Thu. Oct 1st, 2020

BLAM

KEREN

Mindset “Displin” Itu Bukan a la Sekolah (Tanggapan Atas Tulisan Syamsurijal: “Disiplin a la Sekolah di Tengah Pandemi Corona”)

4 min read

Sumber gambar: portal.ditpsmk.net

2,845 total views, 2 views today

Oleh: Baso Marannu (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Apa yang dituliskan Syamsurijal di artikelnya di Website Balai Litbang Agama Makassar; blamakassar.co.id (https://blamakassar.co.id/2020/04/04/disiplin-a-la-sekolah-di-tengah-pandemi-corona/), pada 5 April 2020, bagi saya, sangat menarik.

Disiplin a la Sekolah di Tengah Pandemi Corona

Di tengah kesibukan peserta didik, pendidik (guru), dan orang tua menghadapi pendemi corona, mereka tetap belajar di rumah.

Ibarat cerita dalam sebuah film, orang tua berperan sebagai “pameran pengganti”, pendidik yang belum “sempat” hadir di lokasi “shooting”, karena harus patuh kepada “sutradara.”

Saya mengawali tulisan ini dengan mengutip pepatah China kuno yang begitu populer; “Bukan Kaki Kita yang Menggerakkan Kita, Tapi Pikiran Kita.”

Nah, berangkat dari pepatah tersebut, saya berharap Bang Ijhal (Syamsurijal), yang setahu saya banyak membaca Teori-teori Sosial kritis, sedikit menggiring pembaca untuk “lebih genit” terhadap pola pendidikan yang berkembang saat ini .

Tapi, bagi saya, itu sah-sah saja. Terlebih lagi, Syamsurijal telah lama berselancar di alam pikiran Michel Foucault dan Paulo Freire, yang selama ini keduanya dikenal sebagai pemikir kritis.

Pada bagian awal, Syamsurijal mengambarkan tentang sebuah video yang beredar luas di media sosial mengenai seorang ibu yang mengajar anaknya di rumah.

John Naisbitt, dalam bukunya, Mindset (2007), melakukan prediksi-prediksi yang hampir menjadi kenyataan saat ini. Padahal, ia menulis buku tersebut sudah cukup lama, yaitu sekitar 2006.

Pada bagian pembahasan mengenai budaya, tertulis “Haruskah kita mengucapkan selamat tinggal dunia”, tulis Gutenberg, dan “selamat datang dunia visual MTV” (saya tambahkan dunia visual youtube).

Saat ini, dunia sangat dipengaruhi faktor visual, mulai seni, arsitektur, fashion kelas atas, dan desain barang-barang biasa. Menurut penulis, sekarang ini adalah dunia youtube, sebuah dunia di mana narasi visual mengalahkan narasi lateral.

Pola Pikir

John Naisbitt berpendapat, pola pikir saat ini dan di masa mendatang berlaku tiga hal, sebagai berikut:

Pola pikir #1: Meski banyak hal berubah, kebanyakan hal tetap konstan;

Pola Pikir #2: Masa depan tertanam di masa sekarang;

Pola Pikir #3: Jangan lupakan Ekologi Teknologi.

Tentu, pola pikir “visual” ini tetap “seksi” untuk didiskusikan hingga saat ini, walaupun terkadang masih ada yang salah persepsi. Sehingga, penggiringan opini dari sebuah media visual harus super hati-hati. Semoga ilustrasi awal tulisan Syamsurijal tidaklah demikian.

Sementara itu, Michael Backman (2008), dalam bukunya, Asia Futura Shock, sudah menuliskan, internet saat ini dimanfaatkan oleh rezim-rezim otoriter Asia untuk menguping, dan memburu para pembangkan, serta semakin ketat mengawasi arus informasi.

Pada bagian ini, saya ingn menyampaikan, bahwa dunia pendidikan harus dilihat dari sudut nilai (value) yang ditawarkan.

Pada bagian lain, Syamsurijal menuliskan sebuah pertanyaan, yang sebenarnya lebih mirip pernyataan;

“Tahukah Anda, bahwa sesungguhnya sekolah tengah mempraktikkan penghukuman dan disiplin a la penjara? Hal mana yang menjadi objek terhukumnya adalah siswa. Dan, di tengah situasi pandemi corona ini, ketika anak-anak sekolah sedang belajar dari rumah, proses itu terpampang dengan gamblang di depan kita.”

Jika dilihat secara proses, dari sudut pandang orang tua yang mulai “sumpek” dan “gregetan” dengan semua tingkah anak-anak selama mendampingi anaknya belajar di rumah, boleh jadi, apa yang dituliskan di atas seolah pembenaran dengan istilah “penghukuman dan disiplin a la penjara?”

Akan tetapi, hal ini bisa membuat “bom bunuh diri” bagi orang tua, karena mereka dipandang tidak bisa memberikan penjelasan yang baik, dan menikmati “peran pengganti” sementara.

Dan,  (maaf), bila ini terus dikembangkan, institusi pendidikan (baca:sekolah) seolah akan menjadi tumpuan kesalahan.

Kita boleh saja berpikir tentang “kebebasan berpikir”, sebagaimana yang kembangkan Pablo Freire. Karena itu, saya pun sependapat dengan beberapa hal yang dituangkan Syamsurijal.

Namun, penggiringan opini mengaitkan “visualisasi yang lateral” harus memberikan penjelasan yang lengkap, dan tidak boleh setengah-setengah.

 Pada akhir tulisan, Syamsurijal menuliskan; “Corona lagi-lagi menyingkap salah satu borok dari dunia sekolah kita. Melalui pembelajaran dari rumah itu, kita bisa melihat secara terang bagaimana proses pendisiplinan itu berlangsung,  dan anak didik kita dijadikan objek sedemikian rupa.”

Opini

Nah, inilah yang saya maksudkan dengan penggiringan opini, yang saya ungkapkan di awal tulisan ini. Makanya, saya kemudian memberi judul artikel ini “Mindset “Displin” Itu a la Syamsurijal, Bukan a la Sekolah.”

Alasannya, sekolah beda dengan rumah. Kalaupun dalam proses belajar di rumah selama wabah corona, lantas ada pemikiran disiplin dan hukuman yang dipersepsikan seolah itulah kenyataan yang terjadi di dunia pendidikan kita, itu cuma persepsi a la Syamsurijal. Semoga saja saya keliru menafsirkan.

Ah, saya kok jadi ngelantur. Maaf, Bang Ijhal. Tapi, sekali lagi, saya salut dengan tulisan tersebut.

Mungkin, saat ini, saya lagi membaca buku-buku positif saja, yang ditulis oleh anak bangsa, yaitu Dr. Hery Margono, yang menuliskan “The real Secret to Balance Your Life, dan Sumardiyanta tentang “Mendidik Generasi Z dan A”.

Salah penulis? Tentu saja, bukan. Atau, kesalahan sistem pendidikan kita yang tidak membebaskan ini? Juga, bukan. Lantas, kira-kira salah siapa? Kesalahan mindset kita. Begitulah,  kira-kira. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *