Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Lontara Bugis: “Pakkarawa”, “Nasu-nasu”, dan “Jennang” (Memanjakan Orang Sakit dengan Kuliner Istimewa)

6 min read

Penulis sedang membaca Naskah Sekke Rupa. Foto: Istimewa.

5,645 total views, 6 views today

Oleh: Muh. Subair (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Pada artikel sebelumnya (https://blamakassar.co.id/2020/04/01/pakkarawa-pitte-sikalupetta-mengobati-orang-sakit-keras-dalam-lontara-pabbura/), ketika saya memperkenalkan Pakkarawa Pitte Sikalupetta, ada beberapa pembaca meminta penjelasan lebih lanjut mengenai makna asal dari istilah yang saya gunakan. Karena itu, berikut pengertian kata kunci terkait tema kali ini.

Pakkarawa, secara leksikal dalam Bahasa Bugis, berarti sentuhan, memegang, cara menyentuh atau cara memegang.

Pakkarawa memiliki arti berbeda dengan kata pakkatenning,  yang juga berarti memegang, yaitu memegang sesuatu dengan erat.

Nasu-nasu artinya aneka masakan, kuliner. Sedangkan jennang, memiliki dua arti berbeda.

Pertama, jenannang, dalam arti perwakilan raja, sebagaimana termaktub dalam Biografi Arung Palakka, yang menyebutkan, To Belo adalah jennang, yang memerintah di Bone sebagai perwakilan yang diangkat oleh Raja, ketika Raja Bone ditawan Raja Gowa (Setiawan, 2019).

Kedua, jennang dalam arti ahli masak-memasak (chef). Pengertian kedua inilah, yang menjadi tema dalam artikel ini.     

Istilah pakkarawa Pitte Sikalupetta-anu mabaiccu siriu-riu, adalah strategi mengobati orang sakit dengan sentuhan yang sangat hati-hati, sebagaimana tertera dalam Lontara Bugis: yang diberi judul Naskah Sekke Rupa.

Di sana juga disebutkan berbagai macam bentuk pakkarawa, yang tidak hanya berkaitan pengobatan atau sanro. Tetapi juga berkaitan banyak hal, yang menunjukkan pengetahuan, keahlian atau profesi seseorang.

Misalnya, seorang yang ahli tentang assikalaibineng, perkara suami istri atau kamasutra, berarti ia menguasai atau mengetahui berbagai macam pakkarawa makkunrai, tata cara menyentuh perempuan.

Orang ahli pertukangan atau lihai dalam membangun rumah, tentu ia memiliki pengetahuan paripurna tentang berbagai macam bentuk pakkarawa aju, sentuhan kayu.

Demikian juga, dalam naskah yang sama disebutkan adanya suatu keahlian mannasu-nasu, masyarakat mengenalnya dengan istilah jennang, yaitu seorang yang ahli dalam perkara kuliner.

Seorang jennang mutlak juga memiliki suatu kemampuan sentuhan masak-memasak, yang disebut pakkarawa nasu-nasu.

Naskah Sekke Rupa

Pembahasan Lontara Bugis yang memiliki variasi tema beragam, biasanya disebut Naskah Sekke Rupa.

Penyebutan ini diberikan, karena teks di dalamnya tidak tunggal, atau terdiri atas berbagai macam teks yang memiliki tema beragam.

Sekke Rupa ringkasnya bermakna, segala macam bentuk perkara dibicarakan di dalam satu naskah.

Naskah sakke rupa yang ditemukan di Bone ini adalah koleksi Andi Sahran. Isi naskah menyajikan berbagai kreativitas yang diciptakan masyarakat masa lalu, di mana sebuah hasil karya yang diwariskan secara turun temurun melalui proses penyalinan naskah dari guru ke murid, sampai kepada pewaris terakhirnya.

Sebagaimana kebiasaan masyarakat Bugis yang senantiasa menjaga tradisi makkanre guru, yaitu menuntut ilmu kepada orang yang ahli dalam suatu bidang tertentu (Saprillah, 2014), baik dalam bidang agama, pertanian, perkebunan, aristektur, ketangkasan, ilmu kesaktian, bahkan sampai masalah assikalaibineng (Kamasutra Bugis).

Masih sering terdengar kisah orang tua terdahulu tentang beratnya melakukan perjalanan, mengorbankan apa saja demi untuk makkanreguru.

Bahkan, untuk suatu ilmu khusus, sudah menjadi anekdot populer bagi seorang murid yang harus memenuhi suatu persyaratan tertentu.

Misalnya, ia harus membawa seekor ayam hitam pekat secara keseluruhan, sampai matanya pun tak boleh ada yang putih. Atau, harus memiliki kucing jantan tiga warna tanpa cacat, dan dalam keadaan sehat.

Sayangnya, tidak semua tradisi makkanreguru tersebut dilakukan menggunakan media tulis-menulis. Bahkan, di masa lalu, pada abad 18 dan 19, kertas berkualitas harus diimpor dari Eropa (Supriyadi, 2015).

Sebelum penggunaan kertas Eropa, sejarah alat tulis nusantara tergantung dari daerah penggunanya. Ada yang menggunakan kulit, tanduk, tulang, daun, dan daluang, yaitu kulit kayu yang dihaluskan (Permana, 232).

Tidak semua kalangan masyarakat mampu membeli alat tulis yang masih langka dan mahal, khususnya kertas Eropa, yang hanya mampu diadakan oleh pejabat kerajaan, bangsawan, dan ulama.

Alhasil, di tengah kesulitan dan keterbatasan tersebut, menjadi suatu prestasi mengagumkan, jika para leluhur nusantara mampu mewariskan karya berupa naskah kuno dengan berbagai kekayaan informasi ilmu pengetahuan di dalamnya.

Sebuah sumber ilmu pengetahuan yang dapat menjadi mata air peradaban dan penyambung identitas keluhuran budaya dari masa lalu.

Jennang

Salah satu profesi yang membutuhkan proses makkanreguru adalah tukang masak (chef), yang dalam bahasa Bugis disebut jennang.

Jika untuk menjadi sanro membutuhkan empat tahapan syarat yang ketat, maka untuk menjadi jennang tidak disebutkan persyaratannya di dalam naskah sake rupa itu. Namun, pengalaman orang Bugis menunjukkan adanya syarat yang juga tidak gampang.

Saya tidak pernah membayangkan, untuk menjadi jennang itu membutuhkan proses makkanreguru.

Pikiran saya tentang makkanreguru hanya terkait ilmu-ilmu yang saya minati. Akan tetapi, pada prinsipnya, semua pekerjaan yang membutuhkan keahlian dalam masyarakat Bugis harus dipelajari dengan cara makkanreguru, yaitu menuntut ilmu dengan cara sungguh-sungguh.

Di sini terkadang generasi belakangan, seperti saya, salah kaprah mengenai keahlian orang-orang tua dahulu.

Dikiranya, para orang tua itu menyembunyikan ilmu-ilmunya dan menguncinya hanya untuk diri sendiri. Padahal, mereka sedang menekankan pentingnya mencari ilmu atau makkanreguru.

Seorang yang berminat tentang suatu pengetahuan harus menunjukkan kesungguhannya dengan inisiatif sendiri. Ia tidak boleh menunggu disuapi, atau menunggu diberkahi dengan tiba-tiba tahu semuanya, seolah ilmu itu turun dari langit.

Karena itu, filosofi makkanreguru terletak pada penghormatan murid kepada guru, dan kepada ilmu pengetahuan yang diinginkannya.

Sayangnya, profesi jennang sudah tidak banyak diminati oleh generasi Bugis kekinian. Khususnya, masyarakat Bugis di perkotaan.

Kosa kata jennang sudah “hilang” dalam benak mereka, dan berganti dengan catering, yang hadir menjawab tantangan zaman, yang serba cepat dan praktis.

Orang Bugis di kampung pun hanya orang-orang tua yang mengetahui adanya jennang sebagai seorang kepala juru masak pada saat ada kenduri.

Seperti dalam acara perkawinan, jennang-lah yang bertanggung jawab mengatur hari dan waktu terbaik untuk mulai memasak, sekaligus memastikan jumlah bahan-bahan yang harus disiapkan oleh tuan rumah, agar dapat menjamu semua tamu undangan tanpa kehabisan.

Naskah sekke rupa juga tidak membahas tentang jennang, seperti pembahasan sanro yang lebih terang secara hakikat dan prasyaratnya.

Tetapi, yang menarik, adalah kebutuhan sanro terhadap jennang untuk mempersiapkan makanan khusus bagi orang yang sedang sakit.

Jadi, fungsi lain jennang, adalah untuk menyiapkan kuliner khusus bagi orang sakit, yang dilakukan atas rekomendasi sanro.

Orang Sakit

Orang Bugis ternyata mempunyai budaya memanjakan orang sakit. Apakah orang itu mengidap penyakit menular, penyakit luar, atau penyakit dalam, semua diperlakukan istimewa.

Pengalaman beberapa mantan penderita sakit keras, menyebutkan, keluarga selalu berusaha memenuhi segala keinginan orang sakit.

Khusus untuk orang sakit menular, seperti kasiwiyang dijaganya dari keramaian, tidak boleh diganggu dengan suara-suara yang bisa mengagetkan.

Orang berisik, banyak bicara, bersin, atau batuk, tidak boleh mendekat kepadanya. Di samping dapat mengganggu, juga untuk menjaga mereka tidak tertular penyakit.

Bentuk lain memanjakan orang sakit adalah memberinya makanan istimewa. Ungkapan “anre memengni macenning malunra’e”, “makanlah segala yang enak-enak”, yang sering diucapkan kepada orang sakit, bukanlah bermakna kepasrahan akan nasib, atau pertanda ajal akan menjemput.

Tetapi, hal itu adalah sebuah ketulusan dengan maksud memberi rasa nyaman dan ekspresi kasih sayang keluarga kepada orang yang sedang sakit.

Di sini, sanro berperan menyarankan makanan dan minuman yang diperlukan oleh orang sakit. Saran itu berbentuk bahan-bahan mentah dengan kriteria rasa.

Misalnya, menyebutkan jenis-jenis makanan yang makecci, mapejje, dan mapesse, kecut, asin dan pedis, sebagai makanan yang baik disajikan bagi orang yang suhu tubuhnya dingin.

Sementara bagi orang yang mengalami suhu panas tubuh yang tidak normal, makanan yang cocok untuknya adalah manis-manis seperti sari tebu, tuak manis, gula merah dan jahe, serta makanan dari buah-buahan yang bisa diolah sebagai pengganti makanan nasi.

Terdapat juga jenis makanan kombinasi dari rasa kecut, asin dan manis yang dibutuhkan oleh semua kondisi tubuh, baik ketika panas maupun dingin.

Selanjutnya, menjadi tugas jennang untuk menunjukkan wujud makanan berdasarkan rasa yang digariskan itu, yang juga disesuaikan dengan selera orang sakit.

Naskah sekke rupa kemudian secara khusus menyajikan empat puluh macam resep khas Bugis. Ada yang berbentuk beppa-beppa atau penganan untuk kudapan, dan ada juga berupa pakkanreang untuk menu makanan utama. Salah satu resep tersebut adalah cara membuat kue putu cangkir sebagai berikut:

…… naiyya winrusenna, putu cangkiri’e labbu aseo ri taroi masessere, naiyyanappa ri koroki golla, narekko purai rijemmu riseresi paimeng. Nariajemmurisi labbu. Iyya mallice-llice e, ko sigattang aseo si ana campeng ase pulu…

Cara membuat putu cangkir, beras ketan digoreng sampai matang, kemudian disiram gula, dan diaduk sampai rata. Hasilnya diaduk lagi dengan tepung untuk memisah-misahkannya (membentuknya), jika tepung biasanya sekitar satu liter, maka tepung ketannya satu cangkir.

Dalam perkara kuliner, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Prof. Nurhayati Rahman, bercerita tentang kemesraan hubungan Raja Bone dan Raja Gowa.

Raja Gowa memuji kue putu cangkiri dari Bone, karena rasa manis gulanya yang pas. Sedangkan Raja Bone memuji beppa putu cangkiri dari Gowa, karena rasa labbu tepungnya yang gurih.

Keindahan budaya masyarakat ada dalam setiap suku. Dan, keindahan perlakuan terhadap orang sakit, sepertinya lagi diperlukan saat ini.

Ayo lestarikan budaya baik itu. Manjakanlah orang-orang yang terdampak virus corona (covid 19) dengan perawatan tepat bagi penderita.

Berikanlah penghormatan layak bagi yang meninggal. Berikan jaminan pemenuhan kebutuhan makanan pokok bagi warga miskin yang terkendala bekerja di masa sulit ini.

Lupakan dulu perbedaan. Mari sama-sama perkuat tali persaudaraan.

Ingatlah pesan orang-orang bijak:

Rebba sipatokkong.

Mali siparappe, sirui menre’, tessirui ‘no.

Malilu sipakainge’ mainge’pi mupaja.

Jika terjatuh saling bantu untuk berdiri.

Jika hanyut saling menguatkan, saling tarik untuk bangkit, tidak saling dorong untuk menjatuhkan.

Jika khilaf ingatkanlah, sampai sadar baru berhenti. (*)    

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *