Tue. Jul 14th, 2020

BLAM

KEREN

Resensi Buku: 21 Lessons; 21 Adab untuk Abad 21

5 min read

Foto: Istimewa

5,869 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Judul               : 21 Lessons: 21 Adab untuk Abad 21

Pengarang       : Yuval Noah Harari

Penerbit           : Global Indo Kreatif

Tahun terbit     : 2018

Halaman          : 375 + xv

RIBUAN tahun, bahkan mungkin, jutaan tahun perjalanan evolusi telah membuktikan, manusia adalah species yang telah teruji mampu bertahan dalam perubahan-perubahan zaman.

Kemampuan intelegensia yang dimiliki manusia, merupakan faktor yang membuatnya mampu melewati tahapan perubahan. Bahkan, intelegensia tersebut menjadi penentu terciptanya sebuah perubahan besar dalam sejarah evolusi. Selain daya intelegensia, kemampuan lainnya adalah daya imajinasi.

Setiap zaman menghadirkan tantangan berbeda. Oleh karenanya, menuntut langkah-langkah strategis untuk menghadapi tantangan tersebut. Abad 21 diramalkan sebagai masa emas pencapaian temuan teknologi.

Kemajuan teknologi merupakan penanda keberhasilan peradaban manusia. Namun, di sisi lain,  kemajuan teknologi dapat menjadi ancaman bagi eksistensi manusia.

Nikolai Berdyaev, filosof asal Rusia, menyebutkan, peradaban merupakan salah satu penjara kemanusiaan.

Senada hal tersebut, Alexis Carrel, peraih nobel kedokteran dan pemikir soal kemanusiaan asal Perancis, menyatakan, manusia modern rentan mengalami Split Personality (Kepribadian yang Terbelah) sebagai efek kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam buku Homo Deus, Harari meramalkan, kemampuan algoritma dalam komputer dan sains kehidupan akan berkembang sedemikian rupa, sehingga melampaui kemampuan kognisi manusia dalam setiap bidang kehidupan.

Manusia diramalkan akan dikuasai algoritma big data dan artificial intelegence (AI) yang tak lain adalah hasil temuan manusia sendiri.

Buku 21 Lessons for the 21st Century yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul 21 Adab untuk Abad ke 21. Buku yang terbit tahun 2018 tersebut (baik edisi bahasa Inggris maupun terjemahannya) merupakan buku ketiga dari trilogi “Sapiens”.

Buku pertama berjudul “Sapiens” berisi kisah perkembangan sejarah besar manusia hingga menjadi penguasa planet bumi. Buku kedua berjudul ”Homo Deus” menggambarkan masa depan dari sejarah panjang manusia, serta meramalkan apa yang menjadi “takdir akhir” dari kecerdasan dan kesadaran manusia.

Buku ketiga berfokus pada saat ini (abad 21), apa yang sedang terjadi, serta apa tantangan dan pilihan terbesar manusia di abad ini.

Buku 21 Lessons menjadi panduan dalam menghadapi perubahan zaman dengan memperingatkan manusia mengenai bagaimana cara belajar, beradaptasi dan bertahan, apa yang harus kita perhatikan dan apa yang harus kita ajarkan pada anak-anak kita.

Poin Pembelajaran

Terdapat 21 poin pembelajaran yang diulas dalam buku ini, yang dibagi dalam lima bagian.

Pada Bagian I; yaitu Tantangan Teknologi terbagi menjadi poin kekecewaan, pekerjaan, kebebasan dan kesetaraan. Bagian II; Tantangan Politik mencakup komunitas, peradaban, nasionalisme, agama,  dan imigrasi.

Bagian III; Keputusasaaan dan Harapan terbagi dalam lima poin, yaitu terorisme, perang, kerendahan hati, Tuhan, dan sekularisme.

Bagian IV; Kebenaran terbagi dalam empat pembahasan: ketidaktahuan, keadilan, pasca kebenaran dan fiksi ilmiah. Sementara Bagian V;  Daya Tahan membahas pendidikan, makna, dan meditasi.

Ke 21 istilah tersebut, menurut Harari, akan menjadi poros-poros kehidupan manusia saat ini, dan masa mendatang.

Buku 21 Lessons merefleksikan secara historis poin-poin tersebut yang menjadi pembelajaran bagi manusia abad 21, beserta kemungkinan-kemungkinan berserta tantangan yang akan hadir.

Sebagai bagian dari buku trilogi, 21 Lessons, memiliki ketersambungan dengan dua buku sebelumnya (Sapiens dan Homo Deus). Perubahan zaman adalah sesuatu yang pasti, sebagaimana diktum teori evolusi, yakni hanya yang mampu beradaptasi dengan perubahanlah yang mampu bertahan.

Di ketiga buku tersebut, Harari juga menggarisbawahi kemampaun imajinasi manusia yang mampu menciptakan fiksi, atau narasi bersama. Agama, negara, ideologi, dan uang adalah contoh fiksi bersama tersebut.

Peradaban manusia sedang mengalami ledakan teknologi dengan segala tantangannya. Namun,  sayangnya, otak manusia masih banyak yang belum beranjak dari naluri dan insting primitif.

Abad 20 sebagai abad ideology, ditandai dengan pertarungan ideologis antara fasisme, komunisme, dan liberalisme. Pertarungan tersebut menghasilkan kemenangan besar bagi liberalisme, demokrasi, HAM, dan kapitalisme, yang akhirnya menjadi penguasa dunia.

Di abad 21, setelah fasisme dan komunisme runtuh, liberalisme justru terjebak dalam kemacetan. Di sini, Harari hanya sampai pada pertanyaan, jadi kemana kita akan pergi?

Abad 21 tidak hanya membawa perubahan-perubahan besar, tetapi juga tantangan-tantangan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Perubahan iklim, pemanasan global, perang cyber, dan senjata pemusnah massal, menjadi problem besar manusia di abad 21.

Abad 21 mengantarkan manusia pada kemajuan dan perkembangan teknologi melalui Google, Facebook, ISS, dan lain-lain.

Abad 21 juga memperhadapkan kita pada kenyataan radikalisme agama, terorisme, gerakan anti migran, ekstrem kanan Eropa, masifnya berita hoax di era pust-truth, hingga kemunculan Donald Trump, dan kemunculan tantangan paradoksal lainnya.

Runtuhnya Fiksi

Abad 21 ditandai dengan runtuhnya fiksi atau narasi bersama seperti ideologi, moneter, hingga nasionalisme dan agama. Hal ini memicu kebingungan dan disorientasi. Hal inilah yang sebenarnya memicu rangkaian paradoksal tersebut. Kaum radikalis dan ekstremis kanan atau kaum konservatif, misalnya, merupakan orang yang galau akan fenomena tersebut.

Rangkaian paradoksal yang disebut di atas, menurut Harari merupakan perwujudan insting primitif dari kelompok manusia yang tidak bisa beradaptasi dengan perubahan. Kelompok ini berusaha untuk kembali kepada akar budaya sejarah, yang sejatinya, sudah tidak relevan lagi.

Kelompok seperti ini bisa hadir atas nama latar primordial, baik agama, ras, atau bangsa. Idealisasi masa lalu membuat mereka terasing dan tersingkir terhadap arus perubahan zaman. Mereka ingin kembali ke masa lalu, yang menurut mereka, lebih menawarkan kenyamanan.

Padahal, intinya, adalah ketidaksiapan beradaptasi dengan perubahan dan kegamangan akibat runtuhnya fiksi atau narasi bersama yang selama ini diagungkan.

Fenomena kemenangan Donald Trump, menurut Harari, merupakan ilustrasi dari kelompok konservatif yang ingin kembali kepada Amerika di era 1950-an.

Akibat dari rangkaian paradoksal tersebut masa depan umat manusia menghadapi ancaman besar, yaitu; perang nuklir, keruntuhan ekologis dan disrupsi teknologi. Apabila ketiga ancaman ini terjadi secara bersamaan, akan menimbulkan kerusakan yang akan memicu suatu krisis eksistensial, yang tak pernah ada sebelumnya.

Insting Primitif

Menurut Harari, yang paling penting di abad 21, adalah memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI) dan bioteknologi untuk memberi manusia kekuatan dalam membentuk dan membangun kembali kehidupan manusia.

Hal yang tak kalah penting adalah, bagaimana membuat manusia bisa menyesuaikan diri dengan hal tersebut, sehingga insting primitif manusia yang menjadi potensi ancaman dapat diredam.

Harari juga mengingatkan, teknologi di satu sisi merupakan tantangan dan ancaman yang tak kalah mematikan. Teknologi algoritma dan AI, di satu sisi, dapat  mempermudah pekerjaan manusia. Namun dilemanya, AI justru akan mengambil sebagian besar peran manusia.

Melalui buku 21 Lessons, Harari mencoba memaparkan kebijakan kepada manusia untuk memahami dan mengakui siapa diri manusia di zaman “kebingungan” ini.

Harari juga mengingatkan mengenai kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh manusia. Tentang kejamnya manusia pada dirinya sendiri, pada sesamanya, dan pada alam di mana ia hidup.

Melalui 21 poin pembelajaran di era abad 21, Harari mengajak pembaca untuk mengkaji kembali soal pengenalan dan pemaknaan akan diktum-diktum yang mungkin selama ini dianggap mapan, seperti keadilan, kebenaran, agama, hingga Tuhan. Masihkah kesemuanya itu relevan dengan konteks abad 21?

Buku 21 Lessons dan dua buku Harari lainnya tentu saja masih perlu diberikan beberapa catatan kritis. Namun, bagi saya, satu hal yang menarik ketika Harari mengingatkan kita; “Lebih baik kita memahami pikiran kita, sebelum algoritma menciptakan pikiran kita untuk kita.” (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *