Sat. Dec 5th, 2020

BLAM

KEREN

Tantang Lakukan Gerakan Kecil, Kepala BLAM Sediakan Tempat Air dan Sabun untuk Pedagang

3 min read

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, mengobrol dengan pedagang sayur.

4,984 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM — “Mungkin ini kecil. Seorang pedagang sayur dekat rumah. Tdk mungkin saya melarangnya jualan. Saya hanya inisiatif membelikan tmpat cuci tangan dan sabun cair. Setiap pembeli wajib cuci tangan sebelum menyentuh sayur. Atau siapapun yg lewat depan situ. Kalau mau tantangan, saya menantang anda untuk mengupload satu gerakan kecil. Bayangkan kalau 3.000 orang melakukannya. Virus ini bisa kt lawan…

Tapi suara dangdut ini, hampir sj saya bergoyang.”

Kutipan di atas adalah status yang ditulis di Facebook Saprillah Syahrir Al-Bayqunie, yang tak lain adalah H. Saprillah, M.Si, Kepala Balai Litbang Agama Makassar (BLAM). Ia mengunduh status tersebut, Selasa pagi, 1 April 2020, disertai video percakapannya dengan perempuan pedagang sayur.

Selasa pagi itu, dengan mengenakan kaos oblong hitam bergambar Gus Dur lagi tertawa, Pepi, sapaan akrab Saprillah, terlihat mengobrol akrab dengan pedagang sayur. Pedagang ini biasa mangkal di Jalan Mamoa 4 Makassar, sekitar 50 meter dari kediaman Pepi.

Dalam obrolan itu, Pepi mengimbau kepada pedagang tersebut untuk setiap saat selalu mencuci dan membersihkan tangan.

Sebagai salah satu aksi mendukung gerakan menjaga kebersihan, Pepi pun menyediakan tempat air dan sabun cair yang diperuntukkan buat pedagang dan pembeli. Kalau air dan sabun telah habis, Pepi mempersilakan mereka mendatangi rumahnya dan meminta lagi.

Munculnya aksi gerakan ini, kata Pepi, disebabkan oleh rasa keprihatian dirinya atas sikap sebagian warga yang berprofesi di sektor informal di sekitar rumahnya, yang tetap beraktivitas normal di luar rumah.

“Kita juga tidak mungkin melarang mereka beraktivitas di luar rumah. Karena itu, saya memahaminya, dan mereka berbuat begitu semata-mata desakan ekonomi. Saya kemudian berinisiatif membuat gerakan kecil, seperti gerakan mencuci tangan, sebagai bentuk penyadaran, bahwa virus ini bisa datang kapan saja, dan kepada siapa saja,” kata Pepi.

“Dengan mencuci tangan, setidaknya bisa memutus mata rantai virus, meskipun ini belum cukup,” lanjut Ketua Lakpesdam Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan, ini.

Sejak Virus Covid-19 merebak dan menelan korban jiwa, pemerintah kemudian memberlakukan phsycal distancing. Dan, salah satu instruksinya, meminta masyarakat untuk “berdiam di rumah.”

Namun, tidak semua masyarakat bisa sepenuhnya melaksanakan ajakan “berdiam di rumah.” Tentu saja, masih ada sebagian masyarakat yang tetap melakukan aktivitas pekerjaan di luar rumah, serta melaksanakan pekerjaan hari-hari seperti biasanya.

“Kalau tidak bekerja, mereka tidak punya uang. Kalau tidak punya uang, mereka tidak bisa makan, dan memenuhi kebutuhan hidup keluarganya yang lain.” Seperti itulah alasan yang sering didengarkan dari mereka.

Pepi pun memahami, masih ada masyarakat yang belum mematuhi anjuran untuk “berdiam di rumah”. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melakukan gerakan kecil,  dalam bentuk apapun.

“Setidaknya, gerakan kecil ini bisa membantu dan meringankan masyarakat yang tetap mencari nafkah di luar rumah di tengah terjangan virus Corona-19,” imbuhnya.

Galang Dana

Selain gebrakan mencuci tangan dengan menyediakan tempat air dan sabun, Kepala BLAM juga menggalang dana di lingkungan kantor untuk diberikan kepada security yang tetap bertugas.

Hal ini sebagai salah satu bentuk empati terhadap security yang tidak terkena imbas WFH. Sesuai surat edaran, pemberlakuan “ngantor” di rumah (Work From Home) hingga 21 April 2020 bagi seluruh ASN dan non ASN BLAM, tidak berlaku buat security kantor. Mereka tetap bertugas seperti biasanya.

“Dana yang terkumpul nanti akan diberikan untuk mensubsidi security kantor yang tetap menjalankan tugasnya. Kami salut kepada mereka semua, dan tetap menjaga kesehatan,” kata Saprillah. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *