Sat. Dec 5th, 2020

BLAM

KEREN

Pluralisme: Membangun Persaudaraan dan Kerjasama Lintas Iman

5 min read

Sumber gambar: repressoclass

3,818 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Persaudaraan Universal

Hanya ada satu persaudaraan, persaudaraan manusia yang menyatukan anak-anak bumi “dalam diri” Tuhan (Inayat Khan).

Alam semesta, termasuk di antaranya manusia, berasal dari ledakan besar, yaitu ledakan primordial yang luar biasa dari cahaya yang akhirnya terkristal dalam wujud materi.

Dalam perspektif sufistik dipahami, bahwa hidup yang memancar dari wujud batin dimanifestasikan ke permukaan dalam bentuk beragam dan dalam dunia ini manusia adalah manifestasi yang terbaik.

Karena dalam evolusinya, manusia dapat merealisasikan kesatuan wujud ini. Bahkan, dalam keragaman eksistensi eksternalnya, sekalipun.

Untuk mencapai tujuan ini yang merupakan satu-satunya tujuan kedatangan manusia di dunia dicapai melalui penyatuan dirinya dengan orang lain.

Oleh karena itu, kesatuan universal manusia, terpraksis sebagai bentuk pembebasan diri dari batas-batas kebangsaan, rasial, dan bahkan agama.

Menyatukan diri dalam persaudaraan manusia yang bebas dari perbedaan status, kelas, keyakinan, ras, bangsa, atau agama, dan menyatukan manusia dalam persaudaraan universal.

Persaudaraan universal tersebut di dasari oleh kesamaan primordial seluruh manusia, sebagai “bagian utama” dari “diri Tuhan”.

Menurut Inayat Khan, persaudaraan bukanlah sesuatu yang bisa tuntas bila dipelajari dan diajarkan (secara konsepsional). Persaudaraan adalah suatu kecenderungan yang muncul dari hati, yang memikat dan mengikat jiwa-jiwa yang satu untuk kembali padu “dalam” Yang Satu.

Pluralisme secara konseptual dan praksis merupakan cermin dari sebuah bentuk persaudaraan universal kemanusiaan.

Perbedaan doktrin agama secara eksoterik (lahir) justru dipahami sebagai jalan menuju kesamaan dan kesatuan hakikat kebenaran secara esoterik (batin).

Pluralisme: Antara Claim of Truth dan Claim of Salvation

Persoalan mendasar yang sering menuai kontroversi dalam diskursus pluralisme adalah persoalan klaim kebenaran (claim of truth) dan klaim keselamatan (claim of salvation).

Claim of truth adalah pengakuan terhadap kebenaran lain yang diyakini oleh kelompok agama yang lain.

Claim of truth pada titik ekstrem akan sampai pada pemahaman paralelisme yang menganggap kebenaran semua agama adalah sama.

John Hick menyebut jenis pluralisme ini dengan istilah epistemological religious pluralism, yang secara sederhana berarti klaim kebenaran.

Bahwa, pengikut agama-agama di dunia memiliki kedudukan yang sama menurut justifikasi religius mereka.

Dengan kata lain, secara epistemologis, tidak ada satu pun agama yang paling berhak untuk mengklaim dirinya sebagai pemilik kebenaran tunggal yang lebih dari yang lain serta menafikan kebenaran agama yang lain.

Claim of salvation adalah pengakuan akan terbukanya pintu-pintu keselamatan eskatologis bagi penganut agama lain.

Menurut Jalaluddin Rakhmat, definisi generik dari pluralisme ada pada claim of salvation, yaitu meyakini umat agama lain juga berhak untuk mendapatkan keselamatan eskatologis. Dalam istilah John Hick, claim of salvation disebut Pluralisme Soteriologis (Soteriological Religious Pluralism).

Persoalan filosofis yang kemudian timbul adalah, apakah antara kedua klaim tersebut merupakan dua hal yang terpisah?

Dalam artian, kita mengakui terbukanya pintu keselamatan bagi penganut agama lain di satu sisi, namun di sisi lain, kita menolak kebenaran ajaran agama tersebut.

Ataukah, kedua klaim tersebut merupakan dua hal yang berjalin kelindan? Sehingga masing-masing meniscayakan yang lain.

Secara ontologis, kebenaran bukanlah realitas yang dapat dipandang dengan kacamata hitam-putih (passing logic).

Kebenaran, sebagaimana wujud dalam perspektif filsafat, merupakan realitas yang bergradasi sesuai tingkat intensitasnya.

Demikian pula, kebenaran agama dan pemahaman agama masing-masing memiliki perbedaan intensitas kebenaran. Tergantung pada kualitas intelektual-spiritual ajaran dan penganut ajaran tersebut.

Oleh karena itu, Truth (dengan “T” besar) adalah tunggal. Namun, truth (dengan “t” kecil) sebagai manifestasi (gradasi) dari Truth adalah plural sesuai capaian intelektual-spiritual dari ajaran dan pemahaman agama.

Secara rasional, kita menerima kenyataan akan adanya pluralitas agama dan berbagai tawaran jalan keselamatan eskatologis, di mana masing-masing jalan tersebut semuanya membuka peluang bagi manusia untuk sampai pada keselamatan.

Hanya saja, keselamatan eskatologis bukanlah titian akhir ideal bagi manusia sebagai makhluk pendamba kesempurnaan.

Untuk itu, pencarian kebenaran dengan sikap yang terbuka dan objektif, merupakan keniscayaan bagi manusia dalam rangka mencapai tahapan demi tahapan yang akan mengantarkannya pada kesempurnaan perjalanannya.

Secara psikologis, menurut Komaruddin Hidayat, setiap orang beragama harus selalu dituntut untuk menerima, mengakui, dan meyakini, bahwa hanya jalan keselamatan miliknyalah yang paling benar (tentu saja dengan tidak menyalahkan secara mutlak ajaran agama yang lain).

Karena tanpa adanya keyakinan yang mantap dan sikap mengabsolutkan kebenaran imannya, seseorang akan ragu dalam menjalankan perintah agamanya.

Pilihan kita terhadap suatu agama sebagai ajaran kebenaran dan jalan kebenaran, merupakan pilihan epistemologis yang kita pilih secara sadar, dan dapat kita pertanggungjawabkan.

Berdasarkan penjelasan tersebut, pengakuan terhadap jaminan keselamatan eskatologis (claim of salvation) atas semua penganut agama, tidak meniscayakan kita untuk berada pada “kebingungan teologis”, yang menisbikan kemutlakan kebenaran iman yang kita yakini.

Praksis Pluralisme

Secara praksis, pluralisme paling tidak terdiri atas tiga elemen dasar. Pertama, pengakuan akan kemajemukan realitas sosial, baik yang disebabkan perbedaan bawaan maupun perbedaan perolehan.

Kedua, fungsi sintesis kebudayaan. Maksudnya pluralisme tidak hanya sekadar berhenti pada pengakuan, bahwa realitas masyarakat adalah majemuk. Sebab, jika sampai di sini, justru hanya akan menggambarkan kesan fragmentasi an sich.

Pluralisme meniscayakan sikap tulus menerima pluralitas sebagai hal positif dan merupakan rahmat Tuhan kepada manusia, karena akan memperkaya pertumbuhan budaya melalui interaksi dinamis dan pertukaran silang budaya yang beraneka ragam.

Ketiga, Mekanisme perimbangan, pluralisme tidak boleh dipahami sekedar sebagai kebaikan negatif (negative good) yang berguna untuk menyingkirkan fanatisme.

Mengutip istilah Nurcholis Madjid (Cak Nur), pluralisme harus dipahami sebagai kebhinekan dalam ikatan-ikatan keadaban. Bahkan, pluralisme merupakan sebuah keharusan bagi keselamatan umat manusia.

Mengutip Muhammad Fathi Osman, secara praksis, pluralisme adalah bentuk kelembagaan, di mana penerimaan terhadap keragaman melingkupi masyarakat tertentu, atau dunia secara keseluruhan. Makna pluralisme tidak sekadar toleransi moral atau koeksistensi pasif.

Pluralisme, di sisi ini, mensyaratkan ukuran-ukuran kelembagaan dan legal yang melindungi dan mensyahkan kesetaraan serta mengembangkan rasa persaudaraan di kalangan umat manusia.

Pluralisme juga menuntut pendekatan yang serius terhadap upaya memahami pihak lain dan kerjasama yang membangun untuk kebaikan semua.

Walzer

Secara praksis, pluralisme diwujudkan dalam sikap toleransi aktif. Sebagaimana yang diungkapkan Walzer, yaitu sikap yang tidak hanya mengakui dan menerima perbedaan melainkan terlibat aktif dalam perbedaan dengan menghormati dan merayakannya.

Semua kelompok agama diberikan kesempatan yang sama dalam mengekspresikan keyakinan dan dalam kontestasi sosial, budaya, politik dan ekonomi.

Dalam konteks membangun tatanan kemanusiaan yang ideal mengantarkan manusia pada konsep pluralisme yang aktif, arif dan konstruktif.

Aktif dalam artian, pluralisme yang terbangun tidak hanya sebatas pada koeksistensi pasif saja, melainkan sampai pada terbukanya kerjasama dan dialog yang aktif.

Arif dalam artian, pluralisme yang terbangun tidak hanya berhenti pada toleransi semata, tapi pluralisme yang terbangun menghasilkan persaudaraan universal yang humanis tanpa dibatasi sekat-sekat keyakinan.

Selain itu, pluralisme yang terbangun, juga akan mengantarkan manusia untuk menghargai persamaan nilai-nilai universal dari semua agama.

Konstruktif, dalam artian pluralisme yang terbangun, akan membentuk sistem-sistem sosial yang akan mengarahkan manusia pada sebuah kemajuan peradaban manusia yang humanis dan damai. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *