Mon. Jul 13th, 2020

BLAM

KEREN

Cokko-Cokko dan Penjarakan Sosial yang Terancam Gagal

4 min read

Sumber gambar: insting jurnalis

4,031 total views, 4 views today

Oleh: Saprillah (Kepala Balai Litbang Agama Makassar)

Cokko-cokko. Saya mulai akrab dengan kata ini ketika nyantri di Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus (MANPK) Ujung Pandang (Makassar) 1992-1995. Kalau anak sekolah lainnya menggunakan kata bolos, kami lebih sering menggunakan kata cokko-cokko.

Sekolah kami menggunakan sistem asrama. Seluruh waktu kami berada dalam pengawasan sistem sekolah. Kami berada dalam lingkaran kekuasaan yang cukup ketat.

Untuk melawannya, kami perlu siasat cokko-cokko. Ini siasat yang sangat canggih, lebih canggih dari bolos atau kenakalan lainnya. Cokko-cokko adalah upaya untuk mensiasati aturan tanpa ketahuan oleh sistem.

Cokko-cokko adalah ruang sosial di mana kenakalan kami sebagai remaja dapat terekspresi dengan bebas, dan keesokan harinya kami kembali normal sebagai santri yang taat. Cokko-cokko ini dekat dengan teori dramaturgi Ervin Goffman.

Cokko-cokko tidak dilakukan oleh anak-anak yang nakal, tetapi justru anak-anak yang terlihat baik. Di situ peliknya. Oh ya, secara literer cokko-cokko artinya diam-diam atau mengendap-endap. Chori-cori chupke-chupke.

Kata cokko-cokko kembali saya temukan di kantor, beberapa puluh tahun kemudian. Teman menggunakan istilah “ucok” (uang cokko-cokko). Kata cokko-cokko kali ini saya temukan lebih bernuansa ekonomis.

Platformnya tetap sama. Kebebasan berekspresi dan dilakukan oleh orang yang baik. Relasi antara suami-istri adalah relasi unik. Ada jejaring kuasa yang saling tumpang-tindih antara dua jenis kelamin ini.

Jejaring kuasa ini dibentuk melalui norma, agama, kebudayaan. Seorang lelaki wajib menafkahi istrinya. Tetapi, lelaki punya dunia sendiri. Dunia yang berbeda dengan statusnya sebagai suami. Dunia sebagai lelaki adalah dunia kebebasan. Untuk sampai ke sana, sang lelaki butuh siasat yang disebut cokko-cokko.

Sebuah pemberontakan kecil atas sistem tanpa kehilangan sedikitpun identitas sebagai suami. Nah, dalam perjalanan menuju pemberontakan kecil ini, “ucok” dibutuhkan.

Virus Corona

Pertengahan Maret 2020, negara kita dihantam oleh badai “tak terlihat” yang bernama Covid-19. Virus yang berasal dari Wuhan, China, dengan cepat menjalari seluruh dunia.

Virus kecil ini membuat dunia terkejut, terguncang, dan akhirnya berantakan. Ekonomi, politik, dan kehidupan sosial manusia terkoreksi dengan cepat. Kebijakan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya harus diambil. Social distancing (penjarakan sosial) dan Lockdown (mengunci wilayah). Indonesia sudah menerapkan metode social distancing sejak 16 Maret 2020.

Lembaga pemerintahan, sekolah, dan perusahaan swasta menerapkan sistem bekerja dari rumah. Sistem ini dimaksudkan untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 yang sangat cepat dan (diimajinasikan) sangat mengerikan.

Virus ini menyerang bagian yang paling alami dalam kehidupan manusia, yaitu interaksi sosial. Virus ini hanya bisa dilawan dengan cara melawan kehidupan natural manusia, yang sangat dianjurkan dalam semua agama, bergaul dan bersilaturrahmi.

Penjarakan Sosial

Di tengah upaya melawan virus ini melalui penjarakan sosial, ada dua jenis kelompok manusia yang menentangnya. Dua-duanya ada dan banyak di negara kita. Pertama, kelompok yang mengatakan diri ‘sangat beriman’.

Tidak hanya dari satu agama saja tetapi di semua kelompok agama. Keinginan mereka untuk berjamaah dan misa dengan jumlah ribuan orang tidak bisa dan tidak boleh dihalangi oleh virus imut ini.

Nah, sikap ini adalah akumulasi dari nalar kepasrahan dalam beragama. Puncak agama adalah kepasrahan total dan menyerahkan hidup kepada Tuhan. Kita terbiasa diminta untuk bertawakkal dan berserah diri kepada Allah.

Kasus ijtimak Asia Jamaah Tabligh di Pakkatto menggunakan cara berfikir ini. “Kalau mati karena virus ya itu kehendak Allah” atau “tidak akan ada musibah yang menimpa manusia kecuali atas izin Allah”.

Dengan dalih berserah diri dan menganggap tujuan kegiatannya diridhai Allah, mereka melawan kebijakan social distancing. Ingat ya? Bukan cuma jemaah tabligh yang menggunakan cara ini.

Tengoklah warga yang di pasar, mall, dan tempat hiburan lainnya. Mereka semua menggunakan cara pandang ini untuk “mengabaikan” bahaya virus Covid-19. Juga, imbauan untuk meniadakan Salat Jumat juga diabaikan dengan logika, “Bukannya kita harus ke masjid berdoa?” Atau “Kok masjid ditutup sedangkan mall dan pasar, tidak?”

Kedua, the cokko-cokko men. Kelompok ini juga menentang sistem social distancing tetapi diam-diam alias cokko-cokko. Alasannya, ringan dan sepele. “Kenapa takut? Na jauh ji itu virus?” Atau sejenis alibi lainnya.

Cara berfikir ini tidak muncul dari warga lapisan bawah atau yang agamawan tadi tetapi dari kelompok kelas menengah, terpelajar dan dari latar belakang sosial yang baik. Mereka pun melakukan cokko-cokko.

Pertemuan diam-diam dilakukan di berbagai tempat. Tentu saja, yang keluar rumah untuk keperluan mendesak (memenuhi kebutuhan sehari-hari) tidak termasuk dalam kelompok cokko-cokko ini.

Platform kelompok cokko-cokko ini sekali lagi sama, yaitu kebebasan manusia adalah segala-galanya. Stay at home lebih menakutkan ketimbang virus corona.

Anekdotnya begini: kemungkinan meninggal karena covid-19 itu sekitar 1-10%. Sedangkan kemungkinan meninggal karena stress di rumah bisa mencapai 50%.

Apalagi kalau ternyata di rumah, pasangan hidupnya senang ngomel-ngomel, yang bisa membuat stres semakin meningkat.

Atas dasar itulah, pikiran cokko-cokko dikembangkan. Janjian untuk berjumpa dan nongkrong di warkop, warung pak haji, dan lain-lain dilakukan sembari membuat status ayo waspada virus corona!

Nah, bersamaan dengan itu mall, café, dan warkop tetap beroperasi. Klop sudah. Plus, kelompok cokko-cokko ini memang sangat menikmati ‘mempermainkan’ kekuasaan yang mengatur. Semakin bisa cokko-cokko semakin memuaskan. Apalagi terbukti memang mereka tidak apa-apa. Semua sehat wal afiat.

Para pelaku cokko-cokko kali ini cukup mengkhawatirkan. Mereka melupakan bahwa cokko-cokko di masa SMA atau cokko-cokko dari istri hanya berimplikasi personal. Kalau ketahuan, paling dapat hukuman dari kepala sekolah, atau dibombe istri.

Paling ekstrem, adalah sang istri minta dipulangkan ke rumah orang tuanya. Sedangkan cokko-cokko dari penjarakan sosial punya akibat fatal yang tidak terduga. Semakin sering berkumpul, peluang terpapar dan menjadi carrier virus semakin besar. Ini kurang disadari.

Kelihatannya, kita sedang memasuki fase ini. Nah, jika sudah begini, maka penjarakan sosial terancam gagal, dan virus covid-19 akan tetap berdansa. Yang bisa menyelamatkan kita adalah doa. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *