Sat. Dec 5th, 2020

BLAM

KEREN

Pendidikan Karakter yang “Berkarakter”

5 min read

Sumber gambar: lampost.co

4,551 total views, 2 views today

Oleh: Baso Marannu (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Wacana pendidikan karakter (education character), atau pendidikan berbasis pada pembangunan karakter (character building) peserta didik, kembali menjadi pembicaraan hangat. Terutama, ketika Presiden Jokowi mempopularkan istilah “revolusi mental.”

Tanpa pendidikan karakter yang baik, peserta didik akan terjerumus memasuki atmosfir budaya negatif destruktif.

Menurut Theodore Roosevelt, mendidik seseorang hanya untuk berpikir dengan akal tanpa disertai pendidikan moral, berarti membangun sesuatu ancaman dalam kehidupan masyarakat.

Kata “karakter”, dalam Kamus Bahasa Indonesia, diartikan tabiat, sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti, yang membedakan seseorang dengan orang lain (Kamus Bahasa Indonesia, 2008).

Jadi, yang menjadi titik pembeda antara individu satu dengan lainnya dari watak ataupun tabiat,  dapat diukur dari karakter yang menjiwai dirinya. Bukan, karena seringnya bikin status lebay di media sosial. Atau, karena followernya sudah mencapai lebih 100k.

Sri Narwanti (2011), menuliskan, kata karakter berasal dari bahasa Yunani, “kharassein”, yang berarti, memahat atau mengukir. Sedangkan dalam Bahasa Latin, karakter bermakna,  membedakan tanda.

Prayitno dan Belferik Manullang (2011), lain lagi. Katanya, karakter dapat pula dipahami sebagai sifat pribadi yang relatif stabil pada diri individu, yang menjadi landasan bagi penampilan perilaku dalam standar nilai dan norma yang tinggi.

Kalau masih bingung lagi, sederhananya begini. Saya memberikan contoh penyanyi Rhoma Irama dan Ebiet G. Ade.

Satu digelari “raja dangdut”, karena selain memiliki suara khas, semua lagu-lagu Rhoma menjadi hits. Bahkan, gambar Rhoma banyak dibuat meme oleh penggemarnya. Sedangkan satunya lagi diidentikkan penyanyi balada.

Ketika mendengarkan mereka melantunkan lagu, dapat dipastikan kita akan segera mengetahui siapa yang bernyanyi. Meskipun saat itu kita tidak melihat mereka bernyanyi. Itu menandakan, Rhoma dan Ebiet memiliki karakteristik khas, baik suara maupun penampilan.

Namun, yang terjadi saat ini, sebagian kecil remaja kita cenderung tidak berkarakter, dan tidak memiliki identitas diri. Mereka lebih menyenangi penyanyi KPOP, atau bahkan, berpenampilan tidak jelas.

Nah, ini baru tampilan fisik. Belum masuk ke perilaku yang dilakonkan, yang kadang membuat kita bingung, dan bertanya-tanya; “Ini anak dari mana? Kok gayanya Indonesia nggak. Barat juga nanggung. Pengen seperti artis Korea, tapi kulitnya kok nggak putih-putih amat.”

Inilah yang saya contohkan, betapa kita telah kehilangan identitas diri, dan karakter diri sebagai orang Indonesia.

Krisis Karakter

Sebagaimana dikatakan Fathurrohman (2013), krisis karakter dan watak bangsa saat ini terkait erat dengan semakin tidak harmoninya di dalam keluarga.

Menurutnya, masih banyak keluarga mengalami disorientasi, yang bukan disebabkan kelimpahan materi atau kesulitan ekonomi.

Penyebabnya tak lain adalah, serbuan globalisasi dan gaya hidup yang tidak selalu kompatibel dengan nilai, moral, agama, sosial budaya, serta budaya lokal.

Meskipun buku tersebut ditulis 2013, prediksi Prof. Fathorrohman masih relevan hingga saat ini. Bahkan, memasuki 2020 ini, semua aktivitas berjalan secara sistemik dan dihubungkan dengan aplikasi serba online.

Bayangkan saja, bimbingan belajar yang dulunya ngetop, kini banyak gulung tikar akibat aplikasi belajar di online.

Bahkan, beberapa perusahaan retail terbesar di Indonesia, juga dengan sangat terpaksa harus menutup gerainya, akibat tingginya minat masyarakat berbelanja lewat aplikasi online.

Ojek yang biasa mangkal di pinggir lorong harus tergusur oleh kehadiran ojek online (ojol). Gambaran kehidupan manusia saat ini, seolah menjadi “robot”, karena ketergantungan yang sangat tinggi terhadap teknologi.

Saya secara pribadi memandang, kehidupan masyarakat saat ini semakin individualis. Saya menyebutnya, “generasi remote control”, meskipun kehadiran teknologi memudahkan kita menyelesaikan banyak hal.

Bisa dibayangkan, untuk makan dan belanja saja, kita tinggal memesan secara online. Demikian pula, jika ingin bepergian, kita tinggal memesan mobil atau motor secara online.

Bahkan, untuk membayar segala hal, kita tidak perlu lagi repot-repot mendatangi ATM. Cukup memanfaatkan ketersediaan mobile banking di handphone, semua langsung beres.

Masini (2004), dalam bukunya “Studi Futuristik”, menuliskan, kita memiliki banyak kemungkinan di masa depan.

Massini menggambarkan dalam terma-terma futuristik yang di sebut sebagai “kemungkinan” (possible), “dapat dipilih” (preferable), “diinginkan” (desirable), dan terakhir adalah terma “mungkin” (probable). Malah, para futuris Amerika manambahkan menjadi “masuk akal” (plausible).

Jadi, pada prinsipnya, masa depan itu dapat dilihat sebagai satu kemungkinan yang dibangun atas landasan ilmu pengetahuan, data-data, dan informasi.

Bagi yang belum siap menghadapi perubahan yang cepat ini, maka bersiaplah tergusur. Pesan tiket pesawat atau pesan hotel saja,  sudah bisa sambil nongkrong di cafe.

Tentunya, prediksi para pakar psikologi pendidikan tentang masa depan pendidikan di Indonesia, yang dikaitkan dengan pendidikan karakter, pada prinsipnya adalah sesuatu yang mungkin dapat diubah dan dapat diprediksi hasilnya di masa mendatang.

Tergantung bagaimana kita menjalani, dan kemudian memilih masa depan yang diharapkan.

Hanya saja, bagaimana menerapkan pendidikan karakter di era yang terus mengalami perubahan ini, banyaknya sistem pembelajaran yang tidak menggunakan tatap langsung antara guru dan siswa, juga menjadi kendala pendidikan karakter itu sendiri.

Bahkan, kepercayaan anak-anak dalam penyerapan ilmu pengetahuan yang diberikan guru,  kadang juga disangsikan. Terkadang, sebagian anak-anak lebih yakin dengan informasi yang mereka peroleh di youtube atau google.

Berkaitan pendidikan karakter dan pembentukan karakter anak di sekolah, saat ini maupun di masa mendatang, dapat saja terjadi bila kita melihat apa yang dituliskan Massini di atas.

Pembiasaan

Prinsip yang harus dipegang teguh bersama adalah keterlibatan semua warga sekolah tanpa terkecuali. Sebab, pembentukan karakter itu hakikatnya adalah pembiasaan.

Memang, tugas guru melaksanakan sebagian tanggungjawab orang tua mendidik anak itu, cukup berat. Walaupun waktunya hanya delapan jam menemani anak-anak di sekolah, namun seolah-olah semua nilai pendidikan menjadi tanggungjawab sekolah. Benar, kan?

Ada anekdot menyebutkan, katanya kalau anak berhasil dalam pendidikan, maka yang menjadi omongan siapa dulu dong orang tuanya.

Sementara itu, di saat anak kurang berhasil, selalu saja guru disalahkan. Mereka dikatakan kurang pandai mendidik. Bila sudah begini, guru atau sekolahnya yang ketiban sial.

Padahal,  tanggungjawab pendidikan bukan hanya sekolah, melainkan juga keluarga dan masyarakat.

Banyak strategi atau pun cara pelaksanaan pendidikan karakter dapat berjalan di sekolah, sebagaimana yang kita harapkan. Baik secara mandiri yang diinisiatif para siswa, atau memang menjadi bagian dari kurikulum pembelajaran dan budaya sekolah.

Umumnya, nilai karakter yang dikembangkan dimulai dari hal-hal sederhana, murah, dan mudah dilaksanakan. Tidak perlu yang sulit dan langsung ingin ideal.

Sebuah program yang baik hendaknya dilakukan secara kesadaran bertahap tapi berkesinambungan.

Misalkan, ketika berkunjung di beberapa sekolah di Kawasan Timur Indonesia, saya menemukan ada yang menerapkan pendidikan karakter berbasis agama.

Meski begitu, ada juga pendidikan karakter berbasis kesenian daerah atau keterampilan-keterampilan, yang secara tidak sadar telah membentuk karakter sang anak.

Suksesnya sebuah pendidikan karakter yang berkarakter, memang membutuhkan waktu lama. Tidak mungkin dalam waktu sekejap.

Perlu ketekunan dan keterlibatan seluruh unsur sekolah dengan penuh keseriusan. Jangan hanya di waktu-waktu tertentu untuk membangun budaya yang berkarakter.

Kuncinya, pembiasaan! Ya. Pembiasaan, pembiasaan, dan pembiasaan. Ada pepatah mengatakan, “a la bisa karena biasa.”

Anak-anak akan jarang terlambat ke sekolah, karena terbiasa bangun subuh. Apalagi, dalam Islam, salat adalah kewajiban.

Anak-anak pun akan terbiasa dan menjadi santun, ketika semua guru, pegawai, dan siswa membiasakan diri saling menghormati dan menghargai antara yang tua dan muda. Termasuk,  kebiasaan menggunakan bahasa santun.

Semoga kita dapat menjadi generasi yang “Berkarakter.” (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *