Sat. Sep 19th, 2020

BLAM

KEREN

Kisah Umar bin Khattab dan Wabah Corona

5 min read

Sumber gambar: Republika

5,223 total views, 2 views today

Oleh: Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Pada suatu hari, di tengah musim dingin yang menusuk tulang, Sang Amirul Mukminin, Umar bin Khattab, bersama rombongan berniat menuju Syam. Amirul Mukminin dan rombongannya melakukan perjalanan penuh semangat dengan ontanya masing-masing. Sebagian berkendaraan kuda.

Ketika tiba di suatu daerah bernama Syargh, Umar bin Khattab, mendapat kabar, bahwa Syam daerah yang ditujunya, sedang dilanda wabah kolera. Penyakit yang disebabkan oleh virus tertentu, dan bisa menyebar ke orang lain.

Umar menghentikan rombongan di Syargh. Ia ingin meminta pendapat para sahabatnya. Umar lalu mengajukan pertanyaan kepada rombongan,  “Apakah melanjutkan perjalanan ke Syam atau sebaliknya berbalik,  pulang ke Madinah?”

Dari kalangan Muhajirin maupun Anshar, pandangan terbelah dua. Ada yang meminta melanjutkan perjalanan ke Syam dengan beberapa alasan. Sementara  yang lain meminta kembali ke Madinah, juga dengan alasan yang logis.

Umar lantas mengajukan pertanyaan pada para sesepuh Quraisy, yang ikut berhijrah pada masa Rasulullah. Mereka menjawab pertanyaan Umar: “Menurut kami, engkau beserta orang yang bersamamu sebaiknya kembali ke Madinah, dan jangan ceburkan mereka ke tempat yang terjangkiti penyakit.”

Dalam hadis yang diriwayatkan Bukhari, Umar bin Khattab diberitahukan satu sabda Nabi oleh Abdurrahman bin Auf: “Izaa sami’tum  bihi biardin falaa taqdamu alaihi….” (Jika kalian mendengar wabah menjangkiti satu negeri, maka janganlah kalian menuju ke sana….)

Umar bin Khattab setelah mendengarkan pendapat ini, akhirnya mengambil keputusan membatalkan perjalanan ke Syam dan kembali ke Madinah.

Salah seorang sahabat, panglima kaum muslimin, Abu Ubaidah bin Jarrah, mempertanyakan keputusan Umar. “Apakah engkau melarikan diri dari keputusan Allah?” tanya Ubaidah, dengan semangat.

Umar bin Kahattab menjawab; “Kita berpaling dari takdir Allah yang satu, menuju takdir Allah yang lain.” Dalam riwayat lain disebutkan, Umar berkata; “Kita meninggalkan takdir yang buruk menuju takdir yang baik.”

Dalam buku Ahmad Rofi;  “Pesona Akhlak Nabi”, kisah ini diceritakan.  Riwayat ini ditulis pula oleh Muchlison Racmat di NU Online.

Kisah yang sebenarnya sering kita dengar. Lazim diceramahkan para dai di atas mimbar. Biasanya, kisah ini dituturkan dengan menukil hadis Abdurrahman bin Auf yang diriwayatkan Bukhari. Kisah ini sering kali dituturkan ketika seorang dai mengajarkan pentingnya ikhtiar sebelum menyerahkan nasib pada takdir.

Kisah Umar bin Khattab itu terasa begitu relevan dalam situasi mewabahnya Corona Virus Disease (Covid-19), atau dikenal Corona, saat ini. Virus yang mulanya muncul di Kota Wuhan, China, tersebut, kini tengah merebak nyaris di seluruh penjuru dunia. Indonesia pun tak luput dari terjangan wabah, yang proses penyebarannya demikian cepat ini.

Corona di Indonesia

Seluruh dunia, termasuk Indonesia, kini tengah berjihad untuk menanggulangi penyebaran virus Corona ini.  Arab Saudi untuk sementara, bahkan, menutup kemungkinan umat Islam dari negara lain berumrah di Tanah Suci itu. Beberapa negara menerapkan lockdown. Sementara di Indonesia mulai diterapkan kebijakan social distancing dan karantina diri.

Kebijakan di Indonesia ini berupaya untuk membatasi interaksi sosial masyarakat. Pertemuan yang melibatkan banyak orang ditunda, atau dibatalkan. Orang-orang diharapkan lebih banyak di rumah jika tidak ada hal penting yang harus dikerjakan di luar rumah.

Kalau pun akhirnya harus keluar rumah, misalnya, karena pekerjaan atau ada kepentingan mendesak, harus mempertimbangkan jarak dengan yang lainnya.

Selain itu, tentu saja, mengikuti cara-cara melindungi diri dari penyebaran virus. Misalnya, rajin cuci tangan dengan sabun, atau membersihkan tangan dengan sanitizer.  Sebisa mungkin, jika ada di tengah orang banyak menggunakan masker, dan seterusnya.

Namun, dalam situasi di saat pemerintah bersama rakyat tengah berjuang menghindari penyebaran virus Corona, ada-ada saja orang atau organisasi tertentu yang justru melakukan tindakan kontra produktif. Sebagian di antaranya, karena tidak paham dan menganggap remeh situasi, tetapi sebagian lainnya, justru berlandaskan argumen agama.

Simaklah, salah satu alasan dari organisasi keagamaan yang ngotot tetap melaksanakan Ijtima Ulama di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan: “Corona ini makhluk kecil ciptaan Allah. Kenapa mesti takut?”

Komentar ini menunjukkan, ada kesan meremehkan wabah yang sedang berlangsung, dan juga terkesan menyerahkan nasib pada takdir. Atas nama tauhid dan tawakal memandang enteng bahaya yang akan datang menerjang.

Sikap yang dianggap demi kemurnian iman ini, boleh jadi, malah bertolak belakang dengan agama. Bukankah agama selalu mengedepankan menolak kemudaratan.

Jika pintu kemudaratan telah terang, sementara kita dengan sengaja membukanya, jelas kita sedang menolak menerapkan kaidah agama: “laa dhorar wa laa dhirar (tidak berbahaya dan tidak membahayakan).”

Atau, dengan sengaja kita telah memunggungi diktum fikih: “darul mafasid muqaddamu ala jalbil masaalih (menghidari kemudaratan lebih diutamakan dari mencari kemaslahatan).”

Semua orang beragama tentu yakin akan ketentuan Allah. “Jika Allah sudah menetapkan Anda mati hari ini, tidak ada kekuatan yang bisa menghalanginya.” Semua yang percaya Tuhan sepakat dengan itu.

Tetapi, dalam ajaran Ahlusunnah wal Jamaah, kita tidak dibolehkan untuk memasrahkan diri begitu saja. Coba!  Jika Anda sakit, apakah kita hanya akan mengatakan, “Biarkan saja! Tak perlu berobat! Jika takdir Allah sembuh, nanti akan sembuh sendiri.”

Islam telah mengajarkan umatnya untuk berikhtiar. Jika ada satu wabah, Rasulullah mengajarkan umatnya untuk menghindarinya.  Apa yang dilakukan Umar bin Khattab dalam cerita pada awal tulisan ini, adalah salah satu langkah untuk  menghindari wabah penyakit menular.

Rasulullah dalam hadis lain, juga diriwayatkan oleh Bukhari menyatakan: “Larilah dari orang yang sakit lepra (penyakit yang bisa menular), sebagaimana engkau lari dari singa.”

Islam dengan terang benderang mengajarkan umatnya untuk menghindar dari wabah dan berusaha untuk mencegah penyebarannya.

Dalam kasus wabah Corona, pemerintah telah melakukan langkah-langkah untuk menghindari penyebaran itu. Demikian halnya tokoh-tokoh agama.  MUI bahkan telah mengeluarkan fatwa agar sementara umat Islam salat di rumah dan jangan dulu salat di masjid.

Apakah semua upaya itu menunjukkan pemerintah dan tokoh agama tidak memercayai takdir?  Tentu tidak seperti itu. Semua upaya yang dilakukan adalah ikhtiar menuju takdir yang lain. Takdir yang lebih baik.

Dalam jagad ciptaan Tuhan ini, manusia dianjurkan oleh agama mengikuti sunatullah, sebelum akhirnya tawakal pada Allah. Jika sakit dan mau sembuh, maka berobatlah. Jika ingin jadi orang yang berhasil, bekerjalah dengan tekun.

Jika ingin terhindar dari penyakit menular, menjauhlah. Pahamilah secara sains cara penularannya, dan terapkanlah protokol untuk menghindarinya secara  benar. Begitulah seterusnya…

Ikhtiar tentu saja tidak cukup. Kita bukan mu’tazilah, tetapi Ahlusunnah wal Jamaah. Ikhtiar harus selalu dibarengi doa, zikir, dan ibadah yang sungguh-sungguh. Sekaranglah waktunya kita menengok relung diri kita yang terdalam.

Dalam kesunyian, ketika sendiri di rumah, saat sedang jauh dari hingar-bingar perlombaan mempertontonkan simbol dan jumlah jamaah yang banyak, di situlah saatnya berdialog dengan Sang Pencipta.

Dan akhirnya, “Fa idza azamta fatawakkal alallahi” (Setelah membulatkan tekad, berikhtiar dengan sungguh-sungguh dan berdoa kepada-Nya, serahkanlah semuanya pada Allah). (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *