Wed. Jul 15th, 2020

BLAM

KEREN

Resensi Buku: Islam Pasca Kolonial; Perselingkuhan Reformis Agama, Kolonialisme, dan Liberalisme

7 min read

Foto: M. Irfan

9,193 total views, 4 views today

Oleh: Muh. Irfan Syuhudi (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Resensi Buku:

Judul Buku      : Islam Pasca Kolonial; Perselingkuhan Reformis Agama, Kolonialisme, dan

Liberalisme (Edisi Revisi)

Penulis             : Ahmad Baso

Penerbit           : Pustaka Afid

Tahun Terbit   : 2016

Jumlah Hal.    : 543+xxxviii

SUDAH banyak buku yang mengulas teori poskolonial (post-colonial theory atau pasca kolonial). Mulai penulis luar hingga penulis dalam negeri sendiri.

Setiap kali ada yang ingin menulis wacana poskolonial, nama-nama tenar seperti Edward Said, Homi Bhabha, dan Gayatri Spivak, Leela Gandhi, Ania Loomba, sering dijadikan rujukan.

Tentu saja, masih banyak nama-nama beken lain. Hanya saja, lantaran keterbatasan literatur bacaan saya, sehingga saya tidak tahu. Di Indonesia, ada Nyoman Kutha Ratna, Faruk, dan tentu saja, Ahmad Baso.

Karya novelis kawakan, Pramoedya Ananta Toer, terutama novel tetraloginya; Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, yang mengupas tentang sejarah keterbentukan nasionalisme, juga kerap menjadi rujukan para pegiat kolonialisme di Indonesia.

Dari sekian buku yang membahas poskolonial, saya paling menyukai (tentunya subjektif) buku Ahmad Baso ini. Buku ini merupakan edisi revisi terbitan 2016. Sementara edisi sebelumnya dibuat 2005.

Buku ini menyajikan begitu kaya teoritis, data-data lapangan, disertai kritikannya terhadap kaum orientalis luar dan “orientalis pribumi”.

Yang menarik dan mungkin tidak ditemukan pada sejumlah buku poskolonial lain, Ahmad Baso memasukkan juga contoh kasus poskolonial yang terjadi di dalam dunia Islam.

Dalam semua karyanya dalam bentuk buku, Ahmad Baso memang kerap mengeritisi “orang luar” (barat) yang merendahkan pandangan orang Indonesia. Tak heran, ia pun selalu mengangkat suara lokal, dan menghendaki suara lokal tersebut menjadi rujukan utama.

Bagi Ahmad Baso, suara-suara orang yang selama ini terpinggirkan oleh kalangan intelektual barat, juga layak didengar, dan kemudian ditekskan. Tidak ada penjajah, dan dijajah.

Secara geneologi, kajian Poskolonial sebenarnya mengambil inspirasi dari warisan metodologi yang diidentikkan dengan postmodernisme dan poststrukturalisme.

Buku ini mendasarkan juga pada studi geneologi atau “sejarah kebenaran” dari tulisan penting Michel Foucault. Geneologi fokus kepada persoalan kaitan antara kuasa, pengetahuan, dan tubuh-jiwa, seperti tertuang dalam karya Foucault; Discipline and Punish dan History of Sexuality (hal.27).

Dalam buku ini, Ahmad Baso juga tampaknya tidak tertarik menulis sejarah dalam bentuk kronologis, atau disebutnya menggunakan metode historis konvensional.

Supaya tak kehilangan daya kritisnya, buku ini menulis (ulang) sejarah masa kini, atau history of the present, seperti dikatakan Foucault. Sejarah masa kini bukan hanya sejarah yang terbentuk karena konfigurasi kekuatan-kekuatan masa kini, tetapi juga oleh konfigurasi kekuatan-kekuatan yang ada di masa lalu (hal. 27).

Dalam konteks kajian Studi Poskolonial ini, Ahmad Baso (hal.41), membahas “apa yang terjadi kemudian dalam era pra-kolonialisme”, yang berarti, masa lalu itu hanya punya arti ketika dihadirkan di masa sekarang. Yakni, untuk membenarkan misi kolonialisme, yaitu menebar peradaban dan nilai-nilai baru yang lebih modern. Masa lalu, ketika ditulis (ulang) dan dinarasikan (lagi), adalah “masa lalu yang … (titik-titik, bla-bla)”.

Rezim kolonial-lah yang kemudian menamai, mengisi, dan melengkapinya menjadi kalimat sempurna – seperti halnya pengisian lembar formulir atau berkas kuitansi. Masa lalu bukan lagi sebagaimana yang pernah terjadi. Tetapi masa yang “kemudian” terjadi (kembali, lagi!).

Deliar Noer & Cak Nur

Selama ini, dalam pandangan orang barat, suara orang lokal (termasuk orang-orang Indonesia yang bersekolah di luar negeri), terkesan diabaikan. Suara mereka baru dapat dikatakan “berbunyi”, apabila orang barat sudah menuliskan duluan tentang mereka. Bila keduluan, data tersebut dianggap belum relevan dan ilmiah.

Ada contoh menarik mengenai orang Indonesia yang “dipaksa” mengambil referensi tulisan orang luar (barat), lantaran narasumber dari kalangan pribumi dipandang oleh kaum orientalis tidak relevan.

Hal ini terlihat pada catatan kaki halaman 79-80, di mana Ahmad Baso terkejut dengan istilah “Islam universal” dan “Islam modern”, yang dicantumkan Deliar Noer di dalam disertasinya (1973).

Menurut Ahmad Baso, Deliar Noer menulis gerakan Islam modern di Indonesia dengan mengesampingkan kelompok lain yang dikatakan reaksioner, tradisionalis, dan bukan masa depan Islam. Panduan Deliar Noer membaca warga Indonesia sesama muslim adalah merujuk pada orientalis Gibb.

Dalam penyebutan “Islam universal” dan “Islam modern”, kata Ahmad Baso, sabda sang orientalis menjadi objektif. Pendapat sang orientalis tidak terbantahkan dibanding suara-suara pribumi dalam wacana agama, budaya, dan politik.

Bahkan, ulama kita dalam studi Islam pun, dianggap tidak memiliki kualitas facticity dalam wacana ilmiah tentang Islam, karena dipandang tidak ilmiah (catatan kaki, hal. 78).

Contoh lain yang dikemukakan di dalam buku ini adalah, Nurcholish Madjid (Cak Nur), yang mengambil doktoralnya di Chicago, terpaksa banting haluan menulis disertasi mengenai Ibnu Taymiyah (1983) atas “perintah” gurunya, Fazlur Rahman dan Leonard Binder.

Padahal, ia sebelumnya lebih tertarik menulis kajian naskah seorang ulama kaliber nusantara, Kiai Mojo, abad 19. Terlebih lagi, Cak Nur sebelumnya telah menekuni teks karangan panglima militer Pangeran Diponegoro itu dalam bahasa Jawa aksara Pegon.

Kalau Cak Nur melanjutkan menuliskan Kiai Mojo untuk disertasinya, kata Ahmad Baso, tentu saja gurunya itu (Fazlur Rahman dan Leonard Binder) tidak bisa berbuat apa-apa, dan tidak punya otoritas berbicara karena tidak paham.

Di samping itu, dan inilah yang kurang disukai orientalis, selain sumbernya diambil di Indonesia, Cak Nur pasti akan mengangkat suara-suara orang nusantara yang banyak tahu tentang Kiai Mojo (catatan kaki, hal. 78).

Zainal Abidin dan Armijn Pane

Buku ini terdiri atas tujuh (7) Bab, di luar tambahan dua sub bab, yakni: “Pengantar Edisi Revisi 2016 (Belajar Studi Poskolonial pada Orang Sumatera dan Orang Betawi sebelum Berguru ke Edward Said dan Homi Bhabha)”; dan “Epilog: Islam Nusantara dan Agenda ke Depan Studi Poskolonial di Indonesia.”

Ahmad Baso terinspirasi membuat edisi revisi ini, lantaran ingin melanjutkan Studi Poskolonialnya Haji Zainal Abidin bin Abdul Latif Pekojan Betawi abad 19  dan Armijn Pane dari Mandailing Natal abad 20.

Menurut Ahmad Baso, Zainal Abidin adalah informan kolonial, tetapi kemudian menulis-balik. Ia membaca-balik kuasa kolonial yang menyewa keringat dan pikirannya. “Membaca-balik” atau menulis-balik, merupakan terjemahan dari istilah Poskolonial, “writing-back.”

Sementara Armijn Pane, diakui Ahmad Baso, mengungkap persoalan dalam Studi Poskolonial yang dituangkan di dalam novel Belenggu (terbit 1940). Bahkan, Armjin Pane memperkenalkan cara melakukan Studi Poskolonial, jauh sebelum munculnya Edward Said dan Homi Bhabha (hal. xxviii).

Dibanding buku poskolonial lain yang sudah ada, buku ini menurut saya, punya banyak kelebihan. Mungkin, karena belum ada, atau masih jarang ditemukan tulisan Studi Poskolonial yang secara khusus membahas kasus-kasus yang terjadi di dalam dunia Islam, serta menuangkan pemikir-pemikir Islam.

Dalam kasus Islam, misalnya, buku ini menyoroti bagaimana kaum orientalis menggunakan tangan Wahabi untuk memukul gerakan nasionalismenya Soekarno dan kalangan nasionalis radikal lainnya, serta mencegah kalangan santri bergabung ke SI atau PKI.

Wahabi dipakai juga untuk memukul komunitas pesantren, yang dianggap menyuburkan paham takhayul dan khurafat, seperti kepercayaan kepada kiai, ratu adil, dan jimat-jimat. Bahkan, kaum orientalis, Ignaz Goldziher dan Snouck Hurgronje, kemudian yang menemukan Wahabi di abad 19 (catatan kaki, hal. 39).

Abed al-Jabiri

Di samping itu, buku ini juga mengutip beberapa pemikir kritis Islam, yang juga membahas Poskolonial, antara lain, Muhammad Abed al-Jabiri.

Menurut al-Jabiri, kolonialisme yang datang ke wilayah dunia Islam memperkenalkan dirinya dalam wajah yang serba ambivalen; penjajah sekaligus pembawa pencerahan dan kemajuan (hal.94-95).

Selain mengambil tokoh-tokoh Poskolonial kalangan non muslim, yang saya sukai dari buku ini adalah, karena mengutip juga tokoh Poskolonial kritis muslim, yang sependek pengetahuan saya, jarang sekali ada pada buku lain.

Bisa jadi, penulisnya menginginkan, kehadiran pemikir Islam itu sebagai perbandingan, bahwa tidak semua tokoh Poskolonial itu berasal dari kalangan non muslim.

Beberapa kasus yang diambil dari kalangan intelektual Indonesia yang studi di luar negeri (Deliar Noer, Cak Nur), menunjukkan pula, kuasa barat memang sangat dominan. Kasus-kasus seperti ini, tampaknya masih begitu terasa hingga saat ini. Tanpa disadari, pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan kita pun, telah dihegemoni oleh mereka.

Seperti kata Edward Said, dalam karya besarnya, Orientalisme; Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukkan Timur sebagai Subjek (2010), ia membagi empat jenis relasi kekuasaan yang hidup dalam wacana orientalisme. Yaitu, kekuasaan politis, kekuasaan intelektual, kekuasaan kultural, dan kekuasaan moral (Said, 2010:x).

Membaca buku ini, seolah-olah mengaduk-aduk emosi kita terhadap ulah para orientalis. Kita lantas dibuat kesal, geram, dan jengkel, tetapi sebagian dari kita, tidak berdaya

Epilog

Pada bagian “Epilog: Islam Nusantara dan Agenda ke Depan Studi Poskolonial di Indonesia (hal.421-506),” saya ikut merasakan bagaimana kekesalan dan kegeraman Ahmad Baso terhadap para orientalis ini.

Menurut Ahmad Baso, sebagian para orientalis itu tampil sebagai tukang sulap yang akan mengisi bejana untuk selanjutnya membuat anak-anak Indonesia melek politik, melek peradaban modern. Tukang sulap itu lebih suka disebut “Indonesianis”, bukan “orientalis”, yang katanya lebih halus.

Pada bagian Epilog pula, Ahmad Baso mengeritisi “habis-habisan” sejumlah orientalis seperti antara lain, Clifford Geertz, Snouck, Gibb, dan Herbert Feith. Bahkan, intelektual Indonesia yang pernah belajar di luar negeri, tak luput dari kritikan pedasnya.

Kuntowijoyo, misalnya, yang menulis buku “Raja, Priyayi, dan Kawula”, seperti dikatakan Ahmad Baso, lebih mengikuti selera orientalis daripada arahan saudara sebangsanya sendiri.

Menurut Ahmad Baso, Kuntowijoyo mulai “murtad” dari kultur bangsanya ketika menulis petani nusantara dengan sebutan “peasent”, yang dianggap feodal dan jumud. Apalagi, ini dikontraskan dengan kelas ideal kaum pedagang muslim penopang kelas menengah santri modern (hal.469).

Bagi yang menyukai bacaan poskolonial, saya merekomendasikan buku ini. Dengan sumber rujukan melimpah-ruah, buku ini memperlihatkan juga betapa penulisnya sangat menguasai tema pembahasan ini.

Selain itu, yang saya sukai dari setiap buku Ahmad Baso adalah, gaya penulisannya. Dengan kata lain, ketika hendak menuangkan tulisan, ia ingin merdeka dan tak ingin dikekang. Ia tidak peduli, dan tak ingin diatur oleh sistem penulisan ejaan baku penulisan buku mainstream.

Barangkali, pengaturan gaya penulisan buku dianggapnya warisan kolonial, yang mesti dilawan. Tek heran, beberapa kalimatnya di dalam buku ini pun terkesan vulgar.

Namun, bagi saya, ini justru kehebatan seorang Ahmad Baso. Dengan kalimat layaknya orang bertutur, ia seolah tengah berbicara dengan kita (pembaca). Tentunya, hal itu memudahkan para pembaca untuk untuk memahami sesuatu yang sulit dipahami sebelumnya.

Lihat saja, salah satu contohnya:

“…Proyek “re-generasi Islam” ini kemudian “dikipas-kipasin” oleh kalangan liberal-reformis di Eropa abad 19. Jeremy Bentam dan John Stuart Mill – “mbah”-nya kaum liberal Eropa – menyerukan perlunya kolonialisme Eropa di Timur untuk memperkenalkan nilai-nilai modern danl liberal dalam rangka membentuk masyarakat baru dan kultur baru orang-orang Timur itu (hal.84).” (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *