Mon. Jul 13th, 2020

BLAM

KEREN

“Ngantor” di Rumah, Saprillah Minta Peneliti Produktif Berkarya

3 min read

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si. Foto: Dok. BLAM

3,177 total views, 4 views today

MAKASSAR, BLAM – Kepala Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), H. Saprillah, M.Si, meminta kepada seluruh peneliti untuk memanfaatkan waktu Work From Home (WFH) dengan menghasilkan karya tulis ilmiah.

“Dengan beraktivitas Work From Home, setidaknya kita punya lebih banyak waktu luang. Jadi, marilah kita bersama-sama memanfaatkan waktu luang ini dengan menghasilkan hal-hal positif, seperti menulis laporan penelitian, artikel untuk jurnal, serta artikel dan resensi buku untuk website kita (blamakassar.co.id),” kata Saprillah, Kamis, 26 Maret 2020.

Menurut Saprillah, “ngantor” di rumah, atau Work From Home, jangan lantas membuat para peneliti bersikap malas-malasan. Di saat seperti inilah, peneliti justru ditantang untuk bisa lebih produktif lagi menulis.

“Setelah mengerjakan tugas-tugas rutin kantor seperti biasa, kita masih punya banyak waktu kosong untuk membaca dan menulis. Saya kira, inilah kesempatan peneliti untuk bisa lebih produktif berkarya,” imbuh Saprillah.

Kepada peneliti yang dipercaya mengelola jurnal ilmiah di bidangnya masing-masing, Saprillah juga mengingatkan untuk terus memerhatikan perkembangan artikel yang akan diseleksi, dan dimuat di dalam jurnal tersebut.

BLAM mengelola empat jurnal ilmiah terakreditasi nasional, yaitu Jurnal Al-Qalam, Pusaka, Educandum, dan Mimikri.

Sejak wabah corona menerjang, pemerintah meminta semua instansi negara melakukan kegiatan WFH sejak 17 Maret 2020. BLAM sendiri, sejak 18 Maret 2020, sudah memberlakukan pembagian kerja (shift) dua gelombang kepada seluruh ASN dan non ASN sampai 31 Maret 2020.

Hal ini dipertegas lagi dengan terbitnya Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2020, yang ditandatangani Sekretaris Badan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Prof. Dr. H. Moh. Isom, tertanggal 24 Maret 2020, mengenai “Petunjuk Teknis Bekerja dari Rumah/Tempat Tinggal dalam Upaya Pencegahan Penyebaran Covid-19 pada Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama.”

Selain itu, sejak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan mengumumkan Makassar masuk kategori mewaspada virus corona-19, lantaran sudah ada positif mengidap corona dan meninggal, BLAM kemudian memutuskan melakukan WFH hingga 31 Maret 2020.

Apalagi, MUI Sulsel dan Pemprov Sulsel, sejak pekan lalu, juga sudah mengeluarkan imbauan kepada seluruh masyarakat Sulsel untuk menghindari tempat-tempat keramaian dan menjaga jarak (social distancing). Termasuk, untuk sementara waktu tidak melaksanakan aktivitas dan ritual keagamaan di setiap rumah ibadat.

Dengan WFH serta menerapkan social distancing, BLAM juga terpaksa menunda beberapa kegiatan penting yang dijadwalkan digelar pertengahan dan akhir Maret 2020, antara lain, seminar awal dan seminar akhir penelitian tahap pertama, dan kegiatan pengembangan (workshop).

“Setelah 1 April nanti, kita akan melihat bagaimana kondisi virus corona. Apakah WFH akan diperpanjang, atau ada lagi regulasi baru. Tapi, semua tentu sangat berharap kondisi seperti ini bisa segera pulih dan normal kembali,” kata Saprillah.

Peneliti BLAM

Peneliti BLAM menyambut positif usulan Kepala BLAM, Saprilah, untuk tetap produktif berkarya.

Para peneliti pun sepakat, kegiatan WFH mesti disertai dengan melakukan aktivitas positif sesuai bidang dan pekerjaannya. Kalau cuma “duduk-duduk” di rumah tanpa melakukan aktivitas membaca dan menulis, hal tersebut bisa membuat kegiatan WFH terasa jenuh dan membosankan.

“Kita semua mengapresiasi apa yang dikatakan Kepala BLAM Saprillah. Usulan beliau sangat bagus. Bahkan, tanpa diminta pun, kita (peneliti) memang harus tetap bekerja dan menulis, walau dalam kondisi WFH dan social distancing seperti saat ini,” kata Peneliti Syamsurijal.

Peneliti Abu Muslim, menyatakan hal sama. Sebagai Sekretaris Redaksi Jurnal Al-Qalam (jurnal terakreditasi Sinta Dua), ia pun selalu memantau artikel yang masuk melalui open jurnal system yang dikirimkan oleh penulisnya. “WFH ini bukan liburan, tetapi kita bekerja di rumah. Saya kira, teman-teman lain pun begitu,” kata Abu Muslim. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *