabila engkau mendengar pada suatu negeri terjadi wabah penyakit, maka janganlah memasukinya, dan apabila engkau berada di dalam negeri tersebut, makan janganlah keluar karena menghindar darinya (HR. Bukhari).”

Hadis tersebut tergolong hadis masyhur, diriwayatkan oleh beberapa ulama hadis dengan redaksi yang berbeda. Pertanyaanya? Apakah larangan tersebut menunjukkan makna larangan haram atau sekedar himbauan keras?

Ibnu Hajar mengutip pandangan Ibnu Abdu al-Bar: Tidak dihalalkan bagi seorang penduduk negeri keluar dari negerinya yang sedang terkena wabah.

Begitu pula sebaliknya, tidak dibolehkan seorang memasuki negeri yang terkena wabah Thaa’uun. Karena itu, Tajuddin Al-Subki berpendapat, larangan tersebut menunjukkan haram.

Sementara beberapa ulama lainnya berpendapat, larangan tersebut hanya bersifat imbauan keras. Hanya saja, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, argumen pendapat yang dikutip Ibnu Hajar umumnya merupakan penafsiran dari dalil teologis yang ada. Bukan berdasarkan pertimbangan pendekatan medis.

Jika dipahami secara tekstual, hadis tersebut menunjukkan larangan keluar-masuk di sebuah daerah yang terjangkit wabah.

Namun, pada saat itu juga, Umar justru memberikan solusi agar orang-orang yang terkena wabah Thaa’uun dipindahkan ke tempat lain, dan dipisahkan dengan orang sehat supaya bisa diobati,  dan tidak menjangkiti yang sehat.

Itu artinya, makna kata “keluar dari daerah wabah” dibolehkan dengan tujuan tertentu yang lebih penting seperti berobat.

Dalam konteks sekarang, langkah itu bisa dimaknai sebagai tindakan isolasi. Hal ini sejalan dengan Hadis Nabi:

“Abdurrrahman Bin Auf berkata, Rasulullah saw bersabda: Janganlah sekali-kali mendekatkan yang sakit dengan yang sehat (HR. Bukhari).”

Ibnu Hajar selanjutnya mengemukakan, ulama sepakat membolehkan keluar dari daerah wabah dengan tujuan memenuhi kebutuhan/logistik (Ibnu Hajar Al-Asqalany:274).

Problemnya, jika dibawa ke konteks sekarang dalam menghadapi pandemi Covid-19. Saat ini, pemerintah menyerukan Pembatalan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Di satu sisi, tidak adanya jaminan terkait kebutuhan logistik pangan masyarakat, atau banyak orang kehilangan penghasilan.

Akibatnya, banyak orang awalnya berada di zona rawan, seperti Jakarta dan sekitarnya, ramai-ramai mudik ke kampung halamannya.

Hal tersebut tentu sangat rentan menularkan wabah ke daerah, yang semula masih bersih. Mungkin, atas dasar itulah, hingga saat ini Majelis Ulama Indonesia, tidak berani mengeluarkan fatwa haram mudik.

Saat seperti inilah dibutuhkan partisipasi pemerintah dan masyarakat yang berkecukupan, agar bisa berbagi dengan yang lain.

Social Distancing

Istilah social distancing kini menjadi tren. Oleh pemerintah, digalakkan untuk bisa memutus mata rantai Covid-19, karena pergerakan virus ini sedemikian cepat menular.

Secara sederhana, yang saya pahami social distancing yaitu menjaga jarak sosial dengan orang lain kurang lebih 1-2 meter. Semua orang diminta tetap di rumah.

Kegiatan sekolah dan perkantoran diadakan secara online. Dilarang melakukan kegiatan yang mengumpulkan orang banyak, termasuk halnya pelaksanaan ibadah.

Tak ketinggalan, Kementerian Agama mengeluarkan imbauan peniadaan salat berjamaah di masjid dan salat Jumat. Yang terkini, imbauan pelaksanaan Salat Tarwih dan Hari Idul Fitri di rumah.

Interaksi sosial dilakukan dalam keadaan terpaksa seperti memenuhi kebutuhan. Misalnya, berbelanja. Itu pun disertai anjuran menggunakan masker dan rajin mencuci tangan.

Pada dasarnya, istilah social distancing ini tidak ada dalam Kitab Badzlu al-Maa’uun. Namun, saya ingin memaparkan beberapa kalimat dalam kitab tersebut sebagai gambaran pentingnya social distancing.

Kira-kira maksudnya seperti berikut ini:

“Kemudian diumumkan di negeri itu agar rakyatnya berpuasa selama tiga hari, lalu mereka mengerjakannya. Mereka kemudian berkumpul di masjid beribadah sebagaimana biasanya yang dilakukan pada Bulan Ramadhan, lalu mereka keluar salat Jumat pada hari ketujuh belas bulan tersebut ke Mesjid, memohon kepada Allah agar mengangkat wabah ini. Lalu orang-orang keluar dari pelbagai penjuru, mulai dari termasuk ahli dzimmah hingga anak kecil. Mereka berkumpul di jalanan, banyak berdoa dan menangis. Namun, bukannya wabah itu berkurang tetapi malah semakin memuncak sehingga yang mati pun semakin banyak (Ibnu Hajar Al-Aqalany:381).”

Di paragraf lain juga disebutkan:

“Telah terjadi di zaman kami, pada saat wabah baru muncul di Kairo pada tanggal 17 Rabiul Akhir 833 H, saat itu korban meninggal belum cukup 40 jiwa. Orang-orang lalu ke tanah lapang, pada hari keempat Bulan Jumadil Ula, setelah diserukan untuk berpuasa tiga sebagaimana ketika berdoa meminta hujan. Mereka kemudian berkumpul, berdoa dan salat pada waktu itu, lalu mereka pulang. Tidak cukup sebulan setelah itu hingga kemudian korban meninggal lebih 1000 orang per hari bahkan semakin bertambah (Ibnu Hajar Al-Aqalany: 329).”

Peristiwa tersebut di atas, mengajarkan kepada kita, bahwa melawan Pandemi Covid-19 tidak cukup dengan hanya sekadar semangat beribadah saja tanpa disertai ilmu syariah.

Bahkan, justru malah bisa berakibat fatal, jika dilakukan tanpa protokol pencegahan penyakit menular, seperti berkumpul di masjid dengan mengindahkan anjuran social distancing.

Pada akhirnya, dalam menyikapi Pandemi covid-19, ada beberapa hal yang harus dilakukan:

Pertama, Ikhtiar agar bebas dari Covid-19, ini bisa dilakukan dengan meningkatkan imunitas,  serta menjaga pola hidup sehat dan bersih, serta mematuhi anjuran dan protokol pencegahan Pandemi Covid-19.

Kedua, selalu memohon kesehatan dan perlindungan kepada Allah swt. dari segala penyakit termasuk Covid-19, serta berpikir positif dengan meyakini bahwa ini adalah ujian dari Allah swt..

Bisa dibaca juga https://blamakassar.co.id/2020/04/10/amalan-doa-di-tengah-pandemi-covid-19-menurut-lontarak-mandar/.

Ketiga, tidak lupa kita mendoakan pemerintah dan masyarakat, khususnya semua tenaga medis yang berjuang di garda terdepan melawan Pandemi Covid-19.

Keempat, berbagi atau bersedekah kepada orang yang membutuhkan.

Semoga bermanfaat. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *