Mon. Sep 21st, 2020

BLAM

KEREN

“Pakkarawa Pitte Sikalupetta”; Mengobati Orang “Sakit Keras” dalam Lontara Pabbura

5 min read

Naskah Sekke Rupa Bone. Foto. M. Subair

12,296 total views, 32 views today

Oleh: Muh. Subair (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Artikel ini diramu dari informasi beberapa sanro (ahli pengobatan dalam masyarakat Bugis-Makassar), dan dari naskah sekke rupa Bone; Passaleng pannessaengngi atabikengnge.

Naskah ini sudah bercerai berai halamannya, dan butuh waktu lama untuk dapat menyambung halaman demi halaman, yang sebagiannya hilang.

Langkah pengobatan yang dilakukan seorang sanro tidak langsung dengan pemeriksaan fisik, melainkan terlebih dahulu dilakukan penentuan hari dan waktu baik.

Karena itu, seorang yang mendatangi sanro harus bisa menjelaskan detail penyakit orang yang akan diobati. Khususnya, tentang kapan penyakit itu pertama kali menyerang, bagaimana gejalanya, jenis kelamin si sakit, dan separah apa kondisinya.

Padahal, meskipun tanpa penjelasan panjang lebar, seorang sanro terkadang lebih cepat memahami kondisi orang yang sakit. Entah dengan pengalaman, atau dengan ilmu pengetahuannya.

Jadi, orang sakit itu, tidak langsung dibawa berobat di rumah sanro. Dan, sanro pun tidak serta-merta mendatangi orang sakit untuk mengobatinya.

Seringkali, pengobatan dilakukan tanpa kehadiran sanro, dan hanya melalui tawe, disertai ramuan obat-obatan dari berbagai jenis tumbuhan, atau benda-benda tertentu. Tak kala penting adalah, petunjuk penggunaan ramuan tersebut berkaitan dosis dan waktunya.

Kampung Pajekko Bone

Suatu ketika, di Kampung Pajekko Bone, seorang sanro bernama Palattui, yang sedang bekerja menanam padi di tengah sawah, didatangi duta dari seorang Ibu Rumah Tangga.

Ia meminta bantuan pengobatan bagi anak perempuannya yang tengah mengidap sakit keras, dan sangat membutuhkan pertolongan sanro pada saat itu juga. Bila terlambat ditolong, anak itu kemungkinan meninggal.

Melihat kondisinya sudah sangat lemah, dan tidak berdaya dengan sakit yang dialaminya. Tetapi sang sanro dengan tenangnya berkata; “lisuno maega mopa jamangku” (pulanglah karena saya masih banyak pekerjaan di sini. Toh sesampai engkau di rumah, anak itu sudah sembuh).

Betul juga. Betapa terkejut utusan yang mendatangi sanro itu. Ketika balik ke rumah, ia mendapati anak yang tadinya sakit keras dan terkulai lemas, sekarang dijumpainya sedang berlari, bermain-main bersama temannya.

Banyak peristiwa menakjubkan yang membuat posisi seorang sanro mendapat kepercayaan di hati masyarakat. Kali lain, saya akan bercerita tentang itu.

Lontara Pabbura

Pada kesempatan ini, saya ingin mengungkap bagaimana sanro menghadapi suatu penyakit. Pada dasarnya, prinsip pengobatan sanro secara umum harus melalui empat tahapan, sebagaimana disebutkan dalam Lontara Pabbura:

Tahap pertama, pannessaengngi aseng tongeng-tongenna lasae.

Pasal yang menjelaskan nama sesungguhnya suatu penyakit (lasa). Bagian ini mengungkap syarat utama untuk melakukan pengobatan, yaitu dengan mengenali penyakit itu sendiri. Pengenalan ini adalah usaha mencermati karakter sebuah penyakit yang melahirkan dialog antara sanro dan lasa:

Pajekkoo asekku, pottanang asemmu lasa ….  (sebut nama penyakit) ….

Utimpa waliwi tanae, upaoppang kalopai paratiwie, nasaba ekkoni ritu naonroi garri’-gorri’ku…. napoadangnga Puakku Marajae….

Dialog dalam bentuk syair itulah, yang nantinya menjadi bagian dari mantra untuk dirapalkan, saat menyetuh ramuan yang akan digunakan pada orang sakit.

Mantra ini hanya cocok untuk penyakit tertentu. Sementara penyakit lainnya, masing-masing mempunyai mantra tersendiri, yang biasanya dikombinasikan dengan unsur keagamaan.

Seperti:

cenrara langi asenna, tanrengenna bulu mabbitarae naonroi, makkalebbong, temmakkalebbang, Abbu Bakkareng Makkateninkko, Ali Makkattuttuiko, Muhammade’ Mulokkai, Muhammade’ Mato Mulisui, ahed, ahed, ahed iayyanaro ribicci-biccikangngi …..

Tahap kedua adalah, pannessaengngi esso nenniya wettu abburangnge.

Yaitu, penentuan hari dan waktu yang tepat untuk melakukan pengobatan. Penyakit yang menyerang pada waktu malam, berbeda penanganannya dengan penyakit yang menyerang pada waktu siang.

Pengobatan yang dilakukan pada hari Ahad, waktu terbaiknya adalah pada saat bayang-bayang seukuran tiga belas langkah, dan arah hadap yang tepat adalah menghadap ke Utara.

Demikian seterusnya. Hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat masing-masing mempunyai waktu terbaik, dan arah hadap yang tepat. Pantang untuk menghadap ke arah yang tidak dianjurkan, karena itu bisa memengaruhi proses penyembuhan orang sakit.

Pengetahuan tentang hari-hari dan waktu-waktu yang baik untuk melakukan pengobatan,  selengkapnya ada dalam passaleng pannessaengngi kutikana abburangnge.

Pada bagian ini juga dijelaskan, kapan waktu-waktu merebaknya suatu penyakit dan kapan waktu meredanya. Jika tiga malam sebelum bulan tenggelam suatu penyakit mulai muncul, maka penyakit tersebut akan banyak menghinggapi manusia sampai tiga malam setelah bulan terbit pada bulan berikutnya.

Tahap ketiga, pannessaiengngi karawana tomalasae, penjelasan tentang tata cara menyentuh orang sakit.

Perlakuan atau sentuhan terhadap orang yang sakit dibedakan atas kondisinya. Jika dia dalam keadaan suhu tubuh panas, maka panasnya harus diklasifikasi dulu; apakah pella ladde, pella tengngang, pella cedde, panas tinggi, panas sedang, atau panas rendah.

Demikian pula kondisi tubuh yang dingin, perlu juga dibedakan apakah dia kecce ladde, kecce tengngang, kecce cedde/ makacima, dingin membeku, dingin sedang, atau agak dingin.

Bahkan, bagian-bagian tubuh yang mengalami panas dan dingin secara tidak normal harus diketahui terlebih dahulu, sebelum melakukan sentuhan pengobatan.

Masing-masing mempunyai pajjappi dan ramuan yang berbeda. Kesalahan dalam mengenali jenis panas atau dingin orang sakit, akan mengakibatkan kesalahan pengobatan.

Tahap keempat, pannessaengngi urangenna, urana lasae; penjelasan tentang pajjappi tawe (air yang diberi mantra), dan obat-obatan untuk penyembuhan penyakit.

Pada naskah lontara pabbura, terdapat banyak resep pengobatan penyakit yang tampak begitu rumit, baik karena nama penyakit yang tidak diketahui oleh generasi sekarang, maupun bahan-bahan yang disebutkan juga tidak diketahui wujudnya seperti apa.

Ada lasa waliala, lasa jingngereng, lasa natikkeng dopu, dan sejenisnya yang tidak populer di tengah masyarakat. Di antara bahan pengobatan yang sulit ditemukan adalah puru mutiara, yang harus diambil dari tubuh binatang tertentu.

Awalnya, saya mengira menjadi sanro itu cukup dengan mempelajari mantra-mantra, atau pajjappi yang ada dalam Lontara.

Perkiraan saya itu, ternyata meleset. Sebab, keempat tahap di atas, ternyata sulit untuk dilalui tanpa melewati proses makkanre guru.

Keinginan untuk mempelajari pun tidak cukup, karena syarat untuk makkanre guru, juga tidak semua orang bisa memenuhi syarat.   

Perlakuan Sanro

Lalu, bagaimana perlakuan sanro dan masyarakat Bugis terhadap orang yang terkena penyakit menular?

Keempat tahapan di atas cukup menggambarkan bagaimana kehati-hatian seorang sanro dalam menghadapi penyakit.

Khusus untuk penyakit menular, setelah dialog pengenalan yang dilakukan dengan mantra tertentu, langkah selanjutnya adalah melakukan pakkarawa pitte sikalupetta, anu cedde tassiriu-riu.

 Artinya, sentuhan terhadap benang yang kusut, benda kecil yang saling tarik-menarik. Istilah yang digunakan untuk menggambarkan jurus ekstra hati-hati dalam menghadapi penyakit menular.

Sebagaimana dicontohkan dalam kasus semmeng kasiwiyang, jika penyakit itu mengakibatkan panas dalam, pada saat panasnya mulai keluar, pasien harus diwoso dengan pabboso.

 Pabboso adalah ramuan dari bahan-bahan antara lain: guliga, puru Mutiara, ulaweng tasa, batu kudara salaka, ariango, likku, panini, cani, kaluku, katumbara, jintang lotong, lasuna cella, aju cenning (mutiara, emas murni, perak, ariango, vanili, madu, kelapa, ketumbar, jintan, bawang merah, dan kayu serat).

Bahan-bahan tersebut diolah berdasarkan tingkatan sakit yang dialami, dan dibuat dalam bentuk seperti bedak basah (disebut pabboso), dan selanjutnya dibalurkan (diwoso) pada tubuh orang sakit.

Teknik pakkarawa pitte sikalupetta digunakan pada saat akan melakukan pengobatan. Diiringi rapalan mantra dan doa-doa, sanro mengisyaratkan, bahwa sebelum menyentuh orang sakit, terlebih dahulu harus menyentuh pabboso yang selalu disiapkan dalam wadah di dekat orang sakit.

Setelah diobati, orang sakit itu harus ditempatkan di ruang tersendiri, dan harus diberi suasana nyaman. Ia tidak boleh diganggu dengan suara-suara yang bisa mengagetkan.

Bahkan, suara orang bercerita, batuk-batuk, suara minyak di penggorengan, dan apalagi suara orang bertengkar. Itu pantang untuk diperdengarkan.

Mungkin maksudnya, mirip social distancing. Tetapi, pada saat itu, orang Bugis mempunyai kebiasaan untuk memanjakan orang sakit. Perlakuan baik ditingkatkan, seiring dijauhkannya dari yang lain.

Orang sakit itu harus diberi makanan enak-enak, atau makanan apa saja yang diinginkannya. Bahkan, seseorang harus bertugas membuatnya merasa nyaman dengan menyanyikan lagu-lagu yang menyenangkan.   

Ininnawa sabbarae … …

Jadi aja’na takalao-lao

Enre’ni ri bolata,

namoni kasi’ te jail ten tappere

Lolongamotu gare deceng to sabbarae (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *