Mon. Jul 13th, 2020

BLAM

KEREN

Kesalahan Berpikir tentang Corona yang Membuat Jiwa Kita Semakin Ketakutan

4 min read

Sumber gambar: WordPress.com

3,552 total views, 6 views today

Oleh: Saprillah (Kepala Balai Litbang Agama Makassar)

Sejak pagi, saya membongkar-bongkar lemari buku. Saya penasaran dengan satu buku yang ditulis Kang Jalal (Jalaluddin Rakhmat) kira-kira tahun 2000 an, atau paling tidak, akhir 90 an.

Buku itu memuat beberapa teori tentang Kesalahan Berpikir, yang tanpa sadar mengendap di pikiran kita, baik sebagai individu, anggota komunitas, maupun lebih luas lagi, anggota masyarakat.

Singkatnya, kesalahan berpikir atau fallacy logic, adalah suatu cara berpikir yang membawa manusia ke dalam kesalahan menarik kesimpulan, dan berimplikasi pada kesalahan-kesalahan dalam kehidupan sosial.

Stigma, labeling, dan streotipe, adalah hasil dari kerja logika keliru yang dipatenkan dalam kebudayaan. Cara berpikir keliru ini sulit sekali dibongkar, apabila telah memasuki ruang yang lebih kuat, bernama dogma.

Saya tertarik membaca ulang buku itu ketika mengamati meluapnya informasi tentang virus corona di media sosial. Sejak dua minggu terakhir, kita hidup berdampingan dengan “informasi” tentang corona dengan sangat intens.

Tanpa kita minta, informasi itu muncul begitu saja di platform media digital yang kita punya. Gara-gara informasi yang masif itu, ilusi terbentuk di pikiran kita. Ilusi yang saya maksud adalah: “semua orang adalah terinfeksi virus dan membahayakan diri kita”; “semua orang adalah zombie.”

Penjual sayur, teman sekantor, orang yang lalu lalang, dan semuanya patut diwaspadai hingga benar-benar terbukti bersih (sayangnya, negara kita tidak punya alat yang cepat mendeteksi keterpaparan seseorang. Alat test yang dijanjikan Presiden Jokowi belum sampai ke kita).

Semua tempat itu kotor dan tempat wabah. Masjid, rumah kita, rumah mertua, rumah pacar, pasar, minimart, kantor, sekolah adalah tempat virus. Pikiran kita terbentuk dengan cepat dan memengaruhi cara berpikir kita. Intinya, tubuh kita tidak terpapar virus, tetapi jiwa dan pikiran kita sudah terlebih dahulu terpapar (virus).

Kesalahan yang paling konyol adalah membiarkan diri kita disiksa oleh informasi tentang corona ini.

Ya, media sosial memang telah berhasil melipat gandakan realitas lebih cepat dan membentuk realitas baru yang lebih besar dan menyeramkan ketimbang realitas sesungguhnya.

Ya, kita memang telah berada di fase itu. Sayangnya, di dunia nyata kita sama sekali tidak punya kemampuan untuk mengembalikan ‘realitas yang telah menggelembung besar’ itu ke bentuk semula.

Bahkan, kita membiarkan diri kita untuk mempercayai, bahwa kucing yang ada di depan kita adalah harimau.

Sisi positifnya, kita menjadi sangat waspada. Negatifnya, kita ketakutan berlebihan dan berisiko akan memunculkan harimau-harimau lain, eh penyakit-penyakit lain, yang tidak kalah mengkhawatirkan dari corona, seperti hipertensi, asam lambung, stres, dan sebagainya.

Ah, saya ingat. Salah satu teori dalam buku Kang Jalal yang dimasukkan dalam kategori “kesalahan berpikir” adalah generalisasi. Generalisasi sesungguhnya adalah konklusi, atau ujung dari metode penelitian kuantitatf.

Dengan penghitungan statistik yang baik dan dengan kejujuran tentang “galat dugaan”, suatu penelitian kuantitatif dapat dengan digdaya melakukan generalisasi. Tetapi ingat, generalisasi dalam penelitian kuantitatif bersifat periodik, prosesual, dan rentan pada perubahan sosial.

Fallacy Logic

Generalisasi dalam konteks fallacy logic tentu berbeda. Yang dimaksud adalah upaya mengambil kesimpulan dengan cepat tanpa melalui pemeriksaan yang detil dan cenderung melanggengkan suatu pemikiran untuk kepentingan yang lebih pragmatis.

Misalnya, ada tiga orang pencuri ditemukan berasal dari kampung A. Biasanya, tiba-tiba muncul stigma, bahwa “seluruh isi kampung A adalah pencuri.” Logika ini tentu salah dan keliru, karena ternyata faktanya tidak demikian.

Generalisasi jenis ini berbahaya. Sebab, memunculkan keberjarakan sosial. Stigma akan muncul dan memengaruhi relasi sosial. Kampung A akan dipandang sebagai kampung buruk. Orang tua akan menolak anaknya menikah dengan kampung A, disebabkan alasan tadi.

Logika kita tentang corona sedang terjebak dalam generalisasi. China adalah corona. Semua orang China terpapar Corona. Italia adalah corona. Semua orang Italia terpapar. Logika ini muncul dari asupan statistik tentang corona di dua negara itu dengan tampilan bermacam-macam.

Bahkan, ada flayer yang diiringi dengan music. Statitistik telah mengalami proses dramatisasi di layar “hiperrealitas”. Efeknya, jika melihat orang China, ide yang muncul di otak kita secara otomatis adalah corona.

Tetapi, mari tengok kedalamannya. Kota di China yang paling parah terpapar hanya tiga, yaitu Wuhan, Huanggang, dan Xiaogan. Kota-kota lain memang terpapar, tetapi tidak separah tiga kota ini. Bahkan, di Xianjiang  (komunitas Uyghur berada) dilaporkan tidak terpapar virus corona.

Penindakan dan penanganan yang baik, menjadi salah satu hal yang membuat tidak semua kota di Negara China yang maha luas itu, terpapar virus secara radikal.

Italia pun demikian. Wilayah yang paling parah adalah bagian utara, Lombardia dengan Ibu Kota Milan. Sedangkan wilayah lain, relatif masih terkendali. Dengan pola ini, virus corona memiliki daya serang yang kuat, tetapi tidak akan bisa menyerang seluruh populasi.

Artinya, dengan pendekatan ini, probabilitas untuk terpapar virus corona tidak sebesar ilusi yang tercipta di kepala kita. Eits, ini bukan penyepelan. Ini adalah metode berpikir dengan melihat sudut-sudut lain dari fenomena virus corona. Sumbernya sama, yaitu berita yang ada di ponsel dan laptop kita.

Corona berbahaya? Benar. Untuk itulah kita wajib berpartisipasi. Aturan social distancing, sebisa mungkin kita patuhi. Tetapi, ingat satu hal! Kaidah ushul tentang pemeliharaan diri untuk keberlangsungan hidup, sama pentingnya dengan memelihara keberlangsungan akal dan rasio kita. Jangan sampai kita hifdzun nafs, tetapi dengan cara iqtaalun aql.

Dan, hingga tulisan ini selesai, saya tidak menemukan buku itu. Atau, jangan-jangan, buku itu memang bukan milik saya. Entahlah! (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *