Sat. Sep 19th, 2020

BLAM

KEREN

BLAM Berlakukan Kerja di Rumah, Saprillah: Ingat, Ini Bukan Berlibur

2 min read

Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si. Foto: Istimewa

4,652 total views, 2 views today

MAKASSAR, BLAM – Merebaknya Corona Virus Disease (COVID-19) menjadi momok menakutkan bagi masyarakat Indonesia. Apalagi, sudah ada yang menjadi korban akibat virus yang pertama kali muncul di Wuhan, China, ini.

Untuk mengantisipasi peredaran Corona semakin meluas, pemerintah pun telah melakukan berbagai upaya pencegahan dan penyebaran. Salah satunya, menginstruksikan aparatur sipil negara (ASN) melakukan pekerjaan kantor di rumah (work from home).

Sejak menerima Surat Edaran Menteri Agama Nomor: SE 2 tahun 2020 tentang “Penyesuaian Sistem Kerja Pegawai Dalam Upaya Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19)”, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama langsung menindaklanjuti, dan meminta lembaga yang berada di bawah naungannya, untuk melaksanakan surat edaran tersebut.

Sehari setelah menerima surat edaran Badan Litbang dan Diklat, Balai Litbang Agama Makassar (BLAM), langsung memberlakukan instruksi tersebut. Terhitung Rabu, 18 Maret 2020, BLAM mulai memberlakukan pembagian kerja pegawai ke dalam dua gelombang.

Hal ini sesuai Surat Edaran Menteri Agama, yang membagi bekerja di rumah ke dalam dua gelombang. Dengan ketentuan, setiap gelombang sebanyak 50 persen dari jumlah pegawai. Pembagian gelombang pertama, yaitu antara 17 hingga 23 Maret 2020, sedangkan gelombang kedua dimulai 24 hingga 31 Maret 2020.

“Kami juga membagi pegawai dan peneliti bekerja di rumah dua gelombang, hingga akhir Maret ini. Tapi, yang harus diingat, bekerja di rumah itu bukan berarti mereka diliburkan. Semua harus tetap bekerja sesuai tugas dan fungsinya masing-masing,” tegas Kepala BLAM, H. Saprillah, M.Si, seusai pertemuan terbatas dengan beberapa “anak buahnya”, di ruang kerjanya, Selasa pagi, 17 Maret 2020.

Saprillah menyatakan, apa yang pemerintah lakukan ini, bukanlah sebagai bentuk kepanikan berlebihan menghadapi Covid-19. Menurutnya, ini merupakan salah satu bentuk kewaspadaan sebagai salah satu bentuk pencegahan.

“Ini bukanlah bentuk kepanikan. Tetapi mengikuti SOP (Standard Operating procedure) sebagai upaya pencegahan dan penyebaran Covid 19. Ini ibarat seorang pramugari yang selalu mem-briefing penumpang di jendela darurat, meski cuaca sedang baik atau buruk untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan pesawat,” kata Saprillah.

Untuk mencegah penyebaran Covid-19, BLAM juga menunda beberapa kegiatan yang mempertemukan banyak orang dalam suatu tempat.

Seminar Awal Penelitian, misalnya, yang semula dijadwalkan 17 Maret di Makassar, terpaksa diundur hingga waktu yang belum ditentukan. Kegiatan seminar penelitian selalu menghadirkan ratusan orang.

“Kami menjadwalkan ulang kegiatan seminar awal penelitian, dan terus menunggu informasi terbaru mengenai Covid-19. Karena menyadari bahayanya (Covid-19), kami pun menunda beberapa kegiatan kantor yang mempertemukan banyak orang,” kata Ketua Lakpesdam Nahdlatul Ulama Sulsel, ini. (ir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *