Sat. Sep 19th, 2020

BLAM

KEREN

Ada Apa dengan Jamaah Tabligh?

7 min read

Sumber gambar: play.google.com

6,917 total views, 4 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Jamaah Tabligh tiba-tiba menjadi buah bibir dalam beberapa hari terakhir ini. Gara-garanya, kegiatan Ijtimak Ulama yang mereka adakan. Apa pasal? Kegiatan Ijtimak Ulama yang menghadirkan ribuan orang, termasuk anggota Jamaah Tabligh dari beberapa negara Asia, sejatinya tidaklah menjadi masalah.

Kegiatan ini sangat baik, karena akan menghadirkan berbagai anggota Jamaah Tabligh dari berbagai daerah. Bahkan, beberapa ulama mereka. Ajang ini bisa menjadi tempat silaturahmi,  sekaligus sumur untuk menimba ilmu.

Persoalannya, Jamaah Tabligh menggelar acara ini dalam situasi dunia tengah diserang wabah virus corona, termasuk di Indonesia. Kerumunan manusia dalam jumlah besar, menurut para ahli tentang virus menular ini, berpotensi menjadi arena penyebaran virus.

Karena itu, pemerintah daerah, baik Gubernur Sulawesi Selatan, maupun Bupati Gowa, pada akhirnya, tidak memberikan izin pelaksanaan acara ini.

Namun ternyata, menjelang hari “H”, 18-19 Maret 2020, peserta Ijtimak Ulama dari berbagai penjuru nusantara, termasuk beberapa negara Asia, tetap datang ke lokasi acara. Mereka mulai berkumpul di Pakatto, Kabupaten Gowa, Sulsel, untuk menggelar acara Ijtimak Ulama.

Video salah seorang ustadnya, yang berceramah mengenai ketidaktakutan kelompoknya terhadap ancaman virus corona, sempat menjadi viral di media sosial. Begitupula, sudah terpasangnya tenda-tenda besar sebagai bentuk kesiapan mereka menggelar acara, menjadi viral.

Kuat dugaan, mereka sendiri yang memvideokan, dan kemudian membagikan postingan tersebut ke media sosial, supaya publik mengetahuinya.

Sebelum berkumpul di Pakatto, beberapa panitia pelaksana kegiatan Ijtimak Ulama memang mengindikasikan adanya upaya melaksanakan acara tersebut. Dalam penjelasannya, mereka merasa tidak puas, hanya karena gara-gara virus corona, makhluk kecil yang diciptakan Allah,  mereka tidak bisa menggelar kegiatan tersebut.

Masyarakat Sulawesi selatan dan Pemerintah Daerah pun, akhirnya dibuat tercengang, Jamaah Tabligh, ternyata betul-betul berkumpul di Pakatto dalam jumlah besar. Beberapa media melansir, kurang lebih 8.000 orang telah hadir di Pakatto.

Pemerintah pun dibuat kalang kabut. Akhirnya, dengan negosiasi yang lumayan melelahkan, Jamaah Tabligh memutuskan untuk menghentikan kegiatannya. Mereka kemudian pulang ke daerah masing-masing. Sebagian lainnya, harus dikarantina terlebih dulu.

Sikap Jamaah Tabligh yang akhirnya mengalah, patut kita syukuri dan apresiasi. Meski begitu, kenekatan Jamaah Tabligh untuk tetap menggelar Ijtimak Ulama, sementara sebelumnya pemerintah tidak memberi izin, terasa agak janggal.

Sependek yang saya tahu, Jamaah Tabligh adalah kelompok yang tidak pernah membangkang pemerintah (Amir).

Demikian halnya, dalam berbagai gerakan dakwah yang dilakukan, Jamaah Tabligh biasanya melakukannya dalam sunyi. Mereka tidak pernah memublikasikan kegiatannya, apalagi sampai berkali-kali memberikan komentar di media massa. Tetapi, tidak untuk kegiatan kali ini. Jamaah Tabligh justru sering muncul memublikasikan rencana kegiatan di media-media online.

Apakah karena kegiatan ini melibatkan jamaah dalam jumlah besar? Menghadirkan pula anggota Jamaah Tabligh dari luar? Ataukah, prinsip dakwah Jamaah Tabligh telah mengalami perubahan?

Pengalaman di Pesantren

Saya berkenalan pertama kali dengan Jamaah Tabligh di titimangsa 1994.  Saat itu, saya duduk di kelas II SMA, di salah satu pesantren di Makassar. Guru kami, yang saat itu mengampuh mata pelajaran olahraga, yang memperkenalkan ajaran kelompok ini.

Jika sebelumnya setiap guru olahraga datang dan mengajak kami ke lapangan bola, kini sang guru olahraga menggantinya dengan tabligh. Ia mengajak kami untuk sungguh-sungguh melaksanakan ajaran agama, dan jangan meninggalkan salat jamaah.

“Ajakan yang bagus.” Batin saya, ketika itu.

Ketika awal-awal guru olahraga kami bertabligh, kami diam terkesima. Takjub atas perubahan guru olahraga kami, dan kagum dengan cara penyampaiannya yang terkesan tulus. Sayangnya,  lama kelamaan kami mulai jenuh.

Di samping setiap saat kita juga pengajian di masjid, dan hal yang nyaris sama yang kami dengar, kami saat itu juga mulai merindukan bermain bola. Guru olahraga kami inilah, yang dulunya selalu mengajak kami bermain bola, kini mulai tidak lagi.

Bertahun-tahun kemudian, saya sering berjumpa Jamaah Tabligh ketika mereka sedang melakukan khuruj. Pernah jumpa di kampung halaman, dan pada waktu lain, mendatangi rumah tempat tinggal saya. Pernah pula bersua di musallah satu rumah sakit.

Setiap bertemu selalu sama. Mereka tidak kenal lelah bertablig. Mereka dengan sabar menyampaikan ajaran agama dan mengajak salat di masjid, meskipun yang sedang diceramahi kelihatan ogah-ogahan.

Pada akhirnya, saya memang tidak pernah bergabung dengan Jamaah Tabligh, tetapi tetap mengapresiasi semangatnya berdakwah. Dalam beberapa hal, saya telah menyaksikan keberhasilannya mereka mengajak umat Islam rajin salat berjamaah di masjid.

Di beberapa negara lain, termasuk di Amerika, keberadaan Jamaah Tabligh tidak banyak dipersoalkan oleh masyarakat dan pemerintahnya.

Hal ini tidak lain, karena Jamaah Tabligh murni hanya gerakan mengajak umat Islam beribadah dengan baik. Mereka tidak mencampurinya dengan urusan politik, serta tidak ikut gerakan kelompok jihadi. Jamaah Tabligh adalah cermin dari kelompok asketisme religius yang apolitis.

Khuruj

Jika kita telusuri sejarahnya, Jamaah Tabligh yang lahir pada 1927 M/1303 H, adalah kelompok yang memang fokus untuk mengajak umat Islam melaksanakan ajaran agamanya secara sungguh-sungguh.

Kelompok yang berdiri di kawasan Muzhafar Nagar, Bangladesh-India, didirikan oleh Muhammad Ilyas bin Muhammad Isma’il Al-Hanafi Ad-Diyubandi Al-Jisyti Al-Kandhalawi.

Sejak semula, mereka berdakwah dengan turun langsung ke masyarakat. Mereka meninggalkan rumah dan berkelana ke berbagai pelosok, ke negeri jiran, bahkan ke negeri-negeri nun jauh dari tempatnya bermukim.

Inilah yang mereka istilahkan khuruj. Sebelum khuruj, mereka memastikan membawa sangu dan meninggalkan pula bekal untuk keluarga yang ditinggalkan.

Kitab-kitab rujukan Jamaah Tabligh juga standar rujukan kelompok sunni; Riyadus Salihin, Ihya’ Ulumu al-din dan Fathul Muin. Selain itu, mereka juga dibekali pegangan standar, yakni kitab Fadail A’mal, atau disebut pula Tabligh Al-Nisab. Kitab ini karya Maulana Muhammad Zakariah. Masih ada lagi Kitab Hayat Al-Sahabah dan Muntakhab Ahadith,  karangan Maulana Yusuf al-Khandalawi.

Didi Junaedi (2013), menyebutkan, Kitab Muntakhab Ahadith inilah yang memuat penjelasan tentang enam prinsip Jamaah Tabligh, yakni: Mewujudkan hakikat syahadat, salat, ilmu disertai zikir, memuliakan sesama muslim, ikhlas beramal dan tablig di jalan Allah.

Dalam berdakwah, Jamaah Tabligh menghindari pertentangan mazhab dan khilafiah. Kelompok ini mengakomodir semua kalangan umat Islam. Bahkan, ketika pertama kali berdiri, mereka hanya ingin menamakan dirinya sebagai Islam saja. Hanya karena kebiasaan mereka bertablig, akhirnya diistilahkan Jamaah Tabligh.

Penampilan Jamaah Tabligh memang a la salafi. Berjanggut, bersorban, berjubah, dan bercelana cingkrang. Sementara perempuan, kebanyakan bercadar. Mereka makan dalam satu nampan.

Jamaah Tabligh tidak gemar mengkafirkan orang lain, dan tidak juga menantang pemerintahan satu negara dan mempermasalahkan bentuk negaranya.

Penampilan dan bentuk gerakannya yang semacam itu, mendorong Kholid Syeirazi (2019),  menggelarinya ‘Salafi’ van India. Ciri fisiknya mirip salafi, tetapi semangat gerakannya tidak persis sama dengan salafi pada umumnya.

Konflik Internal

Akhir-akhir ini, Jamaah Tabligh terlihat tidak persis sama dengan gerakan mereka pada tahun-tahun lampau.  Dalam beberapa gerakan yang berbau politik, ada beberapa Jemaah Tabligh yang mulai terlibat.

Dalam aksi-aksi 212 beberapa tahun lalu, beberapa anggota Jamaah Tabligh, juga mulai terlihat. Memang, bendera Jamaah Tabligh tidak terpancang. Tetapi, orang-orang mereka ada di dalam kerumunan massa.

Dalam media online DutaIslam. Com, diberitakan pula, bahwa salah satu anggota Jamaah Tabligh yang pernah ditanya, telah mulai menunjukkan preferensi politiknya. Mereka, misalnya,  mulai mencita-citakan terwujudnya Khilafah Islamiyah. Hal yang sebelumnya tidak pernah menjadi perhatian Jamaah Tabligh.

Ternyata, perubahan wajah gerakan Jamaah Tabligh akhir-akhir ini, bermula dari konflik internal mereka. Kelompok yang sebelumnya tidak ingin mempermasalahkan mazhab dan mengakomodir semua kalangan, akhirnya justru terbelah dua.

Dan, sayangnya,  konflik ini bermula dari persoalan kekuasaan. Hal yang justru dihindari selama ini oleh Jamaah Tabligh.

Bermula ketika Maulana Saad naik ke tampuk Amir/Hadratji Jamaah Tabligh, perpecahan pun di mulai. Ia dianggap secara sepihak mengangkat dirinya sebagai Amir pada 23 Agustus 2015.

Pada November 2015, dalam Ijtimak Bopal, Syekh Saad memang ditabalkan kembali sebagai Amir. Namun, beberapa kalangan tidak setuju. Dikomandoi Abdul Wahab dari Pakistan,  kalangan yang tidak menyetujui Maulana Saad menjadi amir, memilih membentuk sendiri Jamaah Tabligh yang bernama Majelis Syura Alami.

Perpecahan ini pun merembet ke seantero negeri. Termasuk, menyusup di Indonesia, dan bahkan hawanya terasa sampai ke Makassar. Di Indonesia, ada kubu Cecep Firdaus bermarkas di Masjid Jami Kebon Jeruk. Kubu ini pendukung Syekh Saad.

Sementara kelompok lainnya, adalah faksi Muslihudin Ja’far. Markasnya di Masjid Al-Muttaqien, Ancol. Faksi kedua ini adalah pendukung Syura Alami. Adapun yang melaksanakan Ijtima’ Ulama di Pakatto, Gowa, tetapi akhirnya batal, berasal dari kubu Syura Alami.

Perdebatan soal kekuasaan dan ajaran tidak bisa lagi dihindari. Jamaah Tabligh menjadikan media sosial sebagai sarana berdebat.

Untuk memperlihatkan siapa yang paling otoritatif, Jamaah Tabligh tidak bisa lagi menghindar dari liputan media. Tak ada lagi cerita tentang jalan sunyi seorang pendakwah. Siapa yang terlihat paling sering muncul di media, dialah paling eksis.

Salah seorang pengikut kelompok Jamaah Tabligh Maulana Saad (tidak dizinkan mengutip namanya) mengaku, mereka masih konsisten dengan ajaran sebelumnya.

Kegiatan dakwah masih dilakukan dengan jalan senyap tanpa publikasi hingar bingar. Ijtimak Ulama yang mereka pernah adakan di Kabupaten Maros, Sulsel, begitu katanya, sangat minim, kalau tidak mau dikatakan, tidak ada pemberitaannya.

Benar atau tidaknya pernyataan salah seorang anggota Jamaah Tabligh Maulana Saad ini, memang masih perlu diverifikasi. Soalnya, saat ini di media sosial, debat-debat kelompok Maulana Saad dan Syura Alami sudah sering terjadi.

Ternyata, sikap terbuka Jamaah Tabligh menerima berbagai mazhab dan kelompok ke dalam tubuhnya, memakan dirinya sendiri.

Berbagai kelompok, yang sebelumnya sudah memiliki preferensi ideologi keagamaan, ketika bergabung dengan Jamaah Tabligh, tampaknya mulai ikut memberi impresi.  Pengaruhnya mulai terlihat ketika mereka sudah mulai mempersoalkan kekuasaan.

Tidak menutup kemungkinan, dan sepertinya sudah terlihat, gerakan Jamaah Tabligh pun nantinya tidak lagi murni dakwah, dan gerakan asketisme religius. Jamaah Tabligh, bisa jadi,  akan bermetamorfosis menjadi kelompok salafi haraqi (salafi gerakan), yang tidak lagi apolitis.

Tetapi, bukankah jika demikian, Jamaah Tabligh sudah menyalahi khitahnya. Entahlah. Semuanya kini berpulang kepada Jamaah Tabligh itu sendiri. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *