Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

Mencari Aisyah Binti Abu Bakar dalam Lagu “Aisyah Istri Rasulullah”

7 min read

Sumber gambar: cikimm.com

5,090 total views, 2 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Mulia indah cantik berseri

Kulit putih bersih merah di pipimu

Dia Aisyah Putri Abu Bakar

Istri Rasullallah

Sungguh sweet nabi mencintamu

Hingga nabi minum di bekas bibirmu

Bila dia marah, nabi kan bermanja

Mencubit hidungnya

Aisyah…

Romantisnya cintamu dengan nabi

Dengan baginda kau pernah main lari-lari

Selalu bersama hingga ujung nyawa

Kau di samping Rasullallah

PERNAHKAH kita menyimak syair lagu di atas? Kalau sering mengintip di youtube, atau aktif di media sosial, hampir dipastikan kita pernah mendengarkannya.

Malah, mungkin pula kita ikut bersenandung. Sesekali pula, menggoyangkan tangan dan mencubit hidung sendiri ketika sampai pada syair “Bila dia marah, nabi kan bermanja mencubit hidungnya.”

Lagu ini meledak dan menjadi trending, persis ketika Sabyan yang dikenal sebagai pelantun lagu-lagu religi mengunggah di youtube dengan versinya sendiri.

Beberapa hari lalu ketika Sabyan meng-upload  “Aisyah Istri Rasulullah”,  lagu ini telah ditonton 5,2 juta kali. Saya belum melihat yang teranyar, sudah berapa orang yang telah menontonnya.

Hingga hari ini, jamak orang menyanyikan lagu ini dalam versi berbeda-beda. Para ibu, gadis remaja, bahkan bapak-bapak pun kecanduan mendengarnya. Mereka pun ikut keranjingan menyanyikan berulang-ulang.

Saya melihat lagu ini pertama kali dinyanyikan seorang pria dan empat wanita manis berjilbab di atas mobil. Terlihat seperti suami dengan empat istri. Aduh, bahagianya, ya! Situ yang nonton pasti cemburu, kan? (pasang emoticon ketawa sambil nangis).

Di kala sebagian besar orang memilih tinggal di rumah dan sedang dirundung khawatir atas serangan virus corona, lagu “Aisyah Istri Rasulullah” seakan menjadi teman pelipur lara.

Melaluinya orang bisa bersenandung sejenak melepas rasa panik. Dengannya pula, sebagian ibu dan gadis remaja, bisa membayangkan sebuah keluarga idaman a la Rasulullah SAW.

Projector Band

Lagu Aisyah ini, ternyata dirilis pertama kali oleh Projector Band pada 2017. Judulnya, Aisyah (Satu Dua Tiga Cinta Kamu).

Lagu yang dikemas Band Malaysia ini, syairnya bukan soal Aisyah Istri Rasulullah, melainkan Aisyah sebagai seorang kekasih. Di kanal youtube, mulai 12 Mei 2017 hingga kini, lagu tersebut telah disaksikan sebanyak 35 juta kali.

Adalah seorang youtuber bernama Mr. Bie, yang mengubah syair dan judul lagu ini di kemudian hari. Judul pun berubah menjadi “Aisyah Istri Rasulullah.”

Syairnya pun berganti menjadi kisah cinta Asiyah dengan Nabi SAW. Mr. Bie kemudian mengunggahnya ke youtube.  Tetapi ketika itu, lagu ini hanya ditonton 436 ribu kali sahaja.

Tak jauh berbeda ketika akun youtube bernama MS. Muallimah mengunggah video “Aisyah Istri Rasulullah”, dengan syair yang sama, tetapi versinya sendiri. Lagu ini pun belum menjadi trending. Saat itu, hanya ditonton 7.300 kali di youtube.

Begitulah perjalanan lagu ini. Hingga akhirnya, Sabyan ikut menyanyikan dalam versinya. Mengunggahnya dan langsung meledak di jagat media sosial.

Aransemen lagu “Aisyah Istri Rasulullah” ini memang ringan, mudah diikuti, tapi empuk di telinga. Syairnya yang berkisah soal keromantisan Aisyah dan Rasulullah, juga gampang membuat gadis-gadis remaja dan ibu-ibu jatuh hati.

Namun, lamat-lamat ketika saya ikut menyimak baik-baik lagu ini, terasa ada yang hilang dari sosok Aisyah RA. Saya mencari sosok Aisyah yang cerdas, tangguh, dan tabah, tetapi tidak menjumpainya dalam lagu itu.

Sosok Aisyah digambarkan melingkar-lingkar hanya sebagai perempuan cantik, romantis, dan manja.

Dalam syair tertentu, malah ada Aisyah berlari-lari dengan Rasulullah. Saya tidak berani membayangkan, seperti apa yang dimaksudkan berlari-lari itu.

Selama ini, saya menyaksikan perempuan yang berlari-lari bersama seorang pria, hanya ada dalam film India.

Sampai di sini, sekilas saya teringat ucapan seorang pemikir Mesir, Rifa’ah Rafi at-Tantawi,  dalam Takhlis al-Ibriz fi Talkhis Bariz. Katanya: “Perempuan di negeri-negeri  Timur sering kali (digambarkan) berfungsi seperti mebel di rumah, dan di Perancis mereka seperti makhluk manja.”

Ucapan at-Tantawi ini, dikutip kembali Andree Feillard, dalam pengantarnya di buku KH. Husein Muhammad, “Fiqih Perempuan.”

Patriarki

Secara kebetulan, yang menciptakan syair lagu “Aisyah Istri Rasulullah” adalah juga seorang laki-laki. Mr. Bee, sang youtuber itu, jelas laki-laki. Depan namanya saja ada Mr.-nya.

Saya tidak mengatakan, bahwa ia secara sengaja menampilkan sosok Aisyah hanya dalam tampilan fisiknya belaka;  yang cantik, yang manja dan yang romantis. Tetapi, kata para feminis, budaya patriarki bekerja di bawah kesadaran, karena saking kuatnya budaya ini membelenggu dunia.

Dalam dunia yang masih dipenjara budaya patriarki, seseorang biasanya lebih merasa nyaman menggambarkan perempuan dari sisi kecantikan, keromantisan, dan kemanjaannya,  dibandingkan menampilkannya sebagai sosok yang cerdas, kuat, dan bisa surfive. Penggambaran yang terakhir seakan menantang dunia patriarki.

Persis, di sinilah saya merasakan kehadiran Aisyah yang tidak utuh di lagu ini. Aisyah memang cantik. Tetapi, ia juga seorang istri Nabi SAW yang dikagumi kecerdasannya. Tidak hanya oleh para sahabat Nabi dan ulama, tetapi juga para orientalis.

Kecerdasan Aisyah diakui para sahabat. Hasyim bin Urwah, berdasarkan tuturan ayahnya,  menyebutkan:

“Aku pernah bersahabat dengan Aisyah. Saya tak pernah menyaksikan seorang pun yang lebih memahami suatu ayat yang turun, suatu sunah, atau sebuah syair—tidak pula ada yang lebih kuat dalam meriwayatkannya tentang hukum, dan memahami pengobatan dibandingkan Aisyah.”

Sebagai istri Rasulullah yang paham betul sisik melik Baginda Nabi,  Aisyah banyak mengetahui kebiasaan, perbuatan, amalan, dan sifat Rasulullah.

Hadis

Karena itu, Aisyah adalah salah satu di antara orang yang paling banyak meriwayatkan hadis. Sekitar 2210 hadis diriwayatkan oleh istri Rasulullah ini.

Aisyah berada di posisi ke empat, setelah Abu Hurairah dengan 5374 hadis, Abdullah bin Umar, 2630, dan Anas bin Malik, 2286 hadis.

Tak hanya sekadar meriwayatkan hadis. Aisyah pun paham konteks munculnya satu hadis. Karena itulah, jika ingin memahami Asbabul wurud hadits (sebab disabdakannya hadis), belajarlah pada Aisyah.

Hal ini dibuktikan Aisyah, ketika suatu saat ia mengkonfirmasi hadis yang diriwayatkan ibnu Umar:

Innal mayyita layu’adzdzabu bibukail hayyi.” (Sesungguhnya orang mati itu akan diazab sebab tangisan orang yang masih hidup). Hadis ini terdapat dalam Sahih Bukhari.

Kata Aisyah; Semoga Allah mengampuni Abu Abdirrahman (Ibnu Umar), memang benar perkataannya dan Nabi pernah bersabda demikian. Tetapi mungkin beliau lupa atau khilaf, sungguh Rasulullah Saw saat itu melewati jenazah wanita Yahudi yang ditangisi oleh keluarganya, lalu Rasulullah Saw bersabda: “Sungguh mereka menangisi si mayyit, sedangkan yang mati tetaplah diazab di dalam kuburnya.”

Aisyah menjelaskan konteks hadis pertama tadi, bahwa bukan tangisnya yang membuat seorang mayyit di azab, tapi karena dosanya.

Dengan kata lain, tangisan keluarga si Yahudi tadi sia-sia belaka. Sebab, jenazah wanita itu tetap akan diazab karena dosanya.

Keterpelajaran Aisyah dan kemampuannya sebagai seorang ahli hukum, hadis, dan tafsir, menurut Jan Goodwing, dalam Price of Honour: Muslim Women Lift the Veil of Silence on the Islamic World, diakui ulama-ulama Sunni.  Para sejarawan, demikian Goodwing, menyebutkan, seperempat dari hukum Islam berasal dari Aisyah.

Di syair yang lain, lagu itu menyebutkan, Aisyah biasa bermanja-manja dengan Rasulullah. Itu juga benar.

Aisyah biasa dipanggil oleh Rasulullah dengan sebutan romantis; “Ya… Humairah (wahai yang pipinya kemerah-merahan).” Tetapi, patut kita ketahui, Aisyah pun adalah perempuan yang siap menderita mendampingi perjuangan Rasulullah.

Suatu saat, Aisyah diberi hadiah 1.000 dirham oleh Muawiyah. Saat itu, Aisyah sedang berpuasa. Aisyah menerima seluruh hadiah itu, tetapi kemudian membagikan pula seluruhnya pada fakir miskin. Padahal, ia sendiri tidak memiliki apa-apa untuk berbuka.

Aisyah tidak merasa tertekan dengan penderitaan, dan tidak pula merasa susah dengan hidup bersahaja a la Rasulullah. Ia tidak mengkal hati, karena kemiskinan. Tidak pula bersuka ria,  lantaran kekayaan.

Soal ketangguhan? Sudahlah. Saya tak perlu ceritakan bagaimana Aisyah ikut menjadi pemimpin pasukan dalam perang Jamal, atau juga dikenal dengan Pertempuran Basrah.

Akan hal ketangguhan dan kecerdasan Aisyah, banyak buku yang mengulasnya. Salah satunya, “Buku Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam, Kisah Perjalanan Hidup Para Wanita Mulia yang Berperan Penting dalam Kehidupan dan Perjuangan Dakwah Rasulullah SAW.” Buku ini ditulis Bassam Muhammad Hamami.

Kita kembali ke persoalan lagu Aisyah Istri Rasulullah ini. Apakah betul ada masalah dengan lagu itu?  Tidak juga. Apa yang digambarkannya adalah memang sosok Aisyah, meski bukanlah Aisyah yang utuh.

Lagipula, orang senang mendengar lagu tertentu, dan tidak boleh dilarang-larang. Anda berani melarang,  bersiaplah didemo para ibu, termasuk ibu yang ada di rumah masing-masing?

Toh, kita juga tidak tahu, mengapa yang mendengarnya senang. Siapa tahu ada yang hanya senang dengan aransemennya yang ringan dan empuk didengar? Ada juga mungkin yang sekadar ingin membayangkan sosok keluarga bahagia a la Rasulullah dengan Aisyah.

Mungkin, melalui lagu itu pula, para penikmatnya menemukan sosok Aisyah dan Nabi Muhammad SAW sebagai halnya manusia pada galibnya.

Sosok yang mereka bisa jangkau dalam pikiran dan pengalaman sebagai manusia biasa. Bukan Aisyah yang terlalu cerdas, apalagi Muhammad SAW sebagai Nabi.

Mariah Al-Qibtyah

Kalau itu alasannya, perlu pula kita tahu, Aisyah bukan hanya manja dan romantis. Ia pun istri Nabi yang punya cemburu. Salah satu yang paling dicemburuinya adalah Mariah Al-Qibtyah.

Istri Nabi yang satu ini, sebagaimana dituturkan dalam Tarikh Ibn Katsir atau Al-Bidayah wa Nihayah, memang terkenal rupawan. Kulitnya putih, parasnya elok dan rambutnya ikal. Ia pun terkenal cerdas.

Lebih dari itu. Mariah Al-Qibtyah dilengkapi pekerti menawan dan budi yang dermawan. Betul-betul sosok yang sepantaran dengan Aisyah.

Aisyah pun cemburu. Suatu saat, ia memobilisasi istri-istri nabi. Para istri Nabi, di bawah pimpinan Aisyah menggelar protes. Nabi SAW diharapkan meninjau ulang waktu kebersamaannya dengan Mariah Al-Qibtyah.

Mereka juga meminta pembagian waktu bermalam yang adil di rumah-rumah istri Rasulullah.  Tentu “waktu bermalam yang adil” ini, dalam versi para pemrotes.

Pada dasarnya, Nabi SAW sudah adil dalam hal itu. Tetapi begitulah. Jika perempuan sudah cemburu, siapa pun, mestilah mendengarnya.

Di titimangsa yang lain, ketika Mariah Al-Qibtyah justru bisa melahirkan putra Nabi yang bernama Ibrahim, cemburu makin membara di dada istri-istri Rasulullah, termasuk pada diri Aisyah.

Ketika Nabi SAW membawa Ibrahim dan menunjukkan dengan gembira ke hadapan Aisyah sambil berkata: “Lihatlah betapa miripnya denganku. Aisyah menimpali dengan gemas; “Ia tidak punya kemiripan apa pun denganmu.”

Begitulah hubungan Nabi SAW dengan Aisyah di tengah derajat keluarga ini yang tinggi, ternyata kisah-kisah manusiawi tetap mewarnai hubungan keluarga ini.

Jalinan keluarga antara Nabi SAW dan Aisyah pun, ibarat roller coaster; naik dan turun. Kehidupan romantis, bahagia serta cemburu datang dan pergi silih berganti.

Begitulah kehidupan sebuah keluarga, dan yang paling penting bagaimana kita mengatasi dan menjalaninya. Rasulullah SAW dengan baik telah meneladankannya.

Sisi keluarga Nabi SAW yang demikian itu,  sesekali memang perlu diungkap. Dan, mungkin, sisi itulah yang ingin digambarkan dalam lagu “Aisyah Istri Rasulullah”, kendati pun rasanya, sekali lagi, kurang kafi.

Kalau ada yang pintar bikin lagu, cobalah bikin yang lebih utuh. Tetapi, katanya, versi Arabnya justru telah mencerminkan sosok Aisyah yang cerdas, ya?

Kalau begitu, yuk, kita dengarkan dan berdendang lagu “Aisyah Istri Rasulullah” ini dalam beragam versinya!  (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *