Thu. Nov 26th, 2020

BLAM

KEREN

Mengingat Allah Yang Mahahidup

6 min read

Sumber gambar: Aktual.com

4,055 total views, 2 views today

Oleh: H.M. Hamdar Arraiyyah (Profesor Riset pada Balai Litbang Agama Makassar)

Kata zikr (Arab) dari segi bahasa berarti ‘mengingat dan menyebut’. Frasa zikru-llah berarti mengingat Allah. Salah satu ayat Al-Qur’an menyatakan, Alaa bi-dzikri-llahi tathmainnu-l quluub. Artinya, Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (ar-Ra‘d/13:28).

Ayat lain menyatakan, Wa-dzkur-isma rabbika bukratan wa ashiila. Artinya, Dan sebutlah nama Tuhanmu pada (waktu) pagi dan petang (al-Insan/76:25).

Pengamalan zikir mempunyai beberapa cara. Di antaranya, (1) membaca ayat-ayat Al-Qur’an, (2) membaca lafaz zikir yang terdapat di dalam hadis Nabi Muhammad Saw., dan (3) membaca bacaan yang dikembangkan oleh ulama berdasarkan Al-Quran dan hadis. Perpaduan tiga jenis teks itu dimuat dalam sebagian buku panduan zikir.

Kegiatan zikir dapat dilakukan sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Kegiatan zikir bersama lazim dilakukan oleh anggota perkumpulan tarekat. Misalnya, perkumpulan Tarekat Naqsyabandiyah, Tarekat Muhammadiyah, dan Tarekat Khalwatiyah.

Tata cara pelaksanaan zikir sudah ditetapkan. Selain itu, umat Islam mengembangkan pula kegiatan zikir bersama melalui wadah majelis zikir atau majelis taklim. Teks zikir yang dibaca beragam.

Membaca Ayat al-Kursi

Salat satu ayat Al-Qur’an yang dianjurkan untuk senantiasa dibaca adalah ayat al-Kursiy. Berdasarkan hadis Nabi Muhammad Saw., ayat ini dianjurkan untuk dibaca setelah pelaksanaan salat fardu. Demikian pula halnya sesaat sebelum tidur.

Ayat ini juga menjadi bagian dari sejumlah bacaan zikir yang dianjurkan pada waktu pagi dan petang. Dengan demikian, intensitas pembacaan ayat ini sangat tinggi bagi orang yang banyak berzikir.

Ayat al-Kursiy tergolong panjang. Bagian awal dari ayat tersebut, yakni Allahu laa ilaaha illaa huwa, al-hayyu-l qayyuum. Laa ta’khuzhuhu sinatun wa laa naum. Lahuu maa fi-s samaawaati wa maa fi-l ardh (Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. (al-Bqarah/2: 255).

Kalimat pertama pada ayat al-Kursiy memuat ajaran pokok dalam Islam, yaitu tauhid. Allah, tidak ada tuhan yang patut disembah selain Dia. Kandungan pernyataan tersebut memudahkan untuk memahami hadis tentang keutamaan ayat al-Kursiy.

Hadis Nabi Muhammad Saw. menyatakan (artinya), Barangsiapa membaca ayat al-Kursiy sesudah setiap salat wajib, maka tidak ada yang menghalanginya masuk surga kecuali ia meninggal (HR. Ibnu Hibban; as-Suyuthi, II, t.th.:178).

Hadis dengan redaksi yang sedikit berbeda dimuat pula dalam at-Tafsir al-Wadhih (Hijazi, I, 3, 1969: 7). Sejalan dengan kandungan hadis ini, maka sebagian umat Islam berusaha untuk melakukan amalan sunat ini sesudah salat fardu.

Pada ayat al-Kursiy terdapat kata al-Hayy, salah satu nama Allah. Artinya ‘Yang Mahahidup’. Terjemah dalam bahasa Inggris, antara lain, the Living (Ali, 1991:105) dan the Ever-Living (Asad, 2003:69). Nama ini juga mencerminkan sifat Allah yang terkandung di dalamnya.

Sayid Sabiq dalam buku Aqidah Islam (judul asli al-‘Aqaid al-Islamiyyah) menyebut Hayat (Hidup) sebagai salah satu sifat tsubutiah, sebagai ketetapan keadaan Allah Ta‘la.

Sifat lainnya yang dimasukkan ke dalam kategori itu, yakni Qudrah (Kuasa), Iradah (Berkehendak), ‘Ilm (Mengetahui), Kalam (Berfiman), Sama’ (Mendengar), dan Bashar (Melihat) (Sabiq, 1986:104 dan 114).

Kutipan ini menyegarkan ingatan bahwa terdapat salah satu cabang ilmu agama Islam yang secara khusus membicarakan tentang akidah (Ilmu Tauhid).

Melalui cabang ilmu agama ini, ulama memandu umat Islam agar memiliki keyakinan keagamaan yang benar tentang Allah Yang Maha Esa.

Al-Qur’an memberikan beberapa penjelasan tentang al-Hayy. Di antaranya, Watawakkal ‘ala-l Hayyi-l ladzi laa yamuut wa sabbih bi-hamdih. (Dan bertawakallah kepada Allah Yang Hidup, Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya) (al-Furqan/25:58).

Maksudnya, antara lain, Allah hidup selamanya dan tidak mengalami kematian, seperti yang dialami oleh makhluk-Nya. Pemahaman dan keyakinan demikian dijadikan pegangan yang kuat. Selanjutnya, diharapkan agar keyakinan itu ditindaklanjuti, yakni bertasbih dan memuji-Nya.

Ayat 58 dari surah al-Furqan di atas diawali dengan perintah untuk bertawakal kepada Yang Mahahidup, yakni Allah. Ini mengandung salah satu alasan mengapa sikap berserah diri kepada Allah itu diperlukan setiap Muslim.

Sikap tawakal ini dirasakan semakin diperlukan pada saat orang beriman menghadapi berbagai keadaan yang mengancam kelangsungan hidup mereka di atas bumi.

Makna yang terkandung dalam kata al-Hayy mempunyai kaitan yang erat sekali dengan nama-nama-Nya yang lain, seperti al-Muhyi dan al-Mumiit (Yang menghidupkan dan Yang mematikan).

Dua nama ini terdapat dalam al-Asmaa al-Husnaa, yang disebut dalam hadis Nabi Muhammad Saw. Nama-nama ini dihafal oleh banyak orang karena dibaca secara rutin.

Kata al-Muhyi (Yang menghidupkan) menunjuk pada pelaku. Ini tergolong kata benda (isim). Ini dibentuk dari kata kerja ahyaa (menghidupkan: bentuk lampau) dan yuhyii (menghidupkan: bentuk sekarang dan akan datang). Dua kata kerja ini banyak digunakan di dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad Saw.

Salah satu dari ayat yang dimaksud seperti berikut. Artinya, Sesungguhnya Allah memiliki kekuasaan langit dan bumi. Dia menghidupkan dan mematikan. Tidak ada penolong dan pelindung bagimu selain Allah (at-Taubah/9:116).

Bila waktu kematian seseorang telah tiba, tidak ada yang mampu mencegahnya. Ayat Al-Qur’an menyatakan, Maka kalau begitu mengapa (tidak mencegah) ketika (nyawa) telah sampai di kerongkongan, dan kamu ketika itu melihat (al-Waqi‘ah/56:83-84).

Selanjutnya, salah satu hadis Nabi Muhammad Saw. yang memuat kata ahyaa, seperti berikut ini.  Alhamdu lillahi-l ladzii ahyaanaa ba‘da maa amaatanaa wa ilahi-n nusyuur (Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami kembali setelah Ia mematikan kami, dan hanya kepada-Nya kami dibangkitkan) (HR. al-Bukhari; Shabir, II, 2004:195).

Hadis ini dianjurkan untuk dibaca pada waktu bangun dari tidur. Teks hadis ini termasuk bacaan zikir. Dengan membaca zikir ini seorang Muslim memperkuat keyakinan bahwa Allah yang menghidupkan dan mematikan manusia.

Pernyataan lain dalam Al-Qur’an, yakni Yang menciptakan mati dan hidup (al-Mulk/67:2). Keyakinan keagamaan seperti itu dimantapkan melalui pernyataan yang diulang-ulang.

Muslim meyakini bahwa hidup dan mati ditentukan oleh Allah. Keyakinan itu berlandaskan, antara lain, pada ayat berikut. Artinya, Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya (Ali ‘Imran/3:145).

Dengan demikian, sikap berserah diri kepada Allah dalam menghadapi segala kemungkinan adalah suatu kemestian bagi Muslim.

Membaca ya Hayyu ya Qayyuum

Salah satu teks yang sering dibaca pada kegiatan zikir adalah al-Asmaa al-Husnaa (nama-nama Allah yang terbaik).

Nama yang terkandung di dalam al-Asmaa al-Husnaa sebagaimana disebutkan di dalam hadis Nabi Muhammad Saw. bejumlah 99. Nama-nama itu ada kalanya dibaca seluruhnya, tetapi ada kalanya hanya dibaca salah satu atau sebagiannya saja.

Berzikir dan berdoa dengan al-Asmaa al-Husnaa merujuk, antara lain, pada ayat berikut. Wa lillahi-l Asmaau-l Husnaa fa-d‘uuhu bihaa wa dzaruu-l ladziina yulhiduuna fii asmaaihi.

Artinya, Dan Allah memiliki Asmaaul Husnaa (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaaul Husnaa itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya (al-A‘raf/7:180).

Sejalan dengan ayat di atas, Nabi Muhammad Saw. mengajarkan salah satu lafaz zikir yang di dalamnya terdapat nama al-Hayy dan al-Qayyuum. Nabi Saw. mengajarkan teks itu kepada putri beliau, Fathimah r.a., untuk dibaca pada waktu pagi dan petang.

Teks zikir ini dimuat dalam kitab al-Adzkaar yang diulis oleh Imam an-Nawawi (w. 676 H). Teks ini juga dimuat dalam buku Hishn al-Muslim oleh al-Qahthani dengan redaksi yang berbeda sedikit.

Teksnya seperti berikut. Ya Hayyu ya Qayyuum, bika astagiitsu, fa-ashlih lii sya’nii kullahu, wa laa takilnii ilaa nafsii tharfata ‘ain.

Artinya, Wahai Tuhan Yang Mahahidup, Wahai Tuhan yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), pada-Mu aku memohon pertolongan, maka perbaikilah untukku keadaanku seluruhnya, jangan kiranya Engkau membiarkan diriku (tanpa rahmat-Mu) walaupun hanya sekejap mata. (HR al-Hakim dan lainnya; an-Nawawi, t.th.:78;  al-Qahthani, 2014:64. Teks dari an-Nawawi).

Kata al-hayy dibentuk dari kata kerja hayiya, yang berarti ‘hidup’ (al-Munawwir, 1997:315). Menurut al-Mu‘jam al-Washith, kata hayiya berarti ‘mengalami pertumbuhan’. Ungkapan Hayiya al-qaum berarti Hasunat haalatuhum (Keadaan kaum itu berlangsung baik) (Dhaif, ed., 2003:213)

Sementara itu, Tafsir Jalalain menjelaskan makna kata al-Hayy bagi Allah, yakni ‘Kekal keberadaan-Nya’ (al-Mahalli dan as-Suyuthi, 1991:37).

Pada saat melakukan zikir sebagian umat Islam membaca ya Hayyu, ya Qayyuum. Dalam kaitan ini, mereka memuji Allah dengan menyebut kedua nama-Nya itu.

Di balik pujian itu, tersirat doa agar mereka senantiasa mendapat anugerah berupa kehidupan yang baik dan keperluan mereka senantiasa terpenuhi. Wallahu a‘lam. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *