Sat. Dec 5th, 2020

BLAM

KEREN

Corona, Sanro, & “Perasaan (menjadi) Sakit”

6 min read

Sumber gambar: gusmus.net

8,107 total views, 2 views today

Oleh: Muh. Irfan Syuhudi (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Corona atau bahasa kerennya, Covid 19, membuat semua orang panik. Kehadirannya menghebohkan dunia. Ia menginterupsi segala hiruk pikuk dan kebisingan di muka bumi.

Gara-gara corona, kota-kota sontak seperti menjadi “mati”. Pemerintah menghentikan segala aktivitas sosial ekonomi. Jalanan pun ikut menjadi sepi. Corona dan perbincangannya, membuat sebagian orang seolah menjadi pesakitan.

Kita, yang sedari awal merasa diri sehat-sehat saja, akhirnya ikutan menjadi paranoid. Kita pun, karena pikiran kita terus dijejali corona, akhirnya merasa sakit.

Perasaan merasa sakit ini, sebenarnya yang berbahaya. Pikiran kita menjadi lemah, yang berbuntut pada melemahnya stamina. Pada saat begini, penyakit gampang mendera.

Mereka yang awalnya sehat-sehat saja, tiba-tiba merasakan kayak menggigil, tensi darah naik, asam lambung kumat, sakit kepala, dan sebagainya. Narasi-narasi tentang corona yang bertebaran di media, tampaknya telah menguasai pikiran dan tubuh kita.

Corona juga membuat kita peduli terhadap kesehatan diri. Masalahnya, corona menyerang tidak pandang bulu. Ia tidak mengenal identitas sosial seseorang saat menyerang. Siapa pun bisa terserang. Yang parah, gara-gara corona pula, kita lantas dibuat “parno”. Pikiran kita lantas dikuasainya.

Coba saja, saat ingusan, bersin-bersin, atau batuk, misalnya, kita langsung merasakan kekhawatiran berlebihan. Jangan-jangan kita terkena corona. Hiii…

Padahal, sebelum corona terkenal layaknya selebritis, kita dulunya sering cuek saja kalau mengalami kondisi seperti ini. Dalam benak kita, ingusan, bersin-bersin, dan batuk, akan berhenti dan hilang dengan sendiri. Setelah minum obat yang dibeli di apotik.

Sebelum ada corona, dalam kondisi “sakit” seperti itu, kita tetap beraktivitas seperti biasa. Orang yang melihat dan bersama kita pun, tampak santai-santai saja. Tidak ada yang takut. Apalagi sampai “memusuhi”.

Sanro

Lalu, apa hubungannya corona dan sanro? Tentu saja, tidak ada. Saya tahu, pasti ada yang berpikiran, tulisan ini akan membahas kemampuan sanro mengobati terjangan corona. Namun, saya tidak membahas sampai ke situ. Saya belum punya datanya.

Dalam tulisan ini, saya cuma ingin mengatakan, bahwa cara pandang sanro mengenai penyakit, selalu saja berbeda dengan cara pandang kita pada umumnya. Sanro kerap melihat penyakit dan segala variannya berdasarkan “mata batinnya”. Juga, kerap dikaitkan dengan supranatural.

Sanro, dalam tradisi Bugis Makassar, disebut juga dukun, yang dianggap oleh sebagian masyarakat mampu mengobati penyakit secara tradisional. Namun, tidak semua orang bisa menjadi sanro.

Sanro sama seperti shaman, yang dikenal pada kebudayaan lain. Kemampuan mengobati sanro maupun shaman didapatkan lewat anugerah, petunjuk, dan bimbingan langsung dari Tuhan, atau kekuatan gaib lainnya.

Max Weber berpendapat, shaman mendapatkan kekuatannya melalui kemampuan individual, bakat, dan anugerah. Kelebihan mereka adalah, mampu melakukan hubungan personal dengan kekuatan gaib (dunia roh atau spirit) (Bustanuddin, 2006).

Basir Said (1996) membagi sanro pada masyarakat Bugis-Makassar berdasarkan keahlian yang dimiliki.

Misalnya, sanro bola atau sanro balla, yang dipandang ahli di bidang perumahan. Sebelum memilih rumah, orang biasanya terlebih dulu berkonsultasi dengan sanro bola atau sanro balla, mulai pemilihan lokasi, arah rumah, hingga upacara selamatan rumah, yang semuanya diatur dan dipimpin oleh sanro bola atau sanro balla.

Ada juga sanro anak, yang punya keahlian mengobati penyakit yang diderita anak, termasuk mengusir makhluk halus apabila anak “kemasukan”, dan sebagainya.

Pengobatan sanro dilakukan dengan cara-cara tradisional. Ia tidak menggunakan benda-benda tajam, yang kadang kita sendiri takut melihatnya, seperti pisau, gunting, dan jarum.

Sanro umumnya mengobati menggunakan air putih yang sudah “dibacai-bacai” (kemudian disapukan ke tubuh tertentu pasien dan atau diminumkan, dan daun-daunan tertentu) (Syuhudi, 2013).

Banyak kasus, penyakit yang tidak bisa disembuhkan medis, tetapi dapat disembuhkan oleh sanro. Bahkan, istilah-istilah nama penyakit yang diberikan sanro, berbeda dengan istilah penyakit yang dikenal dalam dunia medis modern (rumah sakit). Seperti “paddaukang”, yang gejalanya mirip stroke.

Syuhudi (2013), mengisahkan, ada anak perempuan berusia empat tahun, yang sudah dua pekan dirawat inap di salah satu rumah sakit, tetapi penyakitnya tak kunjung sembuh.

Penyakit yang diderita anak ini adalah perutnya membesar dan mengeras, padahal hampir tidak pernah ada makanan dan minuman yang masuk di dalam tubuhnya. Di samping itu, pihak rumah sakit juga belum menemukan penyakit anak ini, dan akhirnya “angkat tangan.”

Orang tua anak ini kemudian mencari pengobatan lain (non medis), dan menemukan sanro. Setelah berbicara dengan ibu si anak, sang sanro kemudian “mendiagnosis” penyakit anak itu.

Menurut sanro, anak ini sempat meminum air ketuban ibunya sebelum dilahirkan, sehingga perutnya membesar dan mengeras. Dan, ibu si anak membenarkan “diagnosis” sanro.

Sanro lalu meminta disediakan air mineral, dan air tersebut kemudian “ditiup-ditiup” dan “dibaca-bacai”. Setelah itu, disapu-sapukan di atas perut anak. Tak sampai dua hari, perut si anak mulai menurun, normal, dan sembuh.

Konsep Tradisional

Konsep sakit tradisional berbeda dengan konsep sakit medis modern. “Paddaukang”, misalnya. Oleh orang Makassar, penyakit ini dipercaya sebagai masuk angin, yang disebabkan oleh “angin jahat” (anging kodi/sanna kodina). Angin jahat ini dipercaya akibat gangguan makhluk halus (jin atau setan).

Sementara dari kacamata medis kedokteran, itu adalah gejala stroke. Orang yang terkena “paddaukang” menyebabkan darahnya menumpuk di tempat tertentu, sehingga membuat peredaran darah tidak lancar. Angin jahat itu masuk lewat urat-urat tanpa diketahui bersangkutan.

Ciri-ciri penderita “paddaukang” mirip gejala stroke: mulut menjadi kaku hingga miring sebelah, salah satu bagian badan kaku, dan tidak bisa digerakkan, serta tegang berlebihan pada bagian pundak (Syuhudi, 2013).

Begitupula, “kapinawangang,” yang dianggap oleh orang Makassar, sebagai gangguan makhluk halus berupa jin dan setan, yang sering dialami anak kecil (berumur lima tahun ke bawah).

Ciri-ciri umum anak yang mengalami “kapinawangngang” adalah gelisah, sering menangis, tatapan mata terlihat kosong, dan sulit tidur nyenyak di malam hari.

Menurut sanro, makhluk halus senang mengganggu atau memperlihatkan wujudnya kepada bayi karena bayi dianggap masih suci. Mata bayi dapat melihat sesuatu yang gaib yang tidak dapat dilihat oleh orang dewasa pada umumnya.

Air putih yang “dibaca-bacai” dan diminumkan kepada bayi itu, dimaksudkan untuk menenangkan jiwanya yang tergoncang, atau kaget setelah melihat makhluk halus. Sedang matanya ditiup-tiup dan diusapkan air putih, bertujuan untuk mengusir makhluk halus tersebut, serta menutup pandangan supaya tidak melihat lagi perwujudan makhluk halus (Syuhudi, 2013).

Cara memandang masyarakat tradisional Indonesia tentang sakit, juga berbeda dengan medis modern barat. Penyakit influenza, misalnya.

Bagi orang barat, penyakit ini dianggap serius dan memerlukan perawatan dan penanganan khusus sampai betul-betul sembuh. Sebab, banyak juga meninggal akibat penyakit ini.

Sedangkan bagi kebanyakan orang Indonesia, influenza dianggap penyakit musiman dan tidak memerlukan perawatan khusus.

Antropologi Kesehatan

Dalam pandangan antropologi kesehatan, konsep tentang sakit dikenal tiga, yaitu illness, disease, dan sickness.

Illness adalah sakit dari perspektif diri kita sendiri, yang kerap dipengaruhi oleh kebudayaan-kebudayaan di dalam suatu masyarakat di sekitar kita.

Disease adalah istilah sakit didasarkan pada perspektif medis (gangguan fungsi biologis dan psikis individu).

Sementara sickness adalah sakit yang mengarah ke personal, sehingga yang mengetahui dirinya sakit hanyalah dirinya sendiri, dan juga, yang merasakan hanyalah dirinya sendiri.

Sickness ini sering dialami oleh orang-orang yang mengalami kepanikan dan ketakutan berlebihan. Ia, yang awalnya merasa sehat-sehat saja, akhirnya merasakan dirinya sakit, lantaran panik dan takut.

Saya pun sering mengalami sickness. Meski perjalanan masih sepekan, tubuh saya bisa saja mendadak merasakan menggigil dan demam, begitu mengetahui akan naik perahu atau speedboat, di suatu tempat.

Pikiranku langsung terfokus membayangkan sesuatu yang mengerikan tentang perahu dan laut. Misalnya, bagaimana kalau perahunya nanti terbalik sedangkan saya sama sekali tidak tahu berenang, bagaimana kalau di tengah laut nanti tiba-tiba muncul ikan sangat besar dan melahap seisi perahu, dan sebagainya. Ngeerii. Hihihi.

Foster dan Anderson, dalam bukunya yang terkenal, Antropolog Kesehatan (1989), menyatakan, dalam pandangan illness dan sickness terdapat dua pengobatan, yang disebut personalistik dan naturalistik.

Sistem medis personalistik merupakan sistem medis yang melihat penyakit disebabkan oleh makhluk supranatural dan roh-roh gaib. Usaha penyembuhan dilakukan melalui agen-agen personal (makhluk supranatural dan roh-roh gaib lainnya).

Sementara sistem medis naturalistik, yaitu sistem medis yang melihat adanya keseimbangan dalam tubuh manusia. Sehat terjadi disebabkan oleh adanya keseimbangan unsur-unsur dalam tubuh manusia.

Apabila unsur-unsur keseimbangan tersebut terganggu, akan menimbulkan kondisi tubuh tidak sehat atau sakit. Kalau tubuh merasakan sakit dan menyebabkan demam, tubuh akan dikompres dengan air dingin. Tujuannya, terjadi keseimbangan, sehingga tubuh normal kembali dan menjadi sehat.

Kembali ke corona lagi. Virus ini memang mengerikan. Apalagi, sudah banyak korban jiwa. Namun, kita tentunya, jangan terlalu panik, dan dibuat panik.

Khawatirnya, jangan-jangan di dalam tubuh kita yang sehat, kita justru berpikiran merasakan sakit.Tetap saja kita semua mesti waspada, dan melakukan upaya pencegahan, seperti disarankan pakar kesehatan medis modern, dan medis tradisional. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *