Sat. Dec 5th, 2020

BLAM

KEREN

BLAM Kampanyekan “Stay at Home”

3 min read

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, bersama Peneliti BLAM dalam sebuah kegiatan, tahun lalu. Foto: Dok. BLAM.

6,403 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Masih adanya sebagian warga Makassar yang terlihat keluyuran di jalanan dan nongkrong di tempat tertentu, membuat Peneliti Balai Litbang Agama Makassar (BLAM) mengampanyekan tindakan “tetap di rumah” atau stay at home.

Hingga Rabu, 8 April 2020, beberapa titik jalanan di Kota Makassar masih terlihat ramai. Sejumlah orang juga terlihat berkerumun di beberapa tempat tanpa khawatir terkena corona.

Akibatnya, grafik orang yang terpapar virus corona di Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Kota Makassar, mengalami lonjakan setiap hari.

Melihat kondisi tersebut, Kepala BLAM, H. Saprillah, M. Si, tak henti-hentinya mengimbau semua “anak buahnya” untuk mematuhi anjuran pemerintah. Ia lantas mengampanyekan stay at home.

“Kalau urusannya tidak terlalu penting dan mendesak, saya meminta kepada bapak-bapak dan ibu-ibu semua untuk tidak keluar rumah dulu. Apalagi, kita semua tidak pernah tahu grafik covid 19 di Sulsel dan Makassar setiap saat. Kalau melihat sekarang ini, jumlah yang terkena malah terus bertambah,” kata Saprillah, yang juga Ketua Lakpesdam Nahdlatul Ulama Sulsel ini, Rabu, 8 April 2020.

Imbauan stay at home diterima pula Saprillah melalui Whatsapp. Ia kemudian meneruskan kiriman pesan itu ke Grup Whatsapp BLAM. Isi pesan tersebut adalah:

“Untuk semua bapak-bapak ASN, tolong usahakan jangan keluar rumah kecuali urusan mendesak. Yang suka naik-naik sepeda, dekat-dekat rumah mi dulu. Makassar sedang zona merah, butuh bantuan semua orang. Tolong tetangga-tetangga diingatkan. Ayo aktif kampanye!”

Senada, Peneliti BLAM, yang juga Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama Sulsel, Syamsurijal, masih melihat sebagian warga Makassar nongkrong di tempat-tempat tertentu.

Hal ini terlihat dari beberapa status yang ia unduh di dinding Facebooknya; Syamsurijal Ad’han.

Misalnya, status yang ia tulis panjang lebar pada halaman Facebooknya, Selasa sore, 6 April 2020, yang sebagian isinya seperti ini:

“…pak pjs walkot makassar masih menemukan orang banyak ngumpul di warkop. Orang masih lalu lalang di luar, seakan tidak terjadi apa-apa. Masih banyak pula tokoh agama yang mendebat keputusan MUI untuk salat di rumah saja, dan sementara menunda salat berjamaah di masjid.”

Malam harinya, Syamsurijal kembali bikin status. Ia menyindir orang-orang yang kerap nongkrong di warung kopi, seperti ini:

“Dulu sebelum korona menyebar, diminta ketemu di cafe, datang, tapi malah masing-masing asyik dg hp-nya. Giliran kini diminta komunikasi saja lewat HP, malah rajin ketemuan di cafe. Ktanya tidak asyik diskusi lewat smartphone…

Ente… gimana sih Bro…”

Baso Marannu, Peneliti BLAM dan Agen Perubahan BLAM, juga melakukan kampanye yang bertujuan meredam laju perkembangan dan memutus mata rantai covid di laman Facebook dan Instagram.

Pada Selasa malam, 6 April 2020, misalnya, Baso Marannu menuliskan pesan di laman Facebooknya; Baso Marannu, disertai infografis menarik yang memuat foto dirinya.

Ia menuliskan begini:

“Gotong Royong Kemanusiaan Serempak se- Indonesia Kompak Melawan Virus Corona; Berhenti Total 3 Hari, 10-12 April 2020… Jika kita lakukan serentak bersama-sama menghentikan pergerakan virus corona, maka Insya Allah kita akan lihat bahwa grafik penyebarannya di Indonesia menurun drastis…”

Seperti dilansir dari sejumlah media lokal Makassar, Selasa, 6 April 2020, jumlah positif virus covid di Sulsel pada  6 April 2020 bertambah 30 orang, sehingga menjadi 112 orang.

Dari 30 yang bertambah itu, 15 di antaranya merupakan penularan lokal (local transmission) di Kota Makassar.

Masih menurut pemberitaan media lokal Makassar tersebut, sudah tidak ada lagi kasus corona di Makassar yang disebabkan oleh penularan dari luar Sulsel, atau impoted transmission. Kebanyakan penyebab kasus di Makassar adalah interaksi sosial.

Sementara jumlah orang dalam pemantauan (ODP) di Sulsel, juga mengalami peningkatan. Angka ODP covid kini mencapai 2.399 orang. Sedangkan pasien dalam pengawasan (PDP) sebanyak 306 orang, dan 13 di antaranya meninggal dunia.

Jumlah ini lantas menjadikan Makassar lokasi terbanyak penularan virus corona di Sulsel. Kota Makassar lalu dijadikan fokus penanganan dan pencegahan corona.

Kabupaten lain yang terletak di dekat Makassar, ikut pula terkena imbasnya. Sebanyak 16 kasus positif corona tercatat di Kabupaten Gowa, dan sebanyak 11 kasus positif corona di Kabupaten Maros. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *