Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Memohon Pertolongan dengan Sabar dan Salat

6 min read

Sumber gambar: asysyariah.com

3,642 total views, 6 views today

Oleh: H.M. Hamdar Arraiyyah (Profesor Riset Balai Litbang Agama Makassar)

Ketika warga masyarakat berjuang menghadapi suatu masalah atau meraih suatu keinginan yang baik, ada baiknya perjuangan tersebut disertai semangat keagamaan.

Bagi Muslim, semangat itu bersumber dari panduan Al-Qur’an, hadis Nabi Muhammad Saw., arahan ulil amri (pemerintah), dan  ulama.

Jika hal itu dilakukan, upaya untuk meraih keberhasilan akan lebih mudah dan dimensi keimanannya juga tetap terjaga. In syaa Allah.

Judul tulisan ini merujuk pada salah satu ayat Al-Qur’an. Yaitu, Yaa ayyuha-l ladziina aamanuu-s ta‘inuu bish-shabri wash-shalaati, inna-llaaha ma‘a-sh shaabiriin.

Artinya, Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar (al-Baqarah/2:153).

Ayat di atas memandu setiap Muslim untuk menjalankan salah satu keyakinan keagamaan pada dirinya. Keyakinan itu diucapkan pada waktu salat.

Lafaznya, Iyyaka na‘budu wa iyyaaka nasta‘iin. Artinya, Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan (al-Fatihah/1:5).

Maksudnya, umat Islam senantiasa menyandarkan segala bentuk pertolongan itu kepada Allah Swt. Ini juga sejalan dengan ayat yang menyatakan, Allahu-sh Shamad, yang artinya, Allah tempat meminta segala sesuatu (al-Ikhlash/112:2).

Ketika Nabi Ya‘qub a.s. diberi kabar tentang putranya yang bernama Yusuf a.s. diterkam serigala, ia pun segera menyandarkan hal itu kepada Allah Swt.

Disebutkan di dalam Al-Qur’an, yang artinya, Dan mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu. Dia (Ya‘qub) berkata, “Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Dan kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (Yusuf/12:18).

Ayat 153 Surah al-Baqarah di atas, menyebut dua cara untuk memohon pertolongan kepada Allah. Kedua cara itu, sabar dan salat, merupakan satu kesatuan. Keduanya diterapkan secara terpadu.

Kata sabar dari segi bahasa berarti ‘mengendalikan jiwa terhadap apa yang ia tidak senangi’ (Hijazi, I, 2, 1969: 10).

Al-Ashfahani (w. 425 H) mengemukakan definisi sabar dalam kamus kosakata Al-Qur’an. Habsu-n nafsi ‘alaa maa yaqtadhiihi-l ‘aqlu wa-syar‘u aw ‘ammaa yaqtadhiyaani habsahaa ‘anhu (al-Ashfahani, 1992:474).

Artinya, sabar adalah mengendalikan jiwa menurut tuntunan akal dan agama, atau menahan diri dari apa yang dikehendaki oleh keduanya. Kata nafsun dalam bahasa Arab mempunyai beberapa arti. Di antaranya, jiwa dan diri manusia.

Definisi itu menunjukkan, bahwa panduan penting bagi Muslim dalam mengendalikan jiwanya atau dirinya adalah akal dan syariat.

Definisi itu juga mengisyaratkan dua macam bentuk pengendalian diri, yakni aktif dan pasif. Aktif artinya ‘berbuat’, sementara itu pasif berarti ‘menahan diri’.

Ahmad Faried menggunakan istilah (dari penerjemah) progresif dan defensif. Menurutnya, di dalam jiwa manusia tersimpan dua kekuatan, yaitu kekuatan untuk maju (progresif) dan kekuatan bertahan (defensif).

Hakikat sabar ialah menjadikan kekuatan progresif untuk diarahkan pada hal-hal yang bermanfaat dan kekuatan defensif untuk menahan diri dari hal-hal yang membahayakannya (Faried, 1995:84).

Sabar sebagai kekuatan

Al-Qur’an memerintahkan kaum Muslimin untuk bersabar. Perintah itu, antara lain, memakai fi‘il amr (kata kerja bentuk perintah) dari shabara (bersabar).

Ayat yang dimaksud yaitu, Yaa ayyuha-l ladziina aamanuu-shbiruu wa shaabiruu wa raabithuu wa-t taqullaaha la‘allakum tuflihuun.

Artinya, Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung (Ali ‘Imran/3:200).

Berbeda dari ayat ini, ayat 153 surah al-Baqarah menggunakan kata kerja ista‘inuu bi-sh shabri wa-sh shalah (hendaklah kamu memohon pertolongan dengan sabar dan salat).

Ajakan untuk memohon pertolongan dengan sabar bisa mengandung arti bahwa sabar itu mengandung kekuatan dan bisa pula berarti bahwa sabar itu mendatangkan kekuatan (Arraiyyah, 2002:190).

Kekuatan yang terdapat pada kesabaran (ash-shabr) dijelaskan oleh sejumlah ulama. Di antaranya, sabar menurut Wahbah al-Zuhaili adalah “kekuatan di dalam jiwa (quwwatun fi-n nafs) yang mendorong untuk menghadapi kesulitan di dalam berusaha (az-Zuhaili, XXX, t.th.: 392).

Mahmud Abbas al-Aqqad menyatakan, Al-Qur’an memberikan dorongan kepada manusia supaya menolong diri sendiri, serta percaya pada kekuatan yang ada pada diri mereka sendiri. Di samping itu, percaya dan bersandar pada kekuatan Tuhan yang diwujudkan dalam doa dan salat (al-Aqqad, 1996: 163).

Hanya saja perlu selalu diingat, kekuatan pada diri manusia adalah anugerah dari Allah Yang Maha Pencipta. Beberapa ayat Al-Qur’an yang diturunkan pertama kali mengingatkan, bahwa Allah menciptakan manusia (Lihat al-‘Alaq/96:2).

Kekuatan pada jiwa disebutkan sejumlah pakar. Di antaranya, pikiran dan keinginan. Ketika kekuatan itu dikendalikan dengan sungguh-sungguh untuk meraih kebaikan atau mencegah keburukan, maka di sanalah letak kesabaran itu.

Sabar dan Kebersamaan

Di dalam Al-Qur’an terdapat kata kerja perintah bersabar yang ditujukan kepada orang kedua tunggal. Misalnya, wa-shbir ‘alaa maa ashaabaka (dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu) (Luqman/31:17).

Selain itu, terdapat perintah bersabar yang ditujukan kepada orang kedua jamak. Misalnya, Qaala Muusaa li qawmihi- sta‘iinuu bi-llaahi wa- shbiruu. Artinya, Musa berkata kepada umatnya, Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah (al-A‘raf/7:128).

Kata kerja ishbiruu sama dengan ista‘inuu, yakni ditujukan kepada orang kedua jamak. Ista‘iinuu berarti hendaklah kamu memohon pertolongan.

Maksudnya, setiap Muslim diharapkan melakukan hal yang serupa, memohon pertolongan, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama sesuai dengan situasi yang dihadapi.

Beberapa ayat Al-Qur’an yang membicarakan kesabaran mempunyai pesan yang kuat tentang kebersamaan. Surah al-‘Ashr,  memberi kesan seperti itu. Surah ini pendek dan sering dibaca.

Di sebagian madrasah, surah ini dibaca bersama oleh murid-murid sebelum pulang. Pertemuan di kalangan ulama juga sering ditutup dengan pembacaan surah al-‘Ashr.

Surah yang dimaksud, Wa-l ‘ashr. Inna-l insaana lafii khusr. Illa-l ladziina aamnuu wa ‘amiluu-sh shaalihaati, wa tawaashaw bi-l haqqi wa tawaashaw bi-sh shabr.

Artinya, Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran (al-‘Ashr/103:1-3).

Ungkapan wa tawaashaw bi-shabr (dan mereka saling menasihati untuk kesabaran) mengandung pesan yang memiliki dimensi sosial.

Setiap orang harus mengambil bagian dalam mengingatkan perihal kesabaran. Dimensi sosial yang jelas terdapat pula pada bagian akhir dari ayat 153 surah al-Baqarah. Inna-llaaha ma‘a-sh shaabirin.

Dewasa ini, bagian awal tahun 2020, berbagai pihak di Indonesia menunjukkan kerja sama untuk mencegah penyebaran Coronavirus-19 dan menanggulangi akibatnya.

Sebagian giat memberi bantuan yang diperlukan. Sebagian bertugas di rumah sakit untuk merawat pasien yang tertular virus, dan sebagainya. Semua itu berat. Semua itu merupakan penerapan kesabaran dalam bentuk aktif dan kebersamaan.

Selain itu, sebagian orang memilih berdiam di rumah dan membatasi kegiatan di luar. Mungkin mereka ini jumlahnya lebih banyak.

Tindakan banyak orang berdiam di rumah untuk menjaga diri agar tidak tertular virus adalah penerapan kesabaran dalam bentuk pasif dan kebersamaan.

Sikap aktif dan pasif dalam penerapan kesabaran dapat dibedakan. Akan tetapi, keduanya bukan dipisahkan secara ekstrem. Sikap aktif dan pasif diterapkan sebagaimana mestinya.

Bersabar atau menjadi orang yang sabar bukanlah hal yang mudah. Salah satu penyebabnya,  kurangnya pengetahuan tentang masalah yang dihadapi (Lihat al-Kahfi/18:68).

Sehubungan hal itu, literasi, edukasi dan semacamnya menjadi penting untuk membangun kebersamaan dan kesamaan langkah guna mengatasi masalah. Mereka yang berkompeten diharapkan dapat menunjukkan kepedulian sosial seperti itu.

Al-Qur’an memberi motivasi kepada orang-orang beriman untuk bersabar. Caranya, antara lain, dengan menjelaskan manfaat yang akan timbul jika mereka menjadi orang-orang yang sabar. Manfaat yang dimaksud disebutkan pada bagian akhir ayat yang memerintahkan untuk bersabar.

Redaksinya, Inna-llaaha ma‘ash shaabirin. Secara harfiah pernyataan ini berarti Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.

Maksudnya, sesungguhnya Allah adalah penolong mereka dan mengabulkan permohonan mereka (al-Maragi, I, 2, t.th.:23).

Sabar memiliki dimensi spiritual. Predikat sabar terpuji di sisi Allah. Predikat ini mestinya dimiliki setiap Muslim.

Predikat ini diperjuangkan melalui usaha dan doa. Membaca lafaz doa tertentu adalah bagian dari rukun salat.

Al-Qur’an menegaskan bahwa kesabaran hanya mungkin dicapai dengan perkenan Allah Swt. Firman Allah Swt. menyatakan (artinya), Dan bersabarlah (Muhammad) dan kesabaranmu semata-mata dengan pertolongan Allah (an-Nahl/16:127).

Memohon kesabaran itu perlu. Semoga Allah Swt. melimpahkan kesabaran kepada kita semua untuk kebaikan di dunia dan akhirat. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *