Thu. Oct 1st, 2020

BLAM

KEREN

Wabah Corona dan Narasi Akhir Zaman

4 min read

Sumber gambar: republika.co.id

7,982 total views, 6 views today

Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Narasi Akhir Zaman

Nalar agama yang menghinggapi sebagian manusia senantiasa berusaha menjelaskan fenomena,  atau kejadian luar biasa sebagai salah satu tanda dari langit.

Sikap ini tidak terbatas pada umat agama tertentu saja, melainkan menghinggapi sebagian umat dari semua agama. Sikap menggunakan tafsir teks (ayat) suci dan mengaitkannya dengan fenomena tertentu sebagai tanda akhir zaman.

Konsep akhir zaman menjadi salah satu inti ajaran dari berbagai agama, bahkan kepercayaan lokal. Setiap ajaran memberikan ramalan mengenai tanda-tanda menjelang akhir zaman tersebut.

Ramalan tersebut ada yang bersifat eksplisit dan implisit. Konsep akhir zaman di berbagai agama, bahkan melahirkan banyak sekte dan gerakan keagamaan sejak ratusan, bahkan ribuan tahun lalu.

Masa akhir zaman tersebut dinubuatkan sebagai masa penuh huru-hara dan kekacauan. Umumnya meyakini, bahwa akhir zaman ditandai pertarungan antara kebaikan melawan kejahatan.

Personifikasi kebaikan dalam sosok yang disebut Imam Mahdi, Messiah, Ratu Adil, Maitreya dan lain-lain. Sedangkan personifkasi keburukan disebut dengan nama Dajjal (Islam), atau Antikris (Kristen).

Doktrin tentang narasi akhir zaman yang dikaitkan peristiwa besar tertentu, yang sifatnya global, atau sebuah peristiwa langka yang luar biasa.

Wabah penyakit yang sifatnya global (pandemi) adalah di antara isyarat, yang disebut-sebut sebagai salah satu tanda akhir zaman.

Corona: Tanda Akhir Zaman

Hal tersebut tampak terlihat pada fenomena wabah corona saat ini. Massif dan cepatnya wabah corona menjadi pandemi dunia di awal 2020, memicu tafsir sebagian kalangan agama yang mengaitkan pandemi corona sebagai salah satu tanda akhir zaman.

Pandemi corona hari ini, oleh sebagian agamawan menafsirkan, sebagai salah satu tanda akhir zaman. Di kelompok Kristen, ada yang meyakini corona sebagai pertanda kedatangan antikris,  dan di sebagian kalangan Muslim corona dipandang sebagai konspirasi menjelang kedatangan Dajjal.

Di kalangan Hindu pun, ada yang menafsirkan wabah corona sebagai “avatar yang mengamuk”, sebuah inkarnasi Tuhan untuk menghukum manusia-manusia serakah. Konsep ”avatar mengamuk” ini mirip dengan narasi seorang ustaz, yang menyebut corona sebagai “tentara Allah”, yang diutus untuk menghukum musuh-musuh Allah.

Corona akhirnya tidak sekadar problem medis. Namun, bertransformasi menjadi diskursus teologis, khususnya teologi messianik.

Beberapa kelompok agamawan juga mengklaim, keyakinan mereka telah memprediksi datangnya bencana corona sejak berabad-abad silam. Akhirnya, wabah corona kemudian dijadikan dalil untuk memperkuat klaim atas kebenaran keyakinan yang dianut masing-masing penganut agama.

Tafsir atas wabah corona sebagai tanda akhir zaman tentu saja tidak berdiri sendiri. Pandemi corona dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa besar dan langka lainnya. Banyaknya bencana yang terjadi susul-menyusul, tatanan sosial dunia yang dianggap semakin materialistis, dan kacau.

Kosongnya tempat-tempat suci dari umat, semisal Kakbah yang hari ini kosong (tidak ada yang tawaf) dan kemungkinan ditiadakannya haji tahun ini.

Prediksi asteroid yang akan “menabrak” bumi di bulan Ramadhan. Merupakan dua peristiwa langka yang semakin menguatkan keyakinan akan keterkaitan wabah corona dengan akhir zaman.

Benarkah corona sebagai tanda akhir zaman sudah dekat? Tentu hanya Allah yang mengetahui. Dengan atau tanpa wabah corona pun, akhir zaman pastilah semakin mendekat. Bukan semakin menjauh.

Tanda yang Berulang

Membaca tanda-tanda kiamat adalah keniscayaan sebagai umat beragama. Hal tersebut guna meningkatkan keimanan kepada Allah dan berimplikasi pada peningkatan amal saleh.

Namun, hal yang perlu diingat, seperti apa pun prediksi tentang tanda-tanda kiamat dihubungkan dengan teks suci, tetaplah sebuah narasi yang bersifat spekulatif.

Pada sebagian kasus kelompok messianik, justru memicu keyakinan akan kebenaran tunggal kelompoknya dan memojokkan golongan lain, yang tidak sepaham sebagai kelompok yang tidak selamat atau kelompok yang harus diselamatkan.

Peristiwa-peristiwa yang dianggap sebagai tanda-tanda akhir zaman jika ditilik dalam sejarah telah terjadi berulang-ulang. Baik tanda-tanda alam maupun sebuah peristiwa sosial. Sehingga,  tanda dari peristiwa yang terjadi hari ini, termasuk wabah corona, tak dapat dijadikan dalil untuk menyebutnya tanda akhir zaman.

Kosongnya Kakbah dari orang bertawaf, dan ditiadakannya haji, karena situasi genting atau adanya bencana dan wabah. Meski merupakan peristiwa langka, telah terjadi beberapa kali sebelumnya.

Demikian pula kaitannya dengan wabah pandemi. Dalam sejarah, telah terjadi pandemi yang lebih dahsyat dari corona. Serangan pandemi maut hitam (black death) di abad 14 menyerang Eropa dan Asia.

Selama empat tahun (1347-1351), wabah tersebut membunuh 75 juta manusia,  atau sekitar sepertiga dari populasi dunia pada masa itu.

Wabah flu Spanyol di tahun 1918 juga menjadi pandemi dunia yang membunuh 50 juta jiwa atau sekitar 5% dari populasi dunia di awal abad 20. Tentu saja masih ada beberapa pandemi lainnya yang terjadi di dunia pada masa-masa sebelumnya.

Refleksi Kritis

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mendekonstruksi keyakinan agama mengenai akhir zaman dengan berbagai tanda-tanda, sebagaimana termaktub dalam berbagai teks suci.

Tulisan ini bermaksud mengkritisi wacana sebagian agamawan, yang secara dramatis dan spekulatif, mengaitkan corona sebagai tanda akhir zaman.

Memandang corona sebagai tanda akan segera datangnya akhir zaman, adalah kesimpulan yang sangat spekulatif dan terburu-buru. Apa gunanya mempropaganda umat dengan mengaitkan corona dan akhir zaman?

Hal tersebut justru semakin menambah suasana psikologis semakin mencekam. Menyuburkan sikap apatisme, karena corona diyakini sebagai keniscayaan sejarah yang sedang mendekati masa akhir zaman.

Mendramatisasi corona dengan mengaitkannya sebagai tanda akhir zaman, di mana akan banyak manusia mati karena wabah tersebut, justru kontra produktif dengan semangat agama yang menyerukan umatnya untuk selalu optimistis.

Horor teologis dihembuskan justru akan semakin memicu ketakutan dan sikap apatis terhadap wabah corona yang masih bisa diatasi.

Daripada sibuk dengan spekulasi corona sebagai tanda akhir zaman, lebih baik memandang corona sebagai musibah bersama. Musibah kemanusiaan yang mesti ditangani secara bersama. Pula tanpa memandang identitas agama apa pun, karena corona menyerang tanpa melihat apa agama dari korbannya.

Akhir zaman dan kiamat pastilah semakin dekat. Yang terpenting, bukan kapan peristiwa itu akan terjadi. Tetapi, apa bekal yang sudah kita persiapkan untuk menghadapi peristiwa besar tersebut.

Sebuah hadis menceritakan, seorang badui datang kepada Nabi dan bertanya; “Ya Muhammad,  kapankah hari kiamat itu akan datang?” Nabi menjawab; “Kenapa kamu bertanya tentang kapan hari kiamat itu datang? Mestinya kamu bertanya, apa yang kamu persiapkan untuk melalui hari pembalasan tersebut?”

Di antara bekal yang bisa kita persiapkan untuk menghadapi akhir zaman dan pembalasan di hari kiamat tersebut, adalah menebarkan kebaikan kepada sesama manusia, utamanya di masa-masa seperti sekarang ini.

“Manusia terbaik adalah manusia yang paling banyak manfaatnya untuk sesama.” Demikian sabda Nabi saw. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *