Thu. Sep 24th, 2020

BLAM

KEREN

Partisipasi Kecil Berskala Besar

5 min read

Sumber gambar: AyoSemarang.com

4,499 total views, 2 views today

Oleh: Saprillah (Kepala Balai Litbang Agama Makassar)

Kita tengah menghadapi badai. Kecil dan imut tetapi berbahaya. Badai ini sedang mengancam eksistensi kita sebagai masyarakat modern.

Virus kasat mata ini sanggup menembus dinding politik, ekonomi, sosial, dan tentu saja,  kesehatan. Ketahanan nasional berbagai negara sedang diuji. Seberapa kuat menghadapi wabah virus imut ini? Itulah pertanyaan pentingnya sekarang.

Berbagai esai telah menunjukkan, negara dengan sistem totaliter dan sistem kesehatan yang terkendali, lebih cepat pulih seperti Kuba dan China. Negara dengan geografis kecil dan tingkat kesejahteraan ekonomi mapan seperti Swiss, juga ternyata lebih cepat pulih.

Sedangkan negara berpenduduk besar seperti Amerika, India, dan Indonesia, sedang mengalami masalah serius. Populasi yang besar adalah persoalan dalam situasi sekarang.

Penyakit ini mengubah peta persoalan. Dari kesehatan menuju ekonomi. Semakin lama virus ini menyebar di suatu negara, ketahanan ekonominya semakin terancam.

Yuval Noah Harari benar. Bahwa, tak satupun negara yang menduga, sistem kesehatan adalah sistem yang paling rentan terhadap serangan. Sebelum ini, perhatian negara-negara pada pengendalian ekonomi dan stabilitas politik.

Tidak banyak isu yang menyebutkan, sistem kesehatan sebagai bagian dari sistem pertahanan nasional yang sangat strategis.

Menengok Indonesia

Virus ini adalah virus impor. Penanganannya pun mengadaptasi cara-cara negara yang telah terpapar terlebih dahulu.

Social distancing (saya lebih menyukai istilah ini ketimbang phsycal distancing), rapid mass test (tes massif yang cepat), serta lockdown adalah pilihan yang telah dilakukan di berbagai negara.

Indonesia sebagai negara yang baru terpapar di Bulan Maret (dengan indikator pengumuman dari Presiden Jokowi) cukup beruntung, karena bisa menyaksikan dan belajar cara pengelolaan dari berbagai negara.

Tindakan pemerintah untuk memilih social distancing, atau sekarang diperluas dengan istilah pembatasan sosial berskala besar, adalah pilihan yang paling sesuai di Indonesia (mungkin bukan yang terbaik dalam mencegah virus), secara sosial, kultural, dan ekonomi.

Presiden Jokowi tepat mengambil kebijakan ini. Virus ini bukan sekadar masalah kesehatan,  tetapi juga berimplikasi pada masalah ekonomi.

Sebagian besar masyarakat Indonesia memahami bagaimana kondisi ekonomi nasional yang sangat rentan terhadap resesi dan krisis global. Tema-tema kampanye politik setiap saat masih beroreintasi pada politik pemberdayaan.

 Isu sekolah gratis, kesehatan gratis, subsidi, dan pemberdayaan ekonomi adalah pembenaran,  bahwa negara kita memang bermasalah secara ekonomi.

Pilihan untuk lockdown yang mulai disuarakan berbagai kalangan sejak virus ini muncul di Indonesia, adalah pilihan yang kurang pas untuk Indonesia.

Ibarat ukuran baju, Indonesia akan kedodoran memakai baju dengan model lockdown. Apa yang terjadi di India adalah potret dari kebijakan lockdown yang terburu-buru.

Kalau Presiden Jokowi latah menggunakan sistem lockdown, sangat terbuka kemungkinan krisis kemanusiaan muncul. Dan, itu bisa menjadi tragedi yang sangat mengerikan.

Gerakan social distancing di Indonesia sebenarnya bisa dikategorikan efektif menghadang pergerakan virus ini. Memang, ada penambahan setiap hari. Tetapi, itu tidak sesignifikan yang terjadi di Italia, Spanyol, dan Amerika. Apalagi jumlah populasi penduduk di Indonesia sangat besar.

Pergerakan pengaruh virus ini masih berada dalam situasi yang sesuai prediksi para ilmuwan. Di beberapa kota, pertambahan jumlah penderita cenderung lamban. Kecuali, di wilayah kota besar yang tampak mengalami penambahan jumlah penderita yang relative signifikan.

Ini berarti, social distancing telah berada di jalur yang tepat untuk melawan Covid-19. Tetapi, tentu saja, hal itu tidak bisa membuat kita cepat puas.

Data statistik menunjukkan, tingkat kematian akibat virus ini cukup mengkhawatirkan. Secara persentasi, korban meninggal dunia (hingga tulisan ini dibuat) sedang mendekati angka 10%.

Partisipasi Kecil, Cepat, dan Diperluas

Sistem social distancing di Indonesia bisa disebut berhasil karena terlibatnya masyarakat dalam berkampanye.

Pesan #dirumahaja yang bertujuan saling mengingatkan muncul di media sosial tanpa kenal waktu. Berbagai kreativitas juga muncul. Tindakan para tokoh agama dengan cepat meniadakan Salat Jumat sangat tepat menahan laju perkumpulan orang.

Meski tindakan ini, di beberapa kelompok kecil mendapatkan perlawanan. Pun, beberapa masjid masih menggelar Salat Jumat. Tetapi imbauan MUI yang didukung semua kelompok agama,  menunjukkan bagaimana masyarakat sipil memiliki peran penting dalam konteks ini.

Beberapa kelompok sipil bergerak menggalang dana sejak lama. Meski pergerakan sumbangan tidak bisa mengalahkan kecepatan penyebaran virus, partisipasi ini sangat dibutuhkan.

Kebutuhan terhadap APD dan alat kesehatan seperti masker dan hand sanitizer meningkat statusnya menjadi kebutuhan pokok.

Penggalangan dana ini, setidaknya, bisa membantu para tenaga kesehatan, dan juga masyarakat yang membutuhkan tindakan bantuan secara cepat dan juga tepat.

Partisipasi konvensional saat ini harus segera diubah petanya. Penggalangan dana via media sosial tetap harus dilanjutkan sebagai cadangan. Namun, kita tidak cukup terlibat dengan menyumbang dan menganggap persoalan selesai.

Saya memiliki pengalaman. Untuk mengumpulkan dana di bawah sepuluh juta, dibutuhkan waktu paling cepat dua sampai tiga hari. Atau, kalau ingin mengumpulkan lebih banyak, butuh waktu yang lebih panjang.

Virus ini bekerja cepat dan mengancam berbagai kelompok masyarakat juga dengan cepat. Cara-cara partisipasi konvensional harus dibarengi dengan tindakan sederhana.

Saya membayangkan, apabila semua kompleks perumahan, toko-toko kelontong, pedagang dadakan menyediakan tempat cuci tangan di seluruh Indonesia. Saya meyakini penyebaran virus ini bisa dikurangi beberapa persen.

Tindakan ini bisa dilakukan dalam hanya hitungan jam dan perannya nyata. Situasi sedang darurat, dan kita harus mengikuti sifat kedaruratan ini dengan melakukan tindakan kecil yang cepat.

Mungkin, di situasi normal, tindakan ini tidak penting. Tetapi, di situasi darurat berdampak besar.

Di tengah kampanye stay at home yang mulai disusul dengan status “bosan di rumah”, kita harus segera mengubah peta gerakan. Perubahan istilah dari social distancing ke physical distancing oleh WHO, adalah penanda tidaklah haram keluar rumah untuk kepentingan mendesak.

Dengan catatan, jarak fisik harus diperhatikan. 1 sampai 2 meter adalah jarak fisik yang disarankan. Kode keras ini bukan berarti pembenaran untuk kongkow di warkop.

Namun, ruang yang bisa kita gunakan untuk keluar sejenak menengok kemungkinan kecil yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan virus minimal di lingkungan kita sendiri.

Sudah saatnya, kita bekerja untuk lingkungan. Sudah terlalu lama kita “terpisah” dari lingkungan tempat tinggal kita.

Kesibukan di kantor yang memaksa kita bekerja hingga kelelahan, dan menyebabkan kesempatan kita untuk menengok dan bercengkrama dengan tetangga, semakin kurang. Ini saat terbaik untuk menginstal ulang hubungan sosial dalam lingkungan tetangga.

Ruang sosial harus dikreasi sedemikian rupa dengan mewujudkan satu tindakan kecil, dengan memasang tempat cuci tangan, membuatkan masker dari kain, atau tindakan kecil lainnya, yang relevan dengan karakter lingkungan kita.

Ketika pemerintah sedang menerapkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar, ada baiknya diiringi dengan partisipasi kecil berskala besar.

Sembari mengusir kebosanan di rumah, juga untuk menginisiasi tindakan kecil untuk mencegah penyebaran virus lebih besar. Bayangkan apabila separuh dari populasi Indonesia bergerak demikian. Virus ini bisa kita lawan.

Partisipasi adalah kuncinya. Kita harus mengubah peta, bahwa populasi yang besar bukanlah persoalan, tetapi benar-benar kekuatan.

Dan, untuk urusan kampanye kreatif, orang Indonesia patut diandalkan! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *