Wed. Jul 15th, 2020

BLAM

KEREN

Corona Dihindari, (Awas) Koro-koroang Menghinggapi; Mengingat Kembali Nasihat Ibnu Sina

5 min read

Sumber gambar. Ayosemarang.com

3,912 total views, 4 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Corona dan Koro-koroang

Ketika Corona-19 menjadi pemberitaan, terutama di saat wabah tersebut baru menyerang Negeri Tiongkok, ada meme berbahasa Makassar beredar di media sosial (Whatsapp, Facebook, dan Instagram), yang sempat menjadi viral.

Kira-kira, bunyi memenya seperti ini:

“Ada yang lebih berbahaya dari virus corona di Makassar, yaitu virus koro-koroang.”

Awalnya, meme tersebut hanyalah sebuah candaan sebagai respons dari selera humor orang Makassar atas pemberitaan tentang corona yang terkesan horor.

Namun, kini, setelah pandemi corona menyerang 199 negara, termasuk 30 provinsi di Indonesia, meme tersebut menarik untuk dibaca kembali. Apalagi, terjangan virus corona, hingga saat ini, semakin merajalela.

Koro-koroang adalah istilah dalam bahasa Makassar, yang berarti suka marah-marah, baik karena alasan tertentu maupun sesuatu yang tidak begitu jelas.

Seseorang bisa menjadi koro-koroang disebabkan beberapa hal. Antara lain, emosi tidak stabil, tidak senang pada orang tertentu, mengalami kejadian tak menyenangkan, jengkel dengan suatu keadaan, dan hanya sekadar melepaskan pelampiasan.

Koro-koroang adalah penyakit psikis, lantaran emosi yang terguncang atau tidak stabil. Efeknya,  seseorang yang koro-koroang akan mengumbar kemarahan di segala arah, menyalahkan orang lain sebagai biang kerok dari sesuatu keadaan atau kejadian tak menyenangkan, hingga perilaku agresif dan represif.

Kembali ke meme yang dibahas di awal. Pandemi corona telah menebar teror, dan membuat kehidupan terasa sangat horor. Corona bukan lagi sekadar persoalan medis belaka, tetapi telah menjadi persoalan kompleks.

Corona tidak hanya menyerang imunitas, namun ia menyerang pula kestabilan psikis, tatanan sosial dan budaya, hingga pertahanan ekonomi dan politik.

Pandemi corona tidak hanya mengancam imunitas tubuh, melainkan sendi-sendi kehidupan manusia seluruhnya ikut terkena efek domino. Sehingga, semua itu rentan memicu emosi menjadi labil, dan menggoyang pikiran menjadi panik.

Relasi sosial pun ikut menjadi berjarak, ekonomi nyaris lumpuh, dan aktivitas menjadi tak normal.

Siswa belajar di rumah, mahasiswa tak lagi ngampus, dan pegawai berkantor di rumah (work from home). Tak bisa lagi sekadar kongkow di warkop, tak bebas lagi keluyuran, dan bahkan, ibadah pun harus “dirumahkan.”

“Stay at home” dengan segala aktivitas yang semua terpusat di rumah dalam tempo cukup panjang, sangat rentan memicu ketidakstabilan emosi.

Postingan sosial media tidak hanya berisi ketakutan terhadap corona, tapi juga tumpahan kegalauan berisi keluh-kesah tentang keadaan yang serba sulit dan tak menyenangkan.

Dunia dicekam ketakutan pada corona. Pada sebagian orang lantas memicu kepanikan berlebihan. Pemberitaan media pun seolah semakin memperbesar ketakutan tersebut. Alhasil, wabah corona pun memantik reaksi koro-koroang. Jika sudah begini, kita semakin dilema.

Menyalahkan pemerintah yang dianggap tidak cepat tanggap, dan menumpahkan kekesalan terhadap orang-orang yang ngeyel dengan tetap berkeliaran. Belum lagi, persoalan stres yang timbul akibat harus mendekam di rumah dalam jangka yang cukup lama.

Penyakit koro-koroang, tentu saja, tidak bisa dianggap remeh. Secara medis, emosi yang tidak stabil dan jiwa yang panik akan memperlambat kerja antibodi. Ia juga memicu menurunnya imunitas.

Belum lagi, risiko medis yang sangat mungkin terjadi. Misalnya, naiknya tensi, melambungnya kadar gula darah, meningkatnya asam lambung, hingga naiknya kolesterol.

Kalau sudah begini, corona mungkin terhindarkan. Tapi, awas, penyakit yang tak kalah menakutkan mungkin sedang menghinggapi kita. Karena satu corona dihindari, bahaya penyakit lain justru menghantui.

Ibnu Sina

Satu milenium yang lalu, dokter muslim legendaris, sekaligus filosof besar muslim, Abu Ali al-Husain Ibnu Abdullah, atau yang dikenal dengan Ibnu Sina (980-1037), memberikan nasihat seputar menjaga kesehatan dan menghadapi penyakit.

“Delusi (kepanikan) adalah setengah dari penyakit. Ketenangan adalah setengah dari obat, dan kesabaran adalah awal dari kesembuhan.” Demikian nasihat ilmuwan besar Persia tersebut.

Secara medis dinyatakan, setengah dari penyebab sehat atau sakitnya seseorang, adalah pikiran.

Pikiran yang selalu positif akan membuat kita sehat. Sebaliknya, pikiran negatif akan makin memicu datangnya penyakit. “Semuanya di mulai dari pikiran,” demikian ujar-ujaran pepatah bijak.

Kepanikan merupakan efek dari delusi yang muncul akibat rasa takut yang tak terkontrol. Rasa takut tersebut merupakan respon terhadap bahaya yang mengancam dan berada di sekitar.

Rasa takut yang masih dalam kontrol oleh akal sehat melahirkan kewaspadaan. Namun, rasa takut yang tak terkendali, melahirkan delusi.

Dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini, sangat rentan kita terserang delusi. Dan, akhirnya,  melihat semua kenyataan adalah ancaman. Termasuk, ancaman dari orang dekat kita sendiri.

Ibnu Sina memberi nasihat supaya kita tidak mudah panik. Sebab, panik itu sendiri merupakan masalah kejiwaan yang dapat berdampak langsung pada munculnya penyakit pada tubuh. Dalam istilah medis, hal ini disebut psikosomatik.

Pesan berikut dari Ibnu Sina, adalah menjaga ketenangan atau tetap tenang dalam kondisi sakit sekalipun. Menurutnya, ketenangan itu sendiri adalah setengah dari obat yang membuat kita kembali sehat.

Ketenangan dihasilkan oleh pikiran, yang selalu tersugesti pada hal-hal positif. Dalam bahasa agama disebut khusnu dzon. Ketenangan akan melahirkan sugesti positif kepada imun tubuh,  sehingga kita bisa menjadi lebih sehat.

Berkenaan dengan sugesti positif ini, Ibnu Sina juga berpesan; “Jangan pernah katakan kepada pasien, bahwa penyakitnya tidak dapat diobati. Sesungguhnya, sugesti kalian merupakan obat bagi pasien.”

Jalan untuk tetap dalam ketenangan adalah menjaga pikir untuk tetap rasional dan positif, serta dengan selalu mengingat Sang Pencipta dengan zikir. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah, hatimu menjadi tenang (QS al-Ra’d {13} :28).

Pesan ketiga Ibnu Sina adalah, “Kesabaran adalah awal dari kesembuhan.” Pepatah Arab mengatakan: “Sabar itu seperti obat pahit yang tidak enak rasanya, tetapi hasilnya indah.”

Jika ada yang mengatakan, kesabaran ada batasnya, hal tersebut sangat tidaklah tepat. Bila kesabaran hilang, yang hadir adalah sikap menyerah dan apatis. Jadi, kesabaran tidak ada batasnya.

Bayangkan, jika ada seorang pasien yang sudah tidak lagi sabar, dan akhirnya menyerah pada penyakitnya. Maka, bisa dipastikan, pasien tersebut tidak lagi ingin minum obat, dan tak peduli anjuran dan pantangan. Jika sudah seperti ini, efeknya bisa fatal.

Kesabaran merupakan imunitas jiwa yang membuat seseorang tetap tenang, dan tekun menjalani langkah-langkah untuk mencapai sebuah tujuan.

Jika kesehatan atau kesembuhan adalah tujuan, kesabaran membuat kita tetap tenang menjalankan anjuran, dan menjauhi pantangan yang disampaikan dokter.

Kondisi pandemi corona menuntut kesabaran ekstra dari kita. Menjalani hari-hari dengan tetap tinggal di rumah, bekerja, belajar, dan beribadah di rumah, tentu saja, membutuhkan kesabaran ekstra. Jika tidak sabar, di sinilah penyakit koro-korang mudah menghinggapi kita.

Sangat tidak mudah menjalani pembatasan demi pembatasan, yang selama ini kita bebas melakukannya.

Belum lagi, efek domino dari pembatasan tersebut, yang membuat kita terasa terpenjara. Kita tidak bebas lagi keluar. Bahkan, untuk sekadar mencari nafkah, ataupun beribadah.

Humor

Selain menjaga pikiran dan sikap untuk tidak panik, tetap tenang, dan sabar. Yang tak kalah penting dan perlu dijaga adalah selera humor.

Selera humor sangat efektif membuat pikiran tetap positif dan jauh dari koro-koroang. Orang yang suka koro-koroang, dipastikan selera humornya sangat rendah, karena selalu menyikapi segala sesuatu dengan sangat serius.

Humor diwujudkan dengan senyum dan tawa. Tanpa humor, berarti kita melakoni hidup tanpa senyum dan tawa. Kehidupan seperti ini, ibarat rumah tanpa jendela. Sumpek dan tidak sehat,  pastinya.

Roberta Satow, Psikanalis Amerika, menyatakan, humor adalah salah satu mekanisme pertahanan diri dari perasaan cemas dan sakit. Humor dapat membuat orang tetap tenang menghadapi kegagalan atau perasaan tak berdaya.

Menghadapi wabah corona yang rentan membuat kita jadi koro-koroang, maka humor adalah proses mengalihkan (sublimasi) atas kecemasan yang mendera.

Humor dapat pula menyalurkan dorongan agresif menjadi sesuatu yang positif, dan dapat menjaga kestabilan jiwa serta pikiran.

Melalui humor, kita menjaga dan merawat kebahagiaan, supaya tidak hilang dari jiwa kita. Dengan humor, kita berharap tetap bahagia, meski dalam kondisi sulit dan berbahaya.

Sigmund Freud, menyebutkan, humor bertalian dengan apa yang terpendam dalam alam ketaksadaran kita. Itu sebabnya, humor menandakan kestabilan dan kebahagiaan seeorang. Orang humoris, kecil kemungkinan terserang koro-koroang, dan Insya Allah, corona pun menjauh. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *