Wed. Dec 2nd, 2020

BLAM

KEREN

Tulisan Viral (Catatan Ringan untuk Para Penanggap “Covid-19 dan Kelas Sosial” )

4 min read

Sumber gambar: gagasanonline.com

5,824 total views, 4 views today

Oleh: Saprillah (Kepala Balai Litbang Agama Makassar)

Bagaimana rasanya menulis, menganalisis, dan viral?

Rasanya, tidak percaya. Ide kecil yang berangkat dari amatan dan dialog spontan dengan pedagang sayur, ojok online, dan penjual ikan,  yang saya sebut kelas bawah (dengan segala persoalan kategori itu) versus kelas menengah (yang saya maksud adalah diri saya sendiri), tiba-tiba menjadi “representasi global” tentang kelas sosial.

Saya sendiri sama sekali tidak menduga, tulisan yang saya beri judul “Covid-19 dan Kelas Sosial”, itu menarik perhatian banyak orang.

Beberapa tulisan saya, yang mungkin lebih absurd dan kritis, hanya menjadi konsumsi saya sendiri. Sebab, tidak viral dan tidak menarik perhatian banyak orang.

Tulisan ini pun semula rasanya akan berakhir sama. Tetapi, ternyata tulisan ini punya takdir lain. Ia viral! Dan, platform viral akhirnya memaksa kita bersiap untuk menerima segala bentuk respons.

Tetapi, justru di situlah daya tariknya. Saya cenderung mengabaikan pujian-pujian dan lebih senang ketika mendapatkan “pesaing”, dan bahkan kontra.

Jika bergizi dan kritis, rasanya sangat terhormat dan ingin belajar kepadanya. Jika hanya pepesan kosong, maka itu pun tetap bernilai.

Setidaknya, ia sudah bersusah payah membaca tulisan ini, dan tergerak untuk melakukan perlawanan. Ilmu pengetahuan dibangun dengan cara itu. Sepanjang dialognya terhormat, ini bisa menjadi tradisi menarik dalam dunia tulis menulis.

Proses menulis adalah seleksi. Realitas yang maha luas ini akan direfleksikan ke dalam ruang yang sangat terbatas, satu atau dua halaman saja. Seleksi ini sangat menentukan realitas mana yang akan dipertajam.

Penelitian juga bekerja dengan cara itu. Realitas yang paling mewakili kepentingan penulislah yang akan diangkat. Sedangkan realiatas lain diabaikan, untuk kepentingan lainnya.

Seperti para penanggap yang mungkin hanya mau “menanggapi” tulisan saya yang viral, dan mengabaikan tulisan saya lainnya, yang tidak viral.

Apakah para penanggap bersedia tampil ke panggung kritik dengan sejumlah argumen, kalau tulisan ini tidak viral? Pasti tidak. Emang saya siapa? Nah, itulah proses seleksi. Seseorang hanya tergoda menulis yang sangat menarik perhatiannya.

Tetapi, sekali lagi, saya menyadari, beban tulisan viral memang besar. Para penanggap tiba-tiba ingin tulisan sederhana itu seperti disertasi. Atau, lebih tepatnya, para penanggap “menggugat”,  mengapa gagasan yang saya tampilkan tidak seperti yang mereka bayangkan.

Dalam konteks itu, para penanggap telah bekerja dengan baik dengan menampilkan “versi” mereka melalui tulisan.

Kritikan

Ketika tulisan menjadi viral, kita harus bersedia dikritik pada tiga hal. Perspektif, gaya bahasa, dan atribusi.

Meletakkan realitas dari sudut pandang adalah pekerjaan paling sulit. Sudut pandang tidak hanya perkara mengambil paradigma dari teori sosial, tetapi juga membangunnya secara konsisten hingga akhir.

Soal perspektif tidak akan selesai begitu saja. Tulisan viral ternyata menggoda, dan sekaligus mengancam perspektif orang lain. Tulisan viral bahkan telah menjadi milik publik lebih kuat ketimbang milik penulisnya sendiri. Kritik terhadap tulisan adalah pelengkap dari ruang yang tersisa.

Ketika menyebut kelas, saya sudah memulainya dengan kesadaran, bahwa pengertian kelas di Indonesia sangat rumit dan unik. Relasi antarkelas pun sangat unik di setiap ruang sosial.

Problem kelas bisa saja sama, tetapi aksentuasinya berbeda. Kelas miskin urban sekalipun,  memiliki perbedaan-perbedaan pengalaman relasional. Kelas petani memiliki sikap, dan persoalan yang berbeda dengan kelas pedagang kecil.

Sikapnya terhadap Covid-19 bisa sama, bisa pula berbeda. Sekali lagi, tergantung siapa yang sedang diamati.

Sebagai bagian dari kelas menengah, saya memang secara sadar menggunakan perspektif cowboy. Bahwa, ada kelompok kecil masyarakat yang membutuhkan bantuan dari masyarakat lainnya.

Kesadaran itu mendorong saya untuk berdamai dengan menggunakan statemen di awal tulisan, “Kita sepakati saja sederhana, bahwa ada dua kategori sosial”.

Namun, beberapa kritikus tulisan pendek ini, menolak berdamai dan lebih memilih “mengajari” saya tentang definisi kelas yang rumit itu. Saya malah senang bukan kepalang mendapatkan asupan gizi tambahan yang sedemikian dahsyat.

Kedua, gaya bahasa. Gaya bahasa tampaknya justru menjadi pemantik penting. Banyak respon yang menunjukkan ketertarikan terhadap gaya bahasa.

Gaya bahasa tampaknya dipahami sebagai “milik pribadi”, sehingga tidak ada komentar terhadap gaya berbahasa. Saya abaikan saja!

Ketiga, atribusi. Ini bagian yang paling membingungkan. Ada yang menilai, kalau atribusi sebagai pimpinan lembaga kurang pas menulis tentang sesuatu yang sifatnya sangat kritis. Saya memahami dan pasrah menerima itu sebagai teguran.

Atribusi struktural ini memang membatasi beberapa daya kritis, karena habitus struktural lebih mengedepankan fungsionalisme dan normalitas. Saya bercanda dengan tim redaksi. Kalau tahu ini akan viral, saya tidak akan menggunakan atribusi formal, tetapi atribusi lain.

Namun, sebagai peneliti atau pun orang yang bekerja di dunia ilmu pengetahuan, bukankah seharusnya memang menghidupkan tradisi refleksi atas fakta sederhana yang terjadi di sekitar kita, dan mungkin saja luput dari pengamatan, akibat kepanikan global?

Tentu rasanya terhormat sekali melihat ide sederhana memicu berbagai respons kritik yang menarik dan berbobot.

Setidaknya, hingga tulisan ini dibuat, saya mendapatkan kritik dari dua pemuda yang sangat Marxian. Mereka menolak untuk meletakkan kelas bawah terus menerus dikasihani, dan diposisikan obyek oleh kelas menengah atau kelas atas.

Secara teori, saya setuju. Tetapi, ketika kembali bertemu dengan penjual ikan di pasar, saya kok merasa teori “merebut alat produksi” itu tidak ada di benak mereka. Ya, hidup mereka simpel. Tidak berteori seperti hidup kita.

Seorang rekan kerja, sekaligus sahabat yang juga memberi catatan “sangat” kritis terhadap tulisan viral itu. Menarik dan konstruktif untuk melihat “celah” yang ditinggalkan oleh tulisan viral itu.

Saya tersenyum membacanya, dan setuju dengan rujukannya kepada Barthes. Barthes tidak hanya bicara soal denotasi dan konotasi, tetapi juga kepentingan dan myth.

Kalau disederhanakan, dibalik bahasa yang meliuk-liuk dan argumen yang berapi-api, pasti ada kepentingan yang sedang ingin dikukuhkan. Di sini, mitos dalam rangkaian penanda-petanda membentuk rangkaian baru. Eh, kok jadi berteori.

Proses tanggap menanggapi adalah tradisi kaum intelektual. Mari merawatnya!

Semoga para penanggap berkenan pula menanggapi tulisan saya yang tidak viral. Biar terkesan lebih adil dan tidak sekadar memilah-milah, seperti keinginan para penanggap sendiri.

Tabik! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *