Sat. Dec 5th, 2020

BLAM

KEREN

Melihat Kemesraan Orang Kokoda Beda Agama di Sorong; “Kita Ini Lahir di Atas Adat”

8 min read

Penulis bersama orang Kokoda di Kota Sorong. Foto: Istimewa

3,627 total views, 6 views today

Oleh: Muh. Irfan Syuhudi (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Papua dikenal dengan keragaman sukunya. Salah satunya, Kokoda. Sejak wilayah Papua terbagi dua, Kokoda kemudian masuk ke dalam wilayah geografis Provinsi Papua Barat. Suku Kokoda sendiri berasal dari Kabupaten Sorong Selatan.

Ali Athwa (2004), dalam bukunya, “Islam atau Kristenkan Agama Orang Irian”, menjelaskan, kata Kokoda memiliki arti danau atau rawa-rawa, yang di sekelilingnya terdapat tanaman sagu, yang merupakan makanan pokok mereka.

Dalam percakapan sehari-hari di antara mereka, orang Kokoda sering menggunakan bahasa aslinya, Yamueti, meski berada di luar perkampungan mereka (di tanah rantau).

Suku Kokoda berasal dari beberapa sub suku yang menyatu ke dalam satu wilayah, seperti suku Migori, Kasweri, Siwatori, Tarof, Nebes, Udagaga, Benawa, dan Tambani.

Orang Kokoda yang berada di Kota Sorong dan Kabupaten Sorong merupakan induk dari perkampungan Kokoda asli.

Mereka merantau, karena menganggap kampung halaman kurang menyediakan lagi banyak lahan pekerjaan yang bisa menghasilkan uang. Dengan merantau, mereka juga ingin merasakan hidup sejahtera, atau pendapatan lebih baik.

Imekko

Bila dihubungkan dengan kenyataan asal usulnya tentang adat istiadat dan bahasa, penyebutan suku Kokoda memiliki arti yang menunjukkan sejumlah suku, yang diikat dengan satu wilayah Inanwatan, yaitu suku IMEKKO, yang merupakan gabungan dari empat suku bangsa, yaitu Inanwatan, Metemani, Kais, Kokoda. Setiap suku tersebut memiliki bahasa berbeda.

Sejarah bergabungnya empat suku bangsa dalam wadah IMEKKO telah berlangsung sejak masa Belanda. Mereka bergabung sebagai modal sosial dan penguatan kultural politik menghadapi kelompok luar (suku lain).

Sebagai suku yang berasal dari wilayah sama, ada semacam kekuatan primordial dan ikatan emosional, serta kepentingan bersama, yang mengikat mereka untuk bersatu di bawah satu wilayah induk, yang mereka sebut Inanwatan.

Kekompakan dan persekutuan mereka saat itu belum dalam bentuk formalitas, dan punya nama seperti sekarang ini.

Pada 1962, beberapa tokoh adat dari Inanwatan berkumpul di Sorong, dan membicarakan tentang pentingnya meresmikan persekutuan dalam sebuah organisasi formal.

Setelah melalui diskusi panjang beberapa tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat, mereka pun membentuk persekutuan, yang kemudian diberi nama IMEKKO, yang di dalamnya terdiri empat suku bangsa tadi. Gustak Fatari terpilih menjadi Ketua Umum IMEKKO pertama.

Essau Gogoba, Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) IMEKKO dan Ketua LMA Kokoda Sorong Raya, yang saya temui di Sorong, Maret 2019, mengemukakan, sebenarnya ada 12 suku di wilayah Inanwatan. Namun, hanya empat yang dimasukkan.

Alasannya, ini untuk memudahkan mengingat penyebutan nama singkatan. Walau begitu, posisi dan status sosial delapan suku lain, yang terdapat dalam wilayah Inanwatan, tetap diposisikan sejajar. Aspirasi mereka tetap didengarkan, diperhatikan, dan ditindaklanjuti.

Saya melihat, IMEKKO ini semacam paguyuban, yang diibaratkan perkumpulan bagi orang-orang Sulawesi Selatan dari beragam kabupaten di tanah rantau, yang kemudian tergabung dalam Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan.

Relokasi

Suku Kokoda dalam tulisan ini adalah yang menetap di kilometer delapan, Kota Sorong, yang kerap disebut “Kokoda Babul Jannah”. Cukup banyak Komunitas Kokoda di Kota Sorong. Mereka tersebar di beberapa titik lokasi.

Selain di kilometer delapan, mereka juga ada di Rufei (kilometer tiga), Victory (kilometer 10), kilometer tujuh dekat bandara, dan Babul Jannah (kilometer delapan).

Nama-nama tersebut mengacu kepada letak posisi lokasi pemukiman tersebut (di kilometer delapan). Hal ini serupa juga dengan sebutan “Komunitas Kokoda Victory”, yang pemukimannya berdekatan Kampus Victory, dan sebagainya.

Dari sekian persebaran tersebut orang Kokoda, Kokoda Babul Jannah dipandang sebagai “pusat” atau induk Kokoda wilayah Sorong Raya. Selain dari segi jumlah penduduk tercatat paling banyak, beberapa tokoh penting Kokoda juga menetap di sini.

Sebelum menetap di Babul Jannah, orang Kokoda tinggal di kilometer tujuh, Sorong, di areal bandara, sejak awal 1950-an.

Di kilometer tujuh ini, mereka hidup rukun dan damai bersama suku lain, seperti Seram, Ambon, Buton, Merauke hingga dipindahkan ke tempat lain.

Setelah pemerintah memutuskan merenovasi bandara pada 1995, semua penduduk dipindahkan di beberapa lokasi secara bergelombang di seputaran Kota Sorong dan Kabupaten Sorong.

Relokasi ini membuat orang Kokoda terbagi di beberapa titik lokasi. Orang Kokoda, yang akhirnya menjadi penghuni Babul Jannah, dipindahkan ke sebuah lahan kosong, di kilometer delapan pada 1995.

Lahan kosong ini milik warga keturunan Tionghoa-Manado, Arisusanto, yang mereka sapa “Ongko”.

Saat itu, kondisinya di lokasi ini banyak pohon besar dan kali, dan belum ada penduduk. Jadi, boleh dibilang, orang Kokoda merupakan penduduk pertama yang mendiami kawasan ini.

Mereka pula yang bergotong-royong membabat habis pohon-pohon besar, meratakan tanah, dan menimbuni sebagian kali. Mereka bekerja keras tanpa mengenal lelah dari pagi hingga menjelang malam.

Setelah kondisinya memungkinkan untuk ditempati, orang Kokoda mulai membangun rumah kayu (pondok) untuk ditinggali bersama keluarga dan kerabat, sambil terus menerus bekerja memperbaiki kondisi perkampungan mereka.

Perlahan tapi pasti, kawasan ini akhirnya mulai ramai sejak awal 2000-an, di mana tidak hanya orang Kokoda yang berdomisili di sini, melainkan juga suku-suku lain di luar Papua.

Babul Jannah

Lalu, mengapa dikenal dengan sebutan “Kokoda Babul Jannah?” Sebenarnya, tidak ada yang memberikan nama khusus seperti itu. Ia terjadi begitu saja dengan sendirinya.

Babul Jannah merujuk kepada nama satu-satunya masjid yang berdiri di tengah-tengah pemukiman di dalam komunitas ini.

Nama masjid inilah yang kemudian kerap dijadikan rujukan oleh masyarakat Sorong, bila ingin menyebut komunitas Kokoda yang berada di Jalan Basuki Rahmat, kilometer delapan.

Lambat laun, penyebutan tersebut merepresentasikan dan melekat dalam ingatan masyarakat Sorong. Ini diperkuat lagi dengan pemberitaan media-media lokal, yang acap kali menyebut Babul Jannah untuk merujuk komunitas ini.

Menariknya, kendati di balik nama Babul Jannah melekat identitas Islam, Kokoda Kristen yang menetap di kawasan ini, sejauh ini tidak mempermasalahkan penyebutan tersebut.

Padahal, dari segi jumlah penganut agama, Kokoda Kristen terhitung lebih banyak (dibanding Kokoda Muslim).

Sejumlah orang Kokoda Kristen menganggap, penyebutan nama pemukiman tersebut tidak berkorelasi dengan relasi agama di antara sesama mereka. Kata mereka, “Terserah orang mau bilang apa, kami (pengikut Islam dan Kristen) tetaplah bersaudara.”

Pada akhirnya, penamaan komunitas ini menjadi Babul Jannah, juga dikaitkan dengan sejarah berdirinya rumah ibadat, di mana masjid duluan dibangun ketimbang gereja. Masjid selesai dibangun 1997, sedangkan gereja selesai dibangun 2005.

Kelurahan Klasabi

Secara geografis, Kokoda Babul Jannah masuk wilayah Kelurahan Klasabi, Distrik (kecamatan) Sorong Manoi, Kota Sorong.

Di Babul Jannah terdapat satu RW dan enam RT. Jumlah penduduknya pada 2018 diperkirakan 4.000 jiwa lebih, dan Kokoda merupakan suku terbanyak, yaitu sekitar 3.000-an jiwa. Sisanya adalah suku lain, seperti Jawa, Bugis, dan Buton.

Bila didasarkan pada penganut agama di dalam kawasan ini, jumlah pemeluk Kristen dan Islam seimbang. Namun, bila dikhususkan lagi kepada sesama Kokoda, Kokoda Kristen lebih banyak dibanding Kokoda Islam.

Komunitas Babul Jannah tergolong ramai. Masyarakatnya pun heterogen. Ketua Remaja Masjid Babul Jannah, Jalil Usman Wugaje, menyatakan, pada awal-awal berdirinya perkampungan ini, semua penduduknya orang Kokoda.

Karena perkembangan kota dan pertambahan penduduk yang sulit dibendung, ditambah interaksi sosial orang Kokoda dengan orang-orang di luar kelompok mereka, pemukiman ini pun menjadi heterogen (dari segi etnis dan agama).

Selain Masjid Babul Jannah, ada juga sebuah gereja di perkampungan ini. Namanya, Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua Anggota Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Klasis GKI Sorong Jemaat Galilea kilometer 9,5.

Orang Kokoda Kristen beribadah di gereja ini. Persis di samping gereja, terdapat sebuah bangunan, yang di dinding bagian depannya tertulis “Gedung Sekolah Minggu Pendidikan Anak Usia Dini Jemaat GKI Galilea Kilometer delapan.”

Gereja GKI Galilea terletak di bagian dalam. Warga yang berdomisili di sekitar gereja tidak hanya Kokoda Kristen, melainkan juga orang Kokoda Islam, dan orang Islam dari suku lain.

Letak rumah-rumah di perkampungan ini, tidak berdasarkan segregasi agama. Orang Kokoda meyakini, segregasi pemukiman berdasarkan agama dapat menimbulkan perpecahan di antara mereka. Mereka menghindari ada penyebutan istilah “Kampung Islam” atau “Kampung Kristen”.

Karena itu, ketika orang Kokoda mulai memeluk Kristen, para leluhur mereka selalu berpesan untuk selalu tinggal bersama, serta mengutamakan kebersamaan tanpa melihat identitas agama. Dan, aturan tersebut juga diikut oleh suku lain di dalam pemukiman ini.

Rumah Ibadat

Saat saya menanyakan apa yang menyebabkan mereka hidup rukun damai, mereka menjawab;

“Kita ini sejak turun temurun, dari nenek moyang sudah rukun. Agama itu tujuannya satu. Biarpun berbeda-beda agama, tetapi tujuan tetap satu. Kita ini lahir di atas adat.”

Kutipan pernyataan ini dikemukakan Basri (35), orang Kokoda di Babul Jannah. Pernyataan ini sekaligus menjadi representasi masyarakat Kokoda bila ditanyakan alasan mereka bisa hidup dan damai sampai sekarang.

Bagi orang Kokoda, adat adalah segalanya. Yang menyatukan mereka adalah adat peninggalan leluhur mereka.

Untuk lebih jelasnya tentang praktik kerukunan umat beragama di dalam Komunitas Kokoda, saya akan mengisahkan sebuah cerita sebagai “pintu masuk” untuk melihat kehidupan beragama masyarakat Kokoda melalui pembangunan rumah ibadat di dalam komunitas mereka.

Sebelum pembangunan rumah ibadat, terjadi dialog-dialog aktif lintas agama, dan kerjasama aktif selama proses pembangunan rumah ibadat.

Ketua panitia pembangunan masjid dipegang oleh orang Kokoda Kristen, dan sebaliknya, kepala tukang pembangunan gereja adalah orang Kokoda Islam, yang sama-sama tinggal di komunitas tersebut.

Essau Gogoba, menyatakan, warga berdebat untuk menentukan rumah ibadat siapa yang akan dibangun duluan. Orang Islam bilang gereja duluan, sedangkan orang Kristen bilang masjid duluan dibangun.

Meskipun begitu, siapapun nantinya yang dibangun duluan, mereka semua akan membantu hingga selesai.

Karena terjadi perdebatan, Essau Gogoba kemudian mengambil alih, dan menyatakan, bahwa mereka akan membangun masjid duluan, karena Islam merupakan agama resmi pertama yang dianut orang Kokoda.

Essau Gogoba sendiri adalah pemeluk Kristen. Dalam beberapa kali mengobrol dengan saya, ia selalu menyatakan, dalam darahnya terdapat darah Islam.

Rupanya, sebelum memeluk Kristen, ayahnya sempat memeluk Islam. Ayahnya konversi ke Kristen untuk melaksanakan tradisi “berbagi agama” di dalam komunitasnya.

Tradisi inilah yang di kemudian hari ikut melahirkan, dan menciptakan beberapa tradisi dan kearifan lokal. Tidak hanya antarsesama orang Kokoda dan IMEKKO, melainkan juga dengan suku lain.

Pendirian rumah ibadat di dalam komunitas ini cukup menarik. Sebab, orang Kokoda dari beragam agama terlibat aktif mendirikan masjid dan gereja.

Ketua panitia pembangunan masjid dipegang oleh orang Kokoda Kristen. Sebaliknya, kepala tukang pembangunan gereja adalah orang Kokoda Islam, yang sama-sama tinggal di komunitas tersebut.

Setelah setahun menetap di kilometer delapan, pada tahun berikutnya (1996), masyarakat Kokoda merencanakan mendirikan rumah ibadat.

Mereka berpendapat, rumah ibadat sebaiknya didirikan di dalam lingkungan tempat tinggalnya, supaya mereka tidak perlu jauh-jauh pergi beribadah.

Namun, pertanyaannya kemudian, rumah ibadat mana yang duluan dibangun. Apakah masjid atau gereja?

Suara masyarakat Kokoda pun terbelah. Mereka berdebat panjang. Yang menarik dari perdebatan tersebut adalah, mereka tidak berdebat terkait memperjuangkan rumah ibadat agama masing-masing.

Mereka justru berdebat agar rumah ibadat agama lain yang duluan didirikan. Misalkan, orang Kristen menghendaki masjid saja duluan dibangun. Begitupula sebaliknya, orang Islam menginginkan gereja duluan didirikan.

Di tengah keributan tersebut, sekaligus mencarikan solusi terbaik, mereka pun menggunakan tradisi yang berlaku di dalam suku Kokoda. Mereka kemudian menyinggung sejarah masuknya Islam dan Kristen ke dalam komunitasnya.

Selain itu, mereka juga menerima nasihat dari orang-orang tua di kampung, agar mengambil keputusan (pendirian rumah ibadat) berdasarkan kepada sejarah masuknya kedua agama tersebut di dalam komunitas mereka.

Para orang tua di kampung lalu mengingatkan kembali, bahwa agama Islam lebih duluan masuk ke Kokoda, dan Islam pula merupakan agama (resmi) pertama yang dianut orang Kokoda.

Alhasil, tidak ada lagi perdebatan. Semua masyarakat sepakat mendirikan masjid terlebih dulu, dan kemudian diberi nama Babul Jannah.

Setelah masjid berdiri dan sudah bisa digunakan, selanjutnya direncanakan pembangunan gereja. Sebelum memeluk Islam dan Kristen, orang Kokoda menganut agama lokal, yang disebutnya “agama adat”. Mereka menyembah pohon-pohon besar dan goa.

Proses pembangunan masjid berlangsung selama setahun. Dimulai 1996, dan selesai tahun berikutnya, 1997. Sementara, pembangunan gereja dimulai 2005, dan selesai pada 2006.

Sama seperti masjid, pembangunan gereja juga dilakukan oleh warga Kokoda Kristen dan Islam secara bergotong royong hingga selesai. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *