Tue. Jul 14th, 2020

BLAM

KEREN

Menunda Berjamaah Demi Kelangsungan Jamaah

5 min read

Sumber gambar: NU Online

3,876 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Jumat yang tak Biasa

Jumat pagi, HP saya berdering. Telepon dari pengurus masjid mengabarkan, masjid yang sedianya menjadi tempat saya bertugas menyampaikan khutbah Jumat, meniadakan acara Salat Jumat. Surat edaran Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) dan imbauan MUI Sulsel, menjadi alasan pembatalan Salat Jumat.

Jumat, 20 Maret 2020, menjadi Jumat yang tak biasa bagi warga muslim Sulsel. Pandemi wabah corona yang telah sampai di Sulsel membuat berbagai pihak yang berwenang dan masyarakat,  meningkatkan kewaspadaan.

Demi menangkal risiko penyebaran virus Covid-19, Gubernur Sulsel dan MUI Sulsel menyampaikan imbauan kepada umat Islam untuk melaksanakan Salat Dhuhur di kediaman masing-masing sebagai pengganti Salat Jumat. Imbauan tersebut berlaku selama dua pekan Jumat, 20 dan 27 Maret 2020.

Lima hari sebelumnya, tepatnya Ahad, 15 Maret 2020, Mufti al-Azhar, Syeikh Ahmad Thayeb,  mengeluarkan fatwa, pemerintah boleh mengeluarkan larangan bagi warganya untuk tidak Salat Jumat dan salat berjamaah di masjid.

Larangan ini dikeluarkan untuk mencegah penyebaran virus Corona. Beberapa hari sebelumnya,  di Kuwait cukup viral seruan azan yang menyerukan umat Islam salat di rumah masing-masing.

Senada fatwa Mufti al-Azhar, Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PB NU, Kamis, 19 Maret 2020,  mengeluarkan, larangan salat Jumat bagi masyarakat muslim di Zona Merah Covid-19.

Hasilnya, ibadah Jumat pada 20 Maret 2020 di Makassar dan sekitarnya, menjadi ibadah Jumat yang paling sepi. Banyak masjid akhirnya meniadakan pelaksanaan salat Jumat, meski ada juga masjid yang “nekad” menyelenggarakan Jumatan.

Berdasarkan informasi, jumlah jamaah yang hadir jauh berkurang dibandingkan biasanya. Durasi pelaksanaan ibadah Jumat (khutbah dan salat) pun dipersingkat dari biasanya.

Pro dan Kontra

Suara pro dan kontra pun kemudian bermunculan, utamanya di jagad maya terkait imbauan pembatalan Salat Jumat. Kelompok pro beralasan, yang dilarang bukan salat Jumat atau salat berjamaah, melainkan kerumunan orang, apalagi jumlah yang besar. Hal tersebut sangat rentan meningkatkan risiko penyebaran virus Covid-19.

Menghindari kemudharatan harus dilakukan, karena wabah corona sudah sangat mengancam. Sehingga, hal ini dipandang telah memenuhi syarat kedaruratan untuk meniadakan salat Jumat,  dan menggantinya dengan salat dhuhur.

Pihak yang kontra dengan imbauan tersebut beralasan, Salat Jumat adalah kewajiban bagi laki-laki muslim. Menurut seorang pengurus masjid di Makassar, karena daerahnya masih aman dari corona, Salat Jumat dan salat fardhu berjamaah belum waktunya untuk ditiadakan.

Ada pula yang nyinyir dengan imbuan tersebut, dan mengaitkan dengan keimanan. Pada sebuah postingan Whatsapp (WA) beredar seruan, masjid adalah tempat paling aman untuk berlindung dari segala macam bencana.

Dengan nada provokatif, sebuah postingan WA menyebutkan,  pelarangan ini merupakan bagian dari konspirasi untuk menjauhkan umat Islam dari berjamaah di masjid.

“Pokoknya, di masjid kami tetap melaksanakan salat lima waktu berjamaah dan salat Jumat.” Demikian tulis seorang pengurus masjid dalam sebuah Grup WA. Jamaah lain menimpali; ”Kayak hilang semua akal sehatnya, apalagi keyakinannya, dan tidak yakin dengan penciptanya.”

Bukan hanya di WA. Pro-kontra dan perdebatan juga mewarnai postingan nitizen di berbagai lini sosial media, seperti Facebook dan Instagram. Masing-masing mengajukan dalil dan alasan. Polemik tidak hanya menyangkut soal hukum, bahkan menyerempet sampai ke wilayah keyakinan (akidah).

Urgensi Berjamaah

Dalam tinjuan syariat, salat berjamaah sangat ditekankan. Sebuah hadis menyebutkan, pahala salat berjamaah nilainya 27 derajat dibandingkan salat sendiri. Terlebih, Salat Jumat yang semua ulama sepakat tentang hukumnya yang wajib bagi laki-laki muslim, meski kewajiban tersebut didasarkan pada beberapa syarat.

Secara substansial, berjamaah merupakan perwujudan ikatan sosial umat muslim yang diikat oleh ikatan persaudaraan (QS. Hujurat (49):10). Berjamaah juga perwujudan kesatuan umat Islam yang melampaui sekat primordial apa pun. Perintah persatuan tersebut ditegaskan dalam QS. Ali Imran (3):103).

Berjamaah merupakan keniscayaan umat muslim sebagai sebuah kelompok sosial yang disatukan dalam ikatan ruhani berlandaskan Tauhid. Salat berjamaah juga memiliki implikasi sosiologis untuk menguatkan kohesi sosial umat Islam dalam ruang kebersamaan yang bernilai sakral.

Perjumpaan untuk saling menguatkan, saling mengingatkan dalam silaturahmi ruhaniah, menjadi urgensi dari berjamaah. Kelangsungan dan permanensi eksistensi umat Islam juga sangat ditentukan oleh ibadah yang dilakukan secara berjamaah,

Dengan demikian, urgensi salat yang dilaksanakan secara berjamaah termasuk Salat Jumat adalah menjaga kebersamaan, persatuaan, dan persaudaraan dalam ikatan suci agama Islam. Hal tersebut guna mencapai kemaslahatan bersama dalam mewujudkan Islam sebagai rahmatan lil alamin.

Aspek Kedaruratan

Seberapa penting dan kuatnya penekanan pada sebuah aspek hukum dalam syariat Islam selalu ada variabel kedaruratan, yang dapat menjadi pengecualian, yang menyebabkan batalnya sebuah hukum. Termasuk, di antaranya, penekanan salat berjamaah dan kewajiban Salat Jumat.

Menghindari kemudharatan lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan. Demikian bunyi sebuah kaidah ushul. Sebuah hukum akan berubah jika diperhadapkan dengan kondisi darurat, karena ada mudharat yang sangat dikhawatirkan terjadi jika hukum tersebut dipaksakan.

Demikian pula salat berjamaah dan Salat Jumat. Adanya bencana dapat menjadi rukhsah (kemudahan) untuk tidak mengikuti Salat Jumat. Dalam Islam ditekankan untuk tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Dengan demikian, menghindari bahaya jauh lebih urgen dibandingkan memaksakan diri untuk melaksanakan ibadah secara berjamaah.

Hal inilah yang harus dipahami bersama, sehingga meninggalkan salat jamaah, misalnya, di mana kita meninggalkan kemaslahatan 27 derajat pahala. Namun, demi menjaga kelangsungan jamaah untuk terhindar dari risiko wabah penyakit yang membahayakan tetap harus lebih diutamakan.

Mengabaikan kedaruratan dan menganggap enteng bahaya yang mengancam diri dan orang lain,  pada hakikatnya adalah melawan ketentuan syariat Islam. Demikian pula, memaksakan diri melaksanakan kewajiban, padahal syarat-syaratnya tak terpenuhi, juga adalah tindakan tak berdasar.

Menjaga diri dan lingkungan sosial untuk terhindar dari wabah penyakit, misalnya, adalah suatu hal darurat yang tak dapat ditunda. Sedangkan melaksanakan salat berjamaah dan Salat Jumat,  adalah hal yang masih bsia ditunda demi kemaslahatan bersama yang lebih universal.

Menjaga Kelangsungan Jamaah

Dalam kasus ancaman pandemi corona seperti saat ini, memaksakan diri untuk tetap melaksanakan salat secara berjamaah, pada hakikatnya menentang realitas keberjamaahan itu sendiri.

Bisa dibayangkan, ancaman bagi kelangsungan jamaah jika wabah corona masif menyebar,  karena ketidakpedulian kita pada rambu-rambu medis untuk tidak berkumpul dalam skala yag masif.

Keimanan dan ibadah tidak bisa menjadi dalih untuk mengingkari sunnatullah dari penyebaran sebuah wabah atau ancaman bahaya. Beragama tak cukup hanya bermodalkan semangat, namun abai terhadap pengetahuan akan kausalitas yang sifatnya pasti.

Imbauan untuk menangguhkan berjamaah, termasuk meniadakan sementara pelaksanaan salat Jumat, merupakan ajakan untuk menjaga eksistensi keberjamaahan dalam skala dan kepentingan bersama yang lebih luas. Di antaranya, kepentingan menjaga jamaah tetap sehat dan terhindar dari ancaman wabah.

Menghentikan sementara aktivitas salat berjamaah di masjid harus dipahami sebagai tindakan untuk menyelamatkan jamaah secara permanen. Salat sendiri-sendiri di rumah masing-masing dalam kondisi extra ordinary seperti saat ini, secara hakiki tak kehilangan spirit berjamaah.

Karena hal tersebut dilakukan demi kepentingan jamaah yang lebih permanen dan demi tujuan yang lebih asasi. Menjaga kesehatan seluruh umat manusia, utamanya umat Muslim yang masih setia melaksanakan salat.

Kualitas dan permanensi keberjamaahan yang kita jaga, jauh lebih hakiki ketimbang memaksakan salat berjamaah demi motif mendapatkan pahala 27 derajat.

Motif berburu pahala 27 derajat hanya menunjukkan keberjamaahan secara lahiriah. Namun, secara batin,  mencerminkan keegoisan dalam beribadah demi memenuhi hasrat pribadi yang sekadar “berburu pahala”. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *