Tue. Mar 31st, 2020

BLAM

KEREN

Isra Miraj: Refleksi Khidmat Sosial atas Puncak Spiritualitas

5 min read

Sumber gambar: Freepik.com

3,162 total views, 12 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

 Maha Suci Allah, yang Telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui (Isra’:1).

Dan Sesungguhnya Muhammad Telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal,. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya (an-Najm:13-16).

Sesungguhnya Shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar (al-Ankabut:45)

 Mari sejenak beralih dari hingar-bingar wabah Corona yang mencekam. Berhenti sejenak mengingat sebuah momentum agung yang dialami oleh seorang manusia agung sebagai salah satu pertanda keagungan misi suci yang ia emban. Yaitu, peristiwa Isra Miraj Rasulullah Muhamamd saw yang terjadi pada malam 27 Rajab tahun 10 kenabian.

Isra dan Miraj merupakan peristiwa besar dalam sejarah dakwah Rasulullah saw. Terdapat banyak hikmah yang terkandung dalam peristiwa tersebut, yang sekaligus merupakan mukjizat terbesar beliau setelah Al-Quran.

Di antara hikmah yang nyaris tidak pernah disinggung dalam sebagian besar tulisan mengenai peristiwa agung ini, adalah kajian Isra Miraj dalam tinjauan sosiologis. Isra Miraj sebagai perjalanan spiritual yang mengantarkan rasulullah menggapai pucnak spiritualitas seorang hamba, yang menyiratkan pesan sosial universal.

Tulisan ini akan membahas hikmah Isra dan Miraj dalam tinjauan sufisme sosial yang diisyaratkan kepada Rasulullah saw dan umat Islam, serta atas seluruh umat manusia sepanjang masa.

Isra Miraj merupakan capaian puncak perjalanan spiritual seorang manusia pilihan dan menjadi reward bagi manusia pilihan Tuhan tersebut, yang dalam hidupnya menapaki jalan mendaki menuju puncak spiritualitas sejati.

Muhammad saw adalah sang manusia pilihan tersebut, yang sejak awal kelahirannya telah dinubuatkan oleh nabi-nabi terdahulu, yang sejak awal laku hidupnya terjaga dari godaan pesona duniawi artificial (ma’shum).

Beliau hanya tergoda dengan pesona sejati dari sang Khalik. Untuk itulah, sang Khalik memanggilnya untuk menghadap dan beraudiensi langsung di singgasanaNya yang penuh Cahaya.

Napak tilas Jejak Pendahulu

Sebelum menapaki tangga langit menuju Sidratul Muntaha  (the Final Frontier) di keharibaan Allah. Rasulullah diperjalankan dalam sebuah perjalanan yang jauh dari Mekkah ke Yerussalem dalam tempo yang sangat singkat.

Sebuah perjalanan napak tilas spiritual sang Nabi guna menghayati perjalanan agung pendahulunya sebagai konsekuensi logis beliau selaku pelanjut, penggenap, dan pamungkas risalah kenabian.

Napak tilas spiritual ini menunjukkan, bahwa risalah beliau adalah kesinambungan dari risalah nabi-nabi sebelumnya.

Diceritakan dalam perjalanan dari Mekkah ke Yerussalem, beliau berhenti sejenak untuk salat di Bukit Tursina, tempat Nabi Musa as menerima sepuluh perintah Tuhan. Beliau juga transit sejenak di Betlehem, tempat kelahiran Isa as untuk mengenang dan menghayati perjuangan Ruhulah Isa bin Maryam as.

Peristiwa Isra merupakan inaugurasi seorang Muhammad bin Abdullah sebagai pewaris, penggenap, dan penyempurna risalah Ilahi. Sekaligus penegasan, bahwa eksistensi risalah Muhamamd saw adalah kelanjutan dari risalah nabi-nabi agung sebelumnya.

Setelah tiba di Masjidil Aqsha di Kota Yerussalem, sebuah monumen historis yang dibangun oleh Nabi Daud dan Sulaiman as.

Beliau melanjutkan perjaanan celestial. Perjalanan menyusuri pesona keagungan ilahi di tiap-tiap lapisan langit hingga tiba pada perhentian terakhir, batasan tertinggi antara hamba dan Tuhannya.

Diceritakan pada tiap-tiap lapisan langit, Rasulullah diperjumpakan dengan nabi-nabi terdahulu. Sekali lagi untuk mempertegas, keberlanjutan estafet kenabian di mana estafet pamungkas berada di tangan beliau saw.

Bukan Perjalanan Akhir

Isra Mikraj sebagai sebuah capaian puncak spiritual ternyata bukan akhir dari perjalanan sang nabi. Dalam pesona puncak kenikmatan beraudiensi dengan sang Khalik, sang nabi yang sangat mencintai umatnya tersebut, selalu ingat untuk kembali ke tengah-tengah umatnya.

Beliau sadar betul, bahwa Isra Miraj adalah sebuah proses bukan akhir dari perjuangan. Dalam gemerlap pesona spiritual, beliau tak silau dan lupa diri, dalam puncak kenikmatan perjumpaan beliau tak terlena dan masih sadar akan tugas mulia untuk membimbing manusia

Penghayatan Nabi saw menyiratkan pesan, bahwa dalam Islam, keimanan, dan spiritualitas tidak sekadar khusyuk dalam ritus sembahyang.

Nabi saw tidak larut dan mabuk dalam esktase spiritual. Kesadaran paripurnanya tetap tertuju pada umatnya yang menunggunya di bumi.

Begitu banyak ayat dan hadis menyatakan dengan tegas, bahwa indikator keimanan adalah amal saleh dan orientasi dari ibadah ritual adalah amal sosial.

Ketakwaan sejati adalah hidup dalam bakti nan di tengah-tengah umat manusia. Sebaik-baik mansia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk sesama. Demikian bunyi sabda Nabi saw

Refleksi Khidmat Sosial

Mulla Shadra, Filosof Muslim abad 16, membagi 4 perjalanan spiritualitas manusia. Pertama, perjalanan dari makhluk menuju Tuhan. Kedua, perjalanan bersama Tuhan di “dalam”Tuhan. Ketiga, Perjalanan dari Tuhan menuju makhluk tapi tetap bersama Tuhan. Keempat, Perjalanan dalam makhluk bersama Tuhan.

Rangkaian perjalanan spiritual tersebut diawali dan diakhiri dengan tetap berada di tengah makhluk. Guna menjadi penerang,  pembimbing, dan penyelamat kepada sesama makhluk Tuhan dan mengajak manusia untuk sama-sama menuju Tuhan.

Keagungan mukjizat Isra Miraj tak sekadar perjalanan agung yang dialami oleh Rasulullah saw. Lebih dari itu, keagungan mukjizat Isra Miraj adalah refleksi sosial atas capaian puncak spiritualitas sang nabi yang selalu mengingat umatnya.

Keagungan Isra Miraj terletak pada misi mulia yang diemban oleh Rasul saw saat kembali pulang ke tengah-tengah umatnya. Misi mulia tersebut adalah membawa misi penebar rahmat, pembawa keselamatan, dan penyempurnaan akhlak manusia.

Hal ini sejalan dengan personifikasi beliau selaku uswatun hasanah. Serta, tujuan dari diutusnya Rasulullah saw sebagai pembawa rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil alamin), dan sebagai penyempurna akhlak.

Sepulang dari Miraj, Rasul saw ditugaskan untuk mengajak umatnya juga untuk bermiraj. Itulah sebabnya, perintah salat lima waktu diberikan secara khusus pada saat Miraj. Karena shalat adalah mikrajnya orang beriman, demikian sabda beliau saw.

Salat sebagai mirajnya orang beriman tak sekedar pada gerakan ritus salat yang diawali niat dan takbir, lalu diakhiri salam. Lebih dari itu. Salat yang dimaksud adalah pendirian salat dengan sempurna, yaitu shalat yang mengantarkan subjeknya untuk tercegah dari perbuatan keji dan munkar (al-Ankabut:45).

Alkisah, di hari terakhir dalam audiensi dengan Allah di Bukit Tursina, saat nabi Musa as harus kembali ke tengah umatnya.

Beliau as bertanya kepada Allah, “Ya Allah sepulang dari sini, di mana lagi aku akan bisa jumpai Engkau?” Dan Allah menjawab pertanyaan Musa as, “Wahai Musa, setelah ini kau bisa jumpai Aku di tengah kaum dhuafa, kau dapat jumpai Aku di tengah orang-orang yang hancur hatinya.”

Pengalaman Isra Miraj serta audiensi Musa as dengan Allah sebagai capaian puncak dua nabi pilihan. Mengajarkan kepada kita, bahwa spiritualitas sejati adalah ketika kita berkhidmat kepada kemanusiaan, dan orientasi spiritual adalah amal saleh yang bermanfaat bagi kemanusiaan.

Isra Miraj sebagai capaian puncak spiritual, karena beraudiensi langsung dengan Tuhan tidak dimaknai dengan ekstase spiritual, sebagaimana para sufi yang “mabuk” karena “lenyap” dalam Diri Tuhan.

Capaian puncak spiritual dimaknai dengan pengkhidmatan sosial. Perjumpaan dengan Tuhan menjadi re-charge energi yang maha dahsyat untuk digunakan dalam medan perjuangan untuk membebaskan manusia.

Senada dengan hal itu, Muhamamd Iqbal (Filosof Pakistan) pernah berkata, “Manusia sempurna bukan manusia yang menolak Tuhan sebagaimana kaum ateis, bukan pula manusia yang lenyap dalam diri Tuhan seperti kaum panteis, tapi manusia sempurna adalah mereka yang menyerap Sifat-sifat Tuhan dan menjadikannya sebagai elan vital bagi kekuatan untuk mengubah dunia.”

Isra Miraj merupakan perjalanan suci harmonisasi estafet perjuangan kenabian dalam menggapai puncak maqam kemanusiaan.

Audiensi agung dalam Miraj, di mana Rasul saw menyerap Asma Ilahi dan dijadikannya sebagai elan vital perjuangan membimbing manusia di bumi. Di puncak pesona spiritual, Muhammad tetap ingat tugas sosial pada umatnya yang menunggu di bumi. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *