Mon. Jul 13th, 2020

BLAM

KEREN

Menyepi; Mencecap Kehadiran “Tuhan” dalam Hening

4 min read

Sumber gambar: WordPress.com

2,731 total views, 8 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Dalam situasi hening karena lagi menyepi di rumah, saya teringat Cerita “Sunat” yang merupakan salah satu cerita pendek (cerpen) Pramoedya Ananta Toer, yang terhimpun dalam “Cerita dari Blora.” Cerita itu mengisahkan tokoh ‘aku’, yang kendati takut, juga senang menyambut sebuah ritual bernama “sunat”.

Tokoh “aku” merasa takut, karena sunat itu. Artinya, ia akan berhadapan dengan mantri desa, atau seorang dukun, yang memegang pisau, dan siap memotong kulit dari bagian tubuh kita. Sebaliknya, ia pun senang, karena dengan disunat, ia akan diupacarakan dengan meriah. Diarak keliling kampung dan dapat hadiah.

Tetapi, di atas semua itu, kebahagiaan sesungguhnya yang dirasakan tokoh “aku” dalam cerpen itu, tak lain: karena melalui sunat itulah, orang akan betul-betul menjadi Islam yang sejati.

Namun, apa yang terjadi kemudian?

Beberapa saat selepas tokoh “aku” disunat, ibunya bertanya kepadanya; “Sudahkah engkau menjadi Islam yang sejati?” Si tokoh “aku” kaget. Barulah ia sadar, bahwa ia ingin disunat.

Salah satunya dan paling memengaruhinya, ia pun ingin menjadi Islam Sejati. Tapi, apakah kini Islamnya betul-betul telah menjadi Islam sejati? Ia merasa, tidak ada yang berubah.

“Mungkin salatmu belum lengkap,” tanya ibunya.

“Lengkap… Selalu lengkap, Bu,” jawab si “aku.”

Cerita dari Pramoedya ini kembali saya baca dalam tulisan Hairus Salim (2019) “Cara Menjadi Orang Islam Sejati.” Tulisan ini termuat dalam kumpulan tulisannya yang memukau: “Tuhan Yang Tersembunyi; Renungan dari Balik Aksara.”

Saya lama tercenung membaca dua paragraf terakhir dari tulisan Hairus Salim (2019:104) dalam bukunya tersebut. Saya kutip saja di sini salah satu dari gugus kalimat tersebut:

Cerpen sunat yang terkumpul dalam Cerita Dari Blora, dituliskan Pramoedya pada tahun 1950-an awal. Dalam masyarakat, tentu Hasrat ke syurga (menjadi Islam Sejati) masih ada, bahkan tambah menyala-nyala. Ia tak hanya milik kanak-kanak, melainkan justru dominan di kalangan orang dewasa. Ia juga tidak semata hanya bisa dipenuhi dengan bersunat, sembahyang dan berhaji, tetapi bagi segelintir orang juga bisa dipenuhi dengan “jihad”: membunuh orang lain dengan melakukan bom bunuh diri.

Lalu, muncullah setumpuk pertanyaan di kepalaku. Begitukah cara orang mencari Islam Sejati?  Apakah Islam yang sejati itu harus dicari dalam hiruk pikuk ritual?

Jika kita menengok di sekeliling kita, apa yang menjadi kesimpulan dari Hairus Salim ini,  tidaklah berlebih-lebihan. Kita menyaksikan bagaimana orang-orang berlomba-lomba mengerahkan massa. Mengangkat panji-panji agama. Turun ke jalan atas nama membela agama. Semuanya atas nama ingin menjadi, atau disebut, Islam Sejati.

Di tempat lain, ada orang berkali-kali naik haji dan umrah saban bulan. Tentu, tujuannya, karena ingin menjadi Islam Sejati.

Banyak orang menjadikan hijrah seakan sebagai karnaval, diiklankan, dan beritanya bergemuruh di media sosial. Untuk apa? Jawabannya ingin menjadi Islam yang sejati. Sementara yang lain, mereka membentuk pasukan, yang disebutnya, “Pejuang Salat Subuh”.

Tugasnya, meramaikan dan mengajak orang ramai-ramai Salat Subuh berjamaah di masjid. Tujuannya juga pasti sama; “Ingin menjadi Islam yang Sejati”. Di tengah gegap gempita itu, dalam perlombaan syiar agama, apakah Islam sejati ditemukan?

Mungkin, ada yang mendapatkan gelegar semangatnya. Tapi, betulkah itulah Islam Sejati? Kalau kita tanyakan pada si tokoh “aku” dalam cerpen Pramoedya, ia merasakan tidak mendapatkan Islam Sejati dalam ritual yang riuh itu.

Uzlah

Karena itulah, seorang sufi biasanya mencari kesejatian, bukan dalam keriuhan. Tidak pula pada syiar yang biasanya lebih mengedepankan pada gemuruh seremonial sebuah ritual. Mereka mencari dalam hening. Memilih minggir dari hiruk pikuknya ritual. Menyepi untuk keperluan menemukan hal tertentu. Dalam bahasa tasawuf disebut uzlah.

Pada hakikatnya, ibadah yang tidak bersangkut paut dengan persoalan sosial dan hanya merupakan perjumpaan pribadi antara hamba dengan Tuhannya, selalu memerlukan ruang yang sunyi. Kita perlu menyepi untuk bisa melihat betapa rapuhnya diri kita.

Di ruang sunyi itu, kita diajak untuk menengok batin terdalam kita.  Karena itulah, salah satu salat sunat yang utama, yakni tahajud, diperintahkan pada sepertiga malam terakhir.  Ketika yang lainnya tengah lelap dalam mimpi, ketika kesunyian sedang memeluk semesta, kita dipanggil berdialog dengan Tuhan.

Tentu kita memerlukan ibadah dalam bentuk kolektivitas. Ritual yang semarak dengan jamaah yang besar. Tetapi kepentingannya adalah syiar.

Dalam ibadah yang menonjolkan performance, menemukan Islam yang sejati bukannya tidak bisa, tetapi sering kali sulit diraih. Diri kita sulit menghindar dari terbitnya riya di dasar sanubari.

Rabiyatul Adawiyah, memilih bertafakur di rumahnya dibanding harus ke Mekkah untuk mengikuti ritual haji di tengah keramaian. Tetapi, pada akhirnya, Ka’bahlah yang datang mengunjunginya.

Imam Al-Gazali meninggalkan keramaian Kota Baghdad, dan memilih menyepi untuk menangkap dan merefleksikan kehidupan. Dari hasil menyepinya, lahirlah Ihya Ulumu Din.

Saya juga tidak sependapat untuk selamanya menarik diri dari hiruk pikuk kehidupan sosial. Berkhalwat, hanya karena ingin berasyik masyuk antara dirinya sendiri dengan Tuhan, sehingga mengabaikan orang lain. Namun, memang ada kalanya, kita perlu mundur sesaat. Menghindar dari keramaian. Tenggelam dalam kesunyian.

Kapankah waktu untuk menyepi itu? Allah sendiri telah menyebut di sepertiga malam terakhir. Saat tahajud. Selebihnya, boleh kita cari waktu masing-masing yang menurut kita paling tepat.

Namun, mungkin saja, selama ini kebanyakan kita larut dengan ibadah yang riuh rendah.  Sibuk berlomba dengan ritual yang menonjolkan simbol. Lupa refleksi diri dalam ruang yang hening.  Dan, Tuhan pun mengingatkan kita.  Ya… Mengingatkan kita melalui wabah virus corona.

Tuhan sedang menuntun kita mencari Kesejatian Islam dan kesejatian agama apa pun dalam keheningan. Kita ditarik ke ruang sepi untuk bertemu Tuhan.

Melalui virus corona, Tuhan seakan sedang mengajarkan kita, bahwa mencari-Nya tidak melulu di masjid-masjid, di atas mimbar, di panggung aksi bela Islam, di depan Ka’bah, dan dalam salat berjamaah.

Tuhan pun tidak harus selalu dicari di Sinagog, di altar Gereja, di dalam Pura, di Tembok Ratapan, dan di Vihara. Tuhan ternyata ada di sekitarmu. Sangat dekat denganmu. Bahkan, lebih dekat dari urat nadimu.

Izinkanlah saya menutup tulisan ini dengan mengutip dua bait terakhir puisi Said Muniruddin:

Corona mengajarimu,

Tuhan itu bukan (melulu) pada keramaian

Tuhan itu bukan (melulu) pada syariat

Tuhan itu ada pada jalan keterputusanmu

Dengan dunia yang berpenyakit

 

Corona memurnikan agama

Bahwa tak ada yang boleh tersisa

Kecuali Tuhan itu sendiri

Temukan Dia… (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *