Sat. Sep 19th, 2020

BLAM

KEREN

Melawan Corona dengan Agama

5 min read

Sumber gambar: Lampung Post.com

6,712 total views, 2 views today

Oleh: Sabara Nuruddin (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Memasuki 2020, dunia diguncangkan oleh sebuah pandemi wabah sejenis influenza bernama Corona. Penyakit yang disebabkan Corona Virus Disease (Covid-19) ditengarai pertama kali bermula dari Kota Wuhan, Tiongkok. Dalam waktu tak lama, terjadilah pandemi lintas negara,  bahkan benua.

Memasuki 2020, pandemi Corona menjadi momok menakutkan. Beberapa negara pun “rontok” ditaklukkan makhluk kecil tak kasat mata ini. Seabad sebelumnya, tepatnya 1918, di kala banyak negara masih disibukkan perang dunia I.

Sejenis influenza, yang kemudian dikenal dengan nama Flu Spanyol atau Flu 1918, merontokkan lebih kurang 50 juta nyawa di berbagai belahan dunia. Angka 50 juta berarti, sekitar 5 persen dari penduduk dunia, kala itu.

Pada 2020, Corona merontokkan ribuan nyawa, mengisolasi banyak daerah, hingga me-lockdown-kan beberapa negara. Tempat-tempat suci keagamaan pun terkena imbasnya. Situs suci yang biasanya didatangi jutaan orang, kini kosong melompong.

Sebut saja, Basilika Santo Petrus, di Kota Suci Vatikan, Kakbah, di Kota Suci Mekkah, dan Tembok Ratapan di Yerussalem, seolah berhenti berdenyut dengan aktivitas ritual dan ziarah.

Corona menjadi momok yang menohok, dan menebar ketakutan. Pandemi Corona menghentikan banyak aktivitas dan kegiatan. Bukan hanya agenda yang bersifat profan. Bahkan, agenda sakral keagamaan pun dibatasi, ditunda, dialihkan, hingga dibatalkan.

Corona, yang awalnya hanyalah persoalan medis, merembet menjadi persoalan ekonomi, sosial, politik, budaya hingga agama. Isolasi dan social distancing menjadi kebijakan yang diambil guna meminimalisir penyebaran wabah Corona.

Akibatnya, kegiatan yang melibatkan banyak orang pun ditiadakan. Sekolah dan kampus “diliburkan”, pegawai “dirumahkan”, hingga kebijakan ibadah bersama yang melibatkan banyak orang pun, ditangguhkan.

Corona dan Agama

Corona membuat agamawan bersuara dengan cepat menghadirkan fatwa yang tak biasa. Ibadah umrah ditangguhkan, umat Katolik disarankan melaksanakan misa secara online, seruan azan untuk salat di rumah pun menjadi viral.

Dewan Masjid Indonesia dalam surat edarannya mengimbau jamaah yang sakit flu dan batuk untuk tidak berjamaah di masjid. Sayyid Ali Khamene’i (Ulama Besar Iran) memfatwakan perjalanan yang dilakukan setelah ada kebijakan pemerintah mengenai isolasi dan social distance adalah, termasuk kategori perjalanan maksiat.

Corona pun masuk pada ranah teologi, utamanya tema seputar takdir dan keharusan takut hanya kepada Tuhan. Di sinilah manhaj (paradigma) teologi diuji. Operasionalisasi konsep berserah (tawakkal), sabar, dan ikhtiar menjadi pertaruhan. Bagaimana agama yang kita pahami menuntun kita menyikapi wabah yang telah menjadi pandemi dunia.

Perbincangan seputar Corona dalam bingkai agama tak hanya sampai di situ. Viral seorang ustaz kondang yang menyebut virus Corona sebagai “tentara Allah”, meski akhirnya ustaz tersebut membatalkan jadwal-jadwal ceramahnya demi menghindari virus tersebut. Ada pula yang mengaitkan wabah Corona dengan tanda-tanda akhir zaman berdasar dalil-dalil yang ia pegang.

Sebagian orang, dengan dalil agama, berikhtiar untuk menghindar. Sebab, agama mengajak manusia untuk menghindari mudharat. Sebagian lagi, dengan dalih agama, justru menantang dengan keyakinan, bahwa takut hanya kepada Tuhan.

Sebuah kelompok agama memaksakan kegiatan berskala kolosal, meski tak mendapatkan izin dari pemerintah. Mereka berdalih, “kita tidak takut pada Corona, karena kita hanya takut pada Allah semata.”

Agama adalah Akal

Bagaimana menyikapi pandemi Corona dengan perspektif agama? Kata kuncinya agama mengajarkan beragama dengan akal, karena “agama adalah akal dan tidak beragama bagi orang yang tidak berakal.”

Demikian bunyi sebuah hadis yang cukup masyhur. Allah dengan tegas dalam Firman-Nya pada Surat Yunus (10) ayat 100 menyatakan; “Allah melaknat orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.”

Dengan demikian, agama dan akal sehat tetap harus sejalan, justifikasi teologis tak lantas menjadi dalih untuk menafikan akal sehat. Dalil-dalil ilmiah adalah juga dalil agama yang tetap harus diindahkan, karena agama dan sains tak pernah bertolak-belakang.

Dr. Muhsin Labib menyebutkan; “religius nirlogika pada hakikatnya adalah tidak bertuhan”. Religiusitas yang menafikan hukum-hukum logik berarti menantang kepastian hukum-hukum Tuhan (sunnatulah) di alam semesta yang bersifat pasti, sebagaimana disebutkan dalam Surat al-Fath (48) ayat 23.

Menyikapi pandemi Corona yang telah mengglobal, kita tidak boleh kehilangan akal sehat. Kehilangan akal sehat tampak pada sikap panik berlebihan, yang memacu rasa was-was dan akhirnya berdampak pada kesehatan jiwa dan tubuh.

Sikap jumawa yang tak acuh pada wabah dengan sikap seolah menantang wabah dengan tidak mengindahkan aturan medis, juga pertanda akal sehat telah “pensiun”.

Ikhtiar dan Tawakal

Tawakal kepada Allah didahului dengan kebulatan tekad (QS Ali Imran (3) ayat 159) dan kebulatan tekad terpraksis dalam bentuk ikhtiar yang sungguh-sungguh, termasuk dalam menghadapi pandemi Corona,

Ikhtiar tetap perlu dilakukan sembari memohon kepada-Nya sebagai sebaik-baik penjaga (QS Yusuf (12): 64). Tawakal adalah puncak dari ikhtiar yang telah dilakukan secara maksimal dengan berserah diri kepada Allah guna menghindari mudharat dan menggapai maslahat.

Ikhtiar yang dimaksud adalah dengan melakukan upaya preventif agar virus ini tidak menulari kita dan orang-orang di sekitar kita. Ikhtiar dilakukan dengan mengikuti anjuran para ahli dalam bidang ini, dan menaati kebijakan pemerintah demi maslahat bersama.

Menjaga kebersihan dan pola hidup sehat adalah bentuk ikhtiar secara medis. Hal ini sejalan dengan perintah agama dalam sebuah hadis, bahwa “kebersihan adalah sebagian daripada iman”.

Tawakal kepada Allah tak bisa didistorsi menjadi sikap jumawa menantang bahaya. Karena hal ini adalah bentuk kekonyolan sikap yang menandakan ketidakpahaman terhadap makna tawakal yang sesungguhnya.

Tawakal berarti kebulatan tekad melalui ikhtiar yang sungguh-sungguh dengan menaati perintah agama, kaidah ilmiah, dan kebijakan pemerintah.

Kaidah ushul fikih menggariskan; “menghindari kemudharatan lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan”.

Kaidah ushul ini menjadi rambu buat kita untuk meminimalisir resiko meski harus meninggalkan kemaslahatan. Ikhtiar dan tawakal adalah sikap tengah (moderat) antara panik dan jumawa menghadapi resiko musibah.

Meninggalkan salat jamaah, misalnya, berarti kita meninggalkan kemaslahatan 27 derajat pahala. Namun, demi menjaga kelangsungan jamaah untuk terhindar dari risiko wabah tetap harus didahulukan.

Takut kepada Allah dan Takut kepada Corona

Muncul diskursus yang menyamakan takut kepada Allah dan takut kepada Corona. Takut kepada Allah dipahami dengan sikap tidak boleh takut kepada yang lain termasuk pada virus Corona.

Menyamakan kedua jenis ketakutan ini adalah bentuk kesalahan berpikir (fallacy), karena pada hakikatnya, keduanya berada pada domain yang berbeda. Takut kepada Allah, adalah ketakutan teologis-eksistensial, sedangkan takut kepada Corona, adalah domainnya kosmologis-esensial. Allah ditakuti karena dicintai. Sementara Corona ditakuti, karena dibenci.

Takut kepada Allah berarti perasaan khawatir kita tidak berada dekat dengan-Nya. Sehingga, rasa takut kepada Allah meniscayakan kita untuk selalu berusaha mendekatkan diri kepadaAllah. Takut kepada Allah, berarti menjaga diri untuk tidak berpaling dari-Nya.

Sementara takut kepada selain Allah, termasuk takut pada wabah Corona, didasarkan pada kekhawatiran pada bahaya yang akan ditimbulkan. Sehingga, ketakutan tersebut membuat kita untuk berusaha menghindar dari bahaya yang akan kita peroleh jika kita mendekat.

Dalih hanya takut kepada Allah lantas mengabaikan, bahaya wabah Corona merupakan sikap konyol dan jumawa yang menandakan rapuhnya iman, karena minimnya pengetahuan.

Ketakutan tetap harus didasarkan pada premis logis, data ilmiah, dan arahan dari pakar yang kompeten, serta taat pada kebijakan pemerintah. Rasa takut yang seperti ini akan melahirkan sikap yang produktif dalam menyusun langkah-langkah taktis guna menghindari bahaya wabah. Baik untuk diri sendiri maupun bagi orang lain.

Akhirnya, marilah bersikap bijak dengan agama. Jadikanlah agama sebagai senjata untuk melawan wabah Corona. Tentu bukan melawan dengan dasar keimanan yang buta dan sikap yang jumawa. Melainkan dengan keimanan yang sehat, sikap yang bijak, dan taat.

Agama menentang sikap apatis dan jumawa. Sebab, dengan iman memestikan kita menjadi manusia yang penuh optimistis dan bijaksana. Termasuk, menghadapi bahaya pandemi Corona. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *