Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Amalan Doa di Tengah Pandemi Covid-19 Menurut Lontarak Mandar  

6 min read

Naskah Tahshilul Fawaid. Foto: Syarifuddin

3,276 total views, 2 views today

Oleh: Syarifuddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Doa adalah otaknya ibadah (HR. Al-Tirmidzi).  Begitulah kira-kira terjemahan hadis Nabi Saw., tentang betapa pentingnya posisi doa dalam ibadah.

Tanpa doa, pengabdian hamba diumpamakan sebagai manusia yang tidak memiliki, atau tidak menggunakan otak. Ini bisa diartikan, bahwa ia gila atau idiot. Dengan kata lain, dianggap sebagai manusia tidak berguna.

Doa merupakan pengakuan diri manusia sebagai makhluk yang lemah dihadapan Tuhan. Sehingga manusia harus selalu memohon kepadanya.

Terlebih dalam kondisi kesulitan seperti saat ini, ketika manusia dihadapkan pada fenomena Pandemi Covid-19, yang telah memakan korban puluhan ribu jiwa di berbagai belahan dunia.

Para ulama mengajarkan kita berbagai macam doa. Ada doa yang secara teks bersumber dari Alquran, hadis, maupun amalan-amalan para ulama dan orang Shalih.

Pada kesempatan ini, saya akan mengemukakan doa-doa yang diwariskan oleh ulama melalui lontarak.

Penggunaan termin lontarak mengacu pada pemahaman masyarakat Sulawesi pada umumnya untuk mendefenisikan naskah kuno. Lontar sendiri adalah sebuah jenis tumbuhan. Oleh masyarakat Sulawesi pada masa dahulu, daun Lontar sering dijadikan media tulis-menulis.

Naskah Lontarak, yang menjadi sumber dalam tulisan ini, merupakan naskah Mandar yang sebagian isinya menggunakan Bahasa Bugis.

Kenyataan ini menarik jika ditinjau dari pengaruh kebudayaan Bugis dalam pengembangan ajaran Islam di Tanah Mandar. Namun, dalam tulisan ini, saya tidak akan membahas hal tersebut.

Deskripsi Naskah

Sebelum mentransliterasi dan menerjemahkan teks naskah, ada baiknya kita deskripsikan terlebih dahulu beberapa naskah hasil inventarisasi yang diduga memuat naskah amalan doa menghadapi wabah pandemi.

Dalam hal ini, setidaknya ada tiga naskah yang dijadikan acuan; Pertama, naskah Tarekat Qadiriah yang memuat beberapa doa.

Naskah ini diawali zikir Tarekat Qadiriyah. Ukuran naskah,  yaitu 16 x 10 cm dengan bahan kertas buku dan dijilid menggunakan karton tebal.

Teks naskah ditulis ke dalam Bahasa Arab dan Bugis menggunakan Aksara Hijaiah dan Lontarak.

Kedua, naskah bunga rampai. Naskah ini diawali niat beberapa jenis puasa sunat. Ukuran naskah, yaitu 21 x 16 cm, dengan bahan buku tulis.

Teks naskah ditulis ke dalam Bahasa Arab dan Bugis menggunakan Aksara Hijaiah dan Lontarak.

Kedua naskah tersebut di atas adalah koleksi Annangguru Edda di Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, yang diwarisi dari gurunya KH. Muh. Zein.

Isi naskah diduga merupakan ajaran atau amalan yang bersumber dari Syekh Hasan Yamani dan KH. Maddappungan.

Ketiga, naskah Tahsilul Fawaid.  Naskah ditulis Abd. Rasyid bin Ali, seorang yang pernah menjabat Qadi di Mandar, sebagaimana tertera pada kolofon naskah.

Hanya saja, tempat ia menjabat tidak disebutkan secara spesifik. Isi naskah berupa beberapa faidah terdiri atas 45 bab pembahasan. Naskah ini telah diinvetarisasi oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar (BLAM).

Penjelasan tentang naskah bisa dilihat pada buku Katalog Naskah Keagamaan tahun 2017 halaman 499. Naskah berasal dari daerah Majene, milik Nasaruddin Rajab.

Ukurannya yaitu 15,5 x 21 cm, 184 halaman, ditulis ke dalam Bahasa Arab dan Bugis, menggunakan Aksara Hijaiah dan Lontarak.

Bahan naskah yaitu kertas Eropa yang dijilid dengan karton tebal. Sebelumnya, naskah ini telah dikaji oleh Sitti Arafah dalam Bab: Waktu Yang Baik Mendirikan Rumah.

Kumpulan Doa Menghadapi Wabah Pandemi dalam Naskah

Doa dalam teks naskah pertama (terdapat juga dalam Naskah Tahshilul Fawaid  dengan redaksi yang lebih pendek, disertai anjuran agar dibaca tiga kali pada waktu Subuh dan Magrib), sebagai berikut:

Transliterasi Naskah:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، الْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، تَحَصَّنْتُ بِيَدِ الْعِزَّةِ وَالْجَبَرُوْتِ وَاعْتَصَمْتُ بِرَبِّ الْمَلَكُوْتِ وَتَوَكَّلْتُ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لاَ يَمُوْتُ وَاصْرِفْ عَنَّا الْوَبَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْفَحْشَاءَ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  وَقِنَا شَرَّ الدَّاءِ وََنِّجِّنَا مِنَ الطَّعْنِ وَالطَّاعُوْنِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Bismillaahi al-rahmaani al-rahiim. Al-hamdu lillahi rabbi al-alamiin washshalaatu wassalaamu ‘alaa sayyidinaa muhamammdin wa alaa aalihi wa shahbihi ajma’in Tahashshantu biyadi al-‘izzati wal jababaruut wa’shamtu birabbi al-malakuuti wa tawakkaltu ‘ ala al-hayyi al-ladzi laa yamuut wa shrip ‘annaa al-waba’a wa al-balaa’a wa al-fahsyaa’a wa qinaa ‘adzaabaa al-naari  waqinaa syarra al-daai wa najjinaa mina al-tha’ini wa al-thaa’uuni yaa arhama al-raahimiin. Wa shalla allahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam.

Terjemahan Naskah:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Aku berlindung kepada Zat Yang menguasai kemuliaan dan kekuasaan, dan aku berpegang teguh (memohon perlindungan) kepada Tuhan para malaikat, dan aku bertawakkal kepada Zat Yang Maha Hidup, Yang Tidak Tidak Pernah Mati. Selamatkanlah kami dari wabah penyakit, bala (cobaan) dan keburukan. Dan peliharalah kami dari siksa neraka dan lindungilah kami dari bahaya penyakit. Dan selamatkalah kami penyakit mematikan dan wabah Wahai Sebaik-baik Zat Yang Maha Menyayangi. Semoga Allah senantiasa menganugerahkan salawat dan keselamatan kepada Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya.”

Naskah kedua memuat doa Tolak Balak diantaranya perlindungan dari wabah penyakit, sebagai berikut:

Transliterasi Naskah:

Iyanae doang salama dowang tula bala toi ritu 

اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اللهُمَّ السَّلاَمَةَ عَلَيْنَا وَعَلَيهِمْ وَعَلَى الْحُجَّاجِ وَالْعِزَّاتِ وَالْمُسَافِرِيْنَ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ أَجْمَعْيِنَ فِي بَرِّكَ وَبَحْرِكَ أَجْمَعِيْنَ، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ يَا نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ، اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا وَمِنْ بُلْدَانِ الْمَسْلِميْنَ عَامَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَآ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ أَكْبَرُ كَرِيْمٌ تَوَّابٌ رَحِيْمٌ.

 Allahumma shalli ‘alaa sayyidinaa muhamammdin wa alaa aalihi wa shahbihi wa sallama. Allahumma al-salaamata ‘alayna wa ‘alayhim wa ‘ala al-hujjaaji wa al-‘izzati wa al-musafiriina min ummati muhammadin ajma‘iin. Innaka ‘ala kulli syayin qadiirun ya ni‘ma al-mawlaa wa ni‘ma al-nashiir. Allahumma idfa‘ ‘annaa al-gala‘a wa al-waba‘ wa al-bagya wa al-suyuufa al-mukhtalifata wa al-syadaaida wa al-mihana maa zhahara minhaa wa maa bathana min baladinaa hadzaa wa min buldaani al-muslimiia ‘ammah, innkaka ‘ala kulli syayin qadiir, rabbana gfir lana wa liikhawaaninaa al-ladziina sabaquunaa bi al-iimaani wa laa taj‘al fii quluubina gillaan li al-ladziina aamanuu rabbanaa innaka rauufun rahiimun akbaru kariimun tawwabun rahiim.

Terjemahan Naskah:

Inilah doa Tolak Bala sebagai berikut:

“Ya Allah anugerahkanlah salawat dan keselamatan kepada Muhammad beserta keluarga dan sahabatnya. Ya Allah, berilah keselamatan kepada kami dan kepada mereka, para pengunjung rumah-Mu, para pemimpin, dan orang-orang yang mengadakan perjalanan dari umat Muhammad semuanya, baik itu di daratan maupun di lautan-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu Wahai sebaik-baik pelindung dan penolong. Ya Allah, hindarkanlah kami dari malapetaka, wabah penyakit, kekejian, kemunkaran, perbuatan melampaui batas, sengketa yang beraneka ragam, kesusahan, ujian (cobaan), yang tampak dan tersembunyi di negeri kami ini dan negeri umat Islam secara umum. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, Sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang, Maha Besar, Maha Mulia, Maha Menerima Taubat Lagi Maha Penyayang.”

Naskah Ketiga yakni Naskah Tahsilul Fawaid, memuat doa menghadapi wabah dan tha’un pada Bab ke-30 sebagai berikut:

Transliterasi Naskah:

Naiya baq matellu puloe rilalengna pannasaengngi iya maggunae riatulaqki lasa saie,……

…. Rekkuaero paimeng iya ripalele pole ripuang Saeha Ibnu Hajar majappu ritu makkadai saisaq topa pattolaq rilasa saiye iyae doangnge: 

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا لَطِيْفًا لَمْ يَزَلْ اُلْطُفْ بِنَا فَيْمَا نَزَلَ إِنَّكَ لَطِيْفٌ لَمْ تَزَلْ حَيٌّ صَمَدٌ بَاقِيٌ وَلَهُ كَنْفٌ وَاقِيٌ دَخَلْنَا فِي كَنْفِ اللهِ وَاسْتَجَرْنَا بِرَسُوْلِ اللهِ َصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اللهُمَّ إَنَا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ يَا مَالِكَ يَوْمِ الدِّيْنِ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ، اللهَ لِي عِنْدَ كُلِّ شِدَّةٍ حَسْبِيَ اللهُ وَحْدَهُ أَلَيْسَ اللهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَصَلَّى اللهُ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وآلِهِ وَيَحْفَظُنَا مِنَ الطَّعْنِ وَالطَّاعُوْنِ بِجَاهِ : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ هَمَّ قَوْمٌ اَنْ يَّبْسُطُوْٓا اِلَيْكُمْ اَيْدِيَهُمْ فَكَفَّ اَيْدِيَهُمْ عَنْكُمْۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗوَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ ࣖ

 Bismillaahi al-rahmaani al-rahiim. Yaa lathifan lam yazal ulthuf binaa fiimaaa nazala innaka lathiifun lam tazal hayyun shamadun baaqiyun wa lahun kanfun waaqiyun dakhalnaa fii kanfi allahi wa istajarnaa bi rasuuli allahi shalla allahu alayihi wa sallam. Allahumma inna naj‘aluka fii nuhuurihim wa na‘udzu bika min syuruurihim yaa maalika yawmi al-diini iyyaaka na‘budu wa iyyaka nasta‘in. Allaha lii ‘inda kulli syiddatin hasbiya allahu wahdahu alaysa allahu bikaafin ‘abdih. Wa shalla allahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘aalihi yahfazhunaa mina la-tha‘ini wa al-thaa‘uuni bijaahi: Yaa ayyuha al-laziina aamanuu udzkuruu ni‘mata allahi ‘ alaykum idz hamma qawmun an yabsuthuu ilaykum aydiyahum fa kaffa aydiyahum ‘ankum wa ittaquu allah, wa ‘alaa allahi falyatawakkali al-mu‘minuun..

Terjemahan Naskah:

Bab Ketiga puluh, yaitu sesuatu yang bermanfaat dalam menghadapi wabah penyakit menular.

….. begitu pula yang disampaikan oleh Syekh Ibnu Hajar, sesungguhnya ia berkata: Di antara doa menghadapi wabah penyakit menular yaitu:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Wahai Maha Lemah Lembut, lembutkanlah hati kami dalam segala peristiwa, sesungguhnya Engkau Maha Lemah Lembut Yang Takkan Berubah, Maha Hidup, Tempat meminta segala sesuatu, Maha Kekal. Dan Dialah yang memiliki perlindungan yang menjaga, semoga kami masuk ke dalam perlindungan Allah dan semoga kami memperoleh perlindungan berkat Rasulullah Muhammad saw. Ya Allah, sesungguhnya kami menjadikan Engkau pelindung dari tusukan penyakit dan berlindung kepada Engkau dari segala kejelekannya. Wahai Yang Menguasai hari pembalasan, kepada-Mulah kami menyembah dan kepada-Mulah kami memohon pertolongan. Ya Allah tolonglah kami dari segala kesulitan, cukuplah Allah satu-satunya sebagai Penolong, karena Allah lah yang mencukupi hambanya. Semoga Allah senantiasa menganugerahkan salawat dan keselamatan kepada Muhammad beserta keluarganya. Dan semoga Allah menjaga kami dari penyakit dan wabah (tha’un), melalui kemuliaan ayat-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah nikmat Allah (yang diberikan) kepadamu, ketika suatu kaum bermaksud hendak menyerangmu dengan tangannya, lalu Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah-lah hendaknya orang-orang beriman itu bertawakal.”

Sebagai catatan, doa-doa tersebut di atas, alangkah baiknya rutin diamalkan setiap waktu. Terutama, setelah salat lima waktu atau pun pada saat qunut nazilah.

Sebenarnya, Naskah Tahshilul Fawaid masih memuat doa yang cukup panjang (sebanyak tiga halaman) berkaitan perlindungan dari wabah penyakit menular, serta beberapa amalan yang bisa dijadikan sebagai azimat.

Semoga bisa dibahas di lain waktu. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *