Wed. May 27th, 2020

BLAM

KEREN

Di Tengah Badai Virus Corona; Fisik Boleh Berjarak, Empati Jangan! (Refleksi Atas Tulisan Saprillah; Virus Covid 19 dan Kelas Sosial)

8 min read

Sumber gambar: CUPE 3913

7,470 total views, 2 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Beberapa hari sebelumnya, Kepala Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), Saprillah, yang juga pimpinan di kantor saya, menulis artikel menarik. Judul tulisannya; “Virus Covid 19 dan Kelas Sosial” yang dimuat di sini, blamakassar.co.id. 

Tulisan tersebut menyoroti kelas menengah atas yang sibuk mengajak masyarakat bawah untuk melakukan physical distancing, tetapi menurutnya bakal gagal total, disebabkan tidak diikuti empati dan relasi sosial, sejak awal.

Tulisan tersebut bisa menjadi bahan refleksi bagi kalangan kelas menengah. Jangan sampai, dalam situasi semacam ini, kita hanya sibuk menyelamatkan diri sendiri, tetapi abai dengan orang di sekitar kita.

Kurang lebih, begitulah pesan yang saya tangkap. Tafsir saya, tentu saja, bisa tidak sama dengan yang dimaksud oleh penulisnya sendiri (Saprillah).

Tetapi, lamat-lamat, dari penggalan kalimat demi kalimat pada makna semiotis lapis dua, begitu istilah Rolland Bhartes, saya menangkap pemaknaan lain; “Penulis sedang mendorong kelas bawah untuk keluar rumah di tengah merebaknya wabah corona.”

Mari kita ulik secara hati-hati argumentasi yang ditampilkannya.

Saprillah mengeluarkan satu argumen, atau tepatnya, asumsi yang agak berbeda dengan pandangan para ahli soal virus corona. Tepatnya, ketika ia mengatakan: “Covid-19 ini kalau diamati polanya, sasaran utamanya kalangan kelas menengah atas dan “melewatkan” para kelas bawah?”

Ia mengatakan: “Faktanya, covid 19 adalah penyakit kelas menengah. Kelompok yang tertular,  dan menularkan pertama kali, adalah warga kelas menegah.”

Untuk menguatkan argumennya, penulis membentangkan contoh kasus. Misalnya, pasien 01 dan 02, keduanya seniman tari di Indonesia, dianggap sebagai representasi kelas menengah, ternyata terpapar virus corona.

Sebaliknya, pembantunya, dengan asumsi kelas bawah, justru tidak terkontaminasi virus ini. Contoh lain yang disebutkan adalah, Menteri Perhubungan, lagi-lagi terpapar. Meskipun tidak ada pembandingnya, tetapi maksudnya, tentu saja, menteri  juga berasal dari kalangan elite.

Sepintas, argumentasi yang dikemukakan terlihat benar. Apalagi, karena disertai fakta, sebagaimana contoh-contoh yang dikemukakan tersebut. Tetapi, persis, di situlah berjalan apa yang disebut Evan Davis (2017), informasi yang terkesan benar, bukan karena informasi itu betul-betul benar. Namun, hanya karena ia mampu menyentuh emosi kita.

Dengan cara itu, menurut Hary G. Frankfrut (2005), pembaca bisa terbujuk untuk mengikutinya. Tidak peduli, apakah data dan  argumen berbasis fakta yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah atau tidak.

Sejauh yang saya tangkap, memang bukan soal ini substansi tulisan Saprillah. Akan tetapi,  dengan memunculkan data dan argumentasi yang agak lain ini, pembaca atau yang mendengar informasi ini, bisa tergelincir memahami tulisan ini dengan pemahaman yang lain.

Misalnya: “Oh..berarti kalau kita kalangan bawah atau rakyat kecil tidak ada masalah dengan virus corona. Kita bisa keluar rumah. Tidak usah mengatur jarak fisik kita dengan yang lain, dan seterusnya…”

Sejauh ini, para ahli yang bergelut dengan virus corona, tidak pernah sampai pada kesimpulan, bahwa virus corona hanya menyasar kalangan atas, dan mengabaikan kalangan bawah. Sampai sekarang pun, belum ada data secara pasti, siapa yang pertama menyebarkan virus ini, dan siapa pasien 0-nya.

Informasi yang muncul hanya mengatakan, virus ini muncul pertama kalinya dari pasar hewan,  dan ikan laut di Wuhan. Bukan dari hotel bitang lima, ataupun kantor para pejabat.

Imported Case

Berkali-kali pula kita dengar, atau kita baca dari media, para ahli menjelaskan, bahwa memang ada imported case (kasus yang berasal dari luar negeri). Tetapi, itu tidak berarti, hanya akan terjadi transmisi virus dari kelas atas ke kalangan elite. Apalagi, jika sekadar bersandar pada asumsi: “Yang sering keluar negeri kan hanya kalangan atas.”

Perlu diketahui, tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia, atau sebaliknya, tenaga kerja kita yang bekerja di luar negeri, itu adalah kelas bawah. Dan, nantinya, ketika balik ke Indonesia,  akan berinteraksi dengan kalangan bawah pula.

Satu hal lagi, setelah imported case, proses selanjutnya adalah, transmisi lokal. Penularan terjadi antara orang lokal, dan saat ini tengah berlangsung. Dalam kasus transmisi lokal, yang terpapar bisa kalangan apa saja. Kelas menengah, atas, dan bawah. Juga, laki-laki atau perempuan.

Kalimat lainnya adalah: bagi masyarakat bawah telah terbiasa berdamai dengan penyakit. Bila masih bisa berkeringat, mereka akan keluar rumah. Tinggal di rumah malah membuatnya mati.  Kalimat ini juga terkesan sebagai ungkapan untuk mendorong kelas bawah keluar di tengah merebaknya wabah corona.

Tetapi, tulisan kan mesti dilihat secara utuh? Iya, betul! Karena itu, saya menangkap pesan pertama, sebagaimana saya tuturkan pada awal-awal paragraf. Tetapi, dibaca secara utuh pun, nuansa makna lapis duanya tetap terasa; mendorong ke luar masyarakat bawah untuk tetap bekerja.

Saya tidak tahu, apakah masyarakat bawah ketika membaca tulisan ini, atau mendapatkan informasi dari tulisan Saprillah, menangkap makna, sebagaimana yang saya tuturkan pada paragraf awal. Atau, justru makna yang kedua tadi.

Kita kembali pada pesan utama dari tulisan Kepala BLAM ini. Pada pesan utamanya itu, ia mengingatkan kelas menengah atas, bahwa ajakan kepada masyarakat bawah untuk melakukan physical distancing (penjarakan fisik) tidak akan pernah berhasil, selama Anda (kelas atas) justru berjarak secara sosial dengan mereka.

Di sinilah problemnya. Sebab, menurut penulis, sejak dari dulu, antara kelas menengah atas dan kelas bawah ini berjarak. Mereka hanya bertemu di pasar, saat membeli ikan dan seterusnya.

Kapitalis

Modernisasi dengan berbagai variannya, memang memaksa manusia menjadi individu yang mekanistik (jangan dirancukan dengan solidaritas mekaniknya Durkheim). Mereka bekerja bagai robot. Ditata dan disiplinkan sedemikian rupa. Waktunya terserap habis dalam dunia kerja. Dengan cara itulah, kapitalis, termasuk negara, mendapatkan nilai lebih (keuntungan).

Mereka akhirnya berjarak secara sosial dengan manusia lainnya. Tidak kenal tetangga, dan abai terhadap orang miskin di sekitarnya. Bahkan, bukan hanya dengan orang lain. Dengan dirinya sendiri pun mereka asing. Dalam istilah Karl Marx, mereka teralienasi.

Kalau mengikuti cara berpikir ini, bukan kelas menengahnya yang salah. Tetapi, sistemlah yang membentuk mereka, sehingga berjarak secara sosial dengan masyarakat lainnya, khususnya masyarakat kecil. Mereka hanya akan lebih sering bertemu orang yang sama. Misalnya, teman sekantor atau koleganya.

Tetapi, dalam masyarakat kita, selalu ada ruang perjumpaan. Semacam public sphere a la Habermas, namun lebih sederhana. Ruang perjumpaan itu, bisa menjadi sarana menyampaikan unek-unek. Mendekatkan rasa dan membangun kembali relasi sosial.

Ruang itu, sebenarnya telah disebutkan sebagian oleh Saprillah; pasar dan saat membeli ikan. Saya tambahkan yang lain: upacara selamatan, maulidan, acara isra’ mikraj, dan saat berjamaah di masjid.

Kalau Saprillah memandang hal ini hanya sebagai relasi yang singkat, dan mungkin tidak punya makna apa-apa, saya justru menganggapnya, itulah ruang perjumpaan untuk merajut kembali relasi sosial yang tidak setiap waktu dapat dilakukan.

Ruang-ruang perjumpaan itu, membuat relasi sosial tidak betul-betul putus. Karena itu, empati dan keinginan kelas menengah atas untuk menolong kalangan bawah, tidak sirna sama sekali. Terbukti, setiap kali musibah melanda negeri ini, sikap gotong royong dan keprihatinan terhadap yang lain tumbuh subur.

Ketika terjadi peristiwa tsunami di Aceh, gunung merapi meletus, atau pun saat tsunami di Palu, orang-orang berduyun-duyun datang memberikan pertolongan langsung maupun tidak langsung.

Bahkan, menurut World Giving Indeks, yang dirilis Charity Aid Foundation (CAF), filantropi (sikap kedermawanan) yang tertinggi justru ada pada orang-orang Indonesia.

Solidaritas Sosial

Mari kita lihat ketika wabah corona ini merebak? Apakah solidaritas sosial kelas menengah itu tiba-tiba raib? Sama sekali tidak. Tenaga medis (dokter, perawat, dan lain-lain) jika kita tempatkan sebagai kelas menengah, mereka kini tengah menyabung nyawa di garis depan.

Kita bisa berdalih, mereka itu begitu karena profesi? Iya, betul. Tapi, kalau tidak dibarengi rasa kemanusian tinggi, mustahil hal itu mereka lakukan.

Selain tenaga medis, di tempat lain, solidaritas sosial itu bermunculan dengan berbagai bentuknya. Ada yang membentuk Relawan Kemanusian.

Mereka mengajak orang untuk membantu driver ojek online (ojol) membeli masker untuk mereka yang tetap harus bekerja, membelikan vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh bagi mereka yang harus berjibaku di lapangan.

Organisasi agama pun tak ketinggalan. Mereka membentuk Tanggap Covid 19. Misalnya, NU membuat “NU Tanggap Covid-19.” Demikian halnya, Muhammadiyah. Para influencer, selebriti, artis, dan orang kaya, juga mulai banyak terlibat dalam aksi solidaritas sosial ini.

Beberapa waktu lalu, saya menonton rencana artis melakukan konser kolaboratif dari rumah saja. Seluruh keuntungan dari konser itu akan disumbangkan ke kalangan bawah, agar meskipun  tinggal di rumah, kebutuhan pokok mereka tetap terpenuhi.

Ternyata, dalam situasi genting orang tidak akan meninggalkan saudaranya yang lain, khususnya yang tidak mampu. Fisik boleh berjauhan, tetapi empati dan perasaan kemanusian tetap dekat.

Tetapi, masih ada di kampung, di RT saya, yang bilang: “Kalau saya tidak keluar, mau makan apa?” Itu artinya, negara (pemerintah di tingkat lokal) dan Anda sendiri, tidak hadir di sana.

Di masing-masing kelurahan, di dusun dan sampai di RT-RT, perlu dibentuk jaringan sekuritas sosial. Mereka bertugas memberikan rasa aman pada masyarakat dari penyebaran Covid-19, sekaligus rasa aman terhadap terpenuhinya kebutuhan pokok kelas bawah.

Mereka mengorganisir bantuan, dan menyalurkan ke kalangan yang tidak mampu. Orang mampu di RT itu, menyumbangkan harta dan uangnya. Yang lain, mengorganisir batuan tersebut agar sampai pada sasaran.

Untuk mengatur itu semua, negara perlu hadir. Kalau negara tidak bisa menyiapkan kebutuhan dasar dari warga yang tidak mampu, hadirlah untuk mengorganisir jaringan sekuritas sosial ini.

Galang dan organisir tingginya sikap filantropi di masyarakat. Itu perlu dilakukan, agar kedermawanan kelas menengah itu bisa dirasakan oleh masyarakat bawah.

Gotong Royong

Gotong royong, itulah koencinya! Saya yakin, semangat itu masih ada. Tinggal diorganisir dan dikontekskan dengan situasi saat ini.  Itulah sebabnya, istilahnya diubah bukan social distancing, tetapi phsyical distancing. Hanya fisik yang berjarak. Hati dan kepekaan sosial harus tetap dekat.

Karena itu, bagi saya, tidak penting saat ini untuk memperhadapkan kelas menegah atas dan bawah dalam menghadapi corona. Tidak perlu pula mengeritik cara kelas menengah atas tersebut dalam menghindari penyebaran corona.

Misalnya, dengan tetap tinggal di rumah, berjemur di rumah, mengunggah aktivitasnya di rumah, dan seterusnya. Kritik terhadap perilaku itu tidak berguna, karena memang begitulah yang harus dilakukan.

Membiarkan kalangan bawah terhaap sikapnya yang acuh tak acuh dengan situasi virus corona, dengan asumsi inilah cara mereka melancarkan perlawanan untuk kalangan menengah atas, juga tidak ada gunanya. Kalangan bawah yang akan rugi sendiri.

Bahwa, masih ada perilaku kelas menegah yang menyebalkan, misalnya, menimbun barang dan memaksa karyawannya untuk tetap kerja, tentu saja perlu dikritik. Mereka itu adalah orang dengan penyakit kapitalisme yang akut.

Penimbun barang disebut oleh Marx dengan sengaja mengurangi produksi dan ketersediaan barang untuk mencari untung. Yang kedua, diistilahkan David Ricardo, dengan “penubuhan kerja.” Mereka dipaksa kerja, karena aktivitas kerja dapat menghasilkan nilai guna, sekaligus nilai harga.

Kehadiran Negara

Saya menganggap, respons masyarakat bawah yang acuh tak acuh terhadap ajakan penjarakan fisik ini, karena negara belum betul-betul hadir sampai ke bawah untuk memastikan sekuritas sosial itu berjalan.

Kata salah seorang influencer, sekaligus relawan sosial Covid-19, dr Tirta, “Di tingkat pusat konsepnya bagus, tetapi prosedur penerapannya tidak berjalan efisien di tingkat bawah.”

Selain itu, sikap acuh tak acuh juga dipicu oleh disinformasi soal virus corona dan physical distancing. Yang sampai malah informasi-informasi yang kurang berdasar, tetapi langsung menyentuh emosi mereka. Contohnya, corona dapat ditangkal dengan makan telur di malam hari.

Disinformasi juga muncul, karena gaya komunikasi dan laku beberapa oknum pejabat. Ada pejabat yang berkompeten, menyampaikan soal corona ini, seakan-akan persoalan yang sangat biasa.

Maksudnya, mungkin agar tidak panik. Namun, cara itu malah terkesan menganggap masalah ini sepele. Di tempat lain, malah ada pejabat yang jalan-jalan keluar negeri dalam situasi wabah corona sedang merebak di mana-mana. Sikap seperti itu ditangkap oleh grass root, bahwa  wabah virus corona ini, bukan hal yang luar biasa.

Faktor lain yang menentukan informasi ini bisa nyambung ke masyarakat, adalah penggunaan istilah yang tepat.

Istilah-istilah social distancing, physical distancing, sampai menjelaskan istilah penyakitnya, harus diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat bawah.  Hal ini,  saya kira, sudah dilakukan banyak kalangan.

Last but not least. Saya setuju ideologi tulisan Bapak Saprillah, yang menunjukkan keberpihakan terhadap kalangan bawah dalam situasi merebaknya virus corona ini.

Ada semangat mendorong kaum menengah atas untuk membantu kalangan bawah, dan tidak hanya meminta kalangan bawah “tidak keluar rumah”.

Hanya saja, bagi saya, caranya bukan dengan memperhadap-hadapkan kelas menengah atas dengan kalangan bawah. Akan tetapi, yang lebih penting, adalah mengorganisir semangat filantropi yang masih tumbuh di kalangan menengah atas.

Pada akhirnya, apresiasi saya kepada tulisan Kepala BLAM, Saprillah, dan juga sikapnya yang selalu legowo  meminta para peneliti di lingkungan kerja kami (BLAM) untuk mengeritik tulisannya ini.

Tak banyak pimpinan yang mampu membuka pintu kritik dan ruang berdebat. Terlebih lagi, di ranah publik. Di antara yang jarang itu, adalah pimpinan saya sendiri, Bapak Saprillah. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *